Al-Ilmu Nuurun

Naquib al-Attas Membebaskan Tamadun Melayu dari Kungkungan Barat

Syed Muhammad Naquib al-Attas. tirto.id/Quita
Oleh: Zacky Khairul Umam - 30 April 2020
Dibaca Normal 3 menit
Naquib al-Attas adalah perintis utama dewesternisasi dalam kajian Islam-Melayu. Penerus aspirasi teologi rasional klasik di era modern.
Tak ada arsitektur modern dalam dunia pendidikan tinggi Islam di seluruh Asia Tenggara yang seunik ISTAC (International Institute of Islamic Thought and Civilisation). Berdiri di Bukit Damansara, Kuala Lumpur, bangunan yang diresmikan pada 1991 ini ingin mengalihkan spirit peradaban Islam klasik yang terwakili oleh Istana Alhambra di Bukit Merah, Granada. Spirit Islam yang menyerap kebudayaan tinggi lintas-negeri: kosmopolitanisme dunia Mediterania dan dunia Melayu.

Taman berair mancur, gugusan pilar, lengkung gerbang, menara khas, ornamen berhias, dan unsur hibrida lainnya bersatu padu diliputi keserasian dan keseimbangan. Momen artistik menjadi capaian yang dituju. Konseptor lembaga ini, Syed Muhammad Naquib al-Attas, benar-benar mengawasi pembangunannya, memindahkan alam pikirannya ke dalam dunia nyata. Suatu pandangan dunia dengan intisari Islam sebagai panduannya.

Bangunan itu simbol. Pembauran budaya Islam klasik mesti diterjemahkan dalam dunia Melayu, sebagai salah satu syarat untuk mendorong kemajuan baru. Al-Attas sangat menyadari hal ini. Ia lalu mengacu pada Nuruddin Raniri, sarjana muslim India abad ke-17, sebagai model bagaimana keislaman Melayu berdiri.

Dari Raniri ke Dewesternisasi

Setahun sebelum ISTAC didirikan pada 1987, al-Attas memublikasikan komentar tebal atas kitab Hujjat al-siddiq li-daf al-zindiq (Bukti kebenaran dalam menyangkal yang heretik) karangan Raniri yang diterbitkan Kementerian Kebudayaan Malaysia. Apa yang dilakukan Raniri atas pembenaran paham-paham “sesat,” ungkapnya, ialah “peran maha penting (a paramount role) dalam intensifikasi dan standarisasi dari proses Islamisasi.”

Sikap itu sejajar dengan proses pengokohan identitas kebangsaan kala ekonomi Malaysia melesat pada 1980-an dan berlangsung maju hingga 1990-an. Yang menarik dalam karyanya terdahulu tentang Raniri dan paham wujudiyyah di Aceh abad ke-17 (1967), al-Attas menganggap tuduhan Raniri itu sebagai “salah, terdistorsi, berdasarkan terjemahan yang keliru, interpretasi politik yang sesuai dengan tujuannya, serta prasangka yang dimahkotai dengan ketidaktahuan.”

Politik pengetahuan al-Attas berhasil membuat sosok cerdas Raniri sebagai panutan modern bagaimana membangun sebuah ortodoksi dan identitas. Sebuah pilihan politis yang harus ditempuh di tengah dekolonisasi pengetahuan yang menjadi senjata intelektualnya. Tak sedikit yang mengikuti langgam ini dan mengaitkannya dengan traktat filsafat al-Attas yang paling terkenal, Islam dan Sekularisme, yang dipersembahkan sebagai panduan bagi pemuda muslim.

Dalam karyanya itu, al-Attas bermaksud mengembalikan marwah kebangsaan dan keislaman negerinya dalam pentas internasional untuk menjawab hubungan yang tak selalu mesra antara Islam dan modernitas. Ia mengkritik jantung sekularisme dengan mencari makna terdalam dari Islam sebagai agama dan fondasi etika dan moralitas.

Lalu, ia menawarkan suatu konsep yang tidak membeo Barat dengan buta melalui sistem sekuler yang merembes masuk dalam dunia muslim. Konsepnya, “dewesternisasi ilmu,” ialah pengarusutamaan norma etis dalam Islam sebagai metode ilmiah untuk menundukkan modernitas dan bukan sebaliknya. Dari sini, ia merancang falsafah dan metodologi pendidikan untuk menghidupkan norma Islam sebagai tuntunan akal pikiran, jiwa, dan raga sehingga hal ini berpengaruh pada peradaban fisik dan rohani bagi manusia dan semesta alam.

Proyek islamisasi ilmu al-Attas itu berhasil menjadikan iklim pascakolonial Malaysia bergairah. Banyak yang mengajar dan belajar di ISTAC dari berbagai negeri muslim dan menarik pelajar dan ilmuwan Barat pula. Salah satu inspirasinya datang dari tulisan Toshihiko Izutsu, pengkaji Islam ternama dari Jepang. Tak heran, jika lingkaran pemikiran al-Attas juga bergaung dan diterjemahkan di Institut Filsafat di Teheran, di mana Izutsu pernah mengajar dan memiliki pergaulan intelektual tingkat dewa, semisal dengan orientalis Perancis Henri Corbin dan Seyyed Hossein Nasr. Intelektual dan tokoh Turki ternama pernah mengajar di ISTAC, seperti bekas Perdana Menteri Ahmet Davutoğlu dan filsuf Alparslan Açıkgenç.

