Periksa Fakta

Menguji Klaim Herbavid-19 Sebagai Obat COVID-19

Oleh: Irma Garnesia - 8 Mei 2020
Dibaca Normal 3 menit
Efektivitas obat tradisional Cina (Traditional Chinese Medicine/TCM) dalam kasus COVID-19 masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
tirto.id - Anggota Komisi VI DPR RI sekaligus anggota Satgas COVID-19 DPR RI Andre Rosiade mengklaim melalui akun Twitternya, @andre_rosiade (arsip), pada Jumat (1/5/2020) bahwa sudah banyak orang yang sembuh dari COVID-19 yang disebabkan virus corona baru SARS-CoV-2 setelah mengonsumsi Herbavid-19.

Herbavid-19 yang didonasikan oleh Satgas COVID-19 DPR RI ke beberapa rumah sakit rujukan mendapat izin edar resmi dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) dengan nomor registrasi TR203643421. Obat itu didaftarkan oleh PT SATGAS LAWAN COVID-19 DPR RI, Jakarta Pusat, DKI Jakarta, dan diproduksi di pabrik Utomo Chinese Medical Center, Jakarta Utara.

Namun, terdapat sejumlah kejanggalan terkait produk jamu ini. Misalnya, proses mendapatkan izin edar untuk jamu ini sangat singkat mengingat izin edar obat tradisional lainnya bisa enam sampai tujuh bulan, seperti yang dijelaskan Inggrid Tania dari Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI).

Selain itu, Deputi Logistik Satgas COVID-19 DPR RI Nabil Haroen menyebut 11 bahan yang dipakai untuk produksi jamu ini. "Delapan dari lokal, tiga impor karena memang tidak ada di Indonesia," katanya. Sementara Andre, beberapa hari sebelumnya menyebut 13 bahan, hanya 2 yang berasal dari Cina.

Padahal, Herbavid-19 yang mendapat izin edar BPOM dibuat dari 10 bahan, berbeda dari klaim Andre maupun Nabil. Komposisi tersebut adalah Arcticum Lappa Fructus, Coix Lacryma-jobi Semen, Curcuma Xanthorrhiza Rhizoma, Forsythiae Suspensae Fructus, Glycyrrhyza Glabra Radix, Imperata Cylindrica Rhizoma, Lonicera Japonica Fios, Lophateri Gracile Follum, Mentha Arvensis Folium, Pogostemon Cablin.

Terlepas dari sejumlah kejanggalan itu, semanjur apa Herbavid-19 sesungguhnya dan apa yang perlu diperhatikan ketika mengonsumsinya?


Bagaimana Antibodi Bekerja

Sebelum membahas lebih jauh kemanjuran obat tradisional cina (Traditional Chinese Medicine/TCM), penting untuk memahami sistem kerja imun.

Tubuh manusia memiliki mekanisme unik untuk menangkal berbagai patogen berbahaya seperti virus, bakteri, jamur, dan parasit. Mekanisme sistem kekebalan tubuh ini ditemukan oleh Bruce Beutler dan Jules Hoffmann. Mereka mengungkapkan bahwa respons imun memiliki fase bawaan dan adaptif untuk menangkal patogen.

Dilansir Nature, patogen menginvasi tubuh lewat luka terbuka atau mukosa. Dengan demikian, untuk mencegah penularan COVID-19, rajin mencuci tangan dan menghindari memegang wajah adalah langkah yang perlu diperhatikan. Tangan yang terkontaminasi virus bisa jadi media penularan ketika menyentuh mata, hidung, atau mulut.

Ketika sudah masuk ke dalam tubuh, patogen akan memperbanyak diri dan memiliki 'misi' untuk merusak sel dalam tubuh yang kemudian menyebabkan penyakit. Tapi, perjalanan patogen untuk sampai pada tahap ini cukup panjang.

Patogen akan dihadang terlebih dahulu oleh makrofag (sel pada jaringan di darah putih) sebagai garda depan penjaga tubuh. 'Perang' antar keduanya akan mengundang bala bantuan dari sel lain pada jaringan darah putih, bernama neutrofil. 'Tentara' lapis kedua ini bertugas mencegah patogen membuat kerusakan lebih lanjut seperti infeksi dan penyakit.

Jika peperangan masih sengit, maka sel dendritik akan memanggil 'pasukan' tambahan berupa antigen. Kemudian Sel T dan Sel B maju ke 'medan perang' melawan pantogen, mereka memproduksi 'senjata' berupa antibodi untuk melumpuhkan musuh.

Ketika menang melawan patogen, sel tubuh yang mati akibat 'perang' tersebut akan tumbuh kembali. Sementara sel imun yang sudah selesai bertugas akan bunuh diri. Tapi, mereka meninggalkan sel memori yang merekam ciri-ciri 'musuh' atau patogen yang bersifat merusak tadi. Sel memori ini akan mengenali dan membunuh patogen yang sama di masa mendatang dan membentuk kekebalan adaptif.


Keampuhan Obat Tradisional China (TCM)

Sebelum Herbavid-19 ramai diperbincangkan, ragam rempah seperti jahe, kunyit, dan temulawak juga dipercaya meningkatkan daya tahan tubuh sehingga bisa menangkal transmisi SARS-CoV-2. Seperti yang pernah dibahas Tirto, minuman jahe dan rimpang sejenisnya dapat dikonsumsi untuk memperkuat daya tahan tubuh. Namun, minuman tersebut belum terbukti dapat menjadi obat untuk COVID-19.

Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad sempat menyinggung obat tradisional cina (Traditional Chinese Medicine/TCM) pada 17 April silam saat menceritakan pengalamannya menggunakan Herbavid-19 dan mengklaim sembuh dari COVID-19.

Para dokter di China memang menyarankan penggunaan TCM untuk mengobati virus corona. Alasannya karena TCM juga digunakan untuk mencegah SARS dan H1N1 pada populasi rentan. Beberapa formula TCM yang digunakan Pemerintah China termasuk kapsul Yin Qiao San, Yu Ping Feng San dan Lian Hua Qing Wen. Berdasarkan penuturan Inggrid, Herbavid-19 dipercaya menggunakan modifikasi resep Yin Qiao San dari China.

Melalui penelitan berjudul “Herbal medicine and pattern identification for treating COVID-19: a rapid review of guidelines,” Lin Ang, et al menelusuri 28 obat tradisional China yang diklaim dapat menyembuhkan pasien COVID-19. Dari 28 panduan obat tersebut, 26 diantaranya dikeluarkan oleh pemerintahan China, dan dua oleh pemerintah Korea.

Pemerintah China dan Korea mengkategorikan obat-obatan ini berdasarkan gejala yang dialami pasien (pattern identification/PI) dan formula herbal untuk menanganinya. Pemberian obat-obatan tersebut juga dibedakan berdasarkan gejala penyakit; ringan, sedang, berat, dan tahap penyembuhan.

China, misalnya, mengkategorikan delapan PI dan 23 formula herbal untuk gejala ringan, 11 PI dan 31 formula herbal untuk gejala sedang, delapan PI dan 21 formula herbal untuk gejala berat, dan enam PI dan 23 formula herbal untuk tahap penyembuhan. Dalam frekuensi penggunaan, Glycyrrhizae Radix et Rhizoma, Armeniacae Semen Amarum, Ephedrae Herba, dan Gypsum Fibrosum merupakan obat herbal yang banyak digunakan oleh China.


Pengobatan dengan TCM memang dibagi menjadi beberapa jenis sesuai tingkat keparahan kasus. Dalam konteks ini, Herbavid-19 yang didaftarkan oleh Satgas COVID-19 sayangnya tidak memberikan penjelasan yang spesifik dalam kemasannya terkait apakah obat ini dikhususkan bagi mereka yang memiliki gejala ringan, sedang, berat atau penyembuhan.

Yang perlu menjadi catatan, pemilihan formula TCM berdasarkan gejala penyakit dan penyebab patogen akan meningkatkan potensi klinis tertentu. Eksperimen dengan TCM juga menjadi tantangan tersendiri untuk menemukan formula yang tepat terhadap pengobatan COVID-19 dalam waktu singkat.

Di sisi lain, Guru Besar Fakultas Farmasi UGM, Prof. Dra. Zullies Ikawati., Ph.D., Apt., mengajak orang agar lebih berhati-hati dalam menggunakan obat-obatan herbal untuk mencegah COVID-19. Ia mengatakan bahwa meski ada bukti penyembuhan, hal itu datang dari segelintir orang. Dengan demikian, masih kurang efisien untuk mendukung obat-obatan tersebut.

Lebih lanjut, penyakit COVID-19 pada beberapa orang dengan kekebalan yang kuat bahkan tidak memberikan gejala, dan dapat disembuhkan secara hanya dengan sistem kekebalan tubuh. Namun, keterlambatan dalam mendapatkan obat yang tepat dapat memperpanjang proses pemulihan. Bahkan, dalam beberapa kasus, keterlambatan ini dapat berakibat fatal jika virus terus melakukan replikasi dengan cepat di tubuh pasien.

Penting untuk tidak langsung percaya pada produk obat dengan klaim yang melambung dan mekanisme pengobatan yang tidak jelas. Selain itu, orang juga harus berhati-hati karena mungkin ada bahan dalam produk obat yang harus dihindari pada penyakit tertentu.

Konsultasi perihal obat tersebut pada apoteker, misalnya, melalui apotek, rumah sakit, atau lembaga pendidikan farmasi, merupakan langkah yang perlu diambil. Langkah ini untuk memastikan keamanan produk tersebut. Jika perlu, pasien dapat meminta rekomendasi kepada apoteker untuk produk yang lebih aman.

Kesimpulan

Banyak faktor yang mempengaruhi kesembuhan seseorang dari COVID-19, tingkat imun adalah salah satunya. Pemerintah China dan Korea memang menggunakan beragam formula TCM dalam menangani pasien COVID, formulanya juga dibedakan berdasarkan gejala. Namun, efektivitas TCM dalam pengobatan COVID-19 masih memerlukan penelitian lebih lanjut.


Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight