Mengapa Facebook dan PayPal Berinvestasi ke Gojek?

Ilustrasi paypal dan facebook. FOTO/iStockphoto
Oleh: Ahmad Zaenudin - 11 Juni 2020
Dibaca Normal 3 menit
Facebook dan PayPal kucurkan investasi ke Gojek.
“Pada hari Jumat musim semi yang cerah, di sebuah area tempat parkir di kompleks perkantoran Palo Alto pada 2001,” tulis Eve Bodow untuk Wired, “sekitar 170-an anak muda berkumpul, duduk di kursi plastik seperti sedang menghadiri upacara kelulusan. Di tengah podium berdiri Peter Thiel. Usianya baru 33 tahun. Ia mengenakan kaos putih dan bercelana jin Levi’s.”

Berdiri di tengah podium yang dikerumuni massa, Thiel bukanlah orang sembarangan. Di podium, CEO perusahaan rintisan bernama PayPal itu Thiel mengungkapkan bahwa perusahaannya “berada di jalur memperoleh keuntungan, yang paling tidak akan terlaksana pada musim gugur.” Ini kabar yang sangat baik dari perusahaan yang belum genap berusia dua tahun.

Salah satu indikator bahwa PayPal benar-benar akan meraup keuntungan: Thiel, sebelum berkumpul di parkiran, terbang ke Washington D.C. untuk bertemu dengan Presiden George W. Bush. Menurut Eve Bodow, jabat tangan dengan Bush merupakan tanda bahwa Paypal “memperoleh kartu kartu istimewa dari Gedung Putih.”

Dalam sejarah, startup penyedia layanan transaksi online PayPal merupakan salah satu pelopor strategi bakar duit. Di satu bulan di tahun 2000 saja, masih merujuk laporan Bodow, PayPal membakar uang senilai $10 juta untuk menarik masyarakat menggunakan layanannya. Hasilnya, setahun berselang, PayPal mentransaksikan uang senilai $3,5 miliar secara online dari 8,5 juta penggunanya. Mendulang pendapatan senilai $80 juta atas fee penggunaan sistem PayPal, mirip seperti cara VISA dan MasterCard memperoleh uang.

Pada dekade 2000-an, PayPal merupakan layanan finansial yang populer digunakan untuk bertransaksi di eBay. PayPal populer karena pengguna eBay tidak perlu menggunakan kartu kredit/debit mereka untuk secara langsung bertransaksi. Kala itu menggunakan kartu kredit. Carding masih marak. Nomor kartu kredit, tanggal kedaluwarsa, dan CVV beredar di mana-mana. Bisnis Thiel memungkinkan pengguna cukup mengkoneksikan kartu kreditnya ke PayPal untuk bertransaksi.

Setelah dibeli eBay senilai $1,5 miliar pada Juli 2020, PayPal bertransformasi menjadi salah satu perusahaan fintech terbesar.

Namun, belakangan PayPal kehilangan kekuatan, khususnya ketika ponsel pintar makin lazim keberadaannya di tengah masyarakat. Ia tergerus Apple dan Google yang meluncurkan layanan sejenis bernama Apple Pay dan Google Pay. Quartz melaporkan, saat ini, Apple Pay menyumbang 5 persen transaksi kartu kredit/debit global. Diperkirakan pada 2025 kelak, 1 dari 10 transaksi keuangan dilakukan oleh Apple. Berkat hasil yang cukup membahagiakan ini, Apple mendulang pendapatan senilai $12,7 miliar di tiga bulan terakhir tahun 2019 lalu hanya dari layanan keuangannya. Sementara itu, sebagaimana dilaporkan CNBC, PayPal hanya mendulang pangsa pasar sebesar 1 persen untuk jasanya di bidang “pembayaran internasional, pembayaran dalam e-commerce, dan toko fisik.”

PayPal telah digunakan di lebih dari 200 negara dengan dukungan 25 mata uang berbeda. Sayangnya, PayPal hanya kuat di Amerika Serikat. Dilansir dari laman Statista, per kuartal III-2018 PayPal memiliki 254 juta pengguna aktif, sebanyak 69 juta berasal dari Amerika Serikat.

Walhasil, untuk mengembalikkan kejayaan, PayPal memutuskan untuk mengeksplorasi pasar yang masih berada dalam status berkembang terkait transaksi online. Asia, dalam studi internal PayPal berjudul “Digital Payments: Thinking Beyond Transaction” menyebut bahwa masyarakat Asia masih suka menggunakan uang kontan bertransaksi. Sebanyak 70 persen responden dari India, Filipina, Indonesia, mengonfirmasi hal tersebut.

Senior Vice President Asia Pacific PayPal Rohan Mahadevan menyatakan kepada CNBC bahwa “masyarakat Asia sangat tahu keberadaan dompet digital, tapi penggunaannya masih teramat kecil.” Kecilnya jumlah pengguna tersebut, kata Mahadevan, terjadi “ketika masyarakat memperoleh informasi yang sempit dan membuat mereka takut untuk mencobanya”.

Di Indonesia sendiri, sebagaimana diwartakan Katadata, baru 48,9 persen penduduk dewasa Indonesia yang memiliki rekening. Rendahnya tingkat kepemilikan rekening penduduk dewasa Indonesia berbanding lurus dengan penggunaan kartu debit atau kartu kredit. Dalam sebuah rilis, JP Morgan menyebut penetrasi transaksi kartu debit dan kredit Indonesia hanya berada di angka 0,59 per kapita dan 0,07 per kapita. Bandingkan dengan, misalnya, kepemilikan ponsel pintar. Merujuk data dari Statista, 62,69 juta warga Indonesia merupakan pengguna ponsel pintar.

Singkat kata, pasar Asia menggiurkan bagi PayPal.

Awalnya, di November 2018 silam, PayPal diperkirakan masuk ke Asia melalui Grab, sebagaimana dilaporkan Deal Street Asia, yang menyebut bahwa PayPal dan Grab tengah melakukan perbincangan dalam penggalangan dana Seri H senilai $2 miliar.

Berselang sekitar 1,5 bulan kemudian, kabar PayPal-Grab tak jelas akhirnya. Malahan, kabar mengejutkan tiba. Di tengah pandemi corona, PayPal (dan juga Facebook) resmi berinvestasi ke Gojek.

GoPay: Pondasi Finansial PayPal dan WhatsApp di Indonesia

Sebagaimana rilis media yang disebar Gojek, startup yang didirikan nadiem Makarim, Kevin Aluwi, dan Michaelangelo Moran, “Facebook dan PayPal bergabung menjadi investor, menyusul Google dan Tencent.” Gojek tidak mengungkap berapa nilai investasi yang dikucurkan Facebook dan PayPal. Namun, dalam laporan Reuters, yang mengutip salah seorang investor Gojek, uang yang dikucurkan Facebook dan PayPal disebut-sebut “sangat berarti” bagi kas Gojek. Di lain sisi, Techcrunch melaporkan, uang investasi yang dikucurkan Facebook dan PayPal masuk ke dalam putaran pendanaan Seri F yang diharapkan mendulang uang senilai $3 miliar.

Kucuran investasi Facebook dan PayPal nampaknya lebih bertujuan membesarkan GoPay, layanan finansial milik Gojek. Dalam rilis media itu, investasi yang dikucurkan Facebook dan PayPal akan digunakan untuk “mendorong pertumbuhan ekonomi digital di Asia Tenggara, dengan fokus pada layanan pembayaran dan keuangan.” Lagi-lagi menurut Reuters, berkat investasi yang dikucurkan, Facebook memperoleh 2,4 persen saham GoPay, sedangan PayPal menguntit dengan mendapat 0,6 persen GoPay.



Farhad Maleki, Head of Corporate Development and Ventures for APAC PayPal, mengatakan bahwa “Asia Tenggara sedang berada di titik yang sangat krusial dalam proses adopsi digital,” dan melalui Gojek, PayPal ingin terlibat di dalamnya. PayPal, menurut Gojek, akan terintegrasi dengan sistem pembayaran Gojek, dengan UKM-UKM yang telah bergabung dengan Gojek, yang uniknya, akan langsung bersinggungan dengan Midtrans, layanan asli Indonesia yang dimiliki Gojek yang memiliki model bisnis mirip PayPal.

Bisnis PayPal memang sangat tergantung pada UKM atau pelaku usaha perorangan yang berjualan online. Menilik laman resminya, PayPal mematok fee senilai 4,4 persen per transaksi online yang dilakukan + $0,30 sebagai harga penggunaan layanan.

Per 2019, menurut laporan CNBC Indonesia, Gojek memiliki 500 ribu merchant via GoFood. Jika melalui GoPay mereka bisa dijangkau PayPal, bayangkan berapa yang akan diperoleh PayPal via fee-nya itu. Dan pada akhirnya, ketertinggalan PayPal dari Apple dan Google perlahan mungkin bisa dikikis.

Menjangkau pengguna baru layanan finansial melalui Gojek bukan hanya dilakukan PayPal, tetapi juga Facebook. Sebelum mengucurkan investasi kepada Gojek, Facebook, sebagaimana dilaporkan Hindustan Times, meluncurkan WhatsApp Pay secara resmi di India melalui kerjasamanya dengan ICICI Bank, Axis Bank and HDFC Bank, pada akhir Mei lalu. Peluncuran itu dilakukan selepas Facebook melakukan ujicoba pembayaran digital berbasis UPI, Februari 2018 silam.

WhatsApp Pay merupakan usaha Facebook untuk sesegera mungkin memperoleh untung dari WhatsApp, aplikasi pesan instan terpopuler di dunia yang dibeli Facebook senilai $19,3 miliar pada 2014 silam.

Sebelumnya, sebelum WhatsApp Pay, Facebook berusaha membuat untung WhatsApp dengan menciptakan layanan WhatsApp Business, memaksa pelaku usaha yang menggunakan WhatsApp membayar. Namun, Matt Idema, Direktur Operasional WhatsApp, mengatakan kepada Wall Street Journal bahwa “saat ini, benar-benar tidak ada cara untuk mengetahui apakah sebuah bisnis dapat dijangkau di WhatsApp.” Masalahnya, WhatsApp merupakan platform tertutup dan mengandalkan interaksi intim sehingga sukar mengetahui berapa banyak pelaku usaha menggunakan WhatsApp untuk mendukung bisnisnya.

Cara terbaik: menambahkan fitur pembayaran online di WhatsApp untuk semua orang. Gojek diyakini dapat membantu Facebook melakukan itu.

Baca juga artikel terkait GOJEK atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight