Menuju konten utama

Naik Turun Saham Erick Thohir & Sandiaga Kena Sentimen Pilpres

"Jika bukan karena sentimen Pilpres, kedua saham tersebut mungkin tidak diperhatikan pasar”

Naik Turun Saham Erick Thohir & Sandiaga Kena Sentimen Pilpres
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (12/3/2019). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,20 persen atau 12,66 poin ke level 6.353,77. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/ama.

tirto.id - Persahabatan antara pengusaha Erick Thohir dan Sandiaga Uno harus berseberangan karena pilihan politik. Erick mantap terpilih jadi Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Paslon 01 Jokowi-Ma'ruf Amin, sedangkan Sandiaga Uno jadi calon wakil presiden Prabowo Subianto, paslon 02.

Erick Thohir adalah pendiri PT Mahaka Media Tbk., perusahaan media multiplatform. Ia memiliki saham 51,86 persen melalui PT Beyond Media. Sedangkan Sandiaga memiliki saham 22,314 persen di PT Saratoga Investama Sedaya Tbk yang bergerak di bidang investasi. Kedua perusahaan itu sama-sama tercatat di bursa saham.

“Beliau (Erick Thohir) adalah seorang pengusaha sukses. Memiliki [perusahaan] media, klub sepakbola, klub basket dan lain-lain. Tapi yang jelas, dari setiap hal beliau pimpin, itu selalu mendapatkan kesuksesan,” kata Jokowi menyampaikan alasannya menunjuk Erick Thohir, September tahun lalu.

Pilihan Jokowi memang tak meleset, jumlah suara yang didapatkan Jokowi-Ma'ruf Amin versi hitung cepat beberapa lembaga survei maupun perhitungan sementara KPU, Jokowi memang unggul terhadap Prabowo pada Pilpres 17 April 2019 lalu.

Kiprah Erick Thohir dalam memimpin TKN, ternyata mendapat respons positif investor di pasar saham. Saham Mahaka melejit selama jelang Pilpres, tapi sebaliknya saham Saratoga malah stagnan.

Tren Naik Mahaka, Saratoga Mandek

Keterlibatan Erick dan Sandiaga dalam ajang pilpres 2019 menjadi perhatian para pelaku pasar modal, sekaligus memengaruhi pergerakan saham perusahaan-perusahaan terbuka milik keduanya.

Salah satu perusahaan Erick di BEI adalah Mahaka Media. Sebelum Erick ditunjuk sebagai ketua TKN pada 7 September 2018, harga saham Mahaka berada di level terendah yakni Rp50 per saham atau biasa disebut "saham gocap".

Harga saham Mahaka pada 10 September 2018, naik menjadi Rp67 per saham. Pada hari-hari berikutnya, saham Mahaka terus melesat, dan sempat menyentuh angka tertinggi, yakni Rp204 pada 26 September 2018.

Namun kondisi itu tidak bertahan lama, saham Mahaka pelan-pelan menurun kembali, meski tidak kembali ke angka awal. Sepanjang Oktober 2018-Maret 2019, saham Mahaka cenderung fluktuatif, dan berakhir di angka Rp89 per saham.

Saat memasuki Juni 2019, secara umum saham Mahaka kembali terkerek naik seiring dengan hasil hitung sejumlah lembaga survei yang menyatakan suara Jokowi-Maruf lebih unggul daripada pasangan Prabowo-Sandi. Pada 16 April, atau sehari menjelang Pilpres, saham Mahaka berada di level Rp178 per saham.

Sehari setelah pencoblosan 17 April, saham Mahaka malah merosot menjadi Rp163 per saham. Padahal, hasil hitung cepat dari sejumlah lembaga survei menyatakan perolehan suara Jokowi-Maruf unggul. Sepekan setelah Pilpres, saham Mahaka kembali dalam tren menurun, pada 29 April, harga saham Mahaka hanya Rp148 per saham.

Bagaimana dengan saham Saratoga?

Nasibnya berbanding terbalik dengan Mahaka. Saat Sandi resmi menjadi pasangan Prabowo, saham Saratoga di level Rp4.140 dengan tren menurun ke Rp3.840, sehari sebelum pencoblosan.

Pergerakan saham Saratoga sangat fluktuatif selama persiapan Pilpres 2019 dan setelahnya. Saham Saratoga sempat mencapai angka tertinggi di level Rp4.250 pada 3 Oktober 2018, tapi setelahnya ambruk hingga ke level Rp3.800 per saham. Pada 25 April 2019, bahkan harga saham Saratoga berada di level Rp3.680 per saham atau turun 3,15 persen, tapi pada 29 April sempat menyentuh Rp3.800.

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee menilai pergerakan saham yang berbeda antara Mahaka dan Saratoga memang tidak terlepas dari sentimen Pilpres 2019, terutama dari kedua pasangan capres dan cawapres yang tengah berkompetisi.

“Pasar memang cenderung ke capres nomor urut 01. Jadi, saham-saham yang dekat dengan nomor 01 umumnya bergerak naik. Tapi ini hanya sementara, karena sisi fundamental yang tetap dilihat,” tutur Hans kepada Tirto.

Infografik Saham Sandiaga dan Erick Thohir di 2019

undefined

Kinerja Keuangan Mahaka dan Saratoga Buruk

Dari sisi fundamental, kinerja keuangan Mahaka dan Saratoga memang kurang memuaskan. Kedua emiten sama-sama mencatatkan rugi sepanjang 2018. Adapun, nilai kerugian Saratoga paling besar ketimbang Mahaka.

Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan BEI, Saratoga membukukan rugi bersih senilai Rp6,13 triliun pada 2018, atau berbanding terbalik dari tahun sebelumnya, di mana perseroan meraup laba bersih sebesar Rp3,16 triliun.

Kerugian itu timbul lantaran investasi Saratoga pada efek ekuitas tercatat negatif, terutama pada perusahaan-perusahaan di bidang infrastruktur dan sumber daya alam (SDA).

Sementara itu pada saat bersamaan, Mahaka membukukan rugi bersih senilai Rp36,17 miliar. Hasil negatif disebabkan penjualan yang menurun 21 persen menjadi Rp213 miliar, serta beban operasional yang besar.

William Hartanto, Analis dari Panin Sekuritas juga sepakat dengan Hans. Ia menilai pilpres 2019 menjadi alat untuk "menggoreng" saham-saham yang dekat dengan pasangan capres dan cawapres nomor urut 01.

Sepanjang 2017, volume perdagangan Mahaka tercatat hanya 36,78 juta saham. Namun pada tahun berikutnya, volume perdagangan saham Mahaka tiba-tiba melesat hingga 5,28 miliar saham.

Untuk Saratoga justru kebalikannya. Volume perdagangan Saratoga sepanjang 2017 tercatat sebanyak 62,65 juta saham. Namun pada tahun berikutnya, volume perdagangan melempem menjadi 19,15 juta saham.

“Volume perdagangan kedua emiten ini sebenarnya jarang, sehingga menjadi penanda jika bukan karena sentimen pilpres, kedua saham tersebut mungkin tidak diperhatikan pasar,” kata William kepada Tirto.

Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan lainnya dari Ringkang Gumiwang

tirto.id - Bisnis
Penulis: Ringkang Gumiwang
Editor: Suhendra