STOP PRESS! Pejabat Pajak Handang Soekarno Divonis 10 Tahun Penjara

Mengenang Friendster dan Media Sosial Jadul yang Lain

Mengenang Friendster dan Media Sosial Jadul yang Lain
Ilustrasi halaman depan Myspace. Getty Images/iStockphoto
Reporter: Ahmad Zaenudin
17 Juli, 2017 dibaca normal 3:30 menit
Sebelum Facebook, ada media sosial lain yang sudah terlebih dahulu populer digunakan publik internet. Masih ingat Friendster?
tirto.id - Facebook dan Twitter, kini menjadi saluran favorit media sosial di seluruh dunia. Merujuk data yang dipublikasikan Statista, Facebook pada kuartal pertama tahun 2017 ini, telah digunakan 1,9 miliar pengguna aktif bulanan. Sementara Twitter, digunakan oleh 328 juta pengguna aktif bulanan.

Kedua media sosial tersebut menjadi kanal yang begitu akrab digunakan. Beragam alasan orang menggunakan saluran ini, mulai dari untuk mengetahui informasi terkini, kabar dari teman, berita terhangat, hingga info-info menarik. Informasi-informasi dari media sosial ini bahkan tak jarang menjadi rujukan penting bagi publik.


Dua media sosial itu memang sedang populer. Namun, jika merujuk sejarah, bukan hanya Facebook dan Twitter yang merupakan situsweb berlanggam media sosial. Semenjak sistem bulletin board atau forum online muncul pada 1978, situsweb-situsweb yang bisa dibilang merupakan versi-versi awal media sosial, sudah bermunculan ke permukaan. Beberapa bahkan menjadi yang paling dominan.

Bagi publik Indonesia, di antara sekian banyak yang muncul, Friendster merupakan salah satu situsweb media sosial yang mencuri perhatian. Dalam berbagai forum diskusi,  masyarakat kadang masih merindukan situsweb tersebut.

Friendster, sama seperti Facebook, merupakan media sosial yang lebih dahulu dikenal masyarakat Indonesia. Media sosial tersebut dibuat seorang programer asal Kanada bernama Jonathan Abrams di tahun 2002. Nama “Friendster” diambil dari dua kata, “Friend” yang berarti teman, dan “Napster”.

Di zaman itu, Napster adalah fenomena. Napster merupakan situsweb berbagi file (terutama musik) secara ilegal yang melegenda. Sang pendiri Friendster, Jonathan Abrams, merupakan salah satu penggemar Napster dan berharap situsweb buatannya bisa sefenomenal situsweb berbagi ilegal tersebut.

Friendster terbilang sukses. Data yang dipacak Venture Beat, per bulan Juni 2008, Friendster memiliki pengguna aktif bulanan mencapai 37,1 juta orang. Dari angka tersebut, mayoritas pengguna Friendster berasal dari Asia. Angka pengguna Asia mencapai 33 juta pengguna aktif bulanan. Atas prestasinya itu, merujuk laporan yang dipublikasikan Techcrunch, Friendster memperoleh pendanaan hingga $50 juta dari beberapa venture capital.

Friendster memang fenomena tersendiri kala itu. Situsweb tersebut memiliki beberapa fitur yang menjadi favorit generasi yang bisa mencicipinya. Salah satu fitur andalan Friendster adalah “testimoni”. Testimoni, mirip dengan komentar pada fitur-fitur umum yang ditemui situsweb masa kini. Dengan testimoni, pengguna Friendster bisa memberikan kesan dan pesan pada pengguna lainnya. Selanjutnya, testimoni tersebut akan tampil di halaman muka si pengguna Friendster. 

Selain testimoni, salah satu kekuatan Friendster kala masih berjaya adalah dimungkinkannya halaman Friendster dipermak habis-habisan dengan menggunakan kode-kode CSS (Cascading Style Sheets) tingkat dasar. Bila pengguna tidak mengerti kode demikian, ada banyak ragam situsweb pihak ketiga yang memberikan kemudahan menciptakan kode-kode demikian. Memanfaatkan kode-kode tersebut, halaman profil Friendster bisa berubah bentuk sesuai keinginan si pengguna.

Lainnya, merujuk artikel yang dipublikasikan Motherboard, Friendster disukai karena tidak ada debat politik dan berita palsu mejeng di situsweb sosial media tersebut.

Sayang, kenangan-kenangan Friendster telah hilang. Selepas pamor situsweb tersebut turun, Friendster dijual pada perusahaan asal Malaysia bernama MOL Global pada 2009 seharga $40 juta. Selepasnya, Friendster berubah menjadi situsweb gim online. Data-data kenangan pengguna media sosial tersebut, per tanggal 31 Mei 2011, dihapus oleh pihak Friendster.

Sesungguhnya, Friendster memiliki kans untuk jauh lebih lama bertahan. Merujuk pemberitaan CNN, situsweb tersebut pernah ditawar oleh Google seharga $30 juta dalam bentuk saham di raksasa mesin pencari itu. Nilai yang ditawarkan tersebut, pada 2007, sama dengan nilai $1 miliar di masa kini.

