Menjadi Jurnalis Perempuan Pertama Secara Otodidak

Oleh: Wan Ulfa Nur Zuhra - 9 November 2016
Dibaca Normal 3 menit
Perempuan pertama yang menjadi jurnalis di Hindia Belanda. Rohana Koedoes memulai segalanya dari kebiasaan membaca dan menulis. Ia membuat sekolah untuk lingkungan sekitarnya, mengajari kerajinan, memelopori industri rumahan. Pasang suruh kehidupan dialami Rohana, dari disingkirkan anak didiknya sendiri hingga dituduh berselingkuh.
tirto.id - Pada 20 Desember 1884, bayi perempuan lahir di Kotogadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Ia keturunan Datuk Dinagari dari Puak Kato, salah satu keluarga terpandang yang memiliki jalur matrilineal tertua di Kotogadang. Bayi perempuan itu diberi nama Siti Roehana.

Ayah Roehana adalah hoofdjaksa atau jaksa kepala bernama Moehammad Rasjad Maharaja Soetan. Di masa itu, jabatan kepala jaksa termasuk jabatan penting dan berkelas. Ibunya bernama Kiam. Roehana adalah sulung dari 26 bersaudara. Kelak, ayahnya akan menikah lagi dan memiliki enam istri. Soetan Sjahrir adalah salah satu adik tiri Roehana.

Semasa kecil, Roehana tumbuh menjadi anak perempuan yang sangat dekat dengan ayahnya. Sang ayah, berkontribusi sangat besar dalam perkembangan intelektual Roehana. Rasjad—begitu panggilan sang ayah—sengaja berlangganan surat kabar dan menyediakan buku-buku untuk dibaca anak perempuannya, bahkan memesan koran dan buku dari Singapura untuk memperkaya bahan bacaan sang anak.

Profesi ayah Roehana membuatnya harus berpindah-pindah tempat tinggal. Ketika mengikuti ayahnya bertugas di Alahan Panjang, Roehana belajar banyak hal. Waktu itu, mereka bertetangga dengan seorang jaksa, Lebi Rajo nan Soetan dan istrinya Adiesah. Pasangan ini belum memiliki keturunan. Roehana kemudian mendapat perhatian dan kasih sayang dari sang tetangga. Ia diajari membaca, menulis, dan merajut. Di masa itu, merajut hanyalah keahlian perempuan Belanda.

Selain membaca berbagai buku politik, sastra, dan hukum milik ayahnya, Roehana juga melahap berbagai buku milik keluarga Lebi Rajo nan Soetan. Namun, proses pembelajaran yang menyenangkan itu tak berlangsung lama.

Dua tahun kemudian, ayah Roehana kembali dipindahtugaskan ke Simpang Tonang Talu. Di tempat yang baru inilah Roehana memulai kebiasaannya membaca buku keras-keras. Kebiasaan yang dilakukannya di tempat umum maupun di teras rumah itu awalnya dianggap aneh dan membuat heran orang di sekelilingnya. Namun, lama kelamaan, suara lantangnya menarik para tetangga untuk ikut belajar membaca dan menulis. Inilah yang menjadi awal pilihan jalan perjuangan Roehana.

Karena makin banyak orang yang berminat belajar, Roehana yang masih remaja itu memusutkan mendirikan sekolah di rumahnya. Teras rumah dijadikan ruang belajar sederhana. Ide ini juga mendapat dukungan dari sang ayah yang membantu membelikan alat tulis untuk dibagikan gratis. Sesekali, sang ayah juga ikut memberi pelajaran budi pekerti dan agama. Sedangkan Roehana, fokus mengajarkan baca tulis.

Semakin hari, peserta didik di sekolah sederhana milik Roehana semakin banyak. Tak hanya anak-anak, banyak juga ibu-ibu muda yang ikut belajar. Roehana pun menambah materi pembelajaran dengan mengajarkan cara menyulam dan menganyam.

Infografik Rohana Kudus


Roehana menikah di usianya yang ke 24 tahun, tepatnya pada 1908. Ia menikah dengan seorang notaris publik bernama Abdul Koeddoes. Sejak itu, Roehana dikenal dengan nama Roehana Koeddoes. Pernikahan tak membuat ia berhenti mengajar. Sang suami juga sangat mendukung pergerakan Roehana.

Pada 1911, Roehana mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) di Kotogadang. Sekolah ini berkembang pesat dan kian dikenal. Hasil karya peserta didik KAS pun dilirik para istri pejabat Belanda dan dinilai layak ekspor. Selain sebagai sekolah, KAS juga tercatat menjadi industri rumahan pertama di Kotogadang.

Sembari mengajar, Roehana juga gemar menulis. Ia kerap meluangkan waktu setidaknya dua jam sehari untuk menulis catatan harian.

Suatu hari ia menyadari sia-sianya jika tulisan tak ada yang membaca. Ia pun ingin menyebarluaskan kegiatan mengajarnya, agar ilmunya tak hanya bermanfaat bagi kaum perempuan di Kotogadang, tetapi juga bagi banyak orang. Ia mulai berpikir untuk menulis di surat kabar.

Di Batavia, ada koran perempuan yang terbit sejak 1908. Koran itu hadir atas inisiatif Tirto Adhi Soerjo. Roehana beberapa kali menjadi kontributor di koran itu. Namun sayang, Poetri Hindia kemudian tutup karena Tirto tersangkut beberapa perkara delik pers dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Roehana lalu berdiskusi dulu dengan ayah dan suaminya. Sampai kemudian diputuskan ia harus mengirim surat kepada Soetan Maharadja, pemimpin redaksi Oetoesan Melajoe.

Maharadja awalnya mengira Roehana ingin tulisannya dimuat di Oetoesan Melajoe. Padahal bukan. Roehana meminta dibuatkan koran khusus perempuan sendiri dan ia akan mengisi halaman demi halaman dengan tulisannya. Bak gayung bersambut, Maharadja setuju, kesepakatan pun terjadi antara mereka berdua dan lahirlah surat kabar Soenting Melajoe.

Roehana dibantu Ratna Djoewita, putri Soetan Maharadja, untuk mengelola Soenting Melajoe. Pada 10 Juli 1912, Soenting Melajoe menerbitkan edisi perdana. Isinya pemikiran-pemikiran Roehana tentang perempuan dan terbit sekali dalam sepekan. Kadang ia memuat saduran buku-buku dari luar negeri yang diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu.

Perjuangan Roehana untuk mendidik kaumnya tak selalu berjalan mulus. Beberapa kali ia mendapat cibiran, tuduhan, hingga fitnah, bahkan dari kaumnya sendiri. Ia dianggap melawan adat dan menyalahi kodrat perempuan.

Di antara berbagai fitnah dan cemooh, ada dua hal yang sangat mengganggunya hingga membuatnya memutuskan pindah ke Bukittinggi. Pertama, ia dilengserkan dari kursi pemimpin KAS—sekolah yang didirikannya—oleh muridnya sendiri. Kedua, konsultasi yang sering dilakukan dengan salah seorang pejabat pemerintah Belanda malah menuai fitnah. Ia dianggap memiliki hubungan gelap dengan pejabat Belanda. Anak dalam kandungannya dituduh sebagai anak hasil perselingkuhan. Untungnya, tuduhan itu hanya datang dari mulut segelintir orang, bukan dari suami atau keluarganya.

Di Bukitinggi, Roehana kembali mendirikan sekolah bernama Roehana School. Kurikulumnya tak jauh beda dengan KAS. Kepindahannya ke Bukittinggi pun tak membuatnya berhenti menulis untuk Soenting Melajoe.

Pada 1919, Roehana dan suaminya pindah ke Lubuk Pakam, Sumatera Timur. Ia memenuhi permintaan ayahnya untuk mengajar di sekolah cabang Dharma Putra. Setahun kemudian, ia pindah ke Medan dan mengajar di sekolah Dharma Putra pusat. Di kota itu, dia juga rajin menulis untuk surat kabar Perempoean Bergerak.

Tiga tahun tinggal di Medan, ia kembali ke Kotogadang, tetapi enggan terlibat lagi dengan KAS. Di tanah kelahirannya itu, ia mengajar di Vereninging Studiesfonds sambil menjadi redaktur surat kabar Radio dan Tjahaja Soematra.

Pada 17 Agustus 1972, tepat saat Indonesia berusia 27 tahun, Siti Roehana Koeddoes meninggal dunia. Saat itu ia berusia 88 tahun. Jasad Roehana dimakamkan di pemakaman umum Karet, Jakarta.

Dua tahun setelah kematiannya, pemerintah Sumatera Barat memberi penghargaan kepada Roehana sebagai wartawan perempuan pertama Indonesia. Pada peringatan Hari Pers Nasional ke III pada 1987, pemerintah Orde Baru juga menganugerahi Roehana dengan gelar “Perintis Pers Indonesia”.

Baca juga artikel terkait ROHANA KOEDOES atau tulisan menarik lainnya Wan Ulfa Nur Zuhra
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Wan Ulfa Nur Zuhra
Penulis: Wan Ulfa Nur Zuhra
Editor: Zen RS