Mereka Tak Ingin Golput, tapi Tak Bisa Ikut Pemilu

Oleh: Renalto Setiawan - 19 April 2019
Dibaca Normal 3 menit
“Pekerjaan ini tidak bisa saya tinggalkan." Makdis, penjaga lintasan kereta api di Stasiun Kebayoran Lama.
tirto.id - Pada pandangan pertama, Ahmad, 42 tahun, tampak seperti penjual sate Madura pada umumnya. Peci berwarna hitam ia kenakan untuk menutupi rambutnya yang mulai menipis. Saat ia bercakap dengan Janur, yang membuka sebuah bengkel mobil di samping tempatnya berdagang sate, logat Madura muncul dengan kentara di sana-sini.

Namun, ada sisi lain dari kehidupan Ahmad yang tak biasa. Ketika banyak orang datang ke TPS dengan keyakinan calon yang dipilih akan bisa membikin kehidupannya bangkit dari puing-puing, Ahmad seperti tak ambil pusing. Ahmad memilih ngobrol ngalor-ngidul bersama Janur.

“Nanti siang gerobak satemu bawa ke bengkelku, Mad,” kata Janur.

“Memangnya kenapa?,” tanya Ahmad, penasaran.

“Kayaknya cocok dikasih AC.”

Ahmad tertawa, lantas menjawab, ”Aku mau ganti velg racing dulu.”

Sampai taraf tertentu, pembicaraan Ahmad dan Janur di pinggir jalan masuk Kampung Baru, Kebayoran Lama, itu memang mengesankan kegembiraan. Ahmad, orang Madura asli yang sudah berjualan sate di Jakarta sejak tiga tahun lalu, tertawa begitu dahsyat.

Pertanyaan-pertanyaan Janur, asal Kuningan, Jawa Barat, yang belum genap satu tahun membuka bengkel mobil di Jakarta, adalah pemantik tawa yang pas.

Setelah beberapa waktu mengobrol bersama mereka, saya kemudian mendapati alasan mereka tak bergegas ke TPS. Pagi itu, pada 17 April 2019, Ahmad dan Janur sebetulnya berhahahihi untuk melupakan kenyataan buruk. Mereka ingin memilih, tetapi urung melakukannya karena merasa prosedur dari Komisi Pemilihan Umum [KPU] terlalu berbelit-belit.

“Malas mengurus formulir A5 agar bisa memilih di Jakarta. Pasti ribet. Saya tidak ada waktu,” kata Janur.

Dan, dengan alasan yang berbeda-beda, mereka ternyata tidak sendirian.

***

Sekitar pukul sebelas siang, Stasiun Kebayoran Lama ramai pengunjung. Sebagian besar dari pengunjung itu berdandan necis. Ada segerombolan pemuda, sekumpulan keluarga, dan ada dua-tiga orang yang bahkan sempat beswafoto di depan tulisan “Stasiun Kebayoran Lama.”

Orang-orang itu memancarkan nada kebahagiaan dan hampir membuat saya bergumam “Maklum, tanggal merah,” sampai kemudian seorang wanita mengomel kepada pria yang tampaknya adalah suaminya.

“Ayo, Pak, cepet. Masih sempat nyoblos enggak ini?!” ibu itu berseru sambil berjalan cepat menuju peron stasiun.

Seorang pria tiba-tiba menghampiri saya, “Mas, kalau mau beli tiket di sebelah mana, ya?”

Saya menunjukkan kepadanya arah loket yang berada di lantai bawah. Ia bersama tiga orang kawannya mengucapkan terima kasih, lalu bergegas menuju ke arah loket. Namun, satu orang temannya memilih tetap menunggu di lantai atas. Namanya Kartojo, 52 tahun. Orang asal Solo, Jawa Tengah.

Pak Kartojo bercerita kepada saya bahwa ia dan tiga rekannya itu baru saja ditolak untuk mencoblos di salah satu TPS yang berada di Kampung Duku, Kebayoran Lama, tempat ia tinggal di Jakarta. Anggota KPPS beralasan Kartojo, dkk. tak bisa memilih karena tidak mempunyai formulir A5.

Pak Kartojo tidak tahu syarat itu. Berdasarkan informasi yang ia peroleh dari televisi, ia tetap bisa memilih di luar daerah asalkan mempunyai KTP elektronik. Padahal, ia sengaja pulang dari BSD, Tengerang, tempat ia bekerja, untuk menyampaikan aspirasinya. Setelah itu, sebagai pemborong bangunan yang masih di kejar-kejar pekerjaan, ia harus kembali ke tempat kerjanya.

“Tiga teman saya itu dari Lamongan. Tukang. Pekerjaannya top. Mereka saya ajak pulang biar bisa milih, tetapi ternyata tidak bisa,” katanya. “Kecewa saya, Mas. Dikit-dikit, kan, [suara kami] bisa nambah suara.”

