Menuju konten utama

Musim Hujan Sampai Kapan di 2026? Ini Kata BMKG

Sejumlah daerah di Indonesia akan mengalami hujan lebat hingga sangat lebat menjelang akhir Januari 2026. Simak penjelasan BMKG.

Musim Hujan Sampai Kapan di 2026? Ini Kata BMKG
Pengendara sepeda motor menggunakan trotoar dan melawan arus untuk menghindari kemacetan di Jalan Raya Margonda, Kota Depok, Jawa Barat, Kamis (9/1/2025). ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/foc.

tirto.id - Menurut analisis dan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim hujan diperkirakan masih berlangsung hingga Maret–April 2026.

Kondisi ini dipengaruhi oleh fenomena La Nina lemah yang diprediksi bertahan hingga awal 2026, yang secara umum meningkatkan curah hujan di Indonesia.

Puncak musim hujan terjadi pada Januari 2026, terutama di Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Papua bagian selatan, dan sebagian Sulawesi Selatan, dengan potensi hujan lebat hingga sangat lebat.

Memasuki Februari 2026, hujan diperkirakan mulai berangsur berkurang di beberapa wilayah, khususnya di Sumatra bagian tengah dan utara seperti pesisir timur Aceh, Sumatra Utara, Riau, dan sebagian Jambi, yang mulai memasuki periode relatif lebih kering.

Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara umumnya masih mengalami hujan, namun intensitasnya cenderung menurun dan musim hujan diperkirakan berakhir pada Maret hingga awal April 2026.

BMKG juga mencatat bahwa di sejumlah wilayah Maluku dan Papua, musim hujan dapat berlangsung lebih panjang bahkan sepanjang tahun, sehingga potensi hujan tetap perlu diantisipasi.

Meskipun intensitas hujan diprediksi menurun setelah Januari 2026, risiko bencana hidrometeorologi basah seperti banjir dan longsor masih perlu diwaspadai hingga setidaknya Maret 2026, terutama di wilayah rawan.

Prakiraan Cuaca 21-26 Januari 2026

BMKG mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan meningkat di sejumlah wilayah Indonesia menjelang akhir Januari 2026.

Wilayah yang berpotensi terdampak meliputi Sumatra bagian selatan, Pulau Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara. Peningkatan ini terutama ditandai dengan hujan lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang, yang berisiko menimbulkan banjir, tanah longsor, serta gangguan transportasi.

Peningkatan cuaca ekstrem ini dipengaruhi oleh beberapa faktor alam yang terjadi secara bersamaan. Salah satunya adalah bibit siklon tropis 97S di Samudra Hindia selatan Indonesia yang memicu perubahan pola angin dan meningkatkan pembentukan awan hujan di wilayah selatan Indonesia.

Selain itu, menguatnya Monsun Asia hingga 23 Januari besok disertai hembusan udara dingin dari daratan Asia turut mempercepat pertumbuhan awan hujan.

“Pergerakan sistem 97S ke arah barat dapat memicu penguatan pertemuan serta belokan angin dari pesisir barat Sumatra hingga Nusa Tenggara, yang dapat memicu peningkatan pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia bagian selatan,” papar Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani di laman resmi BMKG.

Aktivitas fenomena atmosfer lain seperti Madden-Julian Oscillation (MJO) dan gelombang atmosfer juga memperkuat pembentukan awan hujan tebal, terutama karena didukung oleh kondisi udara yang sangat lembap.

BMKG memprakirakan potensi cuaca ekstrem akan terjadi secara bergantian di berbagai daerah. Pada 21–23 Januari 2026, hujan lebat berpotensi melanda Bengkulu, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT.

Selanjutnya, pada 24 Januari 2026, cuaca ekstrem diperkirakan terkonsentrasi di Jawa Tengah dan Jawa Timur, sedangkan pada 25–26 Januari 2026 berpotensi terjadi peningkatan hujan di Bali, NTB, dan NTT.

Karena cuaca dapat berubah dengan cepat, masyarakat diimbau berhati-hati saat beraktivitas di luar ruangan serta saat bepergian darat, laut, maupun udara, dan terus mengikuti pembaruan cuaca melalui aplikasi InfoBMKG, situs resmi BMKG, serta media sosial @infobmkg.

Baca juga artikel terkait PRAKIRAAN CUACA atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra