Mimpi Menyulap 'Emas Hitam' Jadi Gas Berharga

Ilustrasi batu bara. Getty Images/iStockphoto
Oleh: Dano Akbar M Daeng - 12 Desember 2017
Dibaca Normal 3 menit
Sebagai negara penghasil batu bara, Indonesia masih memanfaatkan mineral ini tanpa proses olahan, sehingga tak bernilai tambah.
Jan van Helmont tak menyangka hasil percobaan pada batu bara yang dipanaskan ternyata menghasilkan gas. Temuan ahli kimia Belgia ini terjadi pada 1609, lalu dikembangkan ke seluruh dunia. Hingga 1920-an sebanyak 20 persen pasokan gas Amerika Serikat (AS) bersumber dari "emas hitam" batu bara dari proses yang umum disebut gasifikasi.

Slamet Suprapto dalam bukunya Karakteristik dan Pemanfaatan Batu Bara, mengatakan teknologi sejenis juga masuk Hindia Belanda. Dalam catatannya, pabrik gas yang memproduksi gas kota dan kokas sempat beroperasi di Jakarta, Bogor, Bandung, Semarang dan Surabaya. Saat itu, batu bara yang dipakai jenis yang masih diimpor.

"Namun pabrik-pabrik gas tersebut berhenti beroperasi pada awal tahun 1970-an akibat adanya gas alam yang harganya murah."

Setelah itu, upaya menghadirkan teknologi gasifikasi batu bara terus bergulir, tapi umumnya mandek di tengah jalan. Biasanya teknologi pemanfaatan energi tertentu akan bergulir bila dianggap lebih ekonomis.

Pada 2006, PT PLN (Persero) dan PT Coal Gas Indonesia bersama Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan batu bara (Puslit Tekmira) pernah berkolaborasi mengembangkan gasifikasi batu bara untuk Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD).


Sayang, proyek ini kandas hanya sampai pada tahap uji coba atau biasa disebut pilot plant dan tidak berlanjut ke tahap selanjutnya karena ada aspek bisnis yang tidak disepakati oleh PLN dan Coal Gas Indonesia. Setelah itu, tidak lagi terdengar lagi gasifikasi batu bara.

Gasifikasi adalah proses konversi batu bara menjadi produk gas melalui reaksi antara batu bara dengan pereaksi berupa udara, campuran udara/uap air, atau campuran oksigen/uap air. Hasil reaksi berupa syngas yang merupakan bahan baku untuk diproses lebih lanjut menjadi Dimethyl Ether (DME).

DME bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar mesin, bahan pokok pembuatan urea pada pupuk, dan polypropylene sebagai bahan baku plastik.

Gasifikasi bagian dari hilirisasi yang sebenarnya wajib dilakukan oleh industri tambang batu bara. Ketentuan tentang hilirisasi sudah tertuang pada pasal 102 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan batu bara.


Hanya saja, ketika berbicara tentang hilirisasi pertambangan, sektor batu bara kerap dikesampingkan lantaran terlalu terbuai mengejar hilirisasi pada sektor mineral seperti emas, tembaga dan sebagainya.

“Teknologi gasification masih terbilang mahal sehingga faktor keekonomian yang menjadi faktor penghambat investasi,” kata Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia kepada Tirto.

Teknologi gasifikasi di dunia sudah berkembang, kemunculan pabrik gasifikasi batu bara di mulut tambang yang beroperasi di banyak negara seperti Cina, Mongolia, Belanda, Amerika Serikat, dan beberapa negara lainnya.

Di Indonesia, upaya menghadirkan gasifikasi batu bara muncul lagi. Pekan lalu, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) telah menandatangani dokumen Head of Agreement (HoA) tentang hilirisasi batu bara dengan PT Pertamina (Persero), PT Pupuk Indonesia (Persero), dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. PTBA akan mendapatkan kepastian konsumen, dan tiga perusahaan lainnya akan mendapatkan kepastian pasokan gas dari batu bara.

Pabrik pengolahan gasifikasi batu bara akan di bangun di mulut tambang milik PTBA yang berlokasi di Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Targetnya, bisa beroperasi pada 2022.

“Ini masih dalam tahap FS Bankable (studi kelayakan), nilai investasinya belum ada sampai saat ini,” kata Sekretaris Perusahaan PTBA, Suherman.




Pada Agustus lalu, perusahaan asal Cina, Sedin Engineering Co. Ltd, pernah menjajaki proyek gasifikasi batu bara di Indonesia. Estimasi investasi yang mereka hitung sekitar US$ 1,2 miliar. Sedin Engineering memiliki teknologi mumpuni untuk memproduksi gas sintetis dengan harga 20-30 persen lebih murah dari gas alam.

Sebelumnya juga ada perusahaan asal Jerman yakni Zemag Clean Energy Tech gmbH yang menyampaikan minat serupa. Keduanya punya pemintaan yang sama, yaitu jaminan harga dan pasokan batu bara.

PT Pupuk Indonesia yang tengah terbelit beban biaya produksi akibat harga gas alam ini sangat antusias dengan proyek gasifikasi batu bara. Ini karena 70 persen komponen biaya bahan baku produksi urea adalah gas. Jadi wajar saja jika perusahaan ini terpukul dengan tingginya harga gas.

“Masalah utama kita kan pasokan dan harga gas. Teorinya dengan gasifikasi batu bara dua masalah tadi terpecahkan. Pasokan lancar dan murah,” kata Head of Corporate Communication PT Pupuk Indonesia, Wijaya Laksana.


Langkah PT Pupuk Indonesia sudah benar. Potensi gasifikasi batu bara memang cukup menjanjikan. Jika melihat data Kementerian ESDM, proyeksi cadangan batu bara di Indonesia mencapai 91 miliar ton, dengan tingkat produksi berkisar 200-300 juta ton per tahun. Umur tambang batu bara diproyeksi masih bisa mencapai 100 tahun. Hitungan yang cukup aman untuk keberlanjutan industri pengguna batu bara terutama dalam bentuk gas.

Sementara itu, dalam hitungan Kementerian Perindustrian, sedikitnya dibutuhkan investasi sebesar Rp13 triliun untuk menghasilkan 1000 metrik ton turunan gasifikasi batu bara. Dari hasil pengujian, terhitung 100.000 ton batu bara bisa menjadi 3.600 million metric british thermal unit (mmbtu) gas per hari.

Sementara itu, gas yang dihasilkan tidak digunakan dapat dipakai untuk industri dalam negeri perkiraan harga US$4-5 per mmbtu. Harga yang relatif bersaing dengan gas yang dihasilkan oleh gas alam.

Kementerian ESDM dalam "Kajian subtitusi gas dengan energi lain pada sektor industri" mengungkapkan dari sisi ekonomis, batu bara memang jauh lebih hemat dibandingkan BBM solar, dengan perbandingan Solar Rp0,74/kilokalori dan batu bara hanya Rp0,09/kilokalori yang mengacu harga solar industri Rp6.200/liter.


Ini artinya batu bara yang sifatnya tak terbarukan dan dihasilkan dari proses endapan fosil ratusan juta tahun sangat sayang bila tak ada nilai tambah dan hanya dijual dengan harga murah. Apalagi proses penambangan batu bara termasuk yang membuat kerusakan berat pada lingkungan karena sifatnya sebagai bahan galian.

Sehingga sangat wajar bila pemanfaatan batu bara tidak langsung dibakar atau cara-cara konvensional. Batu bara akan lebih bernilai dan efisien bila dikonversi menjadi gas sintetis atau buatan untuk bahan petrokimia yang bernilai tinggi seperti pupuk dan lainnya. Gasifikasi batu bara yang sudah lama jadi wacana hanya butuh pembuktian.

Baca juga artikel terkait PLTU BATU BARA atau tulisan menarik lainnya Dano Akbar M Daeng
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Dano Akbar M Daeng
Penulis: Dano Akbar M Daeng
Editor: Suhendra
DarkLight