Menuju konten utama

Muzani Tantang Hasto Buktikan Isu Tekanan ke Ketum Parpol di KIM

Muzani ingin penjelasan detail dari Hasto, siapa yang menekan para ketua umum partai politik yang mendukung Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming.

Muzani Tantang Hasto Buktikan Isu Tekanan ke Ketum Parpol di KIM
Wakil Ketua MPR Ahmad Muzani melambaikan tangan kearah wartawan saat tiba di kediaman Presiden ke-5 RI Megawati, di Jakarta, Kamis (10/10/2019). ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/ama.

tirto.id - Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani menantang Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto membuka ke publik soal kartu truf ketua umum partai pendukung Gibran Rakabuming Raka sebagai bakal calon wakil presiden. Muzani menantang siapa ketua umum yang dimaksud oleh Hasto tersebut.

"Saya enggak tahu, siapa yang ditekan, atas kasus apa kartu truf itu dipegang. Siapa yang menekan pula, Mas Hasto hanya cerita di bawah tekanan," kata Muzani di Gedung Nusantara III DPR RI pada Selasa (31/10/2023).

Muzani ingin penjelasan detail dari Hasto, siapa yang menekan para ketua umum partai politik yang mendukung Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming. Ataupun ketua umum partai mana yang merasa tertekan sehingga terpaksa bergabung ke dalam Koalisi Indonesia Maju (KIM) dan menjadi pendukung Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.

"Kalau kemudian ada cerita bahwa mereka memilih Pak Prabowo dalam tekanan karena kartu trufnya dipegang. Saya kira Mas Hasto harus menjelaskan partai mana yang ketua umumnya ditekan. Sebab dalam hukum Indonesia orang yang menuduh harus membuktikan," kata dia.

Muzani mengklaim bahwa partai politik di KIM dalam kondisi solid dan saling mendukung satu sama lain. Dia juga menyebut para ketua umum memberikan dukungan kepada Prabowo-Gibran dengan sukarela.

"Tapi yang saya ketahui, orang-orang para pemimpin partai politik, ketua umum, Sekjen, itu memberi dukungan ke Prabowo karena perasaan semangat yang sama dalam perjuangan Indonesia ke depan," kata Muzani.

Hasto sebelumnya mengatakan pencalonan Gibran sebagai cawapres Prabowo merupakan pembangkangan politik, konstitusi, dan rakyat Indonesia. Menurutnya, hal itu dilakukan dengan merekayasa hukum di Mahkamah Konstitusi (MK).

"Saya sendiri menerima pengakuan dari beberapa ketua umum partai politik yang merasa kartu trufnya dipegang. Ada yang mengatakan lifetime saya hanya harian; lalu ada yang mengatakan kerasnya tekanan kekuasaan," kata Hasto.

Hasto berharap agar awan gelap demokrasi ini segera berlalu.

"Dan rakyat Indonesia sudah paham, siapa meninggalkan siapa demi ambisi kekuasaan itu," tutur Hasto.

Baca juga artikel terkait PEMILU 2024 atau tulisan lainnya dari Fransiskus Adryanto Pratama

tirto.id - Politik
Reporter: Fransiskus Adryanto Pratama
Penulis: Fransiskus Adryanto Pratama
Editor: Bayu Septianto