Sambil terkikik, ia lantas menambahkan, “Tadi harusnya [teman-teman saya] tidak usah dikasih tahu tempat loketnya. Biarin, sengaja saya kerjain.”

Setelah Pak Kartojo dan rekan-rekannya pamit, saya menghampiri dua orang petugas stasiun yang berjaga di depan pintu masuk ke peron. Yang menarik, seperti Pak Kartojo dan rekan-rekannya, mereka juga urung memilih karena tidak tahu bahwa pemilih dari luar daerah harus menggunakan formulir A5.

”Tadi empat rekan saya datang ke TPS yang berada di dekat stasiun [TPS 04 dan 05, Kebayoran Utara]. Mereka pengen nyoblos, tapi enggak dibolehin," kata Andi Supriatna, 24 tahun, yang bekerja sebagai penjaga keamanan.

Ucapan pria asal Rangkasbitung, Banten itu diamini Kurnia, 23 tahun, yang bertugas sebagai passenger service. Ia adalah salah satu yang ikut datang ke TPS di dekat stasiun. Bahkan, karena merasa kecewa, ia sempat mengajak Andi untuk kembali datang ke TPS itu.

“Saya sebetulnya tahu harus pakai formulir A5, tapi saya tidak sempat urus karena kerja. Terus saya nyoba pakai KTP elektronik, ternyata tidak boleh,” tutur Kurnia.

“Tapi yakin pilihannya bakal menang?” tanya saya.

Sebelum menjawab, Kurnia sempat pamit untuk melayani seorang pengunjung stasiun yang bertanya di sebelah mana pintu masuk ke arah peron. “Yakinlah, mas. Orang kinerjanya bagus. Yang kemarin tinggal diterusin,” jawab Kurnia.

Andi dan Kurnia lantas bercerita bahwa hari itu ada sekitar 25 orang bekerja di Stasiun Kebayoran Lama. Mereka mulai bekerja pada pukul setengah enam pagi hingga pukul dua siang. Seperti mereka, sebagian besar dari mereka adalah orang dari luar Jakarta. Namun, saat ditanya apakah rekan-rekan kerja mereka juga gagal memilih, Kurnia dan Andi tak tahu betul. Barangkali iya, barangkali ada yang sempat mengurus formulir A5, kata Andi ragu.

“Satu-satunya yang benar-benar enggak bisa milih itu, ya, petugas PJL (Penjaga Lintasan). Itu bukan karena formulir A5 atau apa, sih. Itu karena tuntutan pekerjaan.”

***

Infografik Periksa Data Golput Pemilu Indonesia
undefined


Makdis, 37 tahun, baru saja membuka jalur umum yang dilintasi KRL ketika saya menghampirinya. Tempat kerjanya berada sekitar 300 meter di luar stasiun. Ia seperti seorang penjaga gawang dalam tim sepakbola: sendirian, tetapi mempunyai tanggung jawab kelewat besar.

Telat sedikit saja membuka portal, klakson-klason kendaraan pasti membuat kepalanya pening. Telat sedikit saja menutup portal, kecelakaan maut bisa terjadi. Padahal, dari jam setengah enam pagi hingga jam dua siang, ada 81 KRL yang melintasi jalur di depan pos penjagaannya.

Makdis berasal dari Rangkasbitung, Banten. Di Stasiun Kebayoran Lama, ia sudah berkerja sebagai Petugas PJL selama tiga tahun. Seragamnya yang berwarna oranye adalah kebesarannya. Lap kaca serta air adalah temannya untuk membunuh kesepian. Saya menyapanya, ia sedikit kaget.

Setelah saya menjelaskan maksud kedatangan saya, rasa kagetnya berangsur-angsur hilang. Namun, ia sempat terdiam sebelum menjawab pertanyaan saya, “Apakah Bapak tidak ingin memilih dalam Pemilu 2019?”

“Ya, tentu pengin, Mas. Tetapi, pekerjaan ini tidak bisa saya tinggalkan,” ujarnya. “Mau ditinggal sebentar enggak mungkin. Saya di sini, kan, sendirian.”

Kami kemudian mengobrol sekitar sepuluh menit, tentang tuntutan pekerjannya, hingga tentang impiannya saat calon pemimpin yang ingin dipilihnya berhasil menang. Saat saya pamit, ia tiba-tiba mengucapkan sesuatu.

“Rasanya tidak bisa milih itu seperti pas lebaran, Mas. Saat orang-orang bisa Salat Id, tapi kitanya harus kerja.”

Baca juga artikel terkait PEMILU 2019 atau tulisan menarik lainnya Renalto Setiawan
(tirto.id - Politik)

Reporter: Renalto Setiawan
Penulis: Renalto Setiawan
Editor: Maulida Sri Handayani