Misteri Kematian Jenderal Spoor

Oleh: Petrik Matanasi - 19 September 2016
Dibaca Normal 3 menit
Sumber resmi menyebut kematian Letnan Jenderal Simon Hendrik Spoor diakibatkan oleh serangan jantung. Namun, tetap saja muncul beragam spekulasi terkait kematian jenderal yang paling sengit melawan Indonesia ini.
tirto.id - Di bawah komando Letnan Jenderal Simon Hendrik Spoor, militer Belanda nyaris berjaya menghancurkan Republik Indonesia. Pasukan Spoor terdiri dari serdadu-serdadu dari Eropa yang tergabung dalam KL dan serdadu-serdadu campuran pribumi, Indo dan Belanda yang tergabung di KNIL. Meski secara jumlah personel kalah banyak, tentu saja pasukan Spoor bersenjata lengkap dibanding pasukan Republik yang sudah berantakan setelah 19 Desember 1948.

Jenderal Spoor merupakan pimpinan tentara Belanda yang begitu keras menghantam Republik. Bagi sisa-sisa kaum Republiken, kematian jenderal berotak encer, dan jago main biola ini, merupakan sebuah harapan. Sayangnya, harapan itu baru terjawab di akhir Mei 1949.

Ia mati mendadak pada 25 Mei 1949. Jaap de Moor dalam bukunya Jenderal Spoor: Kejayaan dan Tragedi Panglima Tentara Belanda Terakhir di Indonesia (2015) menyebutkan, antara tanggal 17 hingga 19 Mei 1949, Spoor masih sempat mengunjungi pasukan Belanda di Jawa Timur. Setelah perundingan Roem-Royen ditandatangani pada 17 Mei 1949, Jenderal Spoor menghadapi masa-masa suram meski pangkatnya sudah menjadi jenderal penuh. Berita kenaikan pangkatnya itu diterimanya saat tergolek di ranjangnya pada 24 Mei 1949. Beberapa pihak berspekulasi, Spoor mati karena dibunuh. Ini karena Spoor terlihat masih segar dan tidak memiliki gangguan penyakit mematikan sebelumnya. Usianya baru 47 tahun ketika meninggal.

Hari itu, kesehatan Spoor memburuk. Berdasarkan Notula Sidang Dewan Menteri 23 Mei 1949 (NIB XVIII: 701), yang dipetik de Moor dalam bukunya, Spoor kena serangan jantung. Sementara itu, menurut surat kabar di Negeri Belanda seperti Het Dagblad tanggal 24 Mei 1949, Spoor disebut mendadak sakit dan butuh waktu lama untuk pulih. Meski begitu, dia masih bisa menjalankan tugas sebagai Panglima. Tentu saja, itu kata sumber Belanda. Mungkin ada segelintir orang Indonesia yang punya cerita sendiri soal kematian Spoor.

Dibedil di Tapanuli

Muhammad To Wan Haria alias Muhammad TWH, yang menjalani masa remaja di zaman revolusi, menulis buku berjudul Jenderal Spoor Tewas di Tapanuli Tengah Sumatra Utara (2006). Buku ini diterbitkan Yayasan Pelestarian Fakta Perjuangan Kemerdekaan RI. Gubernur Rudolf Pardede ikut memberi sambutan atas buku tanpa ISBN tersebut.

Muhammad TWH tentu saja punya dasar, yakni pengakuan beberapa orang yang dianggapnya saksi atas kematian Letnan Jenderal Spoor. Salah satu pengakuan datang dari seorang perempuan bernama Siti Rahmanun Idris Nasution. Siti Rahmanun, yang pernah menjabat Wakil Ketua Legiun Veteran, Sumatra Utara, mengaku melihat sebuah peti mati. Menurut pengakuannya, peti mati itu berisikan Spoor. Ketika melihat peti itu, Siti mendengar percakapan antara dokter dengan perwira Belanda soal isi peti.

“Jenderal kita sudah mati,” jawab si perwira. Kebetulan di saat yang sama memang ada berita kematian Spoor karena serangan jantung di Jakarta pada 25 Mei 1949 itu.

Seminggu sebelum kematian Spoor, terjadi kesepakatan gencatan senjata pada 17 Mei 1949 antara Republik Indonesia Belanda. Jika benar terjadi penghadangan terhadap Spoor, terlepas benar tidaknya Spoor, maka pihak Republik Indonesia bisa dianggap melakukan pelanggaran. Jika sudah melanggar, maka militer Belanda punya alasan kuat melakukan agresi miltier Belanda III menyikat lagi militer Republik yang kurang senjata hingga habis dan Roem Royen dibatalkan.

Soal kematian Spoor karena penghadangan, ada pengakuan dua bekas KNIL pribumi, yang dikutip Muhammad TWH. KNIL pertama, Justin Lumbantobing, eks kopral KNIL, mengatakan kepada Maraden Panggabean. Pada penghadangan TNI tanggal 24 Mei 1949, dia bertugas mengawal Spoor. Dia saksi mata bahwa Spoor bukan tewas karena serangan Jantung, tetapi karena luka-luka akibat serangan penghadangan antara Aek Maranti dengan Sibolga. KNIL kedua adalah Sersan Mayor Tumanggor, juga mantan ajudan Spoor juga mengaku pada Mayor Bedjo. Spoor mengalami penghadangan di Tapanuli Tengah dan tewas. Dalam buku Bedjo Harimau Sumatera dalam Perang Kemerdekaan (1985), yang ditulis Edi Saputra, orang-orang kampung percaya jenderal tinggi Belanda tewas oleh pasukan Republik.

Fries Kourier edisi 24 April 1969, hampir 20 tahun setelah kematian Spoor, mencatat sebuah berita yang beredar Indonesia, yang menyebut Jenderal Spoor tertembak dalam sebuah penghadangan konvoi militer Belanda di jalan antara Sibolga Tarutung. Yang menghadang adalah pasukan di bawah komando Maraden Panggabean. Ketika Fries Kourier menulis berita tersebut, Maraden Panggabean menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Republik Indonesia.

“Biarlah sejarah yang bicara,” kata Maraden Panggabean. Maraden sendiri, seperti dalam bukunya Berjuang dan Mengabdi (1993) menyebut, ada desas-desus perwira yang terluka oleh penghadangan pasukan Republik itu adalah Jenderal Spoor. Untuk memperkuat argumennya, Muhammad TWH memaparkan adanya pasukan khusus Belanda yang dikerahkan ke Sumatra Timur. Muhammad menganggap pasukan baret itu sebagai bentuk pembalasan.

“Mengapa Belanda mengerahkan pasukan baret hijau untuk melakukan operasi besar-besaran di kawasan sektor IV untuk mengangkap hidup atau mati Gubernur Militer Dr F Lumbantobing, Komandan subteritorium VII Letkol Alex Kawilarang dan komandan sektor IV Mayor Maraden Panggabean? Hal ini tak lain adalah untuk membalas kematian Jenderal Spoor?” tulis Muhammad.



Diracun

Di bagian awal bukunya, Jaap de Moor menyinggung sebuah rumor Spoor keracunan. Dalam tulisannya di buku Een Stem Uit Het Veld (1988), Kapten Smulders, yang menemani makan siang di restoran pelabuhan perahu layar (Jachtclub) di Tanjung Priok, Jumat siang 20 Mei 1949, menyebut Spoor hanya sedang murung tak banyak bicara. Mereka berdua saja tamu restoran kala itu. Selebihnya soal bagaimana acara makan itu tak disebut.

Sementara, dalam laporannya setelah kematian Spoor, Smulders menyebut dirinya jatuh sakit dan hilang kesadaran pada Jumat malam. Smulders harus dirawat di rumah sakit militer akibat sakit itu. Sementara, Spoor baru tumbang pukul delapan pada hari Seninnya, 23 Mei 1949, di ruang kerja kantornya. Dokter segera datang dan Spoor dibawa ke rumah untuk istirahat total. Spoor sempat nampak agak membaik. Saudara laki-lakinya, Andre Spoor, sempat mengunjungi Spoor pada 24 Mei 1949.

“Sim menanggung nyeri yang sangat akibat kram jantung,” kata Andre seperti dikutip de Moor dalam biografi Spoor. Menurut Andre Spoor sudah bekerja keras, “bagai hewan,” dan sekarang, “habislah tenaganya.”

Setelah kunjungan Andre, keesokan harinya kondisi Spoor menurun, lalu meninggal siangnya. Spoor dimakamkan hari Sabtu tanggal 28 Mei di Ereveld Menteng Pulo Jakarta. Spoor adalah Jenderal yang meletakan batu pertama pembangunan pemakaman korban Perang Dunia II tersebut. Berkas kesehatan Spoor yang dihancurkan, dibenarkan oleh de Moor.

Spekulasi soal siapa di balik pembunuhan Spoor yang beredar di Belanda sendiri tak kalah menarik dengan spekulasi kematian Spoor di Tapanuli.

“Ada yang mengatakan bahwa pelaku-palaku mungkin terdapat di kalangan perwira yang diduga terlibat perdagangan senjata dan korupsi, dan merasa dikejar-kejar Spoor. Yang dimaksud ini adalah para perwira KNIL dan KL yang dikiranya terlibat pembunuhan Vandrig Rob Aernot,” tulis de Moor. Aernot terbunuh di Lembang pada 28 Februari 1948. Perwira ini dianggap yang tahu banyak soal kasus korupsi di kalangan petinggi Belanda di Indonesia.

Spoor sendiri gerah dengan masalah korupsi tersebut. Kisah Rob Aernot sendiri pernah diceritakan oleh Peter Schumacher dan Gerard de Boer dalam De Zaak Aernot (2009). Menurut versi ini, kematian Spoor dan Aernot dianggap kemauan perwira-perwira korup di tubuh tentara Belanda sendiri. Meskipun, untuk kematian Aernot yang dijadikan pelaku adalah karena orang-orang Indonesia. Sementara untuk Jenderal Spoor, sangat memalukan jika pelakunya adalah orang Indonesia.

Baca juga artikel terkait SPOOR atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti