Khotbah Jumat

Naskah Khutbah Jumat: Kenapa Kita Perlu Peduli-Mencintai Palestina?

Oleh: Dhita Koesno - 28 Mei 2021
Dibaca Normal 4 menit
Naskah khotbah Jumat, mengapa kita perlu peduli dan harus mencintai Palestina?
tirto.id - As-salāmu ʿalaykum wa-raḥmatu -llāhi wa-barakātuh..

Hari Jumat kembali lagi, dan bagi laki-laki muslim yang mukallaf, sehat, dan bermukim, wajib melaksanakan salat Jumat demi menggantikan ibadah wajib salat zuhur.

Salah satu syarat sah salat Jumat tentu saja khotbah Jumat. Tujuan khotbah Jumat itu sendiri, menurut Ahmad Zarkasih dalam Rukun dan Syarat Sah Khutbah Jumat berdasarkan Madzhab al-Syafi'iyah (2020: 11), adalah sebagai nasihat sekaligus peringatan untuk menaati perintah Allah SWT serta menjauhi larangannya.

Naskah Khutbah Jumat


Berikut khotbah Jumat pekan ini yang bisa dijadikan contoh naskah saat melaksanakan ibadah salat Jumat, seperti dilansir laman NU Online:

اَلْحَمْدُ للهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ،

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah, Allah SWT berfirman:

مِنَ الۡمُؤۡمِنِيۡنَ رِجَالٌ صَدَقُوۡا مَا عَاهَدُوا اللّٰهَ عَلَيۡهِ‌ۚ فَمِنۡهُمۡ مَّنۡ قَضٰى نَحۡبَهٗ وَمِنۡهُمۡ مَّنۡ يَّنۡتَظِرُ‌ ۖ وَمَا بَدَّلُوۡا تَبۡدِيۡلًا

Minal mu'miniina rijaalun sadaquu maa 'aahadul laaha 'alaihi faminhum man qadaa nahbahuu wa minhum mai yantaziru wa maa baddaluu tabdiilaa

Artinya: Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya).

Dalam khotbah Jumat kali ini, akan dibahas mengenai Palestina, di mana seperti yang kita lihat dan ketahui bersama bahwa rakyat Palestina saat ini sedang mengalami penjajahan, dan marilah kita bersolidaritas atas penderitaan saudara-saudara kita yang berada di sana.

Selain alasan kemanusiaan, dalam Islam Palestina juga memiliki keistimewaan tersendiri, terutama bila ditilik dari sisi sejarah.

Tontonan, tulisan di media dalam beberapa waktu terakhir ini sangatlah menyayat dan mengiris hati kita.

Bagaimana tidak? Pada era modern yang katanya penjajahan di atas muka bumi telah dihapuskan, kaum Zionis dengan leluasa seenaknya saja menjajah bumi Palestina dan menindas rakyat di sana.

Serangan demi serangan terus dilancarkan kepada rakyat yang tidak berdosa. Ratusan nyawa rakyat Palestina telah menjadi korban kekejian dan kebiadaban mereka.

Sebagai umat Islam, kita tentu tidak bisa diam begitu saja karena Palestina memiliki sejarah panjang yang menjadikannya selalu bersemayam di hati setiap Mukmin.

Sebenarnya ada beberapa alasan mendasar mengapa kita perlu peduli, melihat, mencintai, dan mau melakukan sesuatu untuk Palestina. Berikut beberapa alasan kita harus peduli dan mencintai Palestina:

Pertama, Masjid al-Aqsha, masjid tertua di dunia setelah Masjid al-Haram ada di Palestina. Al-aqsha dibangun pertama kali oleh Nabi Adam ‘alaihis salam empat puluh tahun setelah beliau membangun Masjid al-Haram.

Kedua, Masjid al-Aqsha yang berada di kota Baitul Maqdis, Palestina pernah menjadi kiblat shalat selama tujuh belas bulan setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam berhijrah dari Makkah ke Madinah.

Ketiga, Masjid al-Aqsha yang berada di kota Baitul Maqdis, Palestina adalah titik akhir perjalanan Isra’ dan titik awal perjalanan Mi’raj.

Isra’ dan Mi’raj adalah salah satu mukjizat terbesar yang Allah anugerahkan kepada Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam.

Baginda Nabi melakukan shalat berjamaah mengimami seluruh nabi dan rasul, mulai Nabi Adam ‘alaihis salam hingga Nabi ‘Isa ‘alaihissalam di sana.

Keempat, Palestina merupakan tempat tinggal para nabi dan rasul. Para nabi dan rasul banyak bermukim serta berdakwah menyebarkan Islam di sana.

Beberapa di antaranya Nabi Ibrahim, Nabi Ya’qub, Nabi Yusuf, Nabi Luth, Nabi Dawud, Nabi Sulaiman, Nabi Zakariyya, Nabi Yahya, Nabi ‘Isa dan nabi-nabi yang diutus oleh Allah untuk Bani Israil yang jumlahnya sangat banyak.

Kelima, di Palestina juga terdapat Kota Baitul Maqdis, ardhul mahsyar wal mansyar, tempat dikumpulkannya seluruh manusia menjelang hari kiamat yang masih hidup kala itu.

Keenam, di sanalah Dajjal akan terbunuh di tangan Nabi ‘Isa ‘alaihis salam.

Ketujuh, Palestina adalah bagian dari daratan Syam yang didoakan berkah oleh Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam doanya:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا

“Ya Allah, berkahilah negeri Syam dan Yaman.”

