Muasal Raja Alat Rumah Tangga Maspion

Oleh: Petrik Matanasi - 16 September 2017
Dibaca Normal 2 menit
Maspion merupakan produsen alat rumah tangga yang dibangun di Indonesia. Pemiliknya, Alim Markus, penah dijuluki Raja alat rumah tangga.
tirto.id - Maspion merupakan salah satu produk yang cukup legendaris di Indonesia. Orang-orang Indonesia akan selalu teringat dengan iklan seorang laki-laki blasteran Tionghoa-Indonesia, bernama Alim Markus, bersama artis Titiek Puspa dengan jargonnya: “Cintailah produk-produknya Indonesia.” Tak hanya Titie Puspa saja yang diajak menjadi bintang iklan Maspion, menurut buku 60 Tahun Jimly Asshiddiqie: Sosok, Kiprah dan Pemikiran (2016), mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie juga pernah ditawari membintangi iklan tersebut. Karena role modelnya adalah Titiek Puspa, Jimly pun tak keberatan untuk bilang: “Cintailah produk-produknya Indonesia.”

Tidak ada yang salah dengan ucapan itu, karena memang produk-produk Maspion diproduksi di Indonesia. Sejarah Maspion, boleh dibilang termasuk juga sejarah industri Indonesia. Seperti juga sejarah industri milik Gobel Panasonic, meski kalah tua.

Baca Juga: Gobel (Panasonic) Berawal dari Kesuksesan Radio Tjawang

Pada tahun 1965, Alim Markus, yang belum berusia 15 tahun, cabut dari bangku SMP di Chiauw Chung. Sebagai anak tertua dia tak hanya bekerja keras, tapi juga belajar berpikir keras. Dia membantu usaha ayahnya di tahun-tahun yang tidak bagus bagi dunia usaha itu. Ayahnya, Alim Husin, punya bengkel kecil di Surabaya.

“Alim Husin adalah pendiri dari sebuah usaha bernama UD Logam Djawa, yang memproduksi alat masak dari alumunium,” tulis Leo Suryadinata dalam Southeast Asian Personalities of Chinese Descent: Biographical Dictionary (2012). Usaha itu dimulai sejak awal 1960an. Selain membuat alat rumah tangga, menurut catatan Sam Setyautama, dalam Tokoh-tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia (2008), Alim Husin juga “membuka toko One Man Show dengan memberikan jasa perbaikan pompa air tangan dan lampu petromak.” Alat-alat yang dibuat Alim Husin antara lain: ayakan, ember, pelat besi, kompor, cangkir, piring, panci dan semua perkakas logam dengan bendera CV Hen Chiang.

Infografik maspion raja industri



Meski tak sekolah, menurut Lie Shi Ghuang dalam Rahasia Kaya dan Sukses Pebisnis Tionghoa (2009), Markus tetap belajar bahasa Inggris, Cina, Jepang juga Akuntansi. Belakangan, dia juga belajar bahasa Jerman dan Korea. Selain itu, Markus ikut kursus manajemen di Pan Pasific Management di Taiwan dan kursus singkat di sekolah bisnis National University of Singapore (NUS) Singapura.

Ketika pintu investasi asing mulai dibuka di Indonesia, dunia usaha terlihat menggeliat lagi. Kala itu, menurut catatan Leo Suryadinata, Alim Markus yang sudah berusia 20 tahun, mulai serius terjun ke bisnis bersama ayahnya. Anak-Bapak itu mendirikan perusahaan baru. Nama Tionghoanya: Jin Feng (Puncak Emas). Namun, perusahaan itu belakangan dikenal sebagai Maspion. Nama itu adalah akronim dari Mengajak Anda Selalu Percaya Industri Olahan Nasional.

Baca Juga: Tren Kenaikan Investasi Cina di Indonesia

Perusahaan itu, menurut Sam Setyautama, awalnya memproduksi plastik ember. Sekitar 7.000 jenis alat rumah tangga kemudian mereka hasilkan. Untuk memperbesar usaha, Maspion menggandeng industri-industri besar seperti Komatsu, Marubeni, Sumitomo Metals, Kawasaki Steel, Satachi, Seven Seas Chemicals, Siam Cement juga Samsung. Tentu saja Maspion tak melulu bikin alat macam panci, tapi merambah ke pipa dan lainnya. Menurut Lie Shi Huang, Markus sangat selektif memilih mitra bisnis. “Kami selalu memilih mitra bisnis yang terbaik di bidangnya,” kata Markus, seperti dikutip Lie Shi Huang dalam bukunya.

Produk-produknya tak hanya dipasarkan di dalam negeri, tetapi juga diekspor ke Amerika Serikat, Jepang, Australia, Eropa dan Timur-Tengah. Nilai ekspor Maspion tahun 1995 mencapai 100 juta dolar. Untuk kepentingan bisnis di luar negeri, sebuah kantor perwakilan didirikan di Toronto, Kanada. Sejak 1995, Alim Markus bahkan ditunjuk sebagai konsul kehormatan di Kanada.

Sebagai pengusaha, Alim Markus tentu dianggap sukses. Tak heran di zaman kepresidenan Abdurahman Wahid (Gus Dur), laki-laki kelahiran 1951 di Surabaya yang bernama Tionghoa Lin Wenguang ini, dijadikan anggota Dewan Pemulihan Ekonomi Nasional. Selain itu, dia juga Wakil Ketua Kamar Dagang Industri daerah Jawa Timur. Di masa kepresidenan Susilo Bambang Yudhoyono, menurut catatan George Junus Aditjondro dalam Membongkar Gurita Cikeas: Di Balik Skandal Bank Century (2010), Alim Markus termasuk pengusaha yang ditarik masuk ke kubu SBY ketika maju sebagai calon Presiden bersama Boediono.

Ketika Alim Husin masih hidup, Maspion yang berkantor pusat di Jalan Kembang Jepun, Surabaya, biasa rapat di Jalan Kembang Jepun itu. Ketika masih hidup, menurut Lie Shi Ghuang, Alim Husin pernah jadi pemegang saham mayoritas (50 persen) di grup Maspion. Di kantor itu, Alim Husin biasa berkumpul dengan anak-anaknya yang berkecimpung juga di Grup Maspion—mulai dari Alim Markus, Alim Mulia Sastra, Alim Satria, Alim Puspita dan Alim Prakasa. Maspion yang besar itu, menurut catatan Sam Setyautama mempekerjakan 25 ribu karyawan dan membawahi 44 perusahaan. Namun, beberapa tahun belakangan, cerita perpecahan keluarga Alim itu muncul. Tahun 2013, Alim Satria memilih mundur dari Maspion Grup yang dipimpin Alim Markus, dan terjun ke bisnis real estate.

Baca juga artikel terkait SEJARAH atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Marketing)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti