Mengenal DBT, Terapi Mental yang Dijalani Selena Gomez

Oleh: Nindias Nur Khalika - 26 Oktober 2018
Dibaca Normal 2 menit
Selena Gomez mencari bantuan terapis setelah mengalami serangan kepanikan, cemas, dan depresi.
tirto.id - “DBT telah mengubah hidup saya. Saya berharap semakin banyak orang yang mau membicarakan soal terapi. Kita perempuan diajarkan untuk tabah, kuat, seksi, keren, dan santai. Tapi, kita juga mesti dibolehkan untuk merasa berantakan.”

Selena Gomez melontarkan pertanyaan tersebut kepada penulis Vogue Rob Haskell, 2017 lalu. Kala itu, ia mewawancarai Gomez di kediaman Haskell di Los Angeles, Amerika Serikat. Mereka berbicara banyak hal selama sesi wawancara berlangsung, salah satunya tentang Dialectical Behavior Therapy (DBT) yang Gomez jalani.

Ia mengatakan bahwa dirinya mengikuti terapi perilaku dialektis atau DBT lima kali dalam seminggu saat itu. DBT, menurutnya, menekankan pada aspek komunikasi, pengaturan emosi, dan penggabungan praktik mindfulness. Gomez sebelumnya juga pernah menjalani terapi mental usai mengalami serangan kepanikan, cemas, dan depresi ketika melakukan tur “Revival” tahun 2016.

Pada 2018, pelantun lagu “Same Old Love” itu kembali menjalani DBT di fasilitas psikiatri di East Cost. TMZ melaporkan bahwa Gomez mengalami gangguan emosional sehingga perlu memperoleh terapi perilaku dialektis.


Semua bermula, menurut TMZ, dari kabar soal rendahnya jumlah darah putih Gomez usai transplantasi ginjal. Ia dikabarkan merasa putus asa dan emosional sehingga keluarganya memutuskan untuk membawa penyanyi berusia 26 tahun tersebut ke Cedars-Sinai Medical Center di Los Angeles.

Beberapa hari opname, dokter lantas membolehkan Gomez pulang, tapi penyanyi ini dinyatakan mesti dirawat kembali sebab jumlah darah putihnya tetap sama. Hal ini membuat Gomez hancur dan ketakutan.

Seperti dilaporkan Live Science, Gomez mengumumkan dirinya telah melakukan operasi transplantasi ginjal pada bulan September 2017. Ia mendapatkan donor ginjal dari Francia Raisa, sahabat Gomez yang juga seorang aktris.

Dalam acara The Today Show, Gomez mengatakan bahwa ginjalnya dalam kondisi parah gara-gara penyakit lupus yang ia derita. “Begitulah. Dan saya tidak ingin meminta [bantuan] kepada siapa pun dalam hidup saya, dan itu terjadi ketika saya pulang ke rumah dan mengetahuinya. Dan dia mengajukan diri dan benar-benar melakukannya,” katanya sembari merujuk pada keputusan Raisa.

Dialectical Behaviour Theraphy

Psychology Today menjelaskan Dialectical Behavior Theraphy (DBT) merupakan terapi yang membantu seseorang untuk bisa mengatur emosi negatif dan mengurangi konflik dalam hubungan. Terapi perilaku dialektis, menurut WebMD, termasuk jenis terapi kognitif dan perilaku atau Cognitive Behavioral Terapi (CBT). CBT dalam hal ini adalah terapi yang dipakai untuk mengidentifikasi dan mengubah pola pikiran negatif serta mendorong perubahan perilaku positif.

Alexander L. Chapman dalam “Dialectical Behavior Theraphy: Current Indications dan Unique Elements” (2006) mengatakan bahwa terapi perilaku dialektis berkembang dari upaya psikolog Marsha M. Linehan. Ia berusaha menciptakan perawatan bagi perempuan yang punya segudang masalah dan kecenderungan ingin bunuh diri.

Linehan, lanjut Chapman, melakukan studi literatur yang membahas pengobatan psikososial yang berkhasiat untuk gangguan seperti depresi, gangguan kecemasan, dan kesulitan emosi lainnya. Dari sana, ia menyusun perangkat intervensi kognitif dan perilaku berbasiskan fakta untuk orang dengan kecenderungan bunuh diri.

Chapman mengatakan intervensi ciptaan Linehan tersebut memfokuskan pada perubahan kognisi dan perilaku pasien yang merasa dikritik atau tak dimengerti sehingga perawatan padanya tak dilanjutkan. Mereka diajak untuk menerima diri sendiri juga emosi dan pikirannya, orang lain, dan segala sesuatu yang ada di dunia. Bersamaan dengan proses ini, terapis juga mesti menyeimbangkan antara penerimaan dan strategi untuk berubah ke arah positif. Di sinilah unsur dialektis bekerja.


Menurut Sane Australia, DBT mengajarkan empat kemampuan menerima dan mengubah perilaku diri. Pertama, pasien diajak untuk mempelajari praktik mindfulness. Hal ini menekankan pada kemampuan fokus pada kesadaran akan masa sekarang dan untuk menerima pikiran, perasaan, tindakan, dan sensasi tubuh tanpa harus mengontrol atau memanipulasinya. Lebih lanjut, pasien memperoleh ajaran soal toleransi kesulitan di mana mereka mempelajari cara mengatasi ketika krisis dan menerima keadaan alih-alih memikirkan situasi yang seharusnya terjadi.

Sane Australia lantas menerangkan bahwa pasien juga belajar tentang kemampuan regulasi emosi dan keefektifan personal. Saat mereka diajarkan tentang keahlian mengatur emosi maka pasien menjadi paham bahwa tak seharusnya mereka membiarkan emosi mengontrol diri. Sementara itu, pelajaran keefektifan personal memungkinkan pasien untuk menyampaikan apa yang mereka butuhkan atau inginkan dan bagaimana mengatasi konflik antar-personal, tapi tetap menghormati diri sendiri dan orang lain.

Infografik DBT


DBT, menurut Psych Central, dilakukan secara individual atau kelompok. Pada sesi terapi individual, terapis akan memberikan perhatian pada perilaku menyelesaikan masalah minggu-minggu terakhir berikut problem yang muncul. Selain itu, pasien juga diajak mengatasi respons stres pascatrauma dan meningkatkan harga serta citra diri. Di sisi lain, terapi kelompok fokus pada pembelajaran empat kemampuan menerima serta mengubah perilaku diri dan kegiatan ini umumnya berlangsung selama 2,5 jam.

Psychology Today menerangkan bahwa terapi perilaku dialektis digunakan untuk orang yang menderita depresi, bulimia, binge eating, bipolar, gangguan stres pascatrauma, penyalahgunaan zat, dan gangguan kepribadian ambang. Gangguan kepribadian ambang atau Borderline Personality Disorder (BPD) merupakan gangguan mental yang ditandai dengan perilaku yang impulsif dan perubahan suasana hati serta citra diri.

Terkait penderita BPD, WebMD mengatakan terapi perilaku dialektis dapat menurunkan keinginan bunuh diri. Selain itu, mereka juga lebih cepat keluar saat menjalani opname di rumah sakit dan tak cepat marah. Fungsi sosial pasien, di sisi lain, turut meningkat dan mereka tetap kontinu menjalani perawatan.

Baca juga artikel terkait DEPRESI atau tulisan menarik lainnya Nindias Nur Khalika
(tirto.id - Kesehatan)


Penulis: Nindias Nur Khalika
Editor: Maulida Sri Handayani