Mewarnai Foto Hitam Putih

Reporter: Petrik Matanasi, tirto.id - 20 Agu 2016 12:04 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Masa lalu tak lagi di lihat hitam dan putih saja. Masa lalu punya warna lain selain hitam dan putih. Itulah mengapa orang-orang yang hobi mewarnai foto lawas itu merekontruksi sejarah melalui foto mereka.
tirto.id - Foto hitam putih begitu dominan dalam sejarah Indonesia. Padahal foto-foto itu sering menjadi media pembelajaran sejarah di sekolah. Anak-anak sekolah dasar barangkali tidak begitu tertarik melihat foto hitam putih. Anak-anak lebih suka yang berwarna. Pelajaran sejarah tentu jadi lebih membosankan lagi.

Perkembangan foto berwarna memang tergolong lama, bahkan bisa dikatakan lambat. Pada 1861, James Clerk Maxwell telah memperkenalkan foto berwarna. Pada 1877, Louis Ducos du Hauron membuat foto pemandangan berwarna untuk pertama kali. Namun, foto-foto yang beredar masih foto-foto hitam putih, bahkan setelah George Eastman mengembangkan kodak.

Komunitas grup Indonesia History in Colorized Photos tergerak untuk mewarnai foto-foto sejarah hitam putih itu. Cukup banyak foto lawas hitam putih yang sudah diwarnai. Tanpa menghilangkan suasana masa lau di dalam foto. Sesuai namanya, Indonesia History in Colorized Photos, lebih sering mewarnai foto-foto yang terkait dengan sejarah Indonesia. Sebanyak 2.771 orang bergabung di dalamnya.


Selain Indonesia History in Colorized Photos, ada juga grup Recoloring Foto Jadul, yang menyajikan foto-foto olahan dari hitam putih ke berwarna di Facebook. Ratusan foto hasil karya mereka terpajang di sana.

Foto-foto Hitam Putih Bertebaran

Ada sebutan coloring, colorize atau colorizing untuk hobi mewarnai foto hitam putih ini. Intinya adalah mewarnai foto hitam putih. Hobi ini, menurut pelaku hobi ini, di Indonesia masih sedikit pelakunya. Lebih banyak orang yang suka melihatnya. Untuk mengerjakannya hanya membutuhkan komputer dengan software Photoshop saja, dan koleksi foto-foto yang mudah ditemukan di internet.

Foto-foto itu nampak seperti hasil reka ulang atau reenachtment. Tentu saja foto-foto ini bisa membantu orang-orang yang akan melakukan renachtment. Setidaknya membantu mereka membuat seragam, dummy senjata atau properti lainnya.

Banyaknya foto militer Belanda bisa jadi karena mereka memiliki sumber daya untuk mendokumentasikan peristiwa-peristiwa sepanjang 1945 hingga 1950. Ketika sebagian serdadu Belanda mengamuk di Bandung, pada 23 Januari 1950, seorang fotografer militer bernama August Nussy mendokumentasikan kekejaman serdadu-serdadu Belanda di Bandung itu.

Pihak Republik memang punya Indonesia Press Photo Service (IPPHOS) yang membuat banyak dokumentasi terkait Republik Indonesia. Termasuk foto proklamasi. Namun, sumber daya mereka terbatas. Foto-foto yang dijepret pihak Belanda di Indonesia pun jumlahnya cukup banyak beredar di dunia maya. Termasuk juga foto-foto kekejaman marinir Belanda di Jawa Timur. Tentu saja masih banyak foto-foto yang masih hitam putih.

Marcel Jack, motor dari grup Indonesia History in Colorized Photos, adalah yang paling produktif mewarnai foto-foto lawas. Beberapa di antaranya adalah foto ayahnya yang berdinas sebagai Polisi Militer. Kebanyakan foto yang dibagikan di grup ini memang foto terkait militer di masa revolusi. Ada foto pejuang Republik dan banyak foto militer Belanda.


