Mengapa Pelarangan Sedotan Plastik Kontroversial?

Ilustrasi Sedotan. FOTO/iStockphoto
Oleh: Widia Primastika - 10 Agustus 2019
Dibaca Normal 3 menit
Sedotan plastik telah menjadi masalah bagi lingkungan, tapi pelarangannya juga menimbulkan beragam masalah lain.
Plastik dan sampah plastik telah menjadi masalah di berbagai negara. Kini, perhatian dunia tak hanya lagi terpusat pada penggunaan kantong plastik, tapi juga sedotan plastik.

National Geographic melaporkan, di Amerika Serikat saja penggunaan sedotan plastik mencapai 500 juta sedotan setiap hari. Sebagai catatan, menurut data dari Wall Street Journal yang dikutip Statista, AS 'hanya' menduduki peringkat 12 dalam daftar negara-negara terbanyak yang menyumbang sampah plastik, termasuk sampah sedotan plastik, di lautan.

Lebih lanjut, meskipun sedotan plastik plastik hanya memakan porsi 0,025 persen dari delapan juta ton plastik yang mengalir ke lautan, namun gerakan anti sedotan plastik seolah makin tidak terbendung.

Berawal dari Kertas

Masih dari National Geographic, keberadaan sedotan sebenarnya sudah terlacak sejak peradaban bangsa Sumeria Kuno. Bangsa yang dikenal sebagai salah satu masyarakat awal yang mengenal bir ini merendam tabung tipis panjang dari logam mulia ke dalam toples besar untuk mencapai cairan yang berada di bawah produk sampingan fermentasi.

Namun, pengajuan paten sedotan baru dilakukan oleh Marvin Stone pada tahun 1888. Kala itu, sedotan bikinannya terbuat dari kertas. Di tahun 1890, ia melakukan produksi massal untuk sedotan buatannya itu.

Kala itu sedotan belum populer. Sampai sekitar tahun 1930, Joseph Friedman menemukan sedotan yang bisa ditekuk dengan mudah tanpa putus. Friedman kemudian mematenkan idenya dan membangun Flex-Straw Company.

Berkat penemuan ini para pasien di rumah sakit bisa minum dengan mudah sembari berbaring. Tak mengherankan bila sebagian klien utama Friedman adalah rumah sakit. Sedotan jenis ini pun juga populer bagi penyandang disabilitas, sebab memungkinkan mereka untuk mandiri ketika hendak minum, tak perlu bersusah payah mengangkat gelas.

Petaka sedotan plastik berawal pada tahun 1969, ketika perusahaan milik Friedman jatuh ke Maryland Cup Corporation. Perusahaan yang berbasis di Baltimore ini memproduksi berbagai macam plastik dan akhirnya menjadi produsen sedotan plastik terbesar di negara itu.

Maryland Cup Corporation kemudian jatuh ke tangan Fort Howard Corporation. Dari titik ini, bentuk sedotan plastik pun menjadi kian beragam dan, akhirnya, ia menjadi bagian dari gaya hidup.

"[Sedotan plastik] benar-benar produk yang sangat baik dengan harga terjangkau, dan di jaman itu, tak ada yang melihat dampak masa depan yang akan terjadi pada lingkungan kita," ujar David Rhodes, direktur bisnis global untuk produsen sedotan kertas Aardvark Straws, masih dari National Geographic.


Dilema Orang dengan Disabilitas

Karena bobotnya ringan, harganya yang murah, dan memudahkan orang untuk menyesap minuman, dunia pun ketergantungan pada sedotan, khususnya sedotan plastik. Ketika masalah sampah plastik mulai 'menyerang,' hal ini kemudian menimbulkan dilema.

Dalam sebuah kolom opini di The Guardian, Penny Pepper, seorang penyandang disabilitas, menceritakan pergolakan hatinya: ia peduli pada lingkungan, tapi sedotan plastik benar-benar ia butuhkan. "Bersama dengan beberapa orang dengan disabilitas, saya [mengatakan bahwa] saya membutuhkan keduanya. Bukan sebagai pilihan gaya hidup. Bukan sebagai barang mewah," tulis Pepper.

"Saya perlu sedotan yang bisa menekuk, yang bisa menangani semua minuman, termasuk obat-obatan, dalam semua suhu. Saya perlu sedotan yang tidak terlalu gemuk, yang tidak akan menyebabkan saya tersedak atau sulit bagi saya, untuk mulut saya."

Seperti diberitakan Vox, pelarangan sedotan sekali pakai di beberapa tempat, seperti Seattle, Vancouver, San Fransisco, New York City, dan lokasi-lokasi lainnya telah memunculkan reaksi dari kelompok orang dengan disabilitas.

Sama seperti Pepper, mereka berharap tak ada pelarangan sedotan plastik. Mereka pun kesal ketika orang-orang non disabilitas berteriak menentang sedotan plastik dan seolah-olah tahu solusi dari masalah sedotan: Kenapa harus sedotan plastik? Kenapa tidak memakai kertas, bambu, gelas, atau logam?

Salah satu orang yang menentang keras penggunaan sedotan plastik adalah Rafael L. Espinal Jr., anggota Dewan dari Partai Demokrat Amerika Serikat yang berasal dari Brooklyn. Ia merupakan sponsor utama dari RUU pelarangan sedotan plastik yang diperkenalkan Dewan Kota New York pada tahun 2018.

Dilansir New York Times, Espinal menganggap bahwa sedotan plastik adalah kemewahan belaka. "Warga New York perlu mengetahui dan memahami bahwa plastik bukan satu-satunya jenis sedotan yang tersedia," kata Espinal. "Ada sedotan kertas, sedotan aluminium, dan sedotan bambu yang jauh lebih aman bagi lingkungan kita, itu hanya beberapa contoh."


Bagi penyandang disabilitas, pernyataan Espinal itu seakan menempatkan sebagian dari mereka sebagai orang yang tak peduli dengan masalah lingkungan. Padahal, masalahnya bukan itu. Pelarangan sedotan plastik memunculkan masalah bagi kualitas hidup orang dengan disabilitas.

"Ada alasan mengapa [sedotan] alternatif yang lebih ramah lingkungan bukanlah 'perbaikan universal,' misalnya, masalah alergi dengan plastik tanaman, risiko pecahnya sedotan kaca bagi orang dengan facial tics (kejang tak terkontrol di wajah), atau kertas yang mudah rapuh," tulis ahli studi disabilitas Kim Sauder, masih dari Vox.

Espinal memang benar, ada banyak alternatif sedotan pengganti plastik yang bisa menjadi solusi bagi orang tanpa disabilitas. Namun, jika merujuk pernyataan Pepper yang memerlukan sedotan yang fleksibel terhadap segala suhu, sedotan logam jelas bukan solusinya.

Ada beragam sedotan yang terbuat dari logam seperti stainless steel, aluminium, maupun bahan lainnya. Tapi perlu diingat bahwa logam adalah penghantar panas yang baik. Artinya, dilansir National Geographic, sedotan ini tidak nyaman atau bahkan berbahaya jika digunakan untuk menyesap minuman panas.

Bukan itu saja masalahnya. Awal Juli 2019 lalu, New York Times pernah memberitakan tentang kematian dari Elena Struthers-Gardner, seorang perempuan dengan disabilitas berusia 60 tahun. Ia mati akibat sedotan logam berukuran 10 inci menusuk matanya saat ia jatuh.

Selain itu, penggunaan sedotan logam yang salah ternyata juga bisa berdampak buruk bagi gigi. "Menggigit sedotan logam atau kaca bisa berbahaya bagi gigi dan kesehatan Anda," kata Dr. Timothy Chase dari SmilesNY Cosmetic and Implant Dentistry di New York. "ini sama halnya dengan mengingatkan orang untuk tidak menggigit pena."

Kaca dan logam memang menjadi alternatif pengganti plastik yang paling populer, tapi sebenarnya mereka bukan solusi yang paling tepat sebab kedua material ini bisa memunculkan masalah sampah baru.

Sedotan alternatif yang paling ramah lingkungan adalah sedotan bambu. Seperti tertulis di National Geographic, sedotan bambu yang rusak, bila dibuang dapat menjadi kompos. Namun, sedotan ini rentan terhadap jamur.



Tapi tetap saja, sedotan logam, kaca, dan bambu memerlukan perhatian ekstra agar bisa awet. Ia harus dicuci sampai bersih dan steril. Seperti dilaporkan Vox, orang dengan disabilitas kesulitan dengan perawatan ini.

Sedotan sekali pakai yang menjadi alternatif dari sedotan plastik adalah sedotan kertas. Namun, sedotan ini sangat rapuh, terutama terhadap air. Serat dari kertas sangat mudah meluruh dan bisa terbawa oleh cairan yang kita minum.

Gerakan mengurangi penggunaan sedotan plastik memang baik bagi lingkungan, tapi sejumlah faktor di atas jelas layak dipertimbangkan. Pertanyaannya, jika Anda mampu minum langsung dari gelas, mengapa harus memakai sedotan?

Baca juga artikel terkait SAMPAH PLASTIK atau tulisan menarik lainnya Widia Primastika
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Widia Primastika
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight