Meksiko Jumpalitan Membendung Kartel Sinaloa di Jalanan

Penulis: Felix Nathaniel, tirto.id - 19 Jan 2023 10:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Penangkapan tokoh penting kartel Sinaloa di Meksiko mengorbankan banyak nyawa. Itu juga belum tentu membuat sindikat tamat.
tirto.id - Perang antara kartel Sinaloa dan otoritas Meksiko meledak di Kota Culiacan, negara bagian Sinaloa, Jumat 6 Januari lalu. Meski sebanyak 21 orang bersenjata akhirnya ditangkap, suasana di markas salah satu kartel terbesar di dunia tersebut masih mencekam. Jalanan kosong. Tidak ada warga yang berani menunjukkan muka.

Semua berawal dari penangkapan Ovidio Guzmán-López, anak dari gembong narkoba Joaquín 'El Chapo' Guzmán, sehari sebelumnya. Operasi tidak berlangsung mudah meski melibatkan tentara. Bahkan 10 di antara mereka meninggal dalam operasi penangkapan Ovidio alias The Mouse alias El Bebé. Selain tentara, 19 anggota kartel juga tewas.

Di malam hari usai penangkapan, senjata api meletus di jalanan. Tentu saja pelakunya adalah anggota kartel. Mereka menutup jalan, juga mengambil kendaraan warga sekitar. Kendaraan lain tak lolos dari peluru. Bahkan sedikitnya dua pesawat militer menjadi sasaran tembak. Mereka harus melakukan pendaratan darurat di bandara Culiacan.


Kartel juga menyasar bandara. Semua jenis penerbangan, jumlahnya lebih dari 30, dihentikan hari itu juga.

Salah satu orang yang terdampak adalah David Tellez. Dia dan keluarga punya jadwal terbang di pagi hari keesokan harinya. Dia sempat bersembunyi di toilet bandara karena mendengar anggota kartel sudah menerobos masuk, tapi ternyata informasi itu keliru. Penerbangan akhirnya tetap dilanjutkan meski dilaksanakan dengan sangat tergesa.

Ketika hendak terbang, dia dan penumpang lain mendengar suara tembakan menggema dari kejauhan. “Kami mendengar letusan senjata api sangat dekat dengan pesawat dan saat itulah penumpang meringkuk di lantai,” kata Tellez dilansir Reuters.

Kru pesawat memerintahkan penumpang turun. Penerbangan dibatalkan. Pesawat penumpang, menurut awak kapal, juga terkena tembakan.

Tellez dan familinya harus rela menetap di area merah. Mereka memutuskan menunggu situasi reda di bandara karena menganggap itu lebih aman dibanding di kota. “Banyak kericuhan dan tembak-menembak,” lanjutnya.

Apa yang terjadi di Culiacan juga menjadi perhatian banyak negara lain. Kedutaan Besar Amerika Serikat, misalnya, mengeluarkan peringatan yang isinya “jangan bepergian”. Itu adalah tingkat peringatan paling tinggi, level 4. Bahkan pegawai pemerintah dilarang keluar pada malam hari, apalagi menggunakan taksi. Diingatkan pula bahwa warga AS telah menjadi korban penyerangan maupun penculikan.


Sulitnya Penangkapan

Sehari setelah penangkapan, helikopter militer diluncurkan untuk membantu mengurai konflik di jalanan. Sebanyak 1.000 tentara juga diperbantukan untuk membuat situasi kembali kondusif.

Serangan kartel telah menyebar dalam skala yang tak bisa diperkirakan dan membuat pemerintah kelabakan. Dan itu tak hanya terjadi kali ini. Kasus serupa terjadi pada 2019. Ketika itu juga karena Ovidio ditangkap.

Operasi yang diharapkan dapat menahan darah tumpah lebih banyak itu malah berdampak sebaliknya. Setelah Ovidio ditangkap, Culiacan menjadi medan tempur. Kartel turun ke jalanan dengan senjata api. Aktivitas sehari-hari berhenti, termasuk sekolah-sekolah ditutup.

Presiden Meksiko Andrés Manuel López Obrador memutuskan bahwa pertumpahan darah di Culiacan harus dihentikan. Cara paling singkat menghentikan aksi jalanan kartel tersebut adalah mengabulkan tuntutan mereka: melepaskan Ovidio.

Garda Nasional Meksiko yang waktu itu menangkap Ovidio harus gigit jari karena buruan mereka dibebaskan begitu saja berselang beberapa jam.

Peristiwa tersebut, juga kasus baru-baru ini, kian menunjukkan kepada masyarakat bahwa pemerintah kelabakan memberantas kriminal kelas kakap. Kesulitan ini bisa dipahami karena lawan juga tangguh dan bersenjata. Tapi perlu diingat bahwa mereka jadi besar karena banyak pengikut, dan pengikut tersebut tertarik masuk bisa jadi karena kekeliruan pemerintah mengelola negara.

Laporan dari International Crisis Group (IGC) berjudul Peña Nieto’s Challenge: Criminal Cartels and Rule of Law in Mexico (2013) menyoroti temuan bahwa kartel-kartel Meksiko merekrut ribuan orang dari jalanan, termasuk anak-anak yang gagal meneruskan sekolah. Mereka dijadikan pasukan paling depan yang bersedia mati demi kartel.

Mereka dilatih menjadi pasukan pembunuh. Beberapa kasus yang ditemukan ICG mencatat mereka dibayar sekitar 78 dolar AS atau sekitar Rp1,2 juta untuk membunuh orang. Rata-rata pelakunya adalah remaja, bahkan ada yang berumur di bawah 18. Anak umur 14 yang pernah tertangkap mengaku sudah membunuh setidaknya empat orang.

“Sekolah ditutup, mereka tidak punya kerja dan kesempatan. Sedangkan di sisi lain, kriminal membuka pintu buat mereka,” kata pekerja sosial Meksiko Juan Pablo Garcia.

Laporan dari ICG merupakan peringatan bahwa pemerintah perlu melakukan perbaikan mendasar agar warga, terutama anak-anak muda, punya pilihan dalam hidup. Namun sampai sekarang hal itu masih sulit dilakukan. Kartel masih punya kekuatan besar sehingga militer pun kesulitan membendungnya.

Saat sudah masuk, anak-anak muda ini sangat mungkin tidak bisa berhenti. Dalam sebuah film dokumenter yang digarap oleh sutradara asal Venezuela, Eduardo Giralt Brun, berjudul Sinaloa Foot Soldier: Inside a Mexican Narco-Militia (2022), ditampilkan kehidupan anggota kartel dengan nama samaran La Vagancia yang bergabung sejak usia 22 dan kini sudah 31. Biasanya, mereka baru akan berhenti jika sudah berakhir di penjara atau menjadi mayat di jalanan.

Perang Narkoba Amerika

Sebagian orang menduga penangkapan Ovidio, yang langsung diterbangkan dengan helikopter ke Kota Mexico dan dikurung di penjara dengan keamanan maksimal, Federal Social Readaptation Center No. 1 atau dikenal dengan nama Altiplano, sarat dengan motif politis.

Pada 9 Januari, Presiden AS Joe Biden, bertolak ke Meksiko. Biden datang bersama Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau demi merealisasikan pertemuan tiga negara yang dikenal dengan Three Amigos.

AS sejak lama menganggap kartel Sinaloa adalah biang kerok penyebaran narkotika. Pertemuan tersebut akan jadi tempat membahasnya, selain isu-isu lain seperti manufaktur dan migrasi.


Infografik Kartel Sinaloa
Infografik Kartel Sinaloa


Pada awal Januari lalu, Drug Enforcement Administration (DEA, semacam BNN AS) Chicago mengamankan bahan-bahan yang diperkirakan bisa untuk membuat 18,3 juta opium jenis fentanil siap konsumsi. Agen DEA Chicago Robert Dell mengatakan bahwa kebanyakan fentanil di AS memang diproduksi oleh kartel Sinaloa. “Untuk fentanil, bagi kami prioritasnya adalah kartel Sinaloa, dan itu masih menjadi fokus sampai sekarang,” katanya.

Pertemuan tiga negara itu juga mempertegas keinginan AS untuk mencegah penyelundupan fentanil dari Meksiko. Menurut Biden, sebanyak 10 ton fentanil sudah diamankan petugas sejak Agustus tahun lalu, tapi penyebarannya tetap ada dan sangat berbahaya. “Itu sangat mematikan,” ucap Biden.

Namun patut dicatat bahwa penyelundupan narkotika ke AS bukan hanya dilakukan kartel Sinaloa. Kartel-kartel lain, semisal Los Zetas, juga menyelundupkan barang haram tersebut ke Negeri Paman Sam.

Bagi analis keamanan Meksiko seperti Alejandro Hope, usaha mengamankan Ovidio adalah pembuktian Meksiko bahwa mereka serius perang melawan narkotika. Masalahnya, dia pesimistis penangkapan itu akan menyelesaikan masalah. Misalnya soal keberlanjutan kartel. Ovidio adalah putra tertua El Chapo. Jika dia tertangkap lama, toh masih ada setidaknya tiga saudara lain.

“Apakah penangkapan itu mengubah struktur kartel Sinaloa? Tidak. Apakah itu akan berdampak pada penyelundupan narkotika? Tidak. Apakah itu akan mengurangi kekerasan? Tidak,” ungkap Hope pesimistis seperti dicatat New York Times.

Baca juga artikel terkait KARTEL SINALOA atau tulisan menarik lainnya Felix Nathaniel
(tirto.id - Hukum)

Penulis: Felix Nathaniel
Editor: Rio Apinino

DarkLight