Al-Attas berhasil menginternasionalisasi visinya dan menjadi magnet antarbangsa. Apalagi perpustakaan pribadi Fazlur Rahman menjadi koleksi lembaganya disertai dengan kegigihan al-Attas untuk membeli manuskrip dengan biaya negara yang tidak secuil.

Jejak Teologi Rasional Klasik

Inspirasi al-Attas soal arsitektur bangunan ISTAC itu muncul saat ia belajar di Inggris pada awal 1950-an dan memiliki kesempatan untuk melancong ke Spanyol dan Afrika Utara. Suatu pengalaman yang mendorongnya untuk beralih dari calon tentara menjadi pencinta ilmu murni. Tapi, cukup aneh, jika bukan suatu sintesis: al-Attas tampak berhasil menggabungkan unsur Islam di Barat dan Timur sepanjang karier kecendekiawanannya.

Islam di Barat, yakni wilayah al-Andalus, Maroko, dan sekitarnya, sangat kental dengan tradisi rasional Aristoteles yang dikembangkan Ibnu Rusyd dan banyak filsuf lainnya, termasuk Yahudi, khususnya via al-Farabi. Ini kurang tampak dalam langgam berpikir al-Attas; ia barangkali tercetus terutama oleh kemegahan artistik yang ia saksikan.

Islam di Timur, wilayah Irak dan Persia, wakil utamanya ialah Ibnu Sina dan al-Ghazali. Hasil berfilsafat al-Attas dan tulisan para sahabat serta murid utamanya banyak terpaut pada dua tokoh Persia ini. Tak heran ia juga dekat dengan lingkaran Teheran dan McGill, di mana Izutsu juga pernah mengajar dan al-Attas meraih gelar masternya. Sebelumnya ia menelaah penyair Melayu Hamzah Fansuri di London dengan bimbingan ilmuwan berkelas, Arthur John Arberry dan Martin Lings.



Ketertarikan al-Attas pada sufisme filosofis yang ikut menenggelamkannya ke dalam samudera kelimuan adalah bagian dari pengalaman masa mudanya di Inggris saat ia menelaah pemikiran 'Abdurrahman Jami, sufi-filsuf Afganistan abad ke-15. Ia mempelajari itu di perpustakaan tempatnya digembleng: akademi militer Kerajaan Inggris, Sandhurst. Nama-nama besar masa lalu seperti Fansuri, Syamsuddin Sumatra’i, dan Yusuf Makassari belajar tekun soal Jami. Diskursus Jami pernah menjadi wacana berpengaruh di dunia muslim, tak heran jika al-Attas mencintainya sedari awal.

ISTAC boleh jadi berubah nama dan ia mengalami politisasi tak perlu akibat politik dalam negeri Malaysia yang kurang bersahabat. Tapi pemikiran dan kiprah al-Attas masih hidup dan menginspirasi sejumlah generasi intelektual muda di dunia Melayu dan tak sedikit dari dunia lainnya. Alam pikirannya yang luas membentang dari soal teologi, filsafat, hingga sejarah dan sastra menjadi daya tarik tersendiri.

Al-Attas adalah suara klasik dari suatu tradisi Islam yang sangat menghargai ilmu. Jejak filsafat dan teologi rasional Islam klasik membekas dalam berbagai refleksi filosofisnya, betapapun tidak semuanya jelas disebut melalui catatan kaki atau daftar pustaka.

Jika diringkas dalam satu kalimat, kita bisa mendeskripsikan al-Attas seperti ini: ia hendak membebaskan beban warisan Barat dalam sejarah dan tamadun Melayu pascakolonial melalui risalah dan perwujudan filsafat pendidikan yang menyeluruh. Hal ini ia landaskan kepada pandangan dunia Islam yang etis menuju keadilan, sebagaimana diajarkan filsuf klasik soal sa'adah alias eudaimonia, tapi tetap berpijak pada akar identitas bangsanya.

==========

Redaksi Tirto kembali menampilkan rubrik khusus Ramadan "Al-Ilmu Nuurun". Tema tahun ini adalah para cendekiawan muslim global abad ke-20 dan ke-21. Kami memilih 33 tokoh untuk diulas pemikiran dan kontribusi mereka terhadap peradaban Islam kontemporer. Rubrik ini diampu kontributor Zacky Khairul Umam selama satu bulan penuh.

Zacky Khairul Umam adalah alumnus Program Studi Arab FIB UI dan kandidat doktor sejarah Islam di Freie Universität Berlin. Saat ini sedang menyelesaikan disertasi tentang pemikiran Islam di Madinah abad ke-17. Ia pernah bekerja sebagai peneliti tamu pada École française d'Extrême-Orient (EFEO) Jakarta 2019-2020.

Baca juga artikel terkait AL-ILMU NUURUN atau tulisan menarik lainnya Zacky Khairul Umam
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Zacky Khairul Umam
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight