High Functioning Depression: Depresi Ringan yang Harus Ditolong

Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 23 September 2018
Dibaca Normal 2 menit
Seseorang dengan gejala depresi bisa saja tetap produktif dan sukses. Namun, mereka juga butuh bantuan agar gejala itu tak berujung kronis.
tirto.id - Christine Yu, seorang penulis lepas asal New York, merasa sangat murung di hari-hari permulaan musim panas. Padahal, semua hal dirasanya baik-baik saja. Yu beraktivitas sebagaimana biasa: membantu anak-anak mengerjakan PR, memenuhi tenggat kirim naskah, dan mengerjakan rencana-rencananya sebaik mungkin.

Yu juga tak ketinggalan mengikuti acara kumpul-kumpul dengan teman atau keluarganya. Bersama mereka, ia tetap bisa tertawa-tawa senang. Tak ada hal yang benar-benar membuatnya sedih. Tetapi, entah mengapa ia merasa hampa.

Awalnya ia berpikir perasaan hampa itu hanyalah kelesuan musim panas biasa. Ia mencoba mengabaikannya. Tetapi, kemuraman tersebut malah bertahan selama sisa musim panas, bahkan hingga musim gugur.

“Ketika saya cerita kepada suami bahwa saya merasa tertekan, dia tak percaya. Dia meyakinkan bahwa semuanya tampak baik-baik saja,” kisah Yu di laman Headspace.

Kenyataannya keluarga mereka memang baik-baik saja. Tak ada keributan dalam hubungan Yu dan sang suami. Kedua anak mereka bahagia dan sehat. Yu juga mencintai pekerjaannya yang sekarang. Lain itu, ia tetap berlatih maraton dan mengajar yoga.

“Mungkin ini memang fase yang mesti dilewati,” kata sang suami menenangkan.

Tapi, Yu merasa kali ini berbeda. Ia bisa beraktivitas sebaik biasanya, tetapi ia mati rasa dan hampa. Ia jadi bertanya-tanya, “Apa aku depresi?”

Depresi yang Tak Terdeteksi

Pengalaman yang mirip juga dialami penulis dan aktivis kesehatan mental asal Amerika Serikat, Caroline Shannon-Karasik. Dalam esainya di situs Healthline, ia mengaku mengalami depresi di sebagian besar masa dewasanya. Meski begitu ia mampu menjalani rutinitas layaknya orang “normal” dan tetap produktif.

Ketika menjalani rutinitas, depresi Karasik seakan-akan hilang. Tetapi ketika selesai, ia kembali muncul. Karenanya, tak ada seorang pun yang menyadari dirinya sedang berjuang melawan depresi. Maka, ketika ia terbuka tentang depresinya, semua orang tak percaya. Teman-temannya tak melihat tanda-tanda depresi yang dialami Karasik.

“Apa yang tidak disadari orang-orang adalah bahwa peperangan terhadap depresi terjadi secara internal. Bahkan, individu dengan depresi juga mempertanyakan hal yang sama kepada dirinya sendiri,” tulis Karasik.

Umumnya orang yang mengalami depresi merasakan penurunan suasana hati, kehilangan minat pada aktivitas yang biasanya disukai, hingga menarik diri dari pergaulan. Daya konsentrasi mereka juga menurun sehingga susah untuk fokus pada pekerjaan. Gejala seperti ini biasanya terlihat. Tetapi, pada dasarnya gejala depresi itu bervariasi.

Jadi, terkadang orang tak menunjukkan gejala depresi sebagaimana umumnya. Mereka tetap mampu beraktivitas, produktif, dan bersosialisasi sebagaimana biasanya. Kondisi seperti ini disebut sebagai high functioning depression (HFD).

