Mendag Prediksi Harga Kedelai Masih Tinggi Sampai Akhir Mei

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 11 Januari 2021
Dibaca Normal 1 menit
Lutfi mengatakan harga kedelai impor sudah mencapai keseimbangan yaitu Rp8.500 per kg, tapi masih bisa naik lagi berkisar Rp100/kg setiap bulannya.
tirto.id - Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi memperkirakan harga kedelai impor masih bakal mengalami kenaikan selama 3-4 bulan ke depan atau tepatnya sampai akhir Mei 2021. Lutfi mengatakan setelah itu, harga diperkirakan akan mulai menurun lagi seiring perbaikan produksi kedelai di Amerika Latin termasuk Brasil.

“Bayangan saya tidak akan lebih dari Rp9.000/kg,” ucap Lutfi dalam konferensi pers di kantor Kemendag, Senin (11/1/2021).

Lutfi menjelaskan kenaikan harga kedelai internasional ini dipengaruhi beberapa faktor. Salah satunya peningkatan permintaan Cina untuk menjamin pasokan pakan ternak babi usai mengalami peristiwa flu babi atau Asian Swine Flu (ASF). Lalu ada juga faktor cuaca La Nina yang mengganggu produksi kedelai di Amerika Latin.

Saat ini Lutfi mengatakan harga kedelai impor sudah mencapai keseimbangan yaitu Rp8.500 per kg. Harga ini menurutnya masih bisa naik lagi berkisar Rp100/kg di tiap bulannya.

Soal kenaikan harga itu, Lutfi telah menyiapkan solusi untuk meresponnya. Pertama menengahi produsen tahu-tempe dan importir kedelai sehingga keduanya dapat memperoleh harga yang wajar bagi kedua belah pihak.

“Saya berjanji kepada seluruh stakeholder kacang kedelai. Ada pembicaraan khusus saya dan mereka,” ucap Lutfi.

Kedua, Lutfi juga berjanji bakal membantu produsen untuk mengumumkan harga wajar tahu-tempe setiap akhir bulan sebelum kenaikan harga di bulan berikutnya akan terjadi. Ia mencontohkan bila benar harga kedelai naik Rp100/kg maka Kemendag bakal menghitung berapa harga wajar tahu dan tempe yang bisa digunakan produsen.

Ia memperkirakan bila kenaikan harga kedelai Rp100/kg maka kenaikan harga tahu dan tempe tidak akan naik terlalu jauh dari kisaran itu. Bahkan peningkatan harganya bisa kurang dari Rp100/kg. Hal inilah yang bakal diumumkan oleh Kemendag secara berkala kepada publik untuk mengantisipasi kenaikan harga kedelai dalam 3-4 bulan ke depan.

“Saya berjanji kepada koperasi. Tiap menjelang akhir bulan, Kemendag akan membantu mereka memberi estimasi harga wajar tahu-tempe. Ketika harga akan naik, kami akan umumkan harga wajar tahu dan tempe,” ucap Lutfi.

Lonjakan harga kedelai impor terbukti membuat Indonesia kerepotan. Produsen tahu-tempe dalam negeri mogok kerja awal tahun ini lalu memilih berproduksi sejak 4 Januari tapi menjualnya dengan harga lebih mahal.

Lembaga pemeringkat S&P Global menyatakan kenaikan harga kedelai terutama disebabkan peningkatan pembelian dari Cina seiring pulihnya ekonomi negara itu dari pandemi COVID-19. Peningkatan pembelian sangat terasa dampaknya karena negara itu berkontribusi terhadap 60 persen perdagangan kedelai dunia.

Dari Amerika Serikat, Cina membeli 31,8 juta metrik ton selama 1 Januari-17 Desember 2020, padahal tahun sebelumnya hanya 10,5 juta metrik ton. Dari Brazil--yang merupakan eksportir nomor satu kedelai dunia--Cina membeli 60 juta metrik ton atau naik 8 persen dari tahun sebelumnya. S&P Global meyakini tren ini bakal berlanjut tahun ini.



Baca juga artikel terkait IMPOR KEDELAI atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Bayu Septianto
DarkLight