Luka Suppa

Deretan kincir angin yang menjadi energi alternatif nampak dari sebrang daratan Kecamatan Suppa, Sulawesi Selatan. Kincir angin tersebut merupakan wujud dari agenda program energi alternatif. tirto.id/Hafitz Maulana
- 16 Maret 2019
Dibaca Normal 4 menit
Andi Monji mencatat 208 orang terbunuh pada kedatangan Westerling di Suppa.
tirto.id - Memori kelam, bagaimana pun, penting sebagai penanda. Pada masa yang akan datang, yang lebih baik, ia tak boleh terjadi lagi.

Deru mesin Oto (istilah omprengan di Sulawesi Selatan) yang saya tumpangi berkelindan dengan alunan koplo. Kami melaju menembus hujan sepanjang Jalan Poros Palopo-Makassar menuju Parepare. Kurang lebih dua jam di dalam Oto yang merongrong, saya transit di Parepare dan berpindah angkutan umum jurusan Pinrang dan turun di kecamatan Suppa.

Suppa Westerling
Pemandangan dari jalan antar kota di tepi perariran laut tenang sekitar Parepare menuju Suppa, Sulawesi Selatan. tirto.id/Hafitz Maulana


Suppa saat ini adalah kecamatan di antara jalan poros Parepare dengan Pinrang. Sepintas lalu, ia tak ubahnya kecamatan di daerahmu. Namun jika kita melihat ke arah teluk, kita tahu, sesuatu yang besar pernah terjadi di kawasan ini.

Pusat Kedatuan Suppa berada di Mara’bombang di sisi utara Teluk Parepare. Istana kedatuan Suppa menghadap ke teluk, di seberangnya terlihat jelas kota pelabuhan Parepare dan kicir angin raksasa di atas bukit yang merupakan realisasikan program energi alternatif. Pada masa lain seseorang dibunuh di sana, seseorang yang dihormati: Datu Supa Muda.

Suppa Westerling
Sebuah rumah nampak dari balik gundukan puing bebatuan bekas pembangunan yang berada di pesisir pantai di Suppa, Sulawesi Selatan. tirto.id/Hafitz Maulana
Suppa Westerling
Sebuah lampu jalan terlihat dibalik gundukan bongkahan batu di pesisir pantai di Suppa, Sulawesi Selatan. tirto.id/Hafitz Maulana


Suppa merupakan satu dari beberapa kawasan yang menjadi target operasi militer Westerling dan pasukannya. Alasannya, pemimpin Kedatuan Supa, Datu Suppa Muda (Andi Abdullah Bau Massepe) adalah pendukung Republik Indonesia.

Pada 28 Januari 1947 selama seharian penuh sejak pagi buta, Westerling bersama pasukannya mulai meneror dan membantai rakyat Suppa seharian.

Teriknya matahari khas pesisir begitu melelahkan, saya memutuskan untuk membeli air minum di sebuah warung yang letaknya di pertigaan jalan bersebelahan dengan tugu “Monumen Korban 40.000 Jiwa”. Monumen ini sangat familiar, karena saya juga menjumpainya di Makasar, Parepare, dan mungkin masih ada lagi di tempat lain di Sulawesi Selatan.

Suppa Westerling
Monumen Korban 40.000 jiwa di kecamatan Suppa, Sulawesi Selatan. Beberapa kota di Sulawesi Selatan sering dijumpai monument tersebut sebagai pengingat sejarah kekejaman pembantaian Westerling ke rakyat Sulawesi Selatan. tirto.id/Hafitz Maulana


Saya sempat menanyakan ke penjaga warung apakah masih ada warga sekitar yang dapat menceritakan kejadian kelam pembantaian Westerling. Penjaga warung itu menyebut nama Andi Monji, saksi hidup peristiwa tersebut. Rumahnya tak terlalu jauh. Selama berjalan kaki, saya disuguhkan deretan rumah panggung khas Bugis di sisi jalan Poros menuju Pinrang. Pemandangan yang tak saya jumpai di Makassar.

“Semua sasaran tembak di kepala semua. Dia kidal. Kidal, orang kidal dia!”

