Indonesia Masih Saja Bergelut dengan Tuberkulosis

Ilustrasi pemeriksaan penyakit tuberkulosis. Getty Images/iStockphoto
Oleh: Reggie Suwandy - 14 Januari 2018
Dibaca Normal 2 menit
Pada 2016, Indonesia menjadi negara dengan jumlah penderita TB kedua terbanyak di dunia.
tirto.id - Pada 28 April 1949, penyair pelopor Angkatan 45, Chairil Anwar, meninggal dunia karena tuberkulosis. Kini, nyaris 70 tahun setelah kepergian sang binatang jalang, negeri ini masih belum bisa memberantas penyakit tersebut. Bahkan, menurut WHO, jumlah penderita TB di Indonesia menduduki peringkat kedua terbanyak di dunia, hanya kalah dari India.


Penyakit yang disebabkan oleh infeksi seperti TB memang masih menjadi kendala utama di negara beriklim tropis. Menurut Global Tuberculosis Report 2017 yang disusun oleh WHO, TB masih menjadi 1 dari 10 penyebab kematian di seluruh dunia. Ia menjadi pembunuh nomor 9, dan menjadi penyebab kematian dikarenakan infeksi tertinggi di seluruh dunia, di atas HIV/AIDS. Dari data epidemiologi 2016, tercatat 10.400.000 orang menderita TB, dan 1,7 juta di antaranya meninggal dunia.

TB merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Pada umumnya, bakteri ini menyerang paru-paru, tapi bisa juga menyerang organ lain seperti limfadenitis TB (kelenjar getah bening), spondilitis TB (tulang belakang), ataupun peritonitis TB (perut). Penyakit ini lebih mudah menyerang orang yang menderita HIV, malnutrisi, diabetes, perokok, dan orang yang mengkonsumsi alkohol.

Apabila TB tidak menyerang paru, pembengkakan kelenjar getah bening yang umumnya pada bagian leher, bisa disertai berat badan menurun, atau gejala penyerta sesuai organ yang terserang. Misalnya nyeri tulang belakang dan timbul bagian yang bengkak pada bagian tulang belakang untuk penderita Spondilitis TB.


Hal lain yang perlu diketahui oleh masyarakat umum, WHO pun mempunyai 3 standar utama pemeriksaan untuk mendeteksi TB, yakni rapid molecular tests, sputum smear microscopy, serta culture-based methods. Dari ketiganya, bisa dilihat bahwa foto rontgen toraks (dada) tidak termasuk. Ketiga pemeriksaan tersebut menggunakan dahak sebagai media pemeriksaan, hanya dibedakan dengan teknik pemeriksaannya. Dua dari ketiga pemeriksaan tersebut dapat dilakukan di Puskesmas.

TB juga diliputi masalah sosial, sebab penderita TB masih distigma. Ketika ada anggota keluarga yang menderita penyakit ini, tidak jarang anggota keluarga lain malah mengucilkan. Saran dari tenaga kesehatan untuk memeriksakan semua anggota keluarga serumah pun terkadang dihindari.

Sikap semacam inilah yang bisa menggagalkan program pemberantasan TB. Ketika anggota keluarga serumah takut untuk memeriksakan diri, upaya deteksi awal kasus TB putus sampai di sini.

Selain itu, pengobatan TB yang memakan waktu cukup lama, dengan rentang waktu 6-9 bulan, tidak jarang membikin penderita TB hanya mengkonsumsi obat hanya ketika gejala datang. Faktor itu ditambah mitos yang mengakar di masyarakat umum bahwa konsumsi obat terlalu lama bisa merusak ginjal dan hati. Penderita TB pun tambah ketakutan untuk mengkonsumsi obat terus-menerus selama 6 bulan, sehingga pengobatannya tidak tuntas.

Karena pengobatan terputus, sangat umum penderita datang kembali dengan kondisi yang memburuk, sampai akhirnya mengalami resistensi obat. Akhirnya, penderita itu pun harus mendapatkan pengobatan dengan jangka waktu lebih lama.

Kendala untuk mengendalikan kasus TB tidak sampai di sini saja. Seperti ditulis di atas, perokok lebih berisiko terserang TB, sementara Indonesia menjadi lingkungan yang sangat ramah bagi perokok. Hampir di setiap area terbuka, kita mudah menemukan orang merokok, baik anak-anak yang masih menggunakan seragam putih biru sampai orang dewasa. Bahkan, orangtua pun tidak segan merokok di dekat anaknya.


Belum lagi hambatan dalam pencegahan penularan TB. Kita masih berkutat dengan urusan sepele seperti orang yang membuang dahak secara asal-asalan di jalanan, atau orang yang tidak menutup mulutnya saat batuk. Ketika orangtua tidak menutup mulutnya saat batuk dan membuang dahak tidak dengan tepat, anak-anak pun bisa meniru perilaku itu. Maka, penularan penyakit yang menular melalui udara pun sangat mudah terjadi.

Pada 2016, pemerintah mencanangkan TOSS TB (Temukan dan Obati Sampai Sembuh Tuberkulosis). Program ini mengharapkan kerjasama semua pihak, baik pemerintah maupun semua lapisan masyarakat. Pemerintah bekerja dengan menjamin ketersediaan obat, menyediakan tenaga kesehatan yang unggul, sarana dan prasarana yang baik, memeriksakan orang yang memiliki risiko tinggi yang datang ke puskesmas, dan yang tak kalah penting, seharusnya, adalah promosi kesehatan.

Infografik Memerangi Tuberkulosis


Lalu apa yang sebaiknya dilakukan oleh masyarakat untuk kasus TB ini?

Pertama, deteksi dini orang terdekat jika ada orang terdekatnya mengalami gejala seperti batuk lama, berat badan menurun, atau timbul bengkak, misalnya di leher. Segera diperiksakan di fasilitas kesehatan, lakukan pencegahan penyakit menular dengan baik. Batuk sebaiknya ditutup dengan bagian siku dalam, membuang dahak tidak sembarangan, dan rajin mencuci tangan.

Perilaku hidup bersih dan sehat harus dijadikan kebiasaan di kehidupan sehari-hari. Jika ada anggota keluarga yang menderita TB, janganlah mengucilkan mereka. Jangan segan untuk memeriksakan diri sendiri, maupun anggota keluarga lain yang memiliki kontak dengan kasus TB, dan yang sangat penting adalah selalu mengingatkan penderita TB untuk rajin minum obat sehingga pengobatan dapat selesai dengan baik.


Dari sisi pemerintahan, departemen kesehatan bekerja dengan menjamin ketersediaan obat. Negara ini menargetkan eliminasi kasus TB pada 2035 dan pada 2050 Indonesia dapat terbebas dari TB. Seperti disebut dalam situs Depkes, masyarakat Indonesia yang terkena TB dapat mengakses pengobatannya di puskesmas-puskesmas dengan gratis.

Baca juga artikel terkait TBC atau tulisan menarik lainnya Reggie Suwandy
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Reggie Suwandy
Penulis: Reggie Suwandy
Editor: Maulida Sri Handayani
a