Meneropong Ancaman Tuberkulosis dari Daerah Terpencil Indonesia

Oleh: Aditya Widya Putri - 7 Desember 2020
Dibaca Normal 6 menit
Penanganan tuberkulosis di daerah terpencil masih terkendala akses dan stigma masyarakat. Pemerintah tetap perlu mewaspadainya di masa pandemi Covid-19.
tirto.id - Matahari pagi di Sanggau, Kalimantan Barat, tetap terasa menyengat, meski semalam hujan lebat mengguyur. Sejak pukul delapan, Muhammad Hijirah memacu sepeda motornya melewati jalan terjal berlumpur dari rumahnya di Dusun Ginis menuju Puskesmas Bonti. Jaraknya kira-kira sejauh 20 km.

Lazimnya, Hijirah butuh waktu satu jam bermotor untuk sampai ke pusat Kecamatan Bonti. Di sanalah “peradaban” bisa ditemukan. Sejauh itu, jalanan menembus hutan dan perbukitan. Tak ada sinyal, jalan beraspal, apalagi fasilitas kesehatan memadai.

Hari itu Hijirah musti menebus obat tuberkulosis untuk terakhir kali. Dia bari saja dinyatakan sembuh. Selanjutnya, dia hanya perlu kontrol reguler untuk memastikan tidak ada kekambuhan.

Saya sudah di Bonti nih, baru selesai dari puskesmas,” demikian SMS Hijirah kepada saya usai merampungkan urusannya. Dua hari lalu kami membuat janji bertemu. Kami lalu mengobrol soal perjuangan Hijirah melawan tuberkulosis di warung kecil tak jauh dari Puskesmas Bonti.

Ini pas enam bulan, Kak, sudah habis (masa pengobatannya). Kata dokter, kalau sudah tidak batuk, tak perlu lagi cek dahak,” tutur Hijirah dengan logat Melayu yang kental.

Seturut data World Health Organization (WHO), seperempat populasi dunia mengidap tuberkulosis. Orang yang terinfeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis memiliki 5-15 persen risiko menderita tuberkulosis seumur hidup. Risikonya bakal lebih besar bagi mereka yang juga mengidap penyakit berat, seperti AIDS, diabetes, mengalami malnutrisi, atau perokok.

HIV dan tuberkulosis membentuk kombinasi yang mematikan karena masing-masing memperparah satu sama lain. Pada 2019, sekitar 208.000 orang meninggal karena tuberkulosis yang terkait HIV,” tulis laman resmi WHO.

Meski begitu, tuberkulosis bisa disembuhkan. Pengobatan tuberkulosis aktif dilakukan selama enam bulan dengan empat obat antimikroba. Sejak 2000, diperkirakan 63 juta nyawa berhasil diselamatkan melalui diagnosis dan pengobatan yang tepat.

Hijirah menduga dirinya tertular di antara Entikong atau Balai Karangan tahun lalu, kala sedang menempuh pendidikan. Balai Karangan memang merupakan salah satu kecamatan dengan infeksi tuberkulosis tertinggi di Sanggau selain Kecamatan Kapuas, Meliau, Tayan Hulu, dan Bonti.

Beberapa bulan setelah paparan, Hijirah belum juga sadar telah terinfeksi bakteri tuberkulosis. Dia mengalami batuk berkepanjangan dan kondisinya makin parah karena sering begadang. Berat badan badannya pun susut drastis, bahkan muntah hampir setiap hari.

Sampai datanglah kader Aisyiyah, organisasi nirlaba yang fokus pada isu sosial, ke Dusun Ginis. Aisyiyah memiliki program pengentasan tuberkulosis dan HIV dengan melakukan investigasi kontak dan sosialisasi. Dari sanalah Hijirah dideteksi mengidap tuberkulosis.

Sejak saat itu, Hijirah rutin bolak-balik ke fasilitas kesehatan setiap dua minggu sekali. Hijirah termasuk pasien tuberkulosis paru yang patuh. Karenanya, hanya butuh waktu enam bulan baginya untuk sembuh.

Mula-mula obatnya banyak, satu kantong. Efeknya mual, tapi per tiga bulan berubah semakin sedikit dan sekarang syukur sudah selesai,” tutur Hijirah.



Daerah Terpencil Sulit Dijangkau

Kabupaten Sanggau adalah satu contoh wilayah terpencil di Indonesia yang sulit dijangkau fasilitas kesehatan. Daerahnya merupakan perbukitan dengan akses jalan buruk dan berbatu. Di beberapa titik, seseorang bahkan harus melewati hutan sawit atau menyebrangi Sungai Kapuas untuk sampai ke pusat kota.

Karenanya, menjalani pengobatan tuberkulosis bagi Hijirah bisa dikatakan sebagai perjuangan. Dia termasuk beruntung karena masih muda, fisiknya tergolong cukup kuat, dan punya kendaraan pribadi. Kondisinya akan berbeda bagi pasien lain yang tinggal sebatang kara, tak punya akses transportasi, dan termasuk kelompok umur tua.

Hambatannya makin bertambah kala musim penghujan datang.

Kalau sehabis hujan sangat luar biasa, kita enggak bisa boncengan. Jadi, harus turun jalan kaki,” kata Kordinator TB Care Aisyiyah Sanggau Romy Sahman mengisahkan perjuangan para kader menjangkau pasien tuberkulosis di desa-desa.

Tiga bulan lalu, seorang kadernya terjatuh dari motor dalam perjalanan menuju Desa Mengkiang di tengah guyuran hujan. Sejak saat itu, program bulanan pengentasan tuberkulosis selalu ditunda apabila kondisi jalanan basah dan licin. Apalagi, mayoritas kader TB Care Aisyiyah adalah perempuan dan sudah berumur lebih dari 45 tahun.

Lain itu, di beberapa daerah, masih ada masyarakat yang menanggapi gejala batuk darah yang lazim ditemui pada tuberkulosis sebagai guna-guna. Alih-alih berobat ke puskesmas, mereka justru mendatangi dukun.

Yang di desa (terpencil) ini biasanya tidak mau berobat dahak (pemeriksaan bakteri tahan asam). Ketika sudah menular baru sadar, dicek benar positif,” ungkap Florida Linawati Aries Siregar, dokter di Puskesmas Balai Karangan, Sanggau.

Sejak memulai praktik pada 2017, Florida menjumpai banyak pasien suspect tuberkulosis yang menolak pengobatan gara-gara stigma guna-guna dan penyakit keturunan. Suatu ketika, dia pernah pula mendapat pasien perempuan paruh baya terdiagnosis mengarah tuberkulosis paru yang marah dan tersinggung karena merasa keluarganya dituding membawa penyakit turunan.

Beberapa bulan kemudian, si pasien kembali datang bersama cucunya yang tertular. Pada akhirnya dia percaya bahwa ancaman tuberkulosis itu nyata dan bisa menular ke siapa saja.

Saya jelaskan bahwa tuberkulosis bukan penyakit turunan, ia bertransmisi lewat udara. Jadi bisa saja kena kontak dari luar dan tertular,” jelas Florida.



Tuberkulosis di Tengah Pandemi

Hambatan lain eradikasi tuberkulosis di Sanggau adalah penolakan dari masyarakat. Kadang kala para kader TB Care Aisyiyah dianggap peminta sumbangan sehingga tak dibukakan pintu. Perjuangan mereka melakukan penyuluhan dan investigasi kontak ikut bertambah pelik di masa pandemi seperti sekarang ini.

Keaktifan kader jadi berkurang karena mereka takut ke lapangan. Apalagi di awal pandemi akses masuk desa dijaga ketat oleh satgas desa, aktivitas di luar rumah juga harus dikurangi,” ungkap Romy.

Meski begitu, sebagian kader tetap menjalankan program pendampingan pasien, terutama bagi pasien yang tidak memiliki kendaraan dan tinggal sebatang kara. Kader-kader inilah ujung tombak penyelamat, tongkat estafet yang mengantarkan obat dan pemeriksaan dahak untuk para pasien khusus.

Kami nekat membantu meski sedang pandemi, tidak bisa berhenti total. Covid-19 dan tuberkulosis sama-sama berbahaya,” tutur Romy.

