Menuju konten utama

Waspada Dengan Peta Digital

Peta digital seperti Google Maps lazim digunakan pengguna untuk sampai ke lokasi tujuannya. Namun dalam beberapa kasus, pengguna malah tersesat akibat aplikasi tersebut.

Waspada Dengan Peta Digital
Ilustrasi menggunakan GPS saat berkendara. Getty Images/iStockphoto

tirto.id - Suatu ketika, Aria, seorang mahasiswa UI, hendak pergi ke suatu tempat di bilangan Daan Mogot, Jakarta Barat. Aria berangkat dari tempat kostnya diDepok dengan menggunakan sepeda motor. Karena lokasi yang dituju itu belum pernah ia datangi, Aria memanfaatkan aplikasi peta digital sebagai petunjuk perjalanan.

Ia pun mengemudikan motor dari Depok dan mengikuti tiap-tiap petunjuk yang ditampilkan. Sayangnya, hingga lebih dari 1,5 jam, waktu yang menurut aplikasi peta digital itu lebih dari cukup, Aria belum sampai juga. Ternyata, Aria tersesat akibat terlalu mempercayai petunjuk dari aplikasi itu. Ia bahkan hampir-hampir masuk jalan tol karena si aplikasi memerintahkannya ke sana.

Selepas kesialannya itu, ia kemudian menepi dan beristirahat sejenak di warung Tegal yang ia temui di pinggir jalan. Setelahnya, ia kembali melakukan perjalanan. Kali ini, Aria tak memanfaatkan aplikasi peta digital. Ditanyainya satu-dua orang di perjalanan untuk menuju lokasi yang hendak ia tuju. Kali ini, Aria mencapai tujuannya.

Cerita seperti Aria yang tersesat akibat terlalu percaya pada aplikasi peta digital tidak sekali-dua kali terdengar. Tak heran, sebab peta digital sekarang ini memang menjadi tumpuan perjalanan banyak orang. Melansir warta yang dipublikasikan Mashable, Google Maps berada di posisi 7 sebagai aplikasi paling banyak diunduh pada 2016 lalu di toko App Store milik Apple. Selain itu, merujuk data yang dipacak di Statista, Google Maps pada 2013 lalu ditetapkan sebagai aplikasi paling sering digunakan oleh para pengguna di seluruh dunia.

Sayang, pedoman perjalanan yang diandalkan terkadang berubah menjadi malapetaka bagi si pengguna. Bahkan terdapat beberapa insiden aplikasi peta digital yang membuat penggunanya celaka.

Pada bulan Oktober 2015 lalu misalnya, seorang wanita bernama Regina Murmura tewas karena diarahkan menuju tempat yang tidak semestinya oleh peta digital. Menggunakan Waze, Murmura sebenarnya ingin pergi ke lokasi bernama Niterio di wilayah teluk Rio de Jainero. Sayang, aplikasi peta digital itu malah membawanya ke lokasi dengan nama serupa tapi dengan situasi yang berbeda. Di Niterio yang bukan tujuannya itu, mobil yang ia kemudikan bersama suaminya diberondong peluru.

SelainMurmura, kesalahan aplikasi peta digital juga pernah membuat sebuah rumah hancur lebur pada bulan Maret 2016 lalu. Pada mulanya, sebuah kru pekerja bangunan ditugaskan untuk meratakan rumah. Seharusnya, para pekerja bangunan tersebut meratakan rumah yang berada di wilayah bernama Cousteau Drive, Rowlet, Texas, Amerika Serikat. Sialnya, Google Maps yang mereka andalkan membawa mereka ke sebuah rumah yang berada di wilayah Calypso Drive.

Selain dua kejadian tersebut, pada bulan Maret lalu, seorang anak muda bernama Amber Vanhecke tersesat selama 5 hari di Grand Canyon akibat Google Maps salah memberikannya petunjuk. Beruntung, ia bisa bertahan dan kembali dengan selamat.

Infografik Terlalu Percaya Dengan Peta digital

Memahami Peta Digital

Peta digital, menilik apa yang tersedia di Google Play maupun App Store, cukup banyak ragamnya. Nama-nama seperti Google Maps, Apple Maps, dan Here Maps adalah sebagian peta digital yang bisa dimanfaatkan masyarakat. Umumnya peta digital tersebut, selain menampilkan pemetaan suatu lokasi, juga memiliki fitur petunjuk arah dari satu titik ke titik lainnya yang dikehendaki pengguna.

Selain aplikasi-aplikasi peta digital yang lebih umum tersebut, ada pula aplikasi peta digital dengan tujuan yang lebih spesifik. Waze adalah peta digital dengan tujuan spesifik itu. Waze bisa dikatakan merupakan peta digital petunjuk arah dan keadaan jalanan. Melalui Waze, penggunanya bisa mengetahui kondisi terkini dari jalanan yang hendak ia lewati.

Kemampuan serupa Waze itu sebenarnya juga telah ada pada aplikasi Google Maps. Pada 2007 lalu, Google menambahkan fitur Google Live pada aplikasi Google Maps. Melalui fitur itu, keadaan lalu-lintas jalanan secara real-time bisa disaksikan oleh penggunanya.

Dalam Google Maps, kondisi lalu-lintas terkini ditampilkan dalam ragam warna yang membentangi suatu jalanan. Hijau untuk kondisi lancar, merah untuk macet, dan merah tua untuk situasi macet total. Selepas Google mangakuisisi Waze pada 2013 lalu senilai $1,1 miliar, Google pun menambahkan beberapa fitur yang terdapat pada Waze di aplikasi Google Maps mereka, misalnya kondisi kecelakaan jalanan.

Merujuk pemaparan berjudul "Floating Car Data from Smartphones: What Google And Waze Know About You and How Hackers Can Control Traffic dari Tobias Jeske", seorang ahli dari Hamburg University of Technology mengungkapkan bahwa kemampuan melihat situasi lalu-lintas secara real-time didapat karena aplikasi-aplikasi itu memperoleh informasi dari Traffic Message Channel alias TMC.

TMC bisa memberikan informasi lalu-lintas terkini karena sebelumnya mesin tersebut menerima data-data lalu-lintas dari beragam sumber. Ponsel pintar merupakan salah satu sumber informasi TMC. Saat seseorang menggunakan ponsel pintar dan berpergian dengan kendaraan, ponsel pintar bisa mencatat berapa kecepatan si pengguna itu dan mencocokkannya dengan lokasi di mana ia berada.

Selain itu, sumber-sumber seperti pihak kepolisian hingga video lalu-lintas yang dipasang di jalanan adalah sumber informasi lain yang dikumpulkan oleh TMC. Selepas informasi dikumpulkan, TMC mengirim balik info yang ia miliki pada masing-masing ponsel pintar yang terpasang aplikasi peta digital.

Khusus untuk Waze, salah satu penyumbang informasi aplikasi tersebut dalam menampilkan kondisi lalu-lintas secara real-time adalah si pengguna. Saat menggunakan Waze, seseorang bisa mengirimkan informasi pada aplikasi itu dengan hanya mengklik tombol di pojok kiri bawah user interface aplikasi itu. Pengguna bisa mengirimkan informasi seputar kondisi lalu-lintas, kecelakaan, bahkan keberadaan polisi di lokasi yang ia lewati.

Sayangnya, kemampuan komunitas Waze itu justru menjadi salah satu kelemahannya. Dikutip dari Android Authority, penduduk di wilayah Los Angeles yang kesal akibat terkena limpahan kendaraan yang direkomendasikan Waze. Akibatnya, guna mengembalikan keadaan tenang seperti semula, penduduk di wilayah tersebut ramai-ramai menggunakan Waze dan membuat laporan kecelakaan palsu. Akhirnya, pemicu aplikasi Waze tidak mengarahkan pengendara ke wilayah itu.

Selain dari penduduk, informasi palsu yang tertera di aplikasi Waze juga dilakukan oleh sekumpulan polisi yang merasa kesal dengan aplikasi tersebut. Telah disinggung di atas, aplikasi Waze memungkinkan pengguna melaporkan keberadaan polisi di jalanan yang dilalui pengguna. Polisi yang kesal keberadaannya dibeberkan pengguna Waze, ramai-ramai menggunakan aplikasi itu untuk melaporkan keberadaan polisi palsu. Akibatnya, pengguna Waze memperoleh informasi yang salah tentang polisi yang ada di jalanan yag mungkin mereka lalui.

Saat ini, musim mudik telah tiba. Aplikasi-aplikasi serupa Google Maps, Waze, dan sejenisnya kemungkinan akan banyak digunakan oleh pengguna untuk sampai ke kota tujuan mereka. Melihat beberapa kesalahan yang pernah dilakukan oleh aplikasi tersebut, sudah sepatutnya pemudik lebih berhati-hati menggunakan aplikasi peta digital untuk sampai ke kota masing-masing.

Google Maps atau Waze tentu membantu, tapi tak ada salahnya pemudik bertanya arah kepada petugas polisi atau warga yang ditemui dalam perjalanan.

Baca juga artikel terkait MUDIK atau tulisan lainnya dari Ahmad Zaenudin

tirto.id - Teknologi
Reporter: Ahmad Zaenudin
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Maulida Sri Handayani