Wawancara

Laporan Allan Nairn, Gerindra: Dokumen Palsu, BIN Sudah Klarifikasi

Oleh: Arbi Sumandoyo - 15 April 2019
Dibaca Normal 5 menit
Wakil Ketua Umum Gerindra Arief Poyuono mengaku ditemani salah satu agen CIA saat bertemu Allan. Tapi ia membantah semua isi laporan Allan.
tirto.id - Nama Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Poyuono disebut-sebut jurnalis investigasi Amerika Serikat Allan Nairn sebagai salah satu orang yang hadir dalam rapat tertutup di kediaman Prabowo Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada 21 Desember 2018.

Dalam laporannya Allan menyebut Prabowo telah menyiapkan sejumlah skenario apabila memenangi Pilpres 2019. Beberapa di antaranya adalah melemahkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Front Pembela Islam (FPI): barisan pendukungnya dalam pemenangan Pilpres 2019.


Namun dalam wawancara kepada Tirto Arief membantah isi tulisan Allan yang diklaim Allan bersumber dari notulensi intelejen atas rapat tertutup di Kertanegara.

Arief, orang yang dikutip Allan dalam laporannya mengakui ia memang menemui Allan sebulan lalu di sebuah tempat yang ia sebut sebagi tempat berkumpulnya para agen telik sandi CIA. Ia juga mengajak kawannya, yang ia sebut sebagai agen CIA dan memberikan foto-foto selama wawancara dengan Allan berlangsung.

Kolega itu menghubungi kami dan memberikan foto termasuk laporan regional CIA untuk kawasan Asia yang terbit Januari 2019 dan beredar dikalangan komunitas intelijen. Berikut pertikan wawancara Arief Puyono :


Allan merilis laporan dan menyebut ada rapat inti di kediaman Prabowo yang dihadiri oleh Anda?

Saya enggak hadir, Allan salah.

Laporan Allan juga menyebut, kalau Prabowo menang akan melemahkan FPI PKS yang notabene adalah pendukung Pak Prabowo?

Salah, Allan dengan saya tidak ngomong begitu, dan Pak Prabowo enggak begitu, Nanti saya telpon Allan kalau nulisnya salah, ngawur.

Allan menyebut Pak Arif ditegur Pak Prabowo karena mengadvokasi para pegawai Freeport?

Jadi gini, waktu saya melakukan citizen lawsuit kepada Freeport, artinya Pak Prabowo lebih memikirkan strategi nasional. Artinya janganlah [Freeport diganggu], Freeport sudah melakukan investasi yang besar, ya kan, biarkan. Kalau bisa kamu jadi penyelesainya, antara serikat buruh dengan Freeport-nya. Yang mati itu, yang keuruk itu, beberapa kali saya kan melaporkan Freeport. Itu berbeda dengan cara kasar yang dilakukan oleh Joko Widodo dalam mengambil alih Freeport, karena apa, tahun 2021 kontraknya itu kan sudah habis, artinya apa? Jadi lebih murah. Jadi kalau rapat itu (rapat yang disebut dalam laporan Allan) saya enggak hadir ya.

Dan kita tidak akan, bukan melemahkan FPI atau PKS, saya mengatakan bahwa PKS dan FPI bukan lawannya Pancasila dan bukan khilafah, itu yang saya katakan ke Allan. Allan itu kan tidak suka sekali sama Prabowo. Setelah saya ceritakan semuanya, tentang kejahatan HAM yang selalu ditujukan kepada Pak Prabowo di Timor-Timur, Allan enggak bisa jawab. Saya bilang pada tahun berapa? Tahun 1984, kata dia (Allan) kan. Prabowo pangkat apa? Siapa yang bertanggung jawab sebagai penanggung jawab operasionalnya? Komandan operasional Timor-timur pada waktu itu kan bukan Prabowo, jangan salahkan Prabowo. Ya anda harus pakai otak. Seperti contoh ada pembunuhan, di situ ada anda, tapi anda tidak melakukan apa-apa, apakah anda bersalah? Walaupun anda seorang polisi, enggak bisa, bagaimana mencegah? Karena perintah cegah itu bukan dari dia.

Allan konfirmasi juga nggak soal pertemuan itu?

Enggak, ngawur itu Allan. Enggak, ngawur itu.

Jadi tidak ada pertemuan 21 Desember 2018, setelah pertemuan Pak Prabowo dengan Pak SBY?

Dia bilang [Prabowo] mau mengembalikan New Order (Orde Baru), saya bilang enggak ada, kamu salah, Lan. Ku bilang kan. Prabowo itu seorang yang demokratis, justru Prabowo orang yang mendukung demokrasi. Dia bilang kepolisian akan di bawah departemen dalam negeri, saya bilang enggak. Justru kami akan memperkuat kepolisian di bawah presiden. Saya jelaskan kepada Allan. Kenapa? Karena demokrasi, sama seperti negara di mana-mana.

Kapan pertemuan dengan Allan?

Bulan lalu.

Allan menunjukan dokumen itu kepada Anda?

Enggak ada, dia enggak bawa dokumen. Bohong dia itu, nanti saya marahin dia itu. Enggak ada. Dia enggak bawa dokumen, dia hanya meminta, kenapa seorang Arif puyono mendukung Prabowo? Begitu lho. Saya jelaskan semua. Bahwa Prabowo tidak salah dalam 98, penculikan, yang melakukan penculikan itu Wiranto. Tanya Allan. Kamu kok begitu? Kenapa Prabowo dipecat? Karena itu politisasi, untuk menyingkirkan dia, karena dia jendral yang paling maju. Gitu lho, silakan Allan konfirmasi ke Wiranto dan Syafrie Syamsudin.

Di tulisan Allan disebut laporannya berdasar dokumen intelijen?

Nggak ada, Itu bukan laporan intelijen, itu intelijen, intelijennya siapa? Begitukan. Intelijennya Joko Widodo? Saya bilang, Allan kamu itu menjadi seorang jurnalis yang tidak netral. Harusnya kamu membuka aibnya Jokowi, keluarganya. Kamu tulis dong. Misalnya Arif, kenapa enggak ditangkap KPK. Di akhir saya bicara dengan Allan sampai 3 jam, akhirnya Allan yakin terhadap prabowo. Saya bilang anda masih enggak suka? Setengah saya tidak suka. Katanya (Allan) . Dia bilang juga soal Trump, dia juga nggak suka sama Trump, Allan tidak suka dengan Trump. Saya bilang Prabowo itu mengambil gaya kampanyenya Trump. Ya kan artinya Indonesia first, we make great indonesia again.

Kalau ada kerja intelijen ini BPN menyadari enggak sih pak?

Nggak ada, kita dari dulu dimata-matain, tapi rapat itu enggak ada, jadi itu semata-mata dokumen palsu untuk membangun opini sesat. Opini sesat dokumen palsu. Kalau dimata-matain, BPN itu iya, apalagi sama BIN. Itu pasti.

Tapi memang rapat itu nggak ada ya?

Enggak ada, kalau yang bilang kita akan hantam korupsi-korupsi itu iya. Saya ngomong ke Allan, karena pimpinan-piminan partai yang ada di Pak Jokowi itu banyak yang terlibat kasus korupsi. Saya kemarin si Bowo, pasti kita hajar semua. Dan kita akan membongkar siapa yang menghajar Novel.

Itu kalau pak prabowo jadi?

Iya itu yang ditanyakan Allan.

Jadi memang ada rencana pemberantasan korupsi ya?

Pemberantasan korupsi. Kalau dia menanyakan bagaimana Arief jika dengan isu khilafah? Enggak ada isu khilafah, itu buatannya Hendro. Itu hanya buatannya Hendro Priyono. Kalau sekarang banyak khilafah, itu artinya Joko Widodo penyebabnya. Pemerintahan yang lemah, Pancasila terancam. Saya bilang, khilafah yang mana? Ini hanya bisa-bisanya Hendro Priyono dalam operasi intelijen. Jangan sampai Hendro Priyono saya urek-urek masalahnya. Saya bilang gitu.

Bagaimana pandangan bapak soal Allan?

Saya rasa Allan inikan harus diberikan sebuah pengertian. Jangan hanya dari sisi fitnah terus. Walaupun saya tahu, Allan ini adalah kaki tangannya asing yang tidak suka dengan Prabowo. Makanya dia heran ketika saya bilang Prabowo melihat Freeport itu bukan sebagai anti asing. Justru kasian dia sudah investasi, dia sudah berapa puluh tahun. Itu saya katakan.

Soal dukungan teroris di kubu Prabowo itu bagaimana?

Teroris-teroris yang mana yang anda maksud? Yang mana yang kalian cakap? Khilafah yang mana? Tolong tunjukan namanya dan sebutkan. Jadi saya bilang, Allan ini adalah kerjanya Hendro Priyono, membuat propaganda hitam. Seakan-akan kami ini didukung oleh teroris dan khilafah. Enggak ada, PKS itu Pancasila, FPI juga Pancasila, hanya apa namanya orang lebih militan pada agamanya, masak orang lebih militan menjalankan agamanya masa disebut teroris. Terorisnya siapa? Yang mana? Kalian tunjuk? Apakah orang berpakaian dengan seperti kebudayaan Islam dengan jenggot, dengan kerudung, baju, anda sebut teroris? Enggak bisa dong. Itukan aturan agamanya mereka. Saya jelasin ke Allan. Dan Allan setuju, dia mengerti akhirnya. Kalau akhirnya dia menulis seperti itu karena dia ingin membuat sebuah opini sesat terhadap prabowo. Tapi begitu saya jelaskan dia ini malu.

Apakah Anda sudah membaca berita Allan, berdasar link yang saya kirim tadi?

Sudah, sudah saya baca semua.

Panglima akan di tunjuk oleh Pak Gatot Nurmantyo?

Kalau pak Gatot memang akan ditunjuk nanti, kan enggak mungkin dia jadi Panglima TNI.

Bagaimana dengan Bambang Wijojanto?

Ketua KPK kan harus lewat DPR-RI yang angkat. Nah itu salahnya si Allan Nairn. Dia enggak ngarti begitu lho. Kan KPK diangkat oleh DPR.

Dalam dokumen dilaporan Allan disebut Fadli Zon dan Fahri Hamzah akan menunjuk Jaksa Agung?

Dokumen itu, dokumen ngarang.

Dengan bocornya laporan intelijen sebagaimana disebut Allan, apakah BPN merasa diinteli?

Saya sih diintelin terus.

Bagaimana dengan BPN?

Sekarang laporan intelijen, intelijen siapa, Badan Intelijen Negara, apakah CIA, Mossad. Jangan bilang laporan intelijen. Hanya ada satu aku bilang, yang memiliki hak untuk melakukan aktivitas intelijen, yakni BIN. Kalau dibilang laporan intelinjen, intelijen apa? Intelijen kaki lima.

Jadi Anda mau bilang kalau laporan itu BIN yang membuat?

Enggak, saya tidak menuduh. Allan dapat dari mana? Intelