Maskapai Gembar-gembor Diskon Saat Kasus Corona Cetak Rekor

Oleh: Selfie Miftahul Jannah - 18 September 2020
Dibaca Normal 2 menit
Maskapai memberikan beragam diskon saat pandemi belum mereda. Meski protokol diterapkan, risiko kesehatan tetap ada. Potensi kembali terpuruk muncul.
tirto.id - Sederet maskapai penerbangan mengumbar diskon guna menggaet lebih banyak penumpang saat pandemi. Alasannya tak lain untuk mengembalikan kinerja keuangan yang digerogoti Corona sejak beberapa bulan terakhir.

Misalnya Air Asia. Maskapai asal Malaysia yang menawarkan penerbangan low-cost ini memberikan diskon 20 persen ke semua rute domestik, termasuk empat rute yang kembali beroperasi pada 1 September, yaitu Denpasar-Labuan Bajo, Denpasar-Lombok, Denpasar-Yogyakarta, dan Denpasar–Solo.

“Penawaran diskon 20 persen tersedia mulai hari ini hingga 26 Agustus, dengan jadwal penerbangan mulai 1 September hingga 6 Desember, dan sudah termasuk bagasi 15 kg,” kata Direktur Utama Air Asia Indonesia Veranita Yosephine Sinaga dalam keterangan resmi, Minggu (24/8/2020).

Langkah serupa dilakukan Citilink Indonesia. Mereka meluncurkan program bernama Better Deals 9.9--memberikan beragam potongan harga tiket pesawat, hotel, paket tur, produk ancillary, hingga promo gratis rapid test. Periode pemesanan dimulai Rabu (9/9/2020) hingga 13 September.

"Citilink terus berupaya untuk memberikan kemudahan perjalanan," ujar Direktur Niaga Citilink Benny Rustanto.

Induk usaha Citilink Indonesia, Garuda Indonesia, juga menebar promo tiket terbang. Garuda mengelar promo Super Deals 9.9. Tiket serba Rp999 ribu ke berbagai rute di Indonesia dan luar negeri selama 8-10 September untuk penerbangan hingga 30 Juni 2021.

“Beberapa rute di antaranya, Jakarta (CGK)-Denpasar (DPS), Jakarta (CGK)-Lombok (LOP), Bandung (BDO)-Denpasar (DPS), Jakarta (CGK)-Padang (PDG), Bandung (BDO)-Kualanamu (MES), Makassar (UPG)-Denpasar (DPS), Jakarta (CGK)-Makassar (UPG), Jakarta (CGK)-Surabaya (SUB), Jakarta (CGK)-Labuan Bajo (LBJ),” kata Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra lewat pesan Whatsapp, Selasa (8/9/2020).


Potongan harga hingga cashback yang gencar diberikan maskapai potensial mendongkrak jumlah penumpang, yang pada akhirnya diharapkan bisa jadi obat mujarab memulihkan kinerja keuangan yang sudah lama terseok-seok. Oleh karena itu pengamat industri penerbangan Alvin Lie bilang pemerintah tidak perlu lagi berikan insentif kepada maskapai. Cukup berikan mereka kelonggaran untuk terbang ke beberapa rute yang dianggap ramai.

“Maskapai akan cari jalan sendiri sendiri untuk bertahan hidup. Cukup bantu kelonggaran itu daripada insentif. Mereka pasti evaluasi jadwal dan akan mengeliminasi lagi jadwal penerbangan ke beberapa kawasan yang sepi,” kata Alvin kepada reporter Tirto, Kamis (10/9/2020).

Namun ia menegaskan yang juga penting diperhatikan adalah tetap menerapkan protokol kesehatan.

President Director PT Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin mengatakan transportasi penerbangan bisa tetap beroperasi karena mereka masih berada di dalam koridor regulasi yang ditetapkan sesuai dengan Surat Edaran Ditjen Perhubungan Udara Nomor SE 13/2020, yang di dalamnya terdapat beragam protokol kesehatan yang harus dipatuhi.

Surat edaran tersebut, misalnya, menyebutkan jumlah penumpang waktu sibuk di terminal bandara maksimal 50 persen. Sementara di Soekarno-Hatta, kata Awaluddin, rata-rata baru 35 persen. Load factor juga dibatasi maksimal 70 persen, sementara jumlah penumpang pesawat yang berangkat dari Soekarno-Hatta saat ini rata-rata berkisar 52 persen-54 persen.

“Melihat data-data yang ada, Bandara Soekarno-Hatta masih sangat optimal dan maksimal dalam beroperasi dengan mengedepankan protokol kesehatan di tengah pandemi ini,” jelas Awaluddin, Kamis.

Hal serupa dikatakan maskapai. Direktur Utama Air Asia Indonesia Veranita Yosephine Sinaga mengatakan mereka memberikan harga spesial untuk rapid test. Direktur Niaga Citilink Benny Rustanto. juga menegaskan mereka “tetap menerapkan protokol kesehatan.”

Risiko Kesehatan

Namun bukan berarti risiko kesehatan tidak ada sama sekali. Pada 22 Agustus lalu, ditemukan enam penumpang pesawat di Pontianak yang terbang dari Jakarta positif COVID-19. Penerbangan maskapai tersebut ke rute yang sama akhirnya ditutup sementara.


Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal mengatakan bila kondisi berulang, pemulihan ekonomi bisa gagal tercapai dan pandemi juga semakin sulit dikendalikan.

“Relaksasi yang kemarin dilakukan pada saat jumlah pertambahan positifnya belum turun itu sia-sia. Pemerintah enggak akan dapat dua-duanya. Enggak bakal dapat keselamatan masyarakat, enggak dapat juga ekonomi,” jelas Faisal kepada reporter Tirto, Kamis.

“Ada kemungkinan jumlah penyebaran wabahnya jadi lebih luas dan lebih banyak. Akhirnya tidak bisa melakukan aktivitas ekonomi. Kemudian anggaran untuk menanggulangi dampak kesehatan itu akan jauh lebih besar dan lama.”

Per 16 September lalu kasus positif COVID-19 di Indonesia mencapai 228.993. Penambahan kasus harian terus mencetak rekor baru. Pada 3 September penambahan harian bertambah 3.622, lalu 3.861 pada 10 September, bahkan 3.963 pada 16 September--tertinggi sejauh ini.

Bila risiko meningkat, memperketat pembatasan mutlak dilakukan. Maskapai pun perlu mempertimbangkan apakah bakal melanjutkan program diskon atau menundanya, dengan potensi kembali terpuruk.

Baca juga artikel terkait MASKAPAI PENERBANGAN atau tulisan menarik lainnya Selfie Miftahul Jannah
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Selfie Miftahul Jannah
Penulis: Selfie Miftahul Jannah
Editor: Rio Apinino
DarkLight