Jelang Final Liga Champions

Melihat Potensi Zinedine Zidane sebagai Juru Taktik Hebat

Zinedine Zidane FOTO/SHUTTERSTOCK
Oleh: Aqwam Fiazmi Hanifan - 26 Mei 2018
Dibaca Normal 5 menit
Dengan meraih gelar juara Liga Champions tiga kali berturut-turut, sempurnalah Zidane membungkam cibiran ia hanya "pelatih hore-hore".
tirto.id - Karier gemilang sebagai pemain memberi Zinedine Zidane nama besar yang jarang dinikmati para manajer lainnya. Ia menjadi bagian dari generasi Real Madrid yang paling berbakat dan seimbang dalam di awal dekade 2000-an. Zidane menahbiskan diri sebagai salah satu legenda El Real lewat gol indah ke gawang Bayern Leverkusen pada final Liga Champions 2002.

Di Spanyol, ia pernah diremehkan sebagai “clap-your-hands coach”, sindiran bagi pelatih yang dinilai hanya bisa bertepuk tangan di pinggir lapangan untuk menyemangati pemain. Istilah itu dinisbatkan kepada pelatih yang dinilai tak memiliki kemampuan dan pengetahuan strategi serta taktik -- dan Zidane mulanya dianggap demikian.

Real Madrid adalah klub besar, mungkin yang terbesar di Eropa. Tak hanya bergelimang gelar, melainkan juga kaya raya, sehingga dari waktu ke waktu selalu diisi pemain-pemain papan atas. Mudah untuk mengatakan: pelatih Madrid hanya perlu sedikit mengatur, selebihnya mutu pemain akan mendatangkan trofi dengan sendirinya.

Sebagai juru taktik "ingusan", Zidane mewarisi tim yang cukup berantakan di tangan Rafael Benitez. Pada awal Januari ia mulai bekerja sebagai manajer Real Madrid yang terpaut delapan poin dari Atletico Madrid yang memuncaki klasemen, keok 0-4 dari Barcelona, tersingkir dari Copa del Rey.

Hal baik yang diwariskan Benitez adalah Real Madrid menjadi pemuncak klasemen di fase grup Liga Champions. Di Eropa itulah Zidane menancapkan kukunya: sukses membawa Real Madrid menjadi juara Liga Champions 2015/2016. Musim berikutnya, ia berhasil melakukan sesuatu yang tak pernah dilakukan manajer-manajer paling hebat di Eropa (dari Alex Ferguson, Ancelotti, Lippi sampai Mourinho): menjadi juara Liga Champions dua musim berturut-turut.

Dini hari nanti, Zidane sedang mengincar rekor yang niscaya akan membuatnya menjadi mitos baru di era sepakbola modern: manajer yang menjuarai Liga Champions selama tiga musim berturut-turut.

Jika ia mampu menggapai hal itu, tentu saja ia melakukannya tidak hanya dengan bertepuk tangan di pinggir lapangan.

Belajar Menjadi Manajer

Seperti pelatih-pelatih pemula lainnya, Zidane mencoba sebanyak mungkin mengambil berbagai budaya, gaya, dan metode kepelatihan. Dia mendatangi Marcelo Bielsa di Marseille pada Desember 2014. Ia pun hadir dalam sesi kelas kepelatihan Joseph Guardiola di Säbener Strasse Munich.

Namun bagi jurnalis Inggris James Nalton, dalam kolomnya di Football Whispers, Zidane lebih banyak menyerap pengaruh para pelatih-pelatih hebat yang pernah melatihnya, dari Marcelo Lippi, Vicente Del Bosque dan Aimé Jacquet.

"Sebagai pemain Juventus di bawah Lippi, ia ditekankan tentang arti penting tim sebagai unit, walau Lippi juga mengakui bahwa untuk mendapatkan yang terbaik dari tim, taktik harus dibangun dari kekuatan para pemain individu di dalamnya," tulis pengarang buku This Is Anfield ini.

Del Bosque memiliki karakter yang mirip Zidane: cenderung pendiam, tak banyak cakap, dan pernah pula dianggap tak begitu mahir soal taktik. Namun Del Bosque sukses membawa Spanyol menjuarai Piala Dunia 2010 dan Piala Eropa 2012. Semua itu dilakukan dengan menyatukan sekelompok individu berbakat, dan rivalitas yang sengit di level klub antara Real Madrid dan Barcelona, menjadi kesatuan yang solid.

Meski sempat diremehkan tak punya kemampuan taktikal yang mentereng, nyatanya Zidane sukses memecahkan masalah soliditas tim yang kerap menjadi bahaya laten di Madrid. Setelah awal musim yang tidak bersemangat, sejak Maret lalu Real telah kembali ke penampilan terbaiknya, terutama di Liga Champions.

Mewaspadai Permainan Melebar Asensio dan Vasquez

Zidane berani memasang formasi 4-4-2. Pilihan itu membuatnya membongkar trio Karim Benzema, Gareth Bale dan Cristiano Ronaldo. Pada empat laga terakhir di Liga Champions melawan Juventus dan Bayern Munich, Zidane tak pernah memasang trisula ini dan cenderung memakai dua striker.

Ini bukan pilihan yang baru diambil musim ini. Saat Bale banyak duduk di bangku pesakitan musim lalu, dengan kreatif Zidane memasang Isco sebagai pemain nomor 10 tepat di belakang duet Ronaldo dan Benzema. Musim 2016/2017 itu, Isco mencatat 30 penampilan di La Liga, dan juga bermain sejak menit pertama di final Liga Champions saat melumat Juventus dengan skor telak, 4-1.


Bedanya, jika Zidane sebelumnya memilih 4-3-1-2, kali ini ia lebih memilih 4-4-2. Untuk itulah beberapa kali ia memakai Lucas Vazquez dan Marco Asensio untuk mengisi pos di lebar lapangan, baik sejak awal maupun di tengah laga. Pola ini terlihat dalam empat pertandingan terakhir.

Konsekuensi lainnya, Toni Kroos, Luka Modric atau Casemiro harus berebut mengisi dua slot tersisa sebagai gelandang tengah. Menariknya, alih-alih begitu saja mengorbankan salah satu gelandang tengah tersebut, Zidane beberapa kali tak ragu mengurangi satu slot penyerang dan menumpuk lima gelandang dengan mematok tiga gelandang tengah.

Saat menghadapi Juventus pada leg pertama, misalnya, Zidane memasang trio Modric-Casemiro-Kross di tengah. Di depan ia memasang duet Benzema-Ronaldo dan Isco di belakang dua bomber itu. Namun setelah Ronaldo mencetak gol cepat di menit ketiga, Madrid kesulitan mengembangkan serangan. Juventus malah mulai mengambil alih kendali permainan.

Alhasil pada awal babak kedua Zidane memasukan Asensio dan Vasquez menggantikan Benzema dan Isco. Masuknya dua pemain itu cukup efektif membantu Madrid saat bertahan dan menyerang balik. Pendeknya: Madrid bermain lebih seimbang. Dan itu tampak dari dua gol tambahan yang mereka lesakkan ke gawang Buffon.

Di leg kedua, Zidane kembali memakai 4-3-1-2 dan membangkucadangkan Vazquez dan Asensio. Namun setelah dibobol dua gol oleh Juve pada babak pertama, rotasi langsung dilakukan dengan memasukan dua pemain sayap itu.

Belajar dari leg kedua yang menegangkan saat melawan Juventus, Zidane mengubah taktik pada leg pertama menghadapi Bayern di semifinal. Kali ini ia memakai formasi 4-3-3 dengan memasang trio Vazquez-Ronaldo-Isco di lini serang. Saat bermain, Madrid sebetulnya memakai formasi 4-4-1-1 dengan Vazquez dan Isco yang turun ke tengah atau menjadi 3-5-1-1 lewat Marcelo yang overlap.

Sedangkan trio Modric-Casemiro-Kroos tetap ajeg menjaga lini tengah. Baru pada babak kedua, skema 4-5-1 muncul saat Isco diganti Asensio. Pergantian ini membikin Madrid bisa mencetak gol dan memenangkan pertandingan lewat kerjasama Asensio dan Vazquez saat serangan balik.

Di leg kedua, skema 4-4-2 dipakai sejak menit-menit awal. Namun Zidane melakukannya dengan struktur yang berbeda. Ia memang memasang Asensio dan Vazquez dari menit awal. Ia juga mendorong Vazquez lebih dalam ke posisi full-back kanan, tepat di belakang Modric. Sedang untuk mengganti posisi Isco ia menempatkan Kovacic.

Cara Mengatasi Problem di Pertahanan


Perubahan-perubahan itu memperlihatkan fleksibilitas taktik yang dijalankan Zidane. Ia terlihat berusaha keras merespons berbagai situasi dan kondisi di lapangan, terutama saat menghadapi Juventus dan Bayern di leg kedua. Lebih khusus lagi untuk mengatasi problem di lini belakang.

Mantan pemain timnas Irlandia Robbie Dunne, dalam kolomnya di ESPN, menyebut menanggalkan pakem Benzema-Bale-Ronaldo di lini depan sebagai pilihan tepat. Mengingat tiga pemain ini pada umumnya tidak menawarkan kemampuan bertahan saat dimainkan bersama-sama dalam pertandingan besar. Kondisi pertahanan inilah yang memang menjadi persoalan mencolok Real Madrid.

Pertahanan Real sebetulnya tidak memburuk secara statistik. Di La Liga dan Liga Champion musim ini, mereka hanya kemasukan 1,16 gol per laga, rataan yang sama seperti musim lalu. Masalahnya, ada kelemahan yang menyusahkan mereka sendiri, dan itu terjadi berkali-kali.

Misalnya dalam urusan menghadang bola-bola mati. Di La Liga, Real adalah tim terbanyak ketiga yang kebobolan dari skema bola mati. Mereka kebobolan 0,34 gol per laga dari situasi bola mati. Angka ini melonjak dibandingkan musim lalu yang hanya 0,13 per game - saat itu terendah di La Liga. Musim ini, sepertiga gol yang masuk ke gawang Madrid berasal dari situasi bola mati.




Kerapuhan menghadapi situasi bola mati ini memperlihatkan mereka kerap gagal membagi fokus kepada bola, pemain lawan dan ruang. Gol-gol lawan dari skema bola mati kerap terjadi karena kegagalan mereka dalam menandai lawan dan ruang.

Marcelo, misalnya. Tak diragukan ia bukan hanya sempurna untuk agresivitas Real Madrid, namun juga menjadi bek kiri terbaik di dunia. Ia mampu melesat ke depan, menopang Ronaldo, memberikan kesempatan dan ruang kepada The Golden Boy dari Portugal itu di pertahanan lawan. Kecepatan, dribling dan umpan silang Marcelo selalu menyulitkan lawan.

Namun hal itu pula yang membuat sisi kiri pertahanan Real Madrid menjadi rentan. Sialnya, di laga final nanti, sisi itulah yang justru menjadi areanya Mohamed Salah. Tak sulit bagi Klopp untuk mengetahui hal ini.

"Marcelo adalah pemain yang aktif menyerang, tapi dia tidak bertahan," kata Klopp.

Jam terbang Marcelo sebagai pemain yang bertahun-tahun bermain di level tertinggi sangat dibutuhkan untuk menghadapi Salah yang mematikan. Zidane bolehlah berharap pengalaman Marelo membuatnya lebih perhitungan dalam bergerak dan bertindak.

(Bukan) Keberuntungan untuk Real Madrid

Ronaldo tentu saja menjadi andalan Zidane. Namun Juergen Klopp tahu cara mengatasinya. Sebab ia pernah melakukannya.

Klopp punya pengalaman menghentikan Real Madrid di babak semifinal Liga Champions musim 2013/2014 lalu. Saat masih menangani Dortmund itu, Klopp bahkan sanggup menghancurkan Real Madrid dengan skor telak 4-1 pada leg pertama. Kuncinya: hentikan aliran bola kepada Ronaldo.

Dikutip dari Mirror, Klopp mengakui ia sengaja meminta Mario Gotze menandai Xabi Alonso. "Kami tahu saat Alonso mendapat bola, ia akan berbalik mengirim pada Ronaldo yang sudah berlari. Saya meminta Gotze menjaga Alonso. Dan itu berhasil dengan baik."

Namun Klopp kali ini tidak lagi menangani Dortmund, dan Real Madrid pun sudah berbeda. Kali ini, Klopp berhadapan dengan tim yang tak sungkan melakukan perubahan taktik, formasi dan susunan pemain. Juga kemampuan lolos dari lubang jarum di tengah penampilan yang begitu buruk.

"Semua tim mengatakan: melawan Juve, Real beruntung, melawan Bayern, mereka (Real) juga beruntung. Tetapi mengapa mereka tiga kali berturut-turut di final? [Final 2018] ni bahkan menjadi keempat kalinya [masuk final] dalam lima tahun terakhir. Mereka punya pengalaman mengatasi situasi yang sulit," tukas Klopp.

Baca juga artikel terkait FINAL LIGA CHAMPIONS 2018 atau tulisan menarik lainnya Aqwam Fiazmi Hanifan
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Aqwam Fiazmi Hanifan
Editor: Aqwam Fiazmi Hanifan
DarkLight