Kedelapan, banyak sekali para sahabat yang pernah berdakwah, menyebarkan dan mengajarkan Islam di sana.

Di antara mereka adalah ‘Ubadah bin ash Shamit, Syaddad bin Aus, Usamah bin Zaid bin Haritsah, Watsilah bin al Asqa’, Dihyah al Kalbiy, Aus bin ash Shamit, Mas’ud bin Aus dan masih banyak lagi yang lain.

Kesembilan, Palestina telah melahirkan ribuan ulama dan tokoh-tokoh Islam terkemuka yang berkhidmah untuk Islam.

Tercatat para ulama yang lahir atau pernah tinggal di Palestina adalah Imam Malik bin Dinar, Imam Sufyan ats-Tsauri, Imam Ibnu Syihab az-Zuhri, Imam asy-Syafi’I, dan masih banyak lagi yang lain.

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

Oleh karena itulah, Sultan Mahmud Nuruddin Zanki pernah mengucapkan sebuah perkataan yang fenomenal:

“Aku malu kepada Allah untuk tersenyum sedangkan Baitul Maqdis masih terjajah.”

Sultan Abdul Hamid II bahkan pernah mengatakan:

“Saya tidak akan menjual sejengkal tanah pun dari bumi Palestina.”

Ucapan tersebut dikatakan beliau secara tegas dan penuh keberanian ketika menolak sogokan uang dalam jumlah sangat besar dari orang-orang Zionis Yahudi yang ingin menempati sebagian wilayah Palestina.

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

Ada pula Sultan Shalahuddun al-Ayyubi. Didorong oleh kecintaannya yang mendalam kepada bumi Palestina, pada tanggal 27 Rajab 583 H, beliau berhasil membebaskan Baitul Maqdis, Palestina.

Ketika ingin membebaskan Baitul Maqdis, Sultan Shalahuddin al-Ayyubi tidak langsung menyiapkan tentara dan peralatan perang.

Namun, beliau mempersatukan umat Islam dalam satu ikatan aqidah yang benar, yaitu aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah.

Kesatuan aqidah, menurut beliau, akan melahirkan kesatuan hati. Kesatuan hati antarumat Islam adalah kekuatan dahsyat yang tidak akan dikalahkan oleh siapa pun.

Lalu beliau pun memerintahkan setiap juru azan di semua wilayah yang beliau kuasai untuk mengumandangkan aqidah Asy’ariyyah setiap hari sesaat sebelum azan subuh sebagai upaya untuk mewujudkan kesatuan aqidah.

Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Sultan Shalahuddin al-Ayyubi adalah penganut mazhab Syafi’i dalam fiqih dan pengikut mazhab Asy’ari dalam aqidah. Sang sultan memiliki perhatian yang sangat besar dalam penyebaran aqidah Asy’ariyyah.

Beliau adalah seorang sultan yang hafal Al-Qur’an, hafal kitab at-Tanbih, sebuah kitab yang menjelaskan tentang fiqih mazhab Syafi’i, dan hafal kitab al-Hamasah, sebuah kitab himpunan bait-bait syair.

Sultan Shalahuddin, sebagaimana dijelaskan Imam as-Suyuthi dalam al-Wasa’il fi Musamarah al-Awa’il adalah seorang yang memegang teguh ajaran agama, wara’, pejuang, mujahid dan seorang yang bertakwa.

Melihat perhatian khusus Sultan Shalahuddin terhadap penyebaran aqidah Asy’ariyyah, Syekh Muhammad bin Hibatillah al-Barmaki lalu menyusun kitab yang berisi bait-bait nazham dalam ilmu aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah yang ia beri judul Hada’iq al-Fushul wa Jawahir al-Ushul.

Kitab itu lalu dihadiahkan oleh pengarangnya kepada Sultan Shalahuddin al-Ayyubi. Shalahuddin lantas memerintahkan kepada semua madrasah untuk mengajarkan kitab tersebut. Sebab itu, kitab itu kemudian terkenal dengan sebutan al-‘Aqidah ash-Shalahiyyah.

Dalam kitab itu, di antaranya tertulis bait-bait yang memiliki makna:

"Sang Pencipta Alam tidak diliputi tempat, Allah Mahasuci dari penyerupaan terhadap makhluk Allah ada sebelum adanya tempat, dan Dia sekarang tetap seperti sedia kala, ada tanpa tempat Mahasuci Allah dari tempat, dan Dia Mahasuci dari peredaran masa Sungguh telah melampaui batas, orang yang mengkhususkan-Nya di arah atas."

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

Lalu saat ini apa yang bisa kita perbuat untuk saudara-saudara kita yang ada di Palestina? Jika berjihad membantu secara fisik, tentu saja ini tidak mungkin dan jelas kita tidak mampu.

Yang dapat kita lakukan adalah mengulurkan bantuan dana untuk meringankan penderitaan mereka. Setidaknya, kita bantu saudara kita dengan doa. Karena doa adalah senjata utama seorang Mukmin.

Demikianlah khotbah Jumat pada hari yang penuh keberkahan ini. Semoga bermanfaat dan membawa barakah bagi kita semua. Aamiin yaa robbal 'alamiin.


Baca juga artikel terkait NASKAH KHUTBAH JUMAT atau tulisan menarik lainnya Dhita Koesno
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Dhita Koesno
Editor: Fitra Firdaus
DarkLight