Selain Friendster, ada pula Myspace. Situsweb media sosial tersebut memang masih hidup hingga saat ini. Namun, merujuk data yang dipublikasikan Statista, di Juli 2015, Myspace hanya memperoleh pengunjung unik sebesar 17,93 juta. Padahal, dari tahun 2005 hingga 2008, Myspace pernah didaulat menjadi raksasa media sosial di seluruh dunia. Dengan kata sederhana, Myspace memang telah ditinggalkan penggunanya.

Kemunculan pertama Myspace memang cukup fenomenal. Media sosial ini dahulu pernah dikenal sebagai tempat nongkrongnya anak-anak band bertemu dengan penggemarnya. Diciptakan oleh Chris DeWolfe dan Tom Anderson, Myspace merupakan media sosial yang dibuat karena melihat peluang besar di dunia media sosial karena kesuksesan Friendster.

Sayang, alih-alih mengembangkannya sendiri, situsweb tersebut kemudian dijual. Merujuk pemberitaan BBC, Myspace kemudian dijual pada News Corporation milik Rupert Murdoch senilai $580 juta pada 2005. Selepas penjualan tersebut, Myspace kian tenggelam oleh para pesaingnya, terutama Facebook.

Selain Friendster dan Myspace, ada nama-nama seperti Multiply, Plurk, dan lain sebagainya sebagai media sosial yang pernah ramai digunakan masyarakat. Dari Indonesia, ada media sosial yang pernah mencuri perhatian publik, salah satunya adalah Koprol.

Koprol adalah media sosial asli buatan orang Indonesia. Media sosial tersebut dibuat oleh Satya Witoelar, Fajar Budiprasetyo, dan Daniel Armanto. Koprol merupakan media sosial berbasis posisi yang, secara sederhana, menggabungkan dunia online dan offline. Kala seseorang login di Koprol, sistem secara otomatis mendeteksi siapa-siapa saja pengguna lainnya yang berada satu lokasi di sekitar pengguna yang login tersebut.


Koprol terbilang sukses. Pada Mei 2010, Koprol dibeli oleh rakasasa perusahaan internet Yahoo dengan harga yang tidak disebutkan. Sayang, di tangan Yahoo, Koprol gagal berkembang. Pada Juli 2012, Yahoo bahkan mengembalikan Koprol pada pemilik lamanya. Selepasnya, Koprol tenggelam dan tak dibicarakan lagi oleh publik internet.

Mengenang Friendster dan Media Sosial Jadul yang Lain

Tentu, ada banyak alasan mengapa situsweb-situsweb media sosial selain Facebook dan Twitter, gagal di pasaran. Mereka umumnya tidak mengikuti perkembangan teknologi dan kemauan pengguna. Hal inilah yang sudah diantisipasi oleh Facebook, sehingga mampu bertahan cukup lama sejak kehadirannya.

Kala pertama muncul secara global, saat itu publik sedang asik-asiknya menikmati gim online. Melihat peluang, Facebook masuk dengan menghadirkan gim berbasis internet yang membikin penggunanya betah-betah berada di sana. Zynga merupakan salah satu perusahaan yang pernah menikmati manisnya Facebook yang, selain menjadi platform media sosial, juga menjadi pusat permainan gim online. Zynga sukses bersama Facebook kala itu karena berhasil menbuat gim-gim berkualitas yang dibuat untuk Facebook.

Di masa-masa awal, Facebook hadir secara global, permintaan bermain gim bersama di platform tersebut begitu mendominasi.

Selain soal gim, Facebook sukses karena di platform tersebut, telah tersedia beragam fitur yang membantu penggunanya berinteraksi secara lebih baik dengan pengguna lainnya. Fitur chat, atau kini dikenal Facebook Messenger, merupakan fitur yang banyak digunakan pengguna. Dengan fitur itu, pengguna bisa langsung saling berbincang secara privat dengan pengguna lainnya. Sesuatu yang tidak bisa dirasakan pengguna Friendster. Kala ingin berbincang secara privat, pengguna Friendster dahulu melakukannya dengan memanfaatkan layanan lain, semisal MIrc.


Facebook (dan Twitter) berjaya karena platform tersebut selalu mengikuti kemauan pengguna. Facebook diketahui secara konsisten masih terus-menerus mengubah algoritma mereka. Di halaman newsfeed atau timeline, Facebook menyesuaikan tampilan dengan tren yang dikehendaki pengguna. Saat video mulai diadopsi secara masif, algoritma Facebook kemudian dirancang untuk lebih utama menampilkan postingan berupa video daripada postingan lainnya.

Dari kisah hidup media sosial lain dan berhasilnya Facebook dan Twitter melintas zaman, mengikuti perubahan adalah sesuatu yang memang harus dilakukan. Jika tetap ngotot mempertahankan sesuatu yang telah usang, nasib seperti Friendster adalah sesuatu yang sangat mungkin terjadi.

Baca juga artikel terkait MEDIA SOSIAL atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - zae/zen)

Keyword