STOP PRESS! Beda Sikap Soal Densus Tipikor Polri: Presiden Gelar Ratas

Gobel (Panasonic) Berawal dari Kesuksesan Radio Tjawang

Gobel (Panasonic) Berawal dari Kesuksesan Radio Tjawang
Thayeb Mohammad Gobel bersama Buya Hamka setelah menghadiri MUKERNAS SI. FOTO/Istimewa
Reporter: Petrik Matanasi
12 Agustus, 2017 dibaca normal 2:30 menit
Di masa Orde Baru, Gobel berpatungan dengan Matsushita, lalu lahirlah National-Gobel yang sekarang dikenal sebagai Panasonic.
tirto.id - Radio adalah barang mewah sebelum Indonesia merdeka. Begitu juga lemari es. Setelah Indonesia merdeka, Presiden Sukarno ingin agar dua barang yang dicap mewah itu bisa dinikmati orang-orang Indonesia. Keinginan Bung Karno itu terngiang terus di kepala pemuda Thayeb Mohammad Gobel. Kebetulan, pemuda Gorontalo ini bekerja di NV Behring—Perusahaan dagang di Jalan Pinangsia 75, Jakarta—yang punya perakitan radio dengan suku cadang dari Austria.

Gobel tak berlama-lama di Behring, tempatnya mempelajari seluk-beluk radio. Pengalaman kerja di Dasaad Moesin Concern, Fasco, dan lainnya, membuat Gobel berani berwirausaha bersama kawan-kawannya. Tak main-main, mereka membangun pabrik radio. “Tahun 1954, sewaktu saya mendirikan PT Transistor Radio Manufacturing Co, dengan mengambil tempat di Cawang,” aku Theyeb Gobel dalam buku Gobel: Pelopor Industri Elektronika Indonesia Dengan Falsafah Usaha Pohon Pisang (1994) yang disusun Ramadhan KH.

Baca:
Agoes Moesin Dasaad, Dompet Berjalan Bung Karno

Gobel kemudian “mendapatkan kredit Bank Industri Nasional (BINA) sebesar Rp. 5 juta,” tulis buku Gobel, Budaya Dan Ekonomi: Tentang Wirausaha, Manajemen, Dan Visi Industri Thayeb Mohammad Gobel (1998). Dengan modal itu, dia memproduksi radio dengan merek Tjawang. Sesuai nama daerah tempat produksi radio itu.

Radio Tjawang ini, menurut catatan M. Maruf dalam buku 50 Great Bussines Ideas Form Indonesia (2010), "berbentuk kotak, dengan tombol frekuensi besar di sudut kanan atas, dan tombol satu lagi untuk volume. Orang-orang tua saat ini, masih percaya kejernihan suara radio Tjawang tidak pernah tersaingi.” Dalam kurun waktu 1954-1964, satu juta radio Tjawang terjual.

Thayeb Gobel tak hanya berhenti di radio. Dia pun mencoba alat elektronik lainnya. “Waktu ada kesempatan di depannya untuk belajar di Jepang melalui Colombo Plan, Ia melamar. Dan kesempatan itu diperolehnya,” tulis Ramadhan.

Tahun 1957, Thayeb Gobel pergi ke Jepang dan di sana dia bertemu dengan Konosuke Matsushita pendiri Matsushita Electric Industrial Co. Kala itu, Gobel masih berusia 27 tahun. Sementara itu, Matsushita—yang memulai usaha sebagai produsen lampu sepeda bermerek National sejak 1927—sudah berumur 64 tahun. Matsushita terkesan dengan Gobel.

Tahun 1960 Matsushita Electric Industrial membuat kesepakatan kerjasama teknis dengan Transistor Radio Manufacturing. Transistor Radio—yang dijalankan Gobel—dan usahanya berkibar sebagai produsen televisi. “Maladi menunjuknya untuk bekerja sama dengan Leppin Karya Yasa dan supaya memproduksi televisi.” Sekitar 10 ribu televisi hitam-putih pun diproduksi menjelang pesta olahraga bangsa-bangsa Asia, Asian Games ke-4 tahun 1962, di Jakarta.

Baca:
Moncer karena Olahraga, Tersingkir di Era Soeharto

Berkat televisi-televisi perusahaan Gobel itulah masyarakat Indonesia bisa liat gambar hidup tanpa harus ke bioskop atau layar tancap. Berkat televisi-televisi itu pula Televisi Republik Indonesia (TVRI) mulai eksis di mata orang-orang Indonesia.

Sebagai pengusaha elektronik nasional di era Sukarno, tentu saja Gobel akhirnya bertemu sang presiden. “Bung Karno sudah tahu akan transistor radio merek Tjawang dan Leppin Product yang sudah populer di tengah masyarakat, sampai-sampai di pedesaan, jauh dari ibu kota Jakarta,” tulis Ramadhan.

Dalam pertemuan itu, Sukarno bertanya, “mengapa memilih usaha radio transistor?” Gobel pun menjawab: “Supaya pidato Bapak dapat sampai kepada orang-orang di desa, di tempat yang jauh terpencil, di kaki gunung, di pulau-pulau, meskipun di tempat-tempat tersebut belum ada listrik, Pak.”

Gobel (Panasonic) Berawal dari Kesuksesan Radio Tjawang

Setelah Sukarno jatuh dari kursi Presiden setelah 1966, usaha Gobel tak ikut jatuh. Saat itu keran penanaman modal asing di Indonesia dibuka, dan perusahaan-perusahaan multinasional asing pun masuk ke Indonesia. Ini berkat Undang-undang Nomor 1 tahun 1967 (UU No.1/1967) tentang Penanaman Modal yang disahkan sejak 10 Januari 1967.

Di saat yang sama, kesulitan ekonomi membuat kawan Gobel menjual saham mereka kepada Gobel. Maka PT Transistor Radio Mfg. Co berubah nama menjadi PT Gobel & Tjawang Concern.

Gobel juga mendapat manfaat masuknya modal asing itu. Dengan modal patungan bersama Matsushita, berdirilah National Gobel pada 1970. National Gobel belakangan menjadi Panasonic Manufacturing Indonesia. Usaha Gobel kemudian berkembang. Pada 1974, pabrik lokal Met Gobel berdiri.

Setelah Thayeb Gobel meninggal, usahanya tidak mati. Panasonic tak hanya bertahan, tapi juga berkembang. Pada 1987, pabrik baterai PT. Panasonic Gobel Battery Industry diresmikan. Hingga kini, baterai-baterai perusahaan ini menjadi produk ekspor. Ketika terjadi musim pengurangan karyawan seiring kelesuan ekonomi tanah air, pabrik ini tetap berproduksi dan mengekspor.

Setelah Panasonic Gobel Battery Industry diresmikan, anak perusahaan lain seperti PT Panasonic Gobel Indonesia; PT. Panasonic Shikoku Electronics Indonesia; PT. Panasonic Electronic Device Indonesia; PT. Panasonic Electric Works Gobel Sales Indonesia; PT. Panasonic Electronic Device Batam; PT. Panasonic Semiconductor Indonesia; PT. Panasonic Lighting Indonesia pun berdiri sebelum tahun 1995.

Baca juga artikel terkait PANASONIC atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - pet/msh)

Keyword