Nasib Buntung Peta Gunther di Zaman Google Maps

Ilustrasi peta Gunther Holtorf. FOTO/Gunther Holtorf
Oleh: Irfan Teguh - 12 September 2018
Dibaca Normal 4 menit
Peta Jakarta karya Gunther W. Holtorf dan sejenisnya kian ditinggalkan masyarakat yang beralih ke peta digital di telepon genggam.
tirto.id - “Sigura-gura terletak berdekatan dengan sebuah rawa kecil yang sudah kering, berdekatan dengan Jalan Timo, lapangan basket, dan keluar ke arah Jalan Duren Tiga Raya, yang sekarang rimbun di kedua sisinya,” ujar Gunther W. Holtorf saat ditanya Tempo demi mengetes ingatannya.

Pada 1973 warga Jerman itu ditugaskan sebagai manajer maskapai penerbangan Lufthansa di Indonesia. Sejak tahun pertama bekerja di Jakarta, banyak kawannya dan tamu dari luar negeri meminta ia untuk menjadi penunjuk jalan di Jakarta.

Untuk memudahkan para tamu, meski tak mempunyai latar pendidikan yang berkaitan dengan pemetaan, ia mencoba membuat sketsa peta Jakarta. Ternyata karyanya cukup memuaskan banyak orang dan mendorongnya untuk membuat peta Jakarta yang lebih “serius”.

Untuk mewujudkan hal itu, seperti dikutip Tempo edisi 21 Januari 2002, mula-mula ia mendatangi Dinas Tata Kota Jakarta. Alih-alih mendapatkan peta topografi yang hendak dijadikan sebagai peta dasar, ia hanya menemukan peta tua peninggalan Jakarta. Kondisi tersebut membuat para amtenar yang bekerja di dinas tersebut mendorongnya untuk membuat peta baru.

Gunther menerima tantangan itu. Setiap akhir pekan, bukannya berleha-leha menikmati waktu libur, ia malah berkeliling Jakarta. Keluar masuk gang, menyusuri kota jengkal demi jengkal, baik berjalan kaki, bersepeda, maupun mengendarai mobil. Malah dalam catatan Intisari, selain di akhir pekan, Gunther juga melakukannya setiap hari dari pukul 06.00 sampai 09.00 sebelum ia berangkat ke kantor.

Kerja kerasnya akhirnya mulai berbuah manis. Pada 1977, bertepatan dengan ulang tahun Jakarta yang ke-450, karya pertamanya rampung. Peta Jakarta berukuran 40x40 yang ia sebut sebagai peta anak-anak diserahkan kepada Gubernur Ali Sadikin.

Peta tersebut hanya memuat kawasan Ancol sampai Jalan Gatot Subroto, dan karena ia tinggal di Kemang, sebagian kecil kawasan itu dimasukkan. Kawasan lain seperti Pasar Minggu dan Kalibata tak ada dalam peta karena menurutnya dua daerah itu masih dianggap “luar negeri”.

“Meski peta itu sangat bersahaja, Ali Sadikin menyambut gembira. Sebelumnya, tak ada peta yang menggambarkan Jakarta sekomplet itu,” tulis Tempo.

Sampai tahun 2001, peta Jakarta buatan Gunther telah masuk edisi ke-12 dan cakupannya lebih luas. Batas selatan meliputi Puncak, timur sampai Karawang, dan barat sampai Tangerang. Sumber informasi yang ia kumpulkan pun lebih kaya, di antaranya dari Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal), Departemen Pekerjaan Umum, Jasa Marga, hingga para pengembang.

Sebagai orang dengan latar pendidikan ekonomi yang tidak terlatih secara profesional dalam kartografi, sejak awal Gunther memercayakan penggambaran peta kepada Cartographia di Budapest, Hungaria.

“Alasannya, selain sudah terbiasa, para kartografer di perusahaan ini berpengalaman dalam membuat lembar peta, seting film, dan separasi kartu dalam keseluruhan proses,” ungkapnya seperti dilansir Tempo.

Tiap kali petanya terbit dalam edisi baru, Gunther selalu melakukan pengecekan ulang terhadap kondisi Jakarta yang terus berubah, meski hal tersebut memakan waktu berbulan-bulan.

“Untuk meng-up date perubahan yang terjadi, saya harus mendatangi sendiri lokasinya, mencium sendiri, dan dari situ saya merasakan ada sesuatu yang berubah,” katanya.

Kepada Intisari ia mengatakan bahwa hal tersebut dilakukan karena ia tak ingin ada kesalahan pada peta buatannya gara-gara tak memutakhirkan setiap perubahan, sehingga akan membingungkan pemakai.


Selama menyusuri Jakarta, Gunther melewati rupa-rupa pengalaman, dari dirampok sampai sambutan hangat warga yang berkali-kali bertemu dengannya. Kawasan yang ia anggap sulit yaitu daerah Tanah Abang dan Tanjung Priok. Sekali waktu saat melewati salah satu daerah itu, ban mobilnya kempes dihunjam paku yang sengaja ditebar para perampok. Akibatnya tas dan peralatannya dibawa kabur oleh orang-orang jahat.

Selain pengalaman buruk, ia juga kerap disapa ramah oleh warga. Pembawaannya yang supel tak jarang diajak ngobrol oleh warga yang kebetulan bisa berbahasa Inggris dan Jerman.

“Halo, ini bule yang tahun kemarin ke sini, kan?” ujar Gunther kepada Intisari menirukan sapaan warga.

Setiap kali mengecek ulang detail-detail Jakarta, ia menemukan banyak perubahan. Menurutnya wajah asli Jakarta sudah terkubur oleh pembangunan yang masif. Ia menambahkan bahwa hal tersebut membuat Jakarta lebih rumit untuk dipetakan dibandingkan dengan kota lain di Asia Tenggara seperti Bangkok.

Menurutnya, jika di ibu kota Thailand itu permukiman dan jalannya berpola dengan mengikuti kanal-kanal tua, maka di Jakarta sebaliknya. Bahkan adakalanya pembongkaran dan penggantian nama jalan dilakukan setiap tahun.

“Inilah yang membuat Jakarta unik. Tidak ada kota lain yang situasinya seperti ini,” imbuhnya.

Peta Gunther Dibajak

Karya Gunther edisi ke-11 yang terbit tahun 1997 sempat bermasalah karena dianggap dibajak oleh Riadika Mastra, seorang kartografer dan ahli pengindraan jauh. Sebagai mantan Kepala Pusat Informasi Bakosurtanal, Riadika Mastra sempat berkomunikasi dengan Gunther saat warga Jerman tersebut mencari sejumlah data untuk pembuatan peta.

Menurut Gunther, seperti dikutip Tempo edisi 21 Januari 2002, 98 persen peta Riadika Mastra mirip dengan karyanya. Kasus ini terjadi saat peta Gunther edisi ke-12 telah beredar, artinya ada sejumlah revisi terhadap peta edisi sebelumnya yang dibajak.

“Saya sudah melakukan 10 ribu revisi data. Adapun dalam peta Riadika kesalahan itu tetap tercantum. Jadi peta ini dibajak lengkap dengan segala kesalahan yang belum direvisi,” ujarnya.

Lebih lanjut ia menambahkan bahwa penjiplakan itu juga meliputi halaman pertama yang memberikan gambaran global, tata letak, indeks peta, hingga istilah Monte Klamot untuk Bantargebang yang menurut Gunther adalah lelucon khas dalam bahasa Jerman, khususnya warga Berlin, untuk tempat pembuangan sampah.

Tuduhan ini tentu saja dibantah Riadika Mastra. Menurutnya, sepeti dilansir Tempo, peta tidak ada yang asli atau palsu, melainkan hanya ada yang up date atau out of date. Ia juga menegaskan bahwa dirinya mengerjakan peta selama 10 bulan dan didukung 40 surveyor.

“Kita juga melakukan survei lapangan dengan survei kita untuk melengkapi peta ini, terutama nama-nama jalan. Tapi memang saya tak mungkin mengontrol seluruh hasil tim survei,” ujarnya.

Bantahan lain ia ungkapkan terkait penggunaan kata “Monte Klamot” untuk Bantargebang yang merupakan istilah dalam bahasa Jerman. Ia berkilah bahwa dirinya kerap tak punya waktu karena sibuk dengan pekerjaannya di Bakosurtanal sehingga sebagian besar pengerjaan peta dilakukan timnya.

“Mungkin anak-anak terlewat saat mengecek hal itu. Tapi yang jelas data itu diambil dari beberapa sumber, termasuk Gunther,” tuturnya.

Meski ia tidak menyebut bahwa dalam peta buatannya terdapat inovasi, tapi ia beralasan bahwa kerja tersebut untuk mendorong agar orang-orang Indonesia mau dan mampu membuat peta.



Era Aplikasi Digital

Kiwari, kebudayaan cetak kian tergantikan oleh aplikasi digital yang serba meniadakan kertas. Hal ini disadari betul oleh Gunther dengan membuat peta Jakarta versi interaktif yang ia simpan dalam CD pada buku peta edisi ke-12 yang dicetak ulang.

Marco Kusumawijaya dalam Jakarta: Metropolis Tunggang-langgang (2004) menerangkan bahwa peta interaktif karya Gunther itu mempunyai tiga puluh tombol pilihan untuk mewakili tiga puluh kategori, di antaranya yaitu nama jalan, apartemen, kedutaan besar, sekolah, universitas, hotel, kelurahan, dan lain-lain.

“Tiga puluh kategori pilihan itu mencerminkan kondisi spesifik Jakarta, dan dirancang untuk memenuhi apa yang oleh Holtorf disebut kebiasaan aneh orang Jakarta untuk mencari nama kampung/lingkungan, bukan nama jalan,” tulisnya.

Meski Gunther telah berikhtiar untuk menyesuaikan karyanya dengan perkembangan zaman, tapi sekarang masyarakat telah banyak yang beralih ke peta-peta digital yang dibuat sejumlah perusahaan dan terdapat dalam smartphone.

Penggunaan peta-peta tersebut memang lebih praktis dan lebih dekat sebab semuanya berada di genggaman. Para pengguna tinggal memainkan jarinya untuk mengakses berbagai fitur dalam peta tersebut.

Kini, di beberapa toko buku, peta Gunther dan karya lain yang sejenis terakhir kali dimutakhirkan pada 2013. Artinya ada jeda waktu yang cukup panjang yang kemungkinan besar banyak mengubah data-data yang tercantum dalam peta.

Ini tentu kondisi yang amat klise, sebab—meminjam kata-kata Chairil Anwar, “zaman tak bisa dilawan”.

Baca juga artikel terkait PETA atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Irfan Teguh
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight