tirto.id - Pada pembukaan perdagangan Selasa (22/9/2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami pelemahan. Rupiah dibuka di level Rp17.879 per dolar AS. IHSG pagi ini dibuka menguat meski sempat melemah pada penutupan kemarin.
Rupiah pagi ini melemah 32 poin atau 0,18 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sehari sebelumnya yang berada di level Rp17.847 per dolar AS.
Pelemahan tersebut melanjutkan tekanan yang terjadi pada perdagangan Senin (21/9/2026), ketika rupiah ditutup melemah 89 poin atau 0,50 persen dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.758 per dolar AS menjadi Rp17.847 per dolar AS.
Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuabi, menilai tekanan terhadap rupiah salah satunya dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Asia Barat atau Timur Tengah.
“Ketegangan di Timur Tengah tetap tinggi setelah kelompok (Ansarullah) Houthi Yaman menyatakan telah menyerang lokasi-lokasi sensitif di ibu kota Arab Saudi, Riyadh, menggunakan rudal dan pesawat nirawak (drone), serta menyerang fasilitas Aramco di kota Yanbu yang terletak di tepi Laut Merah dan merupakan pusat utama ekspor minyak,” katanya dikutip Antara, Senin(21/9/2026).
Ketegangan geopolitik semacam ini menjadi perhatian pasar keuangan karena berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan energi serta harga minyak global, yang pada akhirnya dapat memengaruhi persepsi risiko investor terhadap aset-aset di negara berkembang, termasuk rupiah.
Tekanan geopolitik tersebut juga berkaitan dengan jalur distribusi minyak Arab Saudi. Serangan terhadap jalur pipa Timur-Barat milik Saudi Aramco disebut mendorong perusahaan energi negara tersebut meningkatkan ekspor melalui Selat Hormuz pada September dan Oktober, setelah sebelumnya sebagian pengiriman melalui Yanbu dihentikan.
Perubahan jalur ekspor minyak tersebut menambah perhatian pasar terhadap keamanan jalur perdagangan energi internasional. Bagi pasar valuta asing, perkembangan tersebut dapat menjadi salah satu faktor eksternal yang memengaruhi pergerakan dolar AS dan mata uang negara lain, terutama apabila ketegangan geopolitik meningkatkan kecenderungan investor untuk mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman.
Dari sisi domestik, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu (23/9/2026).
“Sebagian mengambil sikap hawkish, sebagian lainnya masih memiliki ruang pelonggaran dengan mempertahankan posisi suku bunga acuan. Namun, melihat situasi inflasi global yang tinggi, kemungkinan gubernur Bank Indonesia dalam rapat di hari Rabu (23/9/2026) akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps (basis points),” ungkap Ibrahim.
IHSG Dibuka Menguat ke Level 6.392,34
Pada pembukaan perdagangan Selasa (22/9/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengawali perdagangan di zona positif. IHSG dibuka menguat 7,61 poin atau 0,12 persen ke level 6.392,34, setelah pada perdagangan sebelumnya, Senin (21/9), ditutup melemah cukup signifikan.
Pada saat yang sama, indeks saham unggulan LQ45 justru dibuka turun tipis 0,22 poin atau 0,03 persen ke level 634,07. Pergerakan awal IHSG tersebut menunjukkan adanya respons positif di awal perdagangan, meskipun investor masih menghadapi sejumlah sentimen yang dapat memengaruhi arah pasar, terutama menjelang keputusan kebijakan moneter Bank Indonesia (BI).
Pada perdagangan Senin (21/9/2026), IHSG ditutup melemah 56,43 poin atau 0,88 persen ke level 6.384,73, sedangkan indeks LQ45 turun 5,96 poin atau 0,93 persen ke posisi 634,29. Pelemahan tersebut terjadi ketika pelaku pasar cenderung mengambil sikap hati-hati atau wait and see menjelang pelaksanaan Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 22-23 September 2026.
Investor mencermati kemungkinan arah kebijakan suku bunga BI setelah sejumlah bank sentral utama dunia, yakni Federal Reserve AS (The Fed), Bank Sentral Eropa (ECB), dan Bank of Japan (BoJ), disebut telah menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin pada September 2026.
Kondisi tersebut membuat keputusan BI menjadi salah satu faktor penting yang diperhatikan pasar karena kebijakan suku bunga dapat berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah, arus modal, biaya pendanaan, dan pada akhirnya valuasi saham.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, mengatakan keputusan BI berlangsung dalam situasi kebijakan moneter global yang cukup dinamis.
Sentimen terhadap bursa kawasan Asia turut ditopang oleh munculnya tanda-tanda peningkatan upaya diplomatik untuk meredakan konflik di Timur Tengah dan memulihkan aliran energi di kawasan tersebut. Perkembangan tersebut sejalan dengan harga minyak dunia yang disebut terus mengalami penurunan.
Sentimen juga dipengaruhi pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai kemungkinan pertemuan dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), serta kemungkinan pertemuan dengan sejumlah pemimpin negara-negara Teluk Persia. Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al-Thani juga menyerukan kerja sama negara-negara Teluk untuk memulihkan stabilitas kawasan.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id






