Marcel biasa mendapatkan foto-foto di dunia maya. “Sumber foto yang diwarnai sebagian besar justru saya peroleh dari situs pemerintah asing,” ungkapnya. Foto-foto hitam putih itu memang mudah ditemukan di Imperial War Museum (IWM) Inggris, Australian War Memorial (AWM) Australia), Het Genootschap voor het Nationaal Archief (Gahetna) dan Geheugenvannederland dari Belanda, UN Photo Collections, majalah Life memajang banyak foto-foto hitam putih yang terkait dengan Indonesia di masa lalu. Ironisnya, Marcel merasakan, “justru dari negara kita sendiri saya malah kesulitan memperolehnya.”

Foto-foto yang diperolehnya dari situs pemerintah asing berkualitas bagus. Foto-foto itu jernih dan resolusi tingginya sehingga sangat mudah. Foto-foto lawas itu diolah dalam bentuk digital dengan software Photoshop di komputer.



Merekonstruksi Sejarah Dengan Warna

Kesulitan lain yang dihadapi Marcel adalah ketika ada foto bagus tapi tidak tahu dan tidak punya referensi warna untuk mengolah foto itu. Marcel dan kawan-kawan yang punya hobi sama dengannya, sering bermasalah dalam referensi sejarah rupanya. Marcel mengaku pengetahuan sejarah sangat penting dalam hobi ini, terutama dalam hal memilih warna.

“Pengetahuan sejarah sangat penting dalam memilih warna. Agar foto yang kita warnai itu, tidak sekedar foto yang berubah dari hitam putih ke berwarna saja. Tetapi juga dari hasil foto olahan tersebut mampu 'berbicara' betapa heroiknya, betapa kejamnya, dan betapa dahsyatnya suatu foto pertempuran masa lalu. Itu untuk foto tentang perjuangan. Kalau untuk mewarnai foto seorang tokoh, dari hasil olahannya dapat menggambarkan bagaimana tokoh tersebut sangat berwibawa atau tegas,” jelas Marcel.

Hasil olahan bisa memengaruhi kesan penikmat foto olahan itu terhadap subjek atau objek di dalam foto. Hobi ini tak hanya memerlukan ketelitian dalam menggunakan program photoshop. Pengolah foto juga harus tahu lebih detail benda-benda di dalam foto dan peristiwa yang terjadi di dalam foto.

“Kita harus tahu tentang sejarah perlengkapan perang saat itu yg digunakan tentara Belanda atau Inggris dan Amerika termasuk lambang-lambang unit kesatuan mereka. Juga warna seragam tempur yang digunakan saat itu,” jelas Marcel.

Menurutnya, warna baret dan warna sepatu saja berbeda untuk tiap negara berbeda-beda. Begitu juga dengan jenis senjata, pesawat terbang, kapal laut juga tank yang digunakan. Marcel pun merasa harus tahu tanggal kejadian peristiwa terjadi di foto yang diolahnya. Hingga Marcel nampak seperti sejarawan. Setelah foto tersebut dishare di media sosial, berbagai tanggapan, pujian dan kritik dia terima.

“Saya pernah di komplain sesorang. Karena dia anggap saya salah mewarnai warna seragam tentara Belanda. Tapi, saya punya bukti dan referensi yang tepat. Jadi bisa saya sanggah komplein dari orang tersebut,” akunya lagi. Komentar-komentar di postingannya itu bisa nampak seperti sebuah diskusi sejarah ringan.

Selama ini, foto-foto hasil olahan itu bersumber dari foto-foto yang diklaim sebagai milik lembaga tertentu. Ada juga foto-foto yang merupakan koleksi perorangan, yang kebetulan tersebar di internet. Meski begitu, Marcel dan kawan-kawan belum pernah dituntut atas foto hitam putih yang mereka olah.

“Menuntut belum pernah dan jangan sampai terjadi hehehe Kalau berterima kasih malah pernah ketika sebuah foto milik perseorangan saya warnai dan yang punya foto kirim email ke saya mengucapkan terima kasih,” aku Marcel yang belajar sejak 2005.

Baca juga artikel terkait HOBI atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Hobi)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti

DarkLight