tirto.id - PT Kredit Utama Fintech Indonesia (RupiahCepat) melakukan penguatan budaya keamanan informasi di lingkungan perusahaan sebagai bagian dari komitmennya dalam menjaga keamanan data pengguna dan membangun kepercayaan terhadap layanan pinjaman daring yang bertanggung jawab.
Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat sekitar 609,39 juta serangan siber terjadi di Indonesia sepanjang 2024, dengan sektor keuangan, termasuk fintech, menjadi salah satu sasaran utama. Sementara itu, laporan IBM Cost of a Data Breach 2025 menunjukkan bahwa organisasi rata-rata membutuhkan waktu hingga 241 hari untuk mendeteksi dan mengendalikan insiden kebocoran data.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perlindungan data pribadi tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kesiapan sumber daya manusia dalam menerapkan praktik keamanan informasi secara konsisten. Atas dasar itu, RupiahCepat menyelenggarakan dua program penguatan kompetensi internal, yaitu Awareness Training ISO/IEC 27001:2022 pada 4 Agustus 2026 dan Training Keamanan Data dan Awareness ISO/IEC 27701:2025 pada 6 Agustus 2026.
Melalui kedua program tersebut, RupiahCepat memastikan setiap karyawan memiliki pemahaman yang sama mengenai tanggung jawab dalam melindungi data pribadi, mampu mengenali potensi risiko keamanan informasi dalam aktivitas operasional sehari-hari, serta menerapkan prosedur perlindungan data secara konsisten sesuai standar internasional dan regulasi yang berlaku. Dengan demikian, perlindungan data pribadi tidak hanya menjadi tanggung jawab fungsi teknologi informasi, tetapi menjadi bagian dari budaya kerja di seluruh organisasi.
Direktur PT Kredit Utama Fintech Indonesia (RupiahCepat), Anna Maria Chosani, mengatakan bahwa kepercayaan masyarakat hanya dapat dibangun apabila perusahaan mampu memastikan keamanan data pribadi pengguna secara berkelanjutan.
"Di era layanan keuangan digital, kepercayaan dibangun dari bagaimana perusahaan melindungi data pribadi pengguna. Ketika masyarakat mempercayakan data mereka kepada kami, menjadi tanggung jawab perusahaan untuk memastikan data tersebut dikelola secara aman, bertanggung jawab, dan sesuai standar yang berlaku. Karena itu, membangun budaya keamanan informasi sama pentingnya dengan membangun teknologi yang andal," ujar Anna.
Lebih lanjut, Anna berharap, “Melalui program ini, kami ingin memastikan setiap insan RupiahCepat memahami perannya dalam menjaga kerahasiaan data pengguna, mampu mengidentifikasi potensi risiko keamanan informasi sejak dini, serta menjalankan setiap proses kerja sesuai standar perlindungan data yang berlaku.”
Sejalan dengan hal tersebut, Anton Dewantoro, Founder sekaligus Senior Consultant PT Aktuator Cipta Cendekia, perusahaan konsultan manajemen teknologi dan keamanan informasi, menjelaskan bahwa penguatan budaya keamanan informasi merupakan salah satu elemen penting dalam implementasi sistem manajemen keamanan informasi yang efektif, khususnya di sektor jasa keuangan digital yang mengelola data pribadi masyarakat.
"Di tengah meningkatnya ancaman siber, organisasi tidak cukup hanya mengandalkan teknologi maupun kepemilikan sertifikasi. Keamanan informasi harus menjadi budaya yang dipahami dan diterapkan oleh seluruh karyawan. Komitmen RupiahCepat untuk secara berkelanjutan meningkatkan kompetensi sumber daya manusia melalui program awareness ISO/IEC 27001:2022 dan ISO/IEC 27701:2025 menunjukkan keseriusan perusahaan dalam membangun layanan pinjaman daring yang aman, bertanggung jawab, dan terpercaya bagi masyarakat," ujarnya.
Hal senada disampaikan Anna, yang menegaskan bahwa perlindungan data pribadi tidak cukup hanya mengandalkan sistem teknologi yang canggih. Faktor manusia tetap menjadi lapisan pertahanan pertama (first line of defense) dalam mencegah terjadinya insiden keamanan informasi maupun kebocoran data.
Komitmen tersebut didukung dengan penerapan berbagai pengendalian keamanan informasi di lingkungan perusahaan, mulai dari proses electronic Know Your Customer (e-KYC), teknologi enkripsi untuk melindungi data pengguna, pengelolaan hak akses berbasis kewenangan (role-based access control), hingga pemantauan dan evaluasi keamanan sistem secara berkala. Berbagai langkah tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam meminimalkan risiko keamanan informasi sekaligus menjaga kepercayaan pengguna.
RupiahCepat juga mengantongi sertifikasi ISO/IEC 27001:2022 sebagai standar internasional Sistem Manajemen Keamanan Informasi (Information Security Management System atau ISMS). Selain memastikan implementasi standar tersebut berjalan secara konsisten, perusahaan kini memperkuat kesiapan menuju penerapan ISO/IEC 27701:2025 sebagai standar internasional Sistem Manajemen Informasi Privasi (Privacy Information Management System atau PIMS), guna meningkatkan tata kelola perlindungan data pribadi sesuai praktik terbaik internasional.
Penguatan kapasitas internal ini juga sejalan dengan implementasi Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP), Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK), serta POJK Nomor 22 Tahun 2023 tentang Perlindungan Konsumen dan Masyarakat di Sektor Jasa Keuangan, yang menempatkan perlindungan data pribadi sebagai aspek fundamental dalam penyelenggaraan layanan keuangan digital.
“Bagi kami, keamanan informasi bukan sekadar pemenuhan regulasi atau kepemilikan sertifikasi. Ini adalah komitmen jangka panjang untuk memastikan setiap inovasi yang kami hadirkan dibangun di atas prinsip keamanan, kepatuhan, dan perlindungan konsumen. Ke depan, kami akan terus memperkuat sinergi antara teknologi, tata kelola, dan pengembangan sumber daya manusia agar masyarakat dapat menggunakan layanan keuangan digital dengan rasa aman dan percaya," tutup Anna.
Masuk tirto.id


































