Mengapa Kita Tergila-Gila kepada Selebritas?

Dari kiri: Tara Basro, Chico Jerikho, dan Laura Basuki. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/pd.
Oleh: Nuraini Dewi - 27 September 2020
Dibaca Normal 4 menit
Celebrem, célèbre, celebrity, selebriti, seleb, pesohor.
Sosok Tara Basro sempat menjadi perhatian publik karena pernikahannya yang dinilai unik oleh sebagian orang. Selain mahar berupa bunga favorit Tara yang dikeringkan dan dikombinasikan dengan origami uang kertas dan disimpan di dalam dome, dekorasinya juga dianggap unik karena bertemakan rustic ala film Midsommar. Beberapa bulan silam, ia kembali menjadi buah bibir. Tara mengunggah dua foto diri yang sedang duduk dan menunjukkan lipatan lemak di perutnya sambil senyum lebar. Foto yang diunggah di Instagram itu bertujuan mengajak para pengikutnya di media sosial untuk mencintai tubuh mereka sendiri. Tara pun sukses menuai banyak pujian dari publik dan para selebritas lain. Sementara itu, pemerintah menganggap unggahan Tara sebagai konten pornografi.

Belakangan nama Tara Basro kembali menjadi perbincangan hangat di jagat maya. Awalnya ia membagikan ulang unggahan dari sebuah akun Twitter @AliBeckZeck soal teori konspirasi vaksin. Akun itu menuliskan bagaimana perusahaan farmasi sengaja memanfaatkan ketakutan masyarakat terhadap virus untuk mendulang keuntungan. Walhasil, Tara dituduh anti-vaksin.

Sosok Tara Basro selalu menjadi perbincangan dan pusat perhatian di media karena berbagai sikap dan tindakan yang diambilnya. Padahal, ada banyak sekali orang lain di sekitar kita yang bertindak seperti dirinya. Wajar, Tara Basro adalah seorang selebritas.

Tapi, apakah sebenarnya selebritas itu? Apa yang membedakan Tara Basro dengan tokoh yang juga beken seperti Einstein dan Stephen Hawking? Kemudian, apa pengaruh para selebritas di hidup kita?

Selebritas sendiri sering diasosiasikan dengan ketenaran. Ketenaran atau “fame” merupakan istilah yang berakar dari zaman Romawi. Dalam bahasa Latin, “fama” berarti “rumor” atau “perbuatan besar yang dikenal selama ribuan tahun”. Dengan begitu, status “fame” atau ketenaran ini hanya diperuntukkan bagi segelintir orang seperti Plato, Aristoteles, Leonardo da Vinci, dan seterusnya. Merujuk Celebrity (2001) karya professor sosiologi di City University, London, Chris Rojek, selebritas berasal dari bahasa Latin “celebrem”, sebuah kata yang berarti perayaan atau “sedang menjadi tontonan dan kerumunan”. Bahasa Perancis juga dikenal kata célèbre yang berarti “terkenal”. Di indonesia, selebritas kerap disebut “pesohor”, “selebriti”, atau “seleb”.


Lebih jauh, Rojek menyebut selebritas lahir pada abad ke-18, bersamaan dengan perkembangan teknologi yang turut merangsang sarana komunikasi baru seperti budaya media cetak yang masif, kamera, urbanisasi dalam skala besar, dan komersialisasi waktu luang yang berlangsung di bawah revolusi industri. Pada era ini pula media cetak mulai perang rating dengan cara menampilkan kehidupan orang-orang terkenal.

Menurut Rojek, selebritas menjadi perhatian publik karena tiga proses sejarah utama yang saling terkait pada abad ke-17 dan 18, yakni demokratisasi dalam masyarakat, lunturnya dominasi otoritas agama, dan komodifikasi dalam kehidupan sehari-hari. Komodifikasi sendiri merupakan proses mengubah barang dan jasa menjadi komoditas dengan nilai tertentu berdasarkan kebutuhan pasar. Dalam hal ini, publik menjadi komoditas yang berfungsi untuk mengonsumsi apa yang dipasarkan oleh media setiap harinya, termasuk selebritas di dalamnya. Jadi, sebenarnya publik dan selebritas sama-sama menjadi komoditas atau barang dagangan dalam proses komodifikasi media.

Rojek memberikan contoh Revolusi Amerika yang “berusaha untuk menggulingkan tak hanya institusi kolonialisme [Inggris], tetapi juga ideologi kekuasaan monarki,” catatnya. Dalam konteks Revolusi Amerika, Rojek menyebut berbagai ideologi itu digantikan dengan ideologi alternatif, yaitu “the ideology of the common man” (“ideologi orang biasa”). Ideologi ini melegitimasi sistem politik dan bisnis serta industri yang berkelanjutan sehingga memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap komodifikasi selebritas. Dulu masyarakat menyanjung raja, ratu, dan bangsawan. Namun setelah “ideologi orang biasa” menyebar luas, mereka memuja para pesohor.

Disokong Teknologi

Lalu apa yang membedakan ketenaran dengan selebritas? Apa yang membedakan antara Stephen Hawking misalnya, dengan Keanu Reeves? Mereka sama-sama terkenal dan dibicarakan oleh banyak orang. Namun, Hawking tidak mengakumulasi perhatian media dan mendorong tingkat komodifikasi yang sama dengan Reeves. Tokoh yang pertama dibicarakan karena kontribusi keilmuannya, sedangkan yang kedua memicu kontroversi—entah itu baik maupun buruk. Tokoh yang pertama menarik perhatian, yang kedua menarik perhatian untuk hidup berdasarkan pembeda tertentu, entah itu kecantikan, aktivitas sehari-hari yang dianggap unik, dan lain sebagainya sehingga bisa terus terekspos media, tenar, dan mendatangkan penghasilan. Orang seperti Einstein memiliki potensi untuk dikenal selama berabad-abad lamanya karena kontribusi keilmuannya, sedangkan tokoh kedua paling lama hanya dikenal selama maksimal dua atau tiga dekade.

Selebritas diproduksi dan dikelola dalam dunia tontonan media. Sebagai ikon budaya media, selebritas bagaikan dewa dan dewi kehidupan sehari-hari. Untuk menjadi selebritas dibutuhkan pengakuan sebagai pemain bintang di bidang tontonan media, baik itu olahraga, hiburan, maupun politik. Karena harus menjaga citra dan memastikan agar namanya terus dikenal publik, selebritas membutuhkan manajer.

Selebritas seperti Madonna, Michael Jordan, atau Jennifer Lopez pun akhirnya menjadi menjadi merek dagang. Dalam budaya media, selebritas kerap diberitakan dekat dengan skandal sehingga selalu menarik perhatian publik.

Melalui berbagai bentuk representasi yang diperantarai oleh media, khalayak memperoleh akses ke dalam kehidupan tokoh publik. Akses yang menumbuhkan keakraban semu antara sang tokoh dan hadirin inilah yang kemudian menjadi landasan budaya selebritas modern. Publik bukan hanya bisa 'mengenal' para selebritas, tapi juga bisa membeli, mengonsumsi, dan memiliki sebagian dari diri selebritas. Publik bebas menilai dan mengatur apa yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan oleh si selebritas. Publik mengonsumsi apa yang disajikan oleh selebritas, mulai dari kemampuannya melakukan sesuatu hingga membeli barang yang berkaitan dengan selebritas tersebut.

Filsuf Perancis Guy Debord dalam The Society of the Spectacle (1967) menyebut selebritas atau bintang layar sebagai 'representasi spektakuler dari manusia yang hidup'. Guy Debord juga menyebut selebritas sebagai bagian dari masyarakat tontonan (society of the spectacle). Sebagai perwujudan dari tontonan, selebritas perlu mengabaikan otonomi dirinya demi menyesuaikan dengan apa yang dihasrati masyarakat. Dengan kata lain: mengorbankan individualitas untuk menjadi boneka dari sistem yang digerakkan oleh akumulasi laba.




Dalam The Drama of Celebrity (2019), Sharon Marcus, profesor Sastra Inggris dan Sastra Komparatif Columbia University menyebut Sarah Bernhardt sebagai contoh pertama dari selebritas modern. Sebab, karir Bernhardt bertepatan dengan beberapa penemuan yang kemudian ia gunakan untuk mempromosikan dirinya sendiri. Fotografi membuat foto-foto Bernhardt tersedia secara massal. Koran-koran kuning melaporkan setiap lakon yang ia mainkan di atas—dan di luar—panggung. Keberadaan kapal uap dan kereta api juga memungkinkan Bernhardt untuk berkeliling dunia. Belum lagi telegraf yang membuat berita tentang Bernhardt menyebar lebih cepat. Tiba-tiba, semua orang saat itu pernah mendengar tentang Bernhardt, membaca tentang Bernhardt, atau melihat foto Bernhardt.

Kini selebritas tidak hanya muncul di tabloid atau televisi. Mereka ada di berbagai panggung media sosial. Muncul pula istilah-istilah baru untuk menyebut orang-orang yang terkenal atau tenar melalui media sosial seperti selebgram, youtuber, selebtwit, blogger, vlogger, dan lain-lain. Berbeda dengan media tradisional, media sosial menjanjikan semua orang bisa menjadi selebritas. Hari ini, mengutip Daniel Boorstin dalam The Image: A Guide to Pseudo-events in America (2012), “orang bisa terkenal karena terkenal”.

Dalam Camgirls: Celebrity and Community in the Age of Social Networks (2008), Terri Senft menyebut para selebgram, blogger, dan para pesohor media sosial sebagai micro celebrity, yakni orang-orang yang sukses menggunakan medium audio-visual plus situs jejaring untuk menaikkan popularitas di antara para audiensnya yang terhubung secara online.

Tapi, bagaimana sebetulnya selebritas mempengaruhi hidup kita? Kenapa banyak dari kita menganggap penting kehadiran selebritas? Dalam “Why We Are Obsessed With Celebrities” (2009), Nathan Heflick, seorang dosen psikologi di University of Lincoln, menjelaskan bahwa kita mencintai selebritas karena mereka adalah bagian integral dari budaya sehari-hari. Dengan memuji mereka (sampai batas tertentu), kita merasa seolah-olah kita berpartisipasi dalam sebuah sistem kepercayaan—ya, persis seperti agama.

“Kita menggunakan orang-orang asing ini”, demikian Greg Jenner, seorang sejarawan publik dan penyiar dalam wawancaranya dengan BBC History Magazine, “sebagai panutan”. Lebih lanjut, Jenner mengatakan bahwa selebritas sangat penting dalam membentuk moral, nilai, dan etika kita. Para selebritas itu menawarkan pelarian dari rutinitas, menghibur kita, memberi kita kesenangan, atau membantu mengekspresikan rasa sakit.

Baca juga artikel terkait SELEBRITAS atau tulisan menarik lainnya Nuraini Dewi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Nuraini Dewi
Editor: Windu Jusuf
DarkLight