Mengapa Kalender Cina berbeda dengan Kalender Masehi?

Oleh: Anggit Setiani Dayana - 4 Februari 2019
Dibaca Normal 1 menit
Tahun baru Cina dimulai di tahun 551 Sebelum Masehi, bertepatan dengan tahun lahirnya Confusius, yaitu tokoh penting dalam peradaban Cina.
tirto.id - Tahun Baru Cina 2570 kali ini dirayakan pada 5 Februari 2019. Jauh berbeda dengan kalender Masehi atau Kalender Gregorian yang dimulai tanggal 1 Januari berdasarkan peredaran matahari dalam satu tahun.

Penanggalan Kalender Cina dimulai di tahun 551 Sebelum Masehi, bertepatan dengan tahun lahirnya Confusius, yaitu tokoh penting dalam peradaban Cina. Ia yang menyebarkan paham Confusianisme (Confucianism).

Pada awal kemunculannya, Confusianisme sendiri dianggap sebagai etiket moral dan nilai sosial Bangsa Cina, daripada dianggap sebuah agama atau kepercayaan.

Confusianisme dibangun untuk menciptakan sebuah nilai sosial, institusi dan norma ideal Bangsa Cina.

Robert Bellah, dalam Asia Society, Confusianisme dapat disebut sebagai ‘Agama Sipil’ dengan kriteria; kesamaan mengenai identitas dan dasar moral masyarakat setempat, tidak didasarkan kepada lembaga-lembaga resmi seperti sekolah atau institusi pemerintahan lainnya tapi didasarkan pada kehidupan sehari-hari, dengan orangtua sebagai guru dan sebagainya.

Dalam Confusianisme, keluarga dan kehidupan sehari-hari adalah arena beragama.

Confusianisme yang juga disebut Kong Hu-Chu, dilanggengkan oleh Bangsa Cina hingga bertahun-tahun setelahnya, bahkan hingga sekarang.

Meskipun banyak masyarakat Cina tidak memeluk Kong Hu Chu, namun nilai-nilai yang diletakkan Confusius tetap dipegang seperti ritual sosial (li) dan kemanusiaan (ren).

Penanggalan Cina kemudian dihitung dari hari lahirnya Confusius dan ditandai dengan bulan baru (saat bulan tidak nampak di langit) yang mengakhiri musim dingin.

Melansir Asia Home, Kalender Cina dibagi menjadi 4 musim dan dibagi lagi menjadi 24 perayaan, yang mana setiap perayaan ditandai dengan melihat posisi matahari, atau bulan di langit.

Tahun Baru ditandai dengan Bulan Baru Pertama di langit, dan Perayaan Naga (hari kelima di bulan 5 Kalender Cina) juga dibuat dengan melihat tanda benda langit.

Masyarakat Cina menggnakan kalender ini selama ratusan tahun hingga Mao Zedong mengadopsi kalender Gregorian atau Kalender Masehi untuk menandai tanggal di Cina pada tahun 1949 ketika Republik Rakyat Cina dibentuk.

Upaya tersebut adalah untuk memudahkan administrasi dan hubungan luar negeri.

Meskipun sudah menggunakan kalender modern, Bangsa Cina dimanapun berada masih mempertahankan perayaan berdasarkan kalender tradisional Cina, terutama di momen Tahun Baru atau Imlek.

Perayaan Imlek disebut juga dengan Chunjie atau Festival Musim Semi yang sebenarnya perayaan tersebut sudah ada sejak Dinasti Shang (1600-1100 Sebelum Masehi).

Melansir Live Science, Festival tersebut dibuat untuk menghormati para leluhur dan para dewa, dirayakan untuk mengakhiri musim dingin dan menyambut musim semi.

Baru setelah 1914, ditetapkan momen Festival Musim Semi menjadi Hari Libur Nasional. Namun perayaannya dilarang pada 1967 pada masa Revolusi Kultural.

Setelah revolusi tersebut berakhir, perayaan kembali digelar setiap tahunnya.

Jika dibandingkan dengan kalender Masehi atau Gregorian, Kalender masehi jauh lebih muda. Kalender Masehi dimulai di tahun lahirnya Yesus Kristus dan berjalan sampai sekarang, dengan sistem 365 hari 5 jam 48 menit 46 detik dalam setahun.

Sisa jam tersebut akan menjadi total 24 jam setiap empat tahun sekali sehingga muncul tahun kabisat, yaitu tahun yang mengandung 29 hari di Bulan Februari.

Kalender Masehi dibuat berdasarkan pergerakan bumi terhadap matahari.

Berdasarkan lansiran Time and Date, Kalender Cina dibuat berdasarkan pergerakan bulan terhadap bumi memiliki rentang waktu yang lebih singkat, sehingga dalam satu tahun Kalender Cina memiliki 353-355 hari dalam setahun dibagi kedalam 12 bulan.

Untuk mengejar musim dan ketertinggalannya atas Kalender Masehi, setiap tiga tahun sekali ada 1 bulan tambahan, sehingga ada 13 bulan dalam tahun tambahan tersebut. Tahun tambahan yang berisi 13 bulan tersebut terdiri dari 383-385 hari.


Baca juga artikel terkait TAHUN BARU CINA atau tulisan menarik lainnya Anggit Setiani Dayana
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Anggit Setiani Dayana
Editor: Yandri Daniel Damaledo