Meragukan UFO dan Merayakannya Sebagai Agama

Ilustrasi Ufo. foto/istockphoto
Oleh: Ahmad Zaenudin - 4 Mei 2020
Dibaca Normal 4 menit
Pentagon merilis video terkait UFO.
Pada Maret 2015 silam, pelawak Jimmy Kimmel sesumbar di hadapan Presiden Barack Obama yang tengah diwawancarainya dalam acara Jimmy Kimmel Live!. Kimmel menyatakan bahwa dirinya akan terpilih menjadi presiden Amerika Serikat berikutnya.

“Di hari pertama sebagai presiden,” tutur Kimmel, “tak lama selepas disumpah di hadapan Alkitab, saya akan pergi mendatangi instansi di pemerintahan yang memegang dokumen soal Area 51 dan soal UFO untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.”

Sambil menatap Obama di samping kanannya, Kimmel bertanya: “Anda dulu melakukan itu?”

“Inilah alasan mengapa kamu tampaknya tidak akan menjadi presiden,” jawab Obama dengan kegirangan.

Ditanya lebih lanjut oleh Kimmel apakah Obama mencari informasi terkait UFO tatkala menjabat presiden, tegas Obama menjawab: “Rahasia!”

Hampir lima tahun berlalu, rahasia pemerintah AS terkait UFO sedikit terbuka. Pada pekan terakhir April 2020, di tengah pandemi COVID-19, Departemen Pertahanan (DoD) AS merilis tiga video“benda terbang tidak dikenal” yang mengangkasa di atas lautan Pasifik dan Pantai Timur AS, pada akhir 2004 dan awal 2015 silam. Video itu diambil oleh pasukan penerbangan Angkatan Laut AS.


“Video-video yang ditangkap oleh para penerbang angkatan laut itu menunjukkan benda-benda asing di langit yang berputar melawan angin, dan para pilot yang melihatnya menunjukkan kebingungan dan kekaguman,” tulis New York Times, melaporkan informasi terkait UFO yang dipaparkan Pentagon.

DoD, yang kerap diplesetkan menjadi “GOD” oleh publik AS, melalui juru bicara Susan Gough mengkonfirmasi bahwa tiga video yang beredar luas itu memang "rekaman yang dibuat oleh penerbang angkatan laut, bukan rekaan.” Menurut Gough, perilisan tiga video terkait fenomena UFO secara resmi oleh Pentagon dilakukan untuk “menjernihkan kesalahpahaman”.

Masih merujuk New York Times, Tom DeLonge, anggota band Blink-182 sekaligus salah satu pendiri To the Stars Academy of Arts & Sciences--lembaga yang rajin mengumpulkan dokumen-dokumen terkait penampakan UFO--menyatakan bahwa apa yang dilakukan Pentagon “adalah berita yang spektakuler”. Sebab, tutur DeLonge, selama ini dokumen-dokumen terkait penampakan UFO yang beredar di tengah masyarakat diragukan keasliannya. Maka, tatkala Pentagon merilis tiga video terkait UFO, tindakan itu diyakini akan “menghapus keraguan tentang keabsahan suatu bukti terkait UFO di ranah publik”.

Benarkah?

Diragukan Ilmuwan, Dijadikan Agama

“Pagi hari 20 Juli 1952,” tulis Laura M. Holson untuk New York Times, “Kapten S.C. ‘Casey’ Pierman hendak lepas landas dari Washington National Airport dengan pesawat tempurnya.” Namun, sebelum sempat Kapten Pierman mengucap “rotate”, sebagai tanda pesawat untuk terbang, ia mengaku melihat “cahaya terang menembus cakrawala dan menghilang” kepada petugas lalu-lintas udara.

Tak ambil pusing, kata “rotate” diucap dan Kapten Pierman mengudara. Pada 1952 teknologi memang belum secanggih hari ini dan Svenska Resenätverket AB--perusahaan internet asal Stockholm, Swedia--masih memerlukan 54 tahun sejak Kapten Pierman mengudara untuk merilis Flightradar24. Namun, saat itu teknologi lawas bernama “radar” sukses mendeteksi “dua atau tiga benda terbang tak dikenal terlihat melaju dengan kecepatan tinggi di sekitar jalur Kapten Pierman terbang.” Maka, seketika petugas lalu-lintas meminta Kapten Pierman mengejar benda terbang itu.

Pierman pun mengejar benda asing itu hingga pantai barat Virginia.

Dalam keterangan resminya kemudian, Kapten Pierman mengaku menyaksikan "tujuh lampu putih kebiruan yang tampak seperti bintang jatuh tanpa ekor”.

LIFE, salah satu majalah terkeren yang pernah terbit di dunia, mengkonfirmasi kisah Kapten Pierman dan menyatakan bahwa Angkatan Udara AS telah diam-diam menyelidiki benda-benda terbang asing di wilayah udara AS.

Seketika, UFO alias Unidentified Flying Objects alias atau benda terbang tidak dikenal menjadi buah bibir. Pertanyaan tentang “adakah makhluk cerdas selain manusia di Bumi ada?” mengemuka.

Di masyarakat, muncul proyek-proyek swadaya untuk menguak keberadaan UFO dan alien, seperti yang dilakukan To the Stars Academy of Arts & Sciences, Center for the Study of Extraterrestrial Intelligence, dan Mutual UFO Network.

Di sisi lain, pemerintah AS tidak tinggal diam. Pada musim semi 1952 hingga 1969, Washington mendirikan Project Blue Book untuk menyelidiki kemungkinan adanya UFO dan alien yang datang ke Bumi. Dalam laporan New York Times lain yang ditulis Helene Cooper, di tahun 2007, DoD, diinisiasi senator asal Nevada Harry Reid dan pengusaha teknologi yang pernah bekerjasama dengan NASA Robert Bigelow, mendirikan Advanced Aerospace Threat Identification Program pada 2007 dengan anggaran sebesar “hanya” $22 juta.

Advanced Aerospace Threat Identification Program, senada dengan Project Blue Book, melakukan investigasi atas laporan-laporan penampakan UFO. Penyelidikan itu dikepalai ahli intelijen Pentagon, Luis Elizondo.

“Program ini menghasilkan dokumen-dokumen yang menggambarkan penampakan pesawat yang kelihatan bergerak dengan kecepatan sangat tinggi tanpa ada tanda-tanda tenaga penggerak, atau yang melayang tanpa mesin yang jelas,” tulis New York Times. Salah satunya adalah sebuah objek terbang asing yang dikejar oleh dua jet tempur Angkatan Laut F/A-18F dari kapal induk Nimitz di lepas pantai San Diego pada 2004 silam.

Meski akhirnya Advanced Aerospace Threat Identification Program ditutup pada 2012, Bigelow menyatakan dirinya “sangat yakin” bahwa alien benar-benar ada dan pernah mengunjungi Bumi melalui UFO.

Di sisi lain, banyak kalangan meragukan keberadaan alien dan UFO sebagai kendaraan menuju Bumi. Astrofisikawan asal Massachusetts Institute of Technology Sara Seager menyatakan ketiadaan informasi tentang asal-usul suatu objek terbang tidak menunjukkan bahwa objek yang bersangkutan berasal dari alien atau luar angkasa.

Seager mengakui bahwa di satu titik investigasi untuk mengetahui asal-usul objek asing yang mengangkasa di langit Bumi memang perlu dilakukan. "Terkadang orang-orang tidak mengerti bahwa dalam sains, fenomena yang tidak dapat dijelaskan adalah hal yang biasa dan ketidak-dapat-dijelaskan itu juga merupakan bagian dari sains,” ujarnya mengingatkan.

Mantan insinyur ulang-alik NASA James E. Oberg menegaskan bahwa ada banyak objek asing di angkasa bukan UFO, "melainkan pesawat-pesawat pengintai yang jelas ingin terbang dengan kamuflase dan tak ingin dideteksi.”

Diane Peters, dalam paparannya di Quartz, menyebutkan bahwa di dalam dunia sains, ilmuwan-ilmuwan yang menyatakan kemungkinan adanya alien dan UFO umumnya dikucilkan. Misalnya, pada 2017 silam, Avi Loeb, Kepala Departemen Astronomi Harvard University, mempublikasikan makalah berjudul “Could Solar Radiation Pressure Explain ‘Oumuamua’s Peculiar Acceleration?” Oumuamua yang dimaksud ialah semacam komet atau asteroid yang terbang dengan kecepatan 315.431 kilometer per jam yang keberadaannya sukses ditangkap teleskop milik University of Hawaii.

Bagi Loeb, Oumuamua kemungkinan adalah "mesin canggih yang sengaja dikirim ke sekitar Bumi oleh peradaban alien”.


Seketika, makalah Loeb dihajar banyak ilmuwan dunia. Paul Sutter, astrofisikawan Ohio State University, menyatakan Loeb telah "menghina penelitian ilmiah”. Astrofisikawan lain, Ethan Siegel, menyebut makalah Loeb sebagai “contoh mengejutkan dari sains yang hanya mengejar sensasi dan berniat buruk.”



Penjelasan tentang Oumuamua mungkin memang aneh. Namun, bagi Peters, serangan terhadap makalah Loeb adalah paradoks. Menurutnya, ada banyak ilmuwan dunia meyakini bahwa ada dunia paralel, dunia dimensi keempat (fourth dimensional being), hingga meyakini keberadaan planet yang identik dengan Bumi di sistem tata surya lain, meski mereka tak pernah melihat langsung. Denga demikian, sikap yang mendiskreditkan makalah Loeb sebagai pencari sensasi patut dipertanyakan ulang.

Fisikawan NASA Silvano Colombano menambahkan alien dan UFO menjadi tema tabu untuk didiskusikan kalangan akademisi karena di dunia sains terdapat bidang-bidang yang dihindari kalangan ilmuwan. Menurut Colombano, bidang-bidang itu telah diputuskan untuk tidak dipertanyakan lagi. Alien dan UFO termasuk di dalamnya.

Di sisi lain, meskipun diragukan kalangan ilmuwan, keberadaan alien dan UFO telah dipercaya tidak sedikit orang.

Dalam paparannya di Vox, Sean Illing menyatakan bahwa keyakinan soal UFO kini menjadi semacam “agama” di sebagian kalangan. Diana Pasulka, profesor pada University of North Carolina yang diwawancarai Illing, menyatakan bahwa agama dan UFO kerap berada di posisi yang sama.

“Salah satu definisi yang sangat tua yang diyakini manusia adalah agama merupakan kepercayaan pada makhluk cerdas non-manusia dan adikodrati yang turun dari langit,” tutur Pasulka. Maka, apa bedanya dengan mempercayai keberadaan UFO?

Kepercayaan pada UFO, menurut Pasulka, bahkan dapat berakhir dengan pembuktian yang mustahil terjadi dalam praktik-praktik keagamaan.

Tak heran jika masyarakat AS mengenal Heaven’s Gate, sebuah aliran kepercayaan yang menganggap alien sebagai “Tuhan”. Bahkan, Pada 1997, 39 orang penganut Heaven’s Gate di San Diego melakukan aksi bunuh diri massal. Bagi mereka, bunuh diri massal adalah satu-satunya cara untuk menumpang UFO bernama Hale-Bopp.

Dalam pesan kematian yang ditinggalkan, Heaven's Gate menyatakan bahwa “Kelas kami di planet Bumi selama 22 tahun ini telah sampai pada ‘kelulusan’ dari tingkat evolusi manusia. Maka, dengan senang hati kami siap untuk meninggalkan ‘dunia ini’ untuk pergi bersama awak Ti.”

Baca juga artikel terkait UFO atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight