Mengapa Gempa Susulan Bisa Berlangsung Berkali-kali?

Warga melintas di jalan dengan kondisi retak akibat dampak gempa Palu di Perumnas Balaroa, Palu Barat, Sulawesi Tengah, Minggu (30/9/2018). tirto.id/Arimacs Wilander
Oleh: Tony Firman - 3 Oktober 2018
Dibaca Normal 2 menit
Gempa susulan dipicu oleh aktivitas pergeseran sesar saat gempa utama terjadi. Bisa berlangsung dalam hitungan hari, minggu, bahkan tahun.
Ketika lombok diguncang gempa besar 7 SR pada 5 Agustus 2018 dan 6,2 SR pada 9 Agustus lalu, rentetan gempa susulan terus terjadi sampai 1.005 kali per 21 Agustus. Saat gempa susulan masih terhitung 451 kali, Dwikorita Karnawati selaku kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengatakan, gempa susulan skala kecil akan terus terjadi hingga empat minggu di wilayah Lombok.

"Kita harus menerimanya. Ini proses alam," tutur Dwikorita dilansir dari Antara. "Gempa di Lombok kali ini adalah siklus 200 tahunan dari patahan Flores, energi terkuat telah selesai," ujarnya.

Dari 1.005 kali gempa susulan tersebut, terselip gempa-gempa cukup besar berskala 6 sampai 6,9 SR. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, menyebut rentetan tersebut sebagai gempa kembar yang saling memicu.

"Adanya goncangan rentetan-rentetan gempa yang berada di Lombok bagian barat telah menyebabkan akhirnya reruntuhan, adanya rekahan-rekahan sehingga memicu di bagian timurnya dan ini akan terus berlangsung terjadinya gempa susulan," jelasnya.

Di Aceh, Kamis (27/9) lalu, atau sehari sebelum gempa Palu dan Donggala, gempa berkekuatan 5,3 SR mengguncang wilayah Kota Langsa pada 00.51 WIB dini hari. Sekitar enam jam setelahnya atau pukul 07.37 WIB, gempa susulan terjadi dengan kekuatan 3,6 SR mengguncang wilayah yang sama. Gempa tersebut terjadi karena aktivitas sesar lokal yang berlokasi di darat pada jarak 16 km arah Barat Laut Kota Langsa, Aceh yang memiliki kedalaman sekitar 12 km.

Terus Bergerak Dinamis

Saat Yogyakarta diguncang gempa berkekuatan 6,4 SR pada 2006 silam, gempa susulan pun terjadi berkali-kali. Yang terbaru, peristiwa serupa juga terjadi setelah Palu dan Donggala diguncang gempa berkekuatan 7,4 SR pada Jumat (28/9) pekan lalu akibat aktivitas sesar Palu-Koro di kedalaman 11 km yang berada di 26 km timur laut Donggala.


Warga Kota Palu bahkan sudah merasakan gempa susulan beberapa saat setelah gempa besar tersebut. Di tengah kondisi mengungsi di tanah lapang, listrik padam, dan sebagian besar bangunan hancur, gempa susulan terus mengguncang sampai malam.

Per Minggu (30/9) kemarin, gempa susulan sudah tercatat sebanyak 201 kali yang dapat dirasakan di wilayah Palu dan Donggala. Jumlahnya bakal terus bertambah karena masih berlangsung sampai sekarang.

Gempa bumi disebabkan oleh pergerakan lempeng bumi yang saling mendesak. Semakin lama dan kuat mendesak, akan mencapai titik yang tidak dapat ditahan lagi oleh lempeng-lempeng yang bersinggungan itu dan terjadilah sebuah pergeseran yang kemudian dirasakan sebagai gempa bumi.

Selain disebabkan oleh pergerakan lempeng bumi, aktivitas pergerakan magma dalam sebuah gunung juga bisa menyebabkan peristiwa gempa bumi. Namun, kebanyakan gempa bumi terjadi karena aktivitas tektonik lempeng bumi.

Jika melihat polanya, gempa susulan kerap terjadi mengiringi gempa utama dan terjadi berkali-kali. Dalam penjelasan United States Geological Survey (USGS), gempa susulan (aftershock) adalah gempa bumi yang mengekor gempa utama dalam sebuah rangkaian urutan kejadian. Gempa susulan dapat berlanjut dalam hitungan minggu, bulan, bahkan tahun sampai intensitasnya menurun seiring waktu.

Ketika gempa bumi terjadi, sebagian energi yang dilepaskan dari patahan lempeng batuan turut berpindah ke bebatuan lain di dekatnya sehingga menambah bobot tekanan dalam bentuk dorongan, tarikan atau putaran.


Saat tekanan tersebut terlalu berat untuk ditanggung, bebatuan pun hancur dan melepaskan energi baru. Dari sanalah lahir gempa susulan di sepanjang sesar gempa utama atau bahkan di sesar lainnya yang terpengaruh oleh energi gempa utama.

Kekuatan gempa utama sangat mempengaruhi gempa susulan. Semakin besar gempa utama, semakin besar, banyak, dan lama pula gempa susulan berlangsung. Terjadinya gempa susulan ini biasanya mewakili proses penyesuaian kecil di sepanjang patahan atau sesar yang bergeser saat gempa utama.

Gempa bumi dengan kedalaman lebih dari 30 km kecil kemungkinannya diikuti oleh gempa susulan. Sebaliknya, gempa dangkal bisa terjadi rangkaian gempa susulan.



Sebelum gempa yang menyebabkan gelombang tsunami itu terjadi, warga Palu sudah merasakan gempa kecil beruntun sejak sekitar pukul 15.00 waktu setempat. Inilah yang dinamakan gempa awal foreshock, yang sepaket dengan gempa pembuka dan gempa susulan (aftershock).

Gempa awal umumnya relatif berkekuatan kecil. Namun, tidak semua gempa utama atau gempa besar didahului rentetan gempa pembuka. Salah satunya seperti gempa besar di perbatasan Cina-India pada 1950. Gempa berkekuatan 8,6 magnitudo itu tak didahului gempa awal.

Aktivitas gempa awal terdeteksi pada sekitar 40 persen gempa berkekuatan sedang hingga besar. Sekitar 70 persen gempa awal terjadi di gempa utama yang berkekuatan di atas 7 magnitudo. Durasi dan waktu terjadinya gempa awal bisa bervariasi, mulai dari hanya hitungan menit, hari, bahkan tahunan.
Contoh gempa awal yang berjarak tahunan adalah gempa Aceh 2002, yang menjadi penanda gempa bumi besar 2004 yang melahirkan tsunami dahsyat.

Gempa bumi susulan tampaknya lebih memainkan efek psikologis. Orang-orang yang terdampak gempa utama dan rentetan gempa susulan bisa terserang efek ilusi gempa bumi. Saking banyaknya gempa susulan, mereka merasakan guncangan ketika tidak ada gempa.


Ilusi gempa juga pernah terjadi setelah Pulau Kyushu di Jepang dihantam gempa berkekuatan 6,2 SR dan 7,2 SR pada 2016. Dilaporkan The Telegraph, dua bulan setelah kejadian, ratusan orang mengaku merasakan gempa, padahal tidak ada aktivitas seismik apapun. Mereka merasa pusing dan sedikit kehilangan keseimbangan seolah sedang mengalami gempa. Di Jepang, fenomena tersebut dikenal dengan istilah "jishin-yoi" alias "mabuk gempa".

Baca juga artikel terkait GEMPA PALU DAN DONGGALA atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Tony Firman
Editor: Windu Jusuf
DarkLight