Mencari Jejak Glam Rock di Inggris

Penyanyi rock Inggris, David Bowie, berpose di samping Rolls Royce pada Mei 1973. FOTO/AP
Oleh: Nuran Wibisono - 9 Desember 2019
Dibaca Normal 4 menit
Pada 1970, gagrak glam rock hadir dan menjadi kontroversi. Apakah pengaruhnya masih terasa hingga kini?
"Dia siapa?"

"David Bowie, rockstar legendaris Inggris?"

"Hahaha. Aku tahu, kok, hanya menggodamu. Dia tipikal pria yang amat flamboyan, bahkan aku nggak akan membiarkan kucingku naik ke kasur bareng dia."

Saya nyengir melihat bapak tua usia 70-an melenggang pergi setelah melepas humor kering tentang salah satu sosok berpengaruh yang dihasilkan Inggris.

Sore itu mendung dan berangin. Saya sedang asyik memotret mural David Bowie yang terletak tepat di seberang Stasiun Brixton. Di kecamatan itu, Bowie lahir. Dan sekitar 500 meter dari Stasiun Brixton, tepatnya di Stansfield Road, Bowie yang punya nama asli David Robert Jones itu menghabiskan masa kecilnya sebelum pindah ke London untuk menjalani takdir sebagai seniman dahsyat.

Mural yang terletak pas di seberang stasiun Brixton itu dibuat tak lama usai Bowie mangkat pada 10 Januari 2016, hanya dua hari setelah melepas album terakhirnya, Blackstar. Karakter yang dipakai di mural itu adalah Ziggy Stardust (tentu saja!), personanya yang paling masyhur, sekaligus periode yang menandai awal popularitasnya.


Ini adalah hari pertama saya di Inggris dan saya sudah mencanangkan sejak dari Indonesia akan mendatangi dua tetenger glam rock di London: patung Marc Bolan dan mural David Bowie.

Inggris terdiri dari banyak hal. Sepak bola, dua band terbesar sepanjang sejarah musik populer, triumviraat band peletak pondasi heavy metal, makanan hambar, punk rock, juga Britpop. Namun seringkali orang melupakan--atau tak mau tahu--bahwa Inggris adalah tempat kelahiran glam rock.

Soal itu, akademisi asal Australia, Jon Stratton, pernah bikin esai cukup panjang berjudul “Why Doesn’t Anybody Write Anything About Glam Rock” (PDF, 1986). Menurutnya, salah satu faktor kenapa glam rock amat sukar didiskusikan, terutama dari sudut pandang kajian kebudayaan, adalah karena belum ada klasifikasi yang ajeg.

Seperti apakah definisi glam rock? Apakah glam lebih ke soal musik atau soal dandanan? Apakah Bowie dan Marc Bolan adalah glam? Bagaimana dengan Queen, yang di awal kariernya menonjolkan persona Freddie Mercury yang sangat glam, lengkap dengan kostum bersayap atau dengan glitter.

Sama seperti banyak hal yang sukar didefinisikan, glam rock akhirnya memang tak punya pengertian yang benar-benar bisa dipegang. Namun, Stratton pada akhirnya mungkin lega, ada banyak sekali tulisan dan buku tentang glam rock.

Mulai dari buku penting dari Barney Hoskyns, Glam! Bowie, Bolan, and the Glitter Rock Revolution (1998), Performing Glam Rock: Gender and Theatricality in Popular Music (2006) karya Philip Auslander, hingga kitab super duper tebal berjudul Shock and Awe: Glam Rock and Its Legacy, from the Seventies to the Twenty-first Century (2016) karya jurnalis musik Simon Reynolds.


Mencari The White Swan dan Ziggy Stardust

Dari stasiun Waterloo yang riuh dan mengingatkan pada lagu The Kinks itu, saya naik kereta South Western menuju Barnes, sekitar 8 kilometer dari pusat kota London. Tujuan saya adalah tetenger Marc Bolan, pria yang disebut-sebut sebagai penyihir, dan dari tangannya lahir mahakarya seperti “Get It On”, “Children of the Revolution”, dan “20th Century Boys” yang menggelegar.

Pada Maret 1971, Bolan yang mengomandoi T-Rex, tampil di acara Tops of the Pops. Dan itulah momen yang jadi tonggak penting kelahiran glam rock. Bolan memakai baju sutra berwarna krem, dengan glitter di bawah mata, semacam mengenalkan: inilah rock yang glamor!

Beberapa bulan setelah tampil di Tops of the Pops, T-Rex merilis album keenamnya--empat album sebelumnya, mereka memakai nama Tyrannosaurus Rex yang memainkan musik psikadelik--Electric Warrior. Tak sampai setahun, giliran Bowie yang muncul dengan The Rise and Fall of Ziggy Stardust and the Spiders from Mars (1972).

Dua orang ini memang bersahabat sekaligus bersaing secara artistik. Mereka pernah tinggal bareng di sebuah kastil tua, pernah main musik bareng, sebelum akhirnya berpisah jalan.

Sejak perilisan dua album monumental itu, Inggris dilanda demam glam. Selain T-Rex dan Bowie, ada nama-nama seperti Slade, Sweet, Mott and the Hopple, juga Roxy Music. Sama seperti glam rock yang punya banyak definisi, musik-musik para penggawa glam ini juga tidak seragam. Ada yang berakar pada musik R&B, pop rock ala Beatles, hingga elektronik.

Satu yang pasti, mereka hadir dengan aura warna-warni.

“Di enam puluhan, ada demam blues di Inggris. Para pemainnya seragam, pakai segala berbahan denim, dan tidak menarik,” ujar B.P Fallon, publisis T-Rex.

Saat itu, kenang Fallon, semua tampak serupa dengan warna abu-abu yang membosankan. Di ujung kejumudan itu pula, Bolan dan Bowie, kemudian para sekondan lainnya, muncul dengan persona baru yang, “mengkilat, berisik, vulgar, dan bagi beberapa orang: mengesalkan.”


Glam bisa disukai banyak orang Inggris karena terang-terangan menunjukkan mereka bukan bagian dari generasi sebelumnya. Dan mereka juga tak malu-malu kalau mengakui mereka dangkal, tidak pretensius, karenanya kerap diledek: mulai dari musik plastik, sampai banal bubblegum.

Tapi, mereka bodoh amat, dan begitu pula para pendengarnya.

Bagi sebagian besar orang, glam juga sangat provokatif dan kontroversial. Mereka menabrak batas-batas gender, tidak malu membahas perkara bawah pinggang. Seperti yang Hoskyns tulis, “Glam mengaburkan batas antara straight dan queers, mengajak para remaja lelaki dan perempuan untuk bereksperimen dengan citra dan peran di jagat utopia tanpa gender.”



Baik Bolan atau Bowie sadar betul bahwa musik yang mereka mainkan adalah panggung sandiwara. Mereka perlu karakter dan persona, sesuatu yang menurut Auslander, seringkali dibawa serta di luar panggung. Persona itu lantas jadi identitas baru yang melekat.

Bowie membuat persona baru untuknya, Ziggy Stardust, bintang rock androgini yang bermain musik dengan para laba-laba dari Mars. Karakternya makin lengkap dengan dandanan yang begitu khas: rambut dicat merah, gambar petir di wajah, juga kostum dengan warna-warni berani. Begitu pula Bolan yang sering disebut sebagai Mr. White Swan, panggilan yang berasal dari salah satu judul lagu ciptaannya.

Karena persona itu pula, boneka angsa putih diletakkan tak jauh dari patung Bolan yang terletak di samping Gipsy Street, dikelilingi rimbun pohon sikamor. Ada banyak memorabilia yang diletakkan oleh para penggemar di sana. Mulai dari foto, hingga syal dari bulu angsa.

Di tempat tersebutlah, Bolan menemui ajal setelah mobil yang dikendarai pacarnya menabrak pohon, 16 September 1977. Usianya baru 29 tahun. Banyak orang memprediksi, kalau Bolan tidak mati muda, namanya akan sebesar Bowie, sahabat sekaligus rivalnya.

Bolan meninggal muda, Bowie jalan terus dan bergonta-ganti persona. Glam rock perlahan meredup ketika punk rock muncul di Inggris dan menjadi antitesis segala dandanan glam. Namun pengaruh glam rock tetap terbawa hingga mana-mana.

Di Amerika Serikat, glam rock di Inggris mempengaruhi band seperti New York Dolls, salah satu band punk generasi awal. Di Jepang, ada pula visual kei yang secara dandanan jelas berakar dari glam rock.

Pada era 1980, glam rock juga menjadi embrio dari apa yang disebut hair metal di Amerika Serikat. Memunculkan band-band macam Twisted Sister, Motley Crue, Poison, hingga Pretty Boy Floyd. Sama seperti kakek moyangnya, band-band ini juga seringkali dangkal dan seperti tidak punya misi hidup lain kecuali bersenang-senang.

Drink all night, sleep all day.

Tapi, di luar banyak kritik yang menyebut glam rock sebagai gerombolan para orang narsis dan dangkal, banyak hal yang sekarang bisa dikaji dengan serius. Soal gender, misalkan. Zaman sekarang, ketika pembicaraan tentang konsep gender jadi obrolan sehari-hari, glam rock berkali-kali disebut sebagai contoh genre musik yang melampaui zaman.

Bayangkan, di era ketika bintang rock harus macho dan gagah, para glam rocker berani mendobraknya dan, seperti bahasa Hoskyns: mengajak pria maupun wanita untuk berani menjelajahi wilayah tanpa gender, atau bereksperimen dengan gender tanpa harus malu.

Meski terbilang singkat dan popularitasnya tak tinggi-tinggi amat, glam rock tetap suatu babakan penting dalam linimasa musik dunia. Genre ini melahirkan banyak musisi yang menemui kesunyian nasib masing-masing: sebagian tak dikenal, sebagian akan diingat untuk kemudian dilupakan, dan sebagian akan abadi.

Ketika saya beranjak pergi dari Gipsy Street, saya jadi ingat perkataan jurnalis musik Inggris, Charles Shaar Murray soal para glam rocker ini.

Glam rock adalah hal pop pertama yang muncul di era 70, dan genre ini menghadirkan banyak jenis orang: jenius dan orang gila, poser dan filsuf, pemenang dan pecundang, badut dan ksatria, bintang dan orang bodoh.”

Baca juga artikel terkait ROCK STAR atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Musik)

Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Eddward S Kennedy
DarkLight