Andi Monji, atau dikenal juga dengan nama Andi Kassi, mengorek ingatannya tentang peristiwa pembantaian yang ia saksikan. Ia lahir tahun 1937 dan saat peristiwa itu terjadi usianya baru sepuluh, tetapi dari cara tuturnya, ia seakan baru mengalaminya kemarin dan kita segera tahu, trauma selalu menemukan jalan terbaik untuk menggores manusia.

Suppa Westerling
Seorang laki-laki duduk di tangga rumah panggung sambil memainkan ponselnya di sekitar Kecamatan Suppa, Sulawesi Selatan. tirto.id/Hafitz Maulana
Suppa Westerling
Bayangan antena televisi di dinding bilik bambu dari sebuah rumah panggung yang menjadi rumah adat masyarakat Sulawesi Selatan di Kecamatan Suppa. tirto.id/Hafitz Maulana


Andi Monji menunjukkan foto orang tua dan keluarganya. Ia menunjuk ayahnya, Andi Monjong.

Ayahnya adalah Pabbicara (juru bicara) Kedatuan Suppa. Saat itu serdadu Belanda meloncat dari jip dan langsung memukulinya tanpa banyak bicara. Andi Monji, yang masih bocah, menyaksikan Westerling membedil kepala ayahnya.

Andi Monji mencatat 208 orang terbunuh pada kedatangan Westerling di Suppa, "Dari jam enam (pagi) sampai jam enam (sore).”

Suppa Westerling
Andi Monji memegang foto orang tuanya yang menjadi korban kekejaman Westerling di Suppa, Sulawesi Selatan. Andi Monji adalah seorang saksi hidup yang melihat bagiamana kekejaman Westerling terjadi di tanah kelahirannya, Suppa, Sulawesi Selatan. tirto.id/Hafitz Maulana


Saat ini, lokasi penguburan para korban pengadilan a la Westerling tersebut telah menjadi Taman Makam Pahlawan. Pada masa yang akan datang, yang lebih baik, pengadilan serupa tak boleh terjadi lagi.

Suppa Westerling
Makam Andi Saleng, paman Andi Monji yang menjadi korban kekejaman Westerling di Suppa, Sumatera Selatan. tirto.id/Hafitz Maulana
Suppa Westerling
Rumah sekaligus museum Datu Suppa yang terletak di pesisir Kecamatan Suppa. Rumah tersebut menjadi saksi bisu tempat dikumpulkannya rakyat Suppa ketika tragedi pembataian Westerling di Sulawesi Selatan. tirto.id/Hafitz Maulana


Kedatangan saya di Suppa pada 28 Juni 2018 lalu bertepatan dengan berlangsungnya sidang gugatan korban-korban Westerling di Belanda. Beberapa orang tua di sekitar Suppa dihadirkan sebagai saksi secara teleconference di Café Resto Fly Over, Suppa. Tak jauh dari rumah Andi Monji tinggal. Andi Monji sendiri juga datang sebagai saksi.

Suppa Westerling
Andi Monji memasuki ruang auditorium tempat sidang teleconference dari kasus kejahatan perang yang dilakukan Westerling di Suppa, Sulawesi Selatan. Andi Monji adalah seorang saksi hidup yang melihat langsung pembantaian Westerling saat dirinya masih anak-anak. tirto.id/Hafitz Maulana


Sidang gugatan korban Westerling di Sulawesi Selatan ini adalah rangkaian kedua. Pada rangkaian pertama di Bulukumba, gugatan diterima dan mendapat uang ganti rugi 20.000 Euro. Apa yang lebih penting dari uang ganti rugi? Ya, sidang gugatan korban Westerling penting untuk dilakukan sebab dalam pencarian keadilan terdapat luka berkarat, trauma kolektif. Ia penting sebagai jaminan jika kita tiba di masa lain, yang lebih baik, peristiwa serupa tak akan terjadi lagi.

Baca juga artikel terkait PHOTO STORY atau tulisan menarik lainnya
(tirto.id - Mild Report)

Penulis:
Editor: Sabda Armandio
Fotografer:Hafitz Maulana
DarkLight