Akan tetapi, HFD bukanlah diagnosis medis. Majalah kesehatan Health menyebut bahwa kondisi ini tak digolongkan sebagai gangguan mental definitif dan tak tercantum dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders—buku babonnya profesi tenaga kesehatan mental. Istilah ini digunakan para ahli untuk mengategorikan individu dengan gangguan suasana hati, letih, dan kecemasan. Istilah ini berguna untuk mencakup orang-orang yang belum tentu cocok dengan kategori diagnosis depresi umumnya.

HFD mencakup orang-orang yang mengalami gejala depresi ringan dan tetap bisa produktif. Mereka umumnya merasakan ketidakbahagiaan, tetapi belum memenuhi definisi depresi. Bahkan beberapa orang dengan depresi berat pun ada yang tetap bisa produktif dan bersosialisasi. Namun, mereka tak mampu memaksimalkan peran dan kemampuan. Itulah kata kuncinya.

Karena tak tercakup sebagai depresi yang definitif, tak ada tes klinis untuk mendeteksi HFD. Apa yang memenuhi syarat sebagai HFD pun cenderung subjektif. Salah satu hal yang bisa jadi tanda seseorang mengalami HFD, menurut Profesor Steven Huprich dari University of Detroit Mercy, adalah “perasaan negatif” yang memengaruhi keseharian seseorang.

“Jika seseorang datang kepada saya dan berkata, 'Saya pikir saya mengalami depresi, Dok,' mungkin saya tak hanya akan mendengar keluhan tentang suasana hatinya saja, tapi juga sesuatu tentang menjadi orang yang perfeksionis, merasa bersalah, dan kecenderungan terus mengkritik diri sendiri,” kata Huprich seperti dikutip Health.



Infografik High Functioning depression


Stigma Mesti Dihapus

Orang dengan kecenderungan HFD juga bisa mengalami perasaan ragu-ragu, cemas, dan kehilangan kepercayaan diri. Sayangnya, beberapa sifat yang berguna dalam dunia profesional seperti perfeksionis dan goals oriented dapat berkontribusi pada depresi. Padahal, karena merasa diri tetap produktif, mereka jadi abai pada gejala depresi yang mengintai. Dari luar mereka tampak sukses, akan tetapi sebenarnya menyimpan kesedihan di dalam diri.

Seperti yang dialami Christine Yu, di mana dia sendiri ragu apakah ia benar-benar mengalami depresi atau tidak. Teman dan kerabat pun mengira ia baik-baik saja sampai ia sendiri menyadari ada yang berubah dalam dirinya. Karenanya, sering pula orang dengan HFD merasa tak dimengerti lingkungan terdekatnya.


HFD dapat dianggap sebagai bentuk depresi ringan, tetapi ia bisa berkembang jadi lebih kronis dan parah jika dibiarkan. Karenanya, orang dengan kecenderungan HFD sama perlunya mendapat bantuan sebagaimana penderita depresi.

Lain itu, hingga kini stigma juga masih menjadi penghambat seseorang mencari bantuan atas kondisi yang mereka alami. Orang masih lazim menyebut bahwa datang ke psikolog atau psikiater adalah tengara orang lemah. Mereka bahkan jadi enggan bercerita kepada keluarga atau teman terdekat.

“Itu berarti banyak yang membutuhkan bantuan, tapi tidak bisa memintanya. Mereka bahkan mungkin tak tahu bagaimana mengidentifikasi depresi dalam diri mereka. Ini sangat memprihatinkan karena depresi bisa menyerang siapa saja,” kata Srijan Sen, psikiater di University of Michigan, seperti dikutip Vice dalam rubrik "Tonic".

======

Depresi bukanlah persoalan sepele. Jika Anda merasakan tendensi untuk melakukan bunuh diri, atau melihat teman atau kerabat yang memperlihatkan tendensi tersebut, amat disarankan untuk menghubungi dan berdiskusi dengan pihak terkait, seperti psikolog, psikiater, maupun klinik kesehatan jiwa.

Baca juga artikel terkait DEPRESI atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Kesehatan)


Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Ivan Aulia Ahsan