TB Care Aisyiyah memiliki beberapa program rutin, di antaranya penemuan kasus dan pendampingan pengobatan. Mekanisme investigasi kontak menjadi salah satu cara menemukan kasus tuberkulosis baru. Investigasi dilakukan dengan memeriksa tanda gejala, faktor, dan risiko kepada 20 orang dari indeks kasus atau pasien positif.

Memang, kendala kita jauh. Ada pasien yang jarak dari domisilinya ke puskesmas makan waktu lebih dari tiga jam. Makanya, kita siasati juga dengan kerja sama kader, mereka yang turun,” tutur Sarimin Sitepu dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Sanggau.

Kader TB Care Aisyiyah akan meminta pemeriksaan dahak di puskesmas jika ada warga yang memenuhi syarat rujukan. Pemeriksaan juga dilakukan terhadap seluruh anggota keluarga dan tetangga di empat rumah sekitarnya. Selama pandemi ini, Bumi Daranante—julukan Sanggau—ikut menghadapi permasalahan umum penanganan tuberkolusis seperti wilayah lain, yakni penurunan kasus.

Seturut data yang dihimpun Dinkes Sanggau, tercatat ada 617 kasus tuberkulosis pada 2016. Jumlahnya meningkat jadi 815 kasus pada 2017 dan kembali naik jadi 858 kasus pada 2018. Pada 2019, jumlah kasusnya turun tipis jadi 843 kasus.

Hingga September 2020, “hanya” di temukan 443 kasus tuberkulosis. Artinya, ada penurunan drastis dari tahun sebelum pandemi Covid-19 merebak. Dinkes Sanggau juga mencatat delapan orang meninggal akibat tuberkulosis dan empat orang putus obat.

Penurunan statistik kasus tuberkulosis itu bukan kabar baik. Pasalnya, hal itu diduga terjadi karena adanya berbagai kebijakan pembatasan. Pembatasan membuat intensitas investigasi kontak berkurang sehingga peluang penemuan kasus baru ikut menurun.

Dulu (sebelum pandemi) semakin banyak kita cari, semakin banyak kita temukan (kasus baru),” kata Sarimin.

Penurun kasus semacam itu bukan tren spesifik di Sanggau atau Indonesia saja. Menurut laporan baru dari WHO, tren penurunan signifikan dalam pelaporan kasus tuberkulosis juga terjadi di lebih dari 200 negara selama periode Januari hingga Juni 2020.

Data WHO juga menunjukkan terjadinya penurunan kasus hingga 25-30 persen di tiga negara dengan beban tuberkulosis tinggi, yakni India, Indonesia, dan Filipina. Dalam kalkulasi WHO, Kondisi ini berpotensi membikin statistik kematian akibat tuberkulosis meningkat secara dramatis.

Selain itu, risiko tertular Covid-19 di fasilitas kesehatan membuat sebagian pasien tuberkulosis merasa khawatir berobat. Lagi pula, fasilitas untuk pengobatan tuberkulosis seperti ruang isolasi juga dialihkan untuk perawatan pasien Covid-19. Dinkes Sanggau pun bersiasat untuk menghadapi kondisi ini.

Untuk mengatasi hambatan selama pandemi, kita siasati pengambilan obat dari sekali setiap minggu menjadi sebulan sekali,” kata Sarimin.

Cara ini diambil untuk efisiensi waktu sekaligus mengurangi kepadatan pasien di pusat kesehatan. Patut diingat bahwa tuberkulosis adalah salah satu kondisi penyerta yang dapat memperburuk Covid-19 sehingga pasien tuberkulosis termasuk kelompok rentan.



Infografik Tuberkulosis
Infografik Tuberkulosis. tirto.id/Quita



Tetap Waspada Tuberkolusis

Sebut saja namanya Gini, warga di Desa Penyeladi, Kelurahan Tanjung Sekayam, Kapuas, Sanggau. Setahun belakangan, Gini didiagnosa tuberkulosis tulang belakang. Tuberkulosis jenis ini menginfeksi tulang belakang pada area dada belakang bagian bawah dan pinggang belakang bagian atas.

Berbeda dengan Hijirah, pengobatan Gini berlangsung lebih lama karena enggan mengikuti protokol pengobatan. Dia harus rutin minum obat biasa selama delapan bulan dan ditambah obat suntik selama dua bulan. Sayangnya, hingga sekarang, dia tak menjalaninya dengan baik.


Tidak mampu sama efek sampingnya,” ujar Gini yang mengeluhkan demam, mual, dan sakit kepala—efek samping yang biasa dialami pasien selama pengobatan tuberkulosis.

Sebagai pendamping, Romy sudah mengedukasi Gini bahwa efek samping tersebut bisa diminimalisasi dengan penggunaan obat lain. Segala efek sampung itu pun sebenarnya masih lebih bagus dibanding harus menanggung kelainan tulang belakang atau kelumpuhan suatu hari nanti. Tapi, Gini tak pernah menggubrisnya.

Gini tidak pernah melawan petugas. Dia pun selalu mengiyakan semua saran, tapi tak pernah mengindahkannya. Dia sering membohongi petugas puskesmas dengan mengatakan akan datang berobat saat jadwalnya tiba, tapi dia terus menunda kedatangan sampai jam kerja berakhir.

Kita sudah koordinasi dengan Ketua RT, Kepala Desa, Kepala Dusunnya, tapi masih juga bandel. Sampai sekarang, belum ada titik celah untuk dia berobat,” ujar Romy. “Dia kepala keluarga, jadi punya power, nggak ada yang berani kritik.”

Di Sanggau, jumlah pasien bebal seperti Gini persentasenya sangat kecil. Sarimin bahkan berani mengklaim tingkat kesembuhan pasien tuberkulosis di wilayahnya hampir mencapai 100 persen. Kondisi putus obat biasanya terjadi karena pasien pindah domisili, tapi tidak melapor sehingga hilang dari pantauan Dinkes.

Masyarakat kita mayoritas masih manut. Biasanya kalau pindah langsung kita infokan ke wilayah kabupaten supaya pengobatan bisa diteruskan,” katanya.

Meski jumlahnya tak signifikan, pasien-pasien putus obat ini punya pengaruh besar untuk menularkan bakteri tuberkulosis ke lingkungan sekitar. Investigasi kontak TB Care Aisyiyah, misalnya, menemukan penambahan tiga pasien di Desa Penyeladi. Padahal, sebelumnya, pasien tuberkulosis di sana hanya Gini saja.

Merujuk Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi orang dengan tuberkulosis yang patuh minum obat dalam satu periode tanpa terlewat adalah 69,2 persen. Kelompok dengan kepatuhan terendah ada di rentang usia Gini, yakni 45-54 tahun, sebesar 59,9 persen.

Alasan pasien tidak patuh minum obat bisa bermacam-macam. Mulai dari merasa sudah sehat (37,51 persen), tidak berobat (28,42 persen), tidak mampu membeli obat secara rutin (17,3 persen), merasa pengobatan terlalu lama (16,54 persen), tidak tahan efek samping (15,66 persen), hingga sering lupa (8,12 persen).

WHO mengatakan, orang dengan tuberkulosis aktif yang tidak mendapatkan perawatan bisa menginfeksi 10-15 orang lain setiap tahun. Pengobatan mereka nantinya juga semakin sulit, mahal, dan lama karena terjadi resistensi obat.

Meski hiruk pikuk pemberitaan dan fokus penanganan kesehatan sedang tertuju pada Covid-19, WHO masih mengategorikan tuberkulosis sebagai penyakit menular paling mematikan di dunia. Ia juga penyumbang utama resistensi antimikroba. Di Indonesia, insiden kematian akibat tuberkulosis mencapai 92.700 jiwa per tahun—setara 11 nyawa per jam.

Selain penanganan pagebluk Covid-19, pemerintah perlu tetap waspada terhadap ancaman penyakit lain di masa depan, termasuk tuberkulosis. Apalagi Indonesia ada di urutan kedua di antara negara-negara dengan insiden tuberkulosis tertinggi. Indonesia hanya kalah dari India diurutan pertama dan disusul Cina, Filipina, dan Pakistan.

Jangan sampai fokus penanganan Covid-19 menutup membuyarkan kewaspadaan terhadap kasus tuberkulosis. Beban negara bakal terlalu berat jika infeksi tuberkulosis di masa depan tiba-tiba membludak.

Baca juga artikel terkait TUBERKULOSIS atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Aditya Widya Putri
DarkLight