Meme Nurhadi-Aldo: Perlawanan atas Kejenuhan Kampanye Pilpres 2019

Oleh: Felix Nathaniel - 7 Januari 2019
Dibaca Normal 2 menit
Akun Nurhadi-Aldo jadi perbincangan di media sosial. Kemunculan mereka bersamaan dengan kampanye pilpres yang dianggap berisi debat tak mutu.
tirto.id - Media sosial sedang ramai memperbincangkan akun Nurhadi-Aldo yang mengklaim diri sebagai calon alternatif untuk Pilpres 2019. Akun ini mengunggah beberapa konten serupa kampanye, tapi dengan isi yang jadi bahan guyonan.

Keberadaan akun guyonan politik ini tak dimasalahkan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Wakil Ketua TKN Abdul Kadir Karding menyebut kemunculan akun ini sebatas hiburan yang lahir dari keisengan dan kreativitas.

Dalam demokrasi, kata Karding, tidak ada larangan terhadap sesuatu yang dianggap membahagiakan masyarakat. Ia juga menyebut, keberadaan akun Nurhadi-Aldo yang menyingkat dirinya dengan sebutan Dildo, tidak akan mempengaruhi kinerja paslon pilpres dan aktivitas pemilu 2019.

“Masing-masing paslon yang asli tetap bekerja, tetap berusaha menang dengan cara-cara baik. Itu yang penting,” ucap Karding kepada reporter Tirto, Minggu (6/1/2019) kemarin.

Meski begitu, Karding mengakui, kreatifitas akun Nurhadi-Aldo menjadi tantangan buat TKN Jokowi-Ma’ruf agar mampu membikin konten kampanye yang kreatif. Ini karena partisipasi masyarakat dalam pemilu lebih bergantung pada kinerja masing-masing tim sukses paslon yang ada.

“Ini tantangan kita bersama bagaimana membuat konten menarik, pendidikan menarik, tapi memiliki isi. Sehingga masyarakat mempunyai gairah untuk memilih. Tapi kalau terus dipertontonkan dengan hoaks, itu akan berbahaya dan golput akan tinggi,” ucap Karding.



Pandangan berbeda disampaikan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno. Juru Bicara BPN Ferdinand Hutahaean menilai kemunculan akun Nurhadi-Aldo sebagai cara untuk menertawakan pilpres.

“Orang akhirnya menjadikan pemilu ini sebagai lelucon, sebagai lawakan, jadi menghibur diri,” kata Ferdinand kepada reporter Tirto.

Ferdinand menjelaskan alasannya menyebut pemilu ini sebagai lelucon. Salah satunya silat lidah kedua kubu di berbagai kesempatan. Selain karena menggunakan diksi yang menyerang, adu pendapat ini pun cenderung tak sehat.

Kondisi seperti ini tak hanya melibatkan tim sukses, tapi juga pasangan calon. “Kedua pasangan ini juga bertarungnya menjadi bertarung tidak sehat,” kata Ferdinand.

Di luar kesalahan tim sukses dan pasangan calon, Ferdinand menilai, KPU juga puya andil membikin pemilu jadi tak serius dan tampak seperti lelucon. Ia mencontohkan sikap KPU yang memberikan bocoran pertanyaan kepada paslon dan tak memfasilitasi pemaparan visi misi.

“Ini kan main-main jadinya. Kalau saya menyebut, 2019 ini kita hanya pura-pura pemilu saja,” ucapnya lagi.

Oleh karena itu, Ferdinand mengaku tak khawatir Nurhadi-Aldo bisa memberi dampak signifikan pada pemilih. Sebaliknya, ia lebih khawatir kualitas pemilu yang buruk akan menghasilkan presiden dan wakil presiden yang juga tak berkualitas. Ini karena masyarakat sudah terbawa narasi tidak serius memilih pemimpin.

“Bahwa dari rangkaian proses demokrasi ini, kan, banyak lelucon dan lucu-lucuan. Tentu hasil pemilihan nantinya pun dihasilkan pemimpin yang lucu-lucuan. Mereka yang menjadikan pemilu lucu-lucuan ini enggan memilih Jokowi, tapi juga tidak memilih Prabowo,” ucap Ferdinand.


Kampanye Pilpres Bikin Jenuh


Apa yang disampaikan Ferdinand diakui Nurhadi. Nurhadi mengatakan kemunculan dirinya dalam sejumlah meme merupakan bentuk kejenuhan melihat baku debat antarkubu.

“Rasa jenuh melihat dua kubu saling bertikai lalu muncullah saya obatnya untuk mempersatukan kita,” kata Nurhadi yang berprofesi sebagai tukang pijat ini dan awalnya tak tahu dijadikan meme calon alternatif.

Kejenuhan bukan hanya dirasakan Nurhadi. Sejumlah orang menyuarakan kelelahan mereka di akun instagram Nurhadi-Aldo, seperti yang dilakukan @mfadlia dan @erimufianto.

@mfadlia menuliskan komentar “Kita dukung mereka aja […] nanti pemilu 2019 programnya bagus-bagus dan anti hoaks,” tulis @mfadlia sembari menyebut kawan-kawannya yang lain.

Sementara @erimufianto menulis “Hey kita harus mendukung ini saja, NurHD idola kita. Saya suka semua program kerjanya.”

Infografik CI Adu sindir kandidat Pilpres 2
Infografik CI Adu sindir kandidat Pilpres 2


Paslon dan Tim Harus Berbenah


Direktur Eksekutif Indonesia Political Review Ujang Komarudin menilai kemunculan akun Nurhadi-Aldo atau guyonan satir lain menyoal pilpres ini harus dipandang sebagai kritik buat kubu Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandiaga.

Selama ini, Ujang menilai, kampanye pilpres diisi hoaks, saling serang, dan tidak mencerminkan pemimpin yang punya kapabilitas memimpin sebuah negara.

“Ini harusnya dipandang sebagai kritik pedas pada elite politik yang sering mengeluarkan pernyataan tidak substansif,” ucap Ujang kepada reporter Tirto.

Pengajar ilmu politik di Universitas Al-Azhar Indonesia ini berharap elite politik berkaca pada fenomena ini dan mengubah kampanye mereka jelang debat pertama. Jika baku debat tak mutu dibiarkan, Ujang khawatir ketidakpuasan masyarakat meningkat dan menghasilkan pemimpin yang tidak berkualitas.

“Mungkin nanti akan muncul lagi meme-meme yang lain,” kata dia.

Sementara itu, dosen Ilmu Komunikasi Politik Universitas Airlangga, Suko Widodo menilai kritik politik dengan lelucon biasa terjadi pada pemerintahan yang otoritarian yang cenderung berlawanan dengan demokrasi.

Kritik semacam ini terjadi karena masyarakat terkungkung dan sulit menyampaikan pendapat secara terbuka.

“Biasa guyonan itu muncul dalam kondisi negara otoritarian. Kondisi masyarakat dalam pengancaman,” kata Suko kepada reporter Tirto.

Meski begitu, Suko memperingatkan bahwa gerakan seperti ini bisa bertambah luas dan bukan tidak mungkin memicu kemunculan akun lain.

“Ini memang sindiran-sindiran yang biasa. Ketika pesan yang disampaikan bisa memenuhi ruang pikiran publik, dia bisa bergerak sebagai sebuah kekuatan,” ucapnya.

Baca juga artikel terkait PEMILU 2019 atau tulisan menarik lainnya Felix Nathaniel
(tirto.id - Politik)

Reporter: Felix Nathaniel
Penulis: Felix Nathaniel
Editor: Mufti Sholih