Menuju konten utama
Gearbox

Motor One Hit Wonder Itu Bernama Bajaj Pulsar

Bajaj Auto pernah jaya di Indonesia lewat armada roda tiga dan motor sport Pulsar. Tapi, pamornya meredup lantaran pasar jangkaunya terlampau sempit.

Motor One Hit Wonder Itu Bernama Bajaj Pulsar
Motor Pulsar. Flickr/Istockphoto/Akshay

tirto.id - Jakarta pernah mengenal banyak sekali moda transportasi kecil yang ditujukan untuk mengangkut penumpang sampai gang terkecil sekalipun. Ada yang cukup beken macam bemo dan becak, ada pula yang sedikit asing di kuping, seperti mebea dan helicak. Namun, tidak ada satu pun yang bisa menandingi popularitas serta ketahanan Bajaj.

Bajaj pertama kali masuk ke Jakarta pada dekade 1970-an dan, pada 1975, akhirnya resmi ditetapkan sebagai angkutan umum Jenis IV, yang melayani area permukiman, bersama minicar, helicak, dan mebea. Minicar, helicak, dan mebea, sudah lama lenyap dari jalanan ibu kota. Di sisi lain, sampai kini, 50 tahun kemudian, Bajaj masih eksis meski dengan wajah dan mesin yang sudah diperbarui.

Padahal, dalam sejarahnya, Bajaj selalu menghadapi tantangan serius. Misalnya, pada awal 2000-an, pemerintah DKI sempat ingin mengganti bajaj dengan kendaraan roda empat kecil bernama Kancil. Realitasnya, banyak pengemudi Bajaj ogah beralih ke Kancil karena dianggap terlalu mahal. Akhirnya, setelah Kancil layu sebelum berkembang, Bajaj masih beroperasi di berbagai ruas jalanan Jakarta hingga kini.

Bajaj memang khas. Suara mesin 2-tak yang cempreng, ditambah aroma khas campuran antara pelumas dan peluh yang menyambut kala kita naik di bangku belakang, membuat sensasi naik Bajaj, terutama Bajaj oranye generasi lama, terasa tiada duanya. Citra Bajaj sebagai "taksi kelas pekerja" pun makin kuat ketika ia jadi "lakon" utama dalam serial komedi situasi Bajaj Bajuri yang tayang di televisi nasional pada awal 2000-an.

Namun, Bajaj sebenarnya bukanlah jenama yang hanya memproduksi kendaraan roda tiga seperti yang jadi andalan Bajuri untuk menafkahi Oneng dan Emak (serta Ucup si tukang numpang makan). Bajaj roda tiga itu masuk dalam keluarga Autorickshaw alias becak bermotor milik Bajaj Auto, jenama otomotif India yang didirikan pada 1945 di Pune.

Lahirnya Bajaj Pulsar

Setelah sekian lama jenamanya diidentikkan dengan kendaraan roda tiga berwarna oranye, pada dekade 2000-an, tepatnya pada 2006, Bajaj Auto membuat sebuah gebrakan di Indonesia. Mereka merilis motor sport naked bernama Pulsar 180 UG III. Pulsar yang masuk ke Indonesia pada 2006 itu merupakan generasi keempat dari seri Pulsar yang pertama kali dirilis Bajaj Auto pada 2001.

Pulsar generasi keempat hadir dalam wujud yang lebih sporty, lebih aerodinamis, serta berfitur lebih canggih dibanding pendahulunya. Tudung lampu utama dan lekuk bodinya lebih ramping dan tajam dibanding para pendahulunya. Selain itu, sepeda motor ini dilengkapi dengan fitur-fitur seperti lensa bening pada lampu sein, LED pada lampu belakang, self cancelling turn indicator switch (yang membuat lampu sein mati otomatis saat stang lurus), serta speedometer digital. Keberadaan engine balancer juga membuat getaran mesin makin berkurang.

Motor Pulsar

Motor Pulsar. wikimedia/Dkworld9

Meski demikian, bukan Pulsar 180 UG III yang paling laris dan akhirnya jadi "cult legend" di Indonesia, melainkan dua versi sesudahnya, yaitu Pulsar 135LS dan Pulsar 220F. Pulsar 135L dan 220F sendiri merupakan bagian dari Pulsar generasi keenam yang dirilis oleh Bajaj Auto. Pulsar 135LS, alias Baby Pulsar, lebih dahulu masuk ke Indonesia pada 2010 bersama dengan Pulsar 180 UG IV. Sementara itu, Pulsar 220F masuk setahun berikutnya.

Fitur-fitur yang ditampilkan pada Pulsar generasi keenam itu tidak berbeda jauh dengan Pulsar generasi keempat. Sebab, perubahan-perubahan yang diberikan pada Pulsar generasi keempat memang dimaksudkan untuk jadi fondasi bagi beberapa generasi penerus. Bisa dibilang, hal paling menarik dari Pulsar generasi keenam adalah jumlah variannya. Jika sebelumnya hanya tersedia dalam versi 180cc, kini Pulsar bisa bermain di tiga segmen sekaligus: 135cc, 180cc, dan 220cc.

Menurut seorang pemilik Pulsar 135LS, yang ceritanya dimuat di blog otomotif Eno Anderson, Pulsar 135LS awalnya hanya diimpor sebanyak 200 unit ke Indonesia. Kala itu, dia membelinya secara off-the-road (tanpa surat-surat) dengan harga Rp11 juta. Harga itu bisa dibilang cukup terjangkau untuk ukuran motor sport 135cc karena Yamaha Mio saja ketika itu sudah dibanderol dengan harga Rp11,6 juta, sementara harga Honda Vario sudah ada di angka Rp14 jutaan.

Desain sporty, tenaga yang oke (13,3 hp pada 9.000 rpm) dan harga terjangkau membuat Pulsar 135LS langsung jadi idola. Antara, pada 2011, pernah memberitakan bahwa penjualan seluruh varian Pulsar, dalam kurun Januari-Juli 2011, naik 108 persen dibanding tahun sebelumnya, menjadi 15 ribu unit. Dari total itu, 47 persennya merupakan Pulsar 135LS.

Larisnya Pulsar sempat membuat Bajaj Auto begitu bersemangat dalam melakukan ekspansi di Indonesia. Kala itu mereka berencana menambah jumlah dealer (dari 93 menjadi 106) serta bengkel mitra (dari 122 menjadi 140).

Era kejayaan itu pun terus dilanjutkan sampai setidaknya tahun 2012, ketika Pulsar 220F akhirnya sukses mengambil alih posisi Pulsar 135LS sebagai Pulsar terlaris di tanah air kita. Kala itu, pada semester pertama 2012, penjualan Bajaj Pulsar memang mengalami penurunan dari 15.000 menjadi 9.500 unit. Namun, di tengah penurunan itu, Pulsar 220F menjelma jadi andalan baru: 36 persen Pulsar yang terjual berasal dari versi tersebut.

Laris manisnya Pulsar 220F tak bisa dipisahkan dari ketangguhan performanya. Ditambah lagi, Bajaj Auto rajin melakukan promosi, seperti test ride Pulsar berhadiah Pulsar, test ride Pulsar berhadiah Nissan Juke, Pulsar Pasti Lelaki Tour, sampai diskon Pulsar 220 VIN 2011.

Dari situ bisa dilihat betapa "panasnya" mesin penjualan Bajaj Auto di Indonesia, kendati memang hanya bermain di segmen nichemotor sport yang menyumbang kurang lebih hanya 7-8 persen dari total sepeda motor. Sayangnya, masa kejayaan ini tidak bertahan lama.

Titik Balik Bajaj Pulsar

Pada 2012, bekerja sama dengan Kawasaki, Bajaj Auto mengeluarkan Pulsar 200NS yang sebenarnya bisa dibilang merupakan Pulsar paling keren yang pernah ada di Indonesia. Dari segi desain, menurut Motor Plus, "aura India" motor tersebut menguap seiring penggantian bentuk lampu utama, dari yang sebelumnya besar menjadi lebih proporsional. Selain itu, Pulsar 200NS telah dilengkapi monosok sehingga makin terlihat dan terasa sporty.

Akan tetapi, Pulsar 200NS pulalah yang menjadi titik akhir bagi perjalanan Bajaj Auto di Indonesia. Pulsar generasi terakhir tersebut hanya dijual melalui jaringan dealer Kawasaki.

Pada 2013, Bajaj Auto pun resmi angkat kaki dari Indonesia. Penjualan yang terus menurun jadi musabab utamanya. Satu per satu dealer ditutup dan jenama raksasa itu pun akhirnya tak lagi beroperasi tanah air.

Namun, meski sudah tak lagi diproduksi untuk pasar Indonesia, ternyata stoknya belum juga habis sampai 2016. Bahkan pada 2016, Kawasaki sampai harus memberi diskon sampai Rp8,9 juta. Motor yang harga aslinya Rp23,9 juta bisa ditebus hanya dengan Rp15 juta.

Namun, kegagalan Bajaj Auto di Indonesia tidak membuat pabrikan lain dari India gentar untuk mencoba peruntungannya di tanah air. Kini, ada TVS yang beroperasi di Indonesia. Mereka tidak cuma bermain di segmen motor sport, melainkan juga skuter matik, underbone, bahkan auto rickshaw.

Memang benar bahwa volume penjualan TVS masih kalah telak dibanding Honda dan Yamaha. Akan tetapi, tren yang mereka tunjukkan cenderung positif. Dari tahun fiskal 2022-23 sampai 2024-25, jumlah unit yang terjual terus meningkat dari 80 ribu, 120 ribu, menjadi 143 ribu. Ini saja sudah jauh lebih baik ketimbang jumlah Pulsar yang terjual dulu.

Tentu saja, ikut bermain di segmen skutik membuat TVS punya keunggulan tersendiri karena, per 2025, seri terlaris mereka adalah skutik Callisto. Selain itu, semua motor yang dijual di sini adalah hasil rakitan lokal di pabrik mereka yang ada di Karawang, Jawa Barat.

Jadi, apa yang membedakan nasib Bajaj Auto dan TVS? Strategi bisa jadi jawaban yang paling mudah diberikan. Sejak awal, Bajaj Auto terbilang "nekat" karena hanya bermain di pasar niche yang volume penjualannya begitu kecil. Mereka juga tidak pernah membangun pabrik di Indonesia. TVS, di sisi lain, memilih untuk all in dan, sejauh ini, tidak mengherankan bila peruntungannya terus membaik.

Baca juga artikel terkait BAJAJ atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Gearbox
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin