tirto.id - Seorang pria bertopi abu-abu menatap jalanan dengan pandangan kosong. Sesekali, diisapnya sebatang rokok kretek yang digapit di jemari tangan kirinya.
Lalu lalang kendaraan di depannya seakan tak mampu menembus pikirannya. Pria bertopi abu-abu bergeming, entah apa yang dia pikirkan.
Tirto mencoba menghampirinya. Lamunan yang sepertinya sudah teramat jauh membuatnya kaget mendengar sapaan salam dan tepuk di pundak kanannya.
Pria bertopi abu-abu itu adalah Gimin, bapak tiga anak yang telah memasuki usia 59 tahun. Dia merupakan satu dari puluhan pedagang Pasar Loak Cinde Palembang.
Gimin menggelar dagangannya di kios semi permanen yang disewa Rp6 juta per tahun. Di antara para pedagang dipasar loak itu, Gimin termasuk senior. Dia telah membuka usaha di sana sejak 1981.
Dengan pelan, Gimin menuturkan nasib pilu yang tengah dialaminya. Tak lain soal makin sepinya pembeli di lapak miliknya.
Pendapatan harian Gimin jauh dari kata cukup. Terkadang, dia tidak membawa pulang uang sama sekali. Padahal, dapurnya harus tetap mengepulkan asap.
"Dari pagi sampai siang ini, belum ada yang beli, Mas. Lagi sepi bener ini," kata Gimin kepada Tirto belum lama ini.
Setiap hari, Gimin membuka lapaknya pukul 07.00 WIB sampai pukul 16.30 WIB. Dia sering juga menutup lapak lebih cepat karena pinggangnya penat akibat terlalu lama duduk di bangku plastik. Apalagi, jika tak ada tanda-tanda pembeli yang mampir.
Kios Gimin menyediakan sparepart bekas semua jenis mobil hingga aksesoris interior. Mulai dari lampu, spion, kaca, bumper, segitiga pengaman, dan masih banyak lagi. Semuanya dipajang tak beraturan di dalam dan luar kios berukuran 3x3 meter itu.

Masuk Jurang Pandemi, Kena Gempur E-commerce
Gimin bercerita penurunan omzet usahanya dimulai pada masa Pandemi COVID-19 sekira 2020 lalu. Pembatasan aktivitas masyarakat yang ditetapkan pemerintah secara langsung berdampak bagi usahanya.
Gimin sempat merasa lega ketika pandemi berakhir. Saat itu, dia yakin usahanya bakal kembali normal seperti sedia kala dan bisa membawa pulang banyak uang.
Namun, kondisi telah berubah 180 derajat karena perdagangan digital (e-commerce) makin menjamur kala pandemi. Usaha loak Gimin kini seolah dipaksa berhadapan dengan gempuran aplikasi lokapasar (marketplace) yang menawarkan kepraktisan jual-beli secara daring. Makin alot lagi, lokapasar menyediakan serbaneka barang dengan harga bersaing.
Berhadapan dengan kondisi yang mustahil dilawan, Gimin hanya bisa garuk-garuk kepala.
"Pendapatan kami berkurang. Awalnya karena ada COVID waktu itu, disambung banyak yang jual lewat online. Sampai sekarang kami alami (penurunan omzet),” kata Gimin.
Padahal, sebelum pandemi, usaha loak sparepart mobilnya sangat menjanjikan. Gimin sehari-hari bisa mengantongi omzet paling sedikit Rp1 juta dan tembus Rp3 juta pada akhir pekan.
Ketika itu, kehidupan Gimin terbilang sangat layak. Dia mampu membeli 3 unit mobil, 2 unit rumah, dan perhiasan emas untuk istri dan anaknya.
"Wah waktu itu masa jaya-jayanya, gaji pegawai kantoran kalah sama pendapatan saya. Kerjaan mana yang bisa kumpulkan lebih dari Rp1 juta sehari," kata dia.
Namun, masa-masa itu kini hanya sebagai kenangan manis bagi Gimin, cerita kebanggaan bagi anak dan cucunya.
Saat ini, Gimin sudah bersyukur bila bisa memperoleh pendapatan Rp100 ribu per hari. Meskipun, buat makan saja tidak cukup, apalagi menambah modal usaha.

"Sekarang, paling dapat Rp80 ribu sehari. Kadang tidak ada sama sekali. Saya sempat berpikir, kalau ada tawaran kerja lain bergaji Rp100 ribu sehari saja, saya tinggalkan usaha ini," kata Gimin.
Meski dihadapkan pada kepahitan bertubi-tubi, Gimin tak putus berupaya. Kendati diliputi keterpaksaan, Gimin menjual hampir semua aset miliknya—3 mobil, 3 rumah, dan perhiasan emas istrinya. Itu pun sekadar untuk bertahan memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk membayar sewa ruko dan menambah modal usaha ala kadarnya.
Gimin juga kadang meminjam uang dari Mekar. Namun, sebelum dapat untung, uang pinjaman keburu habis dan tinggal membayar tagihan.
"Sekarang ini, kami cuma bertahan, tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Barang yang ada saja yang dijual, (tidak) mikir lagi ambil barang tambahan," kata Gimin.
Bukan Pengalaman Satu Pedagang
Nasib tak beruntung juga dialami Harun (61), pedagang loak di lapak lain. Harun menjajakan onderdil bekas kendaraan, baik motor maupun mobil—seperti rantai, dongkrak, pir, dan lainnya.
Harun juga mengeluhkan berkurangnya pembeli yang berimbas penurunan pendapatan. Dia mengaku pernah memperoleh uang Rp500 ribu dalam satu hari, tetapi dagangannya tak laku sama sekali selama lima hari kemudian.
"Dulu masih dapat uang, sekarang balik modal saja susah. Butuh berbulan-bulan balikinnya. Bisa dibilang gak jalan modal kami," kata Harun.
Pada dasarnya, kata Harun, barang-barang yang dijual masih layak pakai dan harganya jauh lebih murah dari pasaran. Meski barang bekas, Harun berani menjamin kualitasnya tetap orisinal bawaan dari kendaraan asli.
"Kami memang jual barang bekas, tapi sangat layak pakai. Asli juga, bukan tiruan atau imitasi. Murah lagi,” kata Harun.
Namun, jaminan itu saja rupanya tak cukup untuk merebut perhatian calon pembeli yang sudah sangat mengakrabi lokapasar. Meski kualitas barang di lokapasar, menurut Harun, belum tentu terjamin, konsumen susah berpaling dari tawaran harga murah dan banyaknya pilihan.
“Sebenarnya (lebih) unggul dari yang dijual online. Cuma, namanya orang, maunya yang lebih murah," kata Harun.

Keadaan yang lebih sulit dialami Karmo (57). Dia telah menawarkan ruko permanen miliknya ke sesama pedagang karena usahanya tak lagi menghasilkan uang. Padahal, Karmo menyediakan ragam onderdil kendaraan yang terbilang lengkap dan banyak pilihan. Bahkan, sparepart yang tak lagi beredar di pasaran pun masih tersedia di kiosnya.
Namun, apa mau dikata. Pendapatannya kini tak sebanding dengan pengeluaran operasional dan gaji seorang anak buah. Satu-satunya alasan Karmo masih bertahan adalah karena lapaknya sudah milik sendiri.
"Saya mau jual ruko ini, usaha mau tutup dan cari peluang lain. Sebelum ruko laku, saya masih jualan saja, lumayan buat makan," kata Karmo.
Kondisi pahit yang dialami para pedagang barang bekas di Pasar Cinde tersebut rupanya juga berimbas ke pedagang lain yang terhubung dengannya.
Teguh (69), pedagang barang bekas di sekitar Pasar 7 Ulu Palembang, adalah salah seorang pedagang yang biasa membeli perlengkapan dapur dan kendaraan bekas dari pedagang Pasar Cinde untuk dijual kembali.
Teguh mengaku hanya mengambil untung sedikit ketimbang menahan barang karena modalnya sulit kembali. Apalagi, stok dari agen sudah mulai menipis seiring berkurangnya permintaan.
"Untung tipis gak masalah yang penting lancar," kata dia.
Dalam sehari, Teguh meraup pendapatan kotor Rp100 ribu. Alasan seretnya pendapatan Teguh mirip belaka dengan Gimin, Harun, dan Karmo.
Teguh sudah 20 tahun berjualan di Pasar 7 Ulu dengan memanfaatkan trotoar. Selain menawarkan barang, dia juga harus fokus mengamati keadaan karena razia petugas terus mengintai.
"Tidak pernah sampai diusir, cuma dibilang dibersihkan dulu kalau ada sidak. Habis itu, dagangan boleh digelar lagi," kata dia.
Ruang Sosial di Pasar Loak
Gimin, Harun, dan Karmo merupakan bagian kecil dari puluhan pedagang di Pasar Loak Cinde Palembang yang membentang di Jalan R. Nangling. Dari aspek lokasi, Pasar Cinde sebenarnya sangat strategis karena berada di pusat kota dan di pinggir jalan protokol.
Pasar Cinde, begitulah ia dikenal banyak orang, merupakan pasar loak terbesar dan tertua di Palembang. Konon, pasar ini telah ada sejak 1940-an. Deretan kios kecil dan besar memenuhi kiri kanan lorong jalan yang sempit.
Sama seperti pasar-pasar loak di Indonesia umumnya, Pasar Cinde menjual berbagai macam barang bekas, mulai dari onderdil kendaraan, perlengkapan pertukangan, macam-macam mesin, hingga barang antik dan batu akik.
Setiap Minggu pagi hingga menjelang siang, pasar ini dipenuhi pedagang dadakan yang menjajakan semua jenis produk—lagi-lagi barang bekas, mulai dari pakaian, barang elektronik, mainan anak, sampai hewan peliharaan.
Ribuan orang memadati kawasan ini untuk berburu barang dengan harga murah. Saking ramainya, untuk berjalan saja sangat susah, penuh sesak.
Pakar sosiologi perkotaan M. Ridhah Taqwa mengatakan pasar loak pada dasarnya merupakan sebuah ruang sosial masyarakat yang membentuk identitas, struktur, dan pola interaksi masyarakat perkotaan. Di dalamnya, terjalin transaksi jual beli berbagai kalangan, umumnya menengah ke bawah.
Menurut dia, selagi masih ada kelompok masyarakat yang membutuhkannya, pasar loak akan tetap eksis. Pasar ini menjadi alternatif bagi orang-orang tertentu, baik pedagang maupun pembeli.
"Sepanjang kelas ekonomi masyarakat kota masih ada, eksistensi pasar loak tetap ada. Minimal untuk menghidupi pelaku usaha," kata Ridhah.

Namun, kata dia, pasar loak cenderung sulit berkembang di tengah kencangnya laju modernisasi. Apalagi, tidak ada intervensi pemerintah dan swasta dalam pengelolaannya.
"Bisa dibilang tidak pernah berkembang, tidak bakal maju-maju, begitu-begitu saja. Artinya, sekadar bertahan hidup bagi pedagang. Lebih dari situ sangat sulit," kata dia.
Selain itu, eksistensi pasar loak disebabkan beberapa faktor lain. Salah satunya, ia menjadi sumber kepuasan kala seseorang berhasil mendapatkan barang bekas incaran atau unik yang tidak dijual di toko biasa. Lebih-lebih, ketika barang itu didapat dengan harga jauh lebih murah.
Kelengkapan dan ketersediaan barang juga menjadi alasan seseorang masih mempertimbangkan ke pasar loak. Konsumen juga bisa memilih secara detail barang yang akan dibeli agar tidak kecele saat sudah pulang.
"Semua barang ada di sana, mau apa saja. Barang-barang tua yang tak lagi diproduksi ada juga. Nah, ketersediaan inilah jadi daya tarik tersendiri bagi konsumen," kata dosen FISIP Universitas Sriwijaya itu.
Sudut pandang lain, pasar loak juga mengurangi limbah lantaran barang bekas layak pakai dapat dimanfaatkan kembali. Maka tak heran para pemulung akan sangat senang diberi barang rongsok yang masih bisa digunakan dan ada nilainya karena dapat dijual ke penampung dan pasar loak.
Uniknya lagi, kata Ridhah, pasar loak sering kali menjadi tempat untuk “melempar” barang hasil kejahatan. Meski tidak sepenuhnya benar adanya, fenomena ini sudah menjadi rahasia umum dan tak dapat dipungkiri.
"Makanya orang bilang, kalau habis kemalingan, cepat-cepat ke Cinde karena bisa saja dijual pelaku ke situ. Tapi, mesti pagi-pagi biar bisa dilacak. Agak siangan bisa-bisa sudah terjual," kata dia.
Masuk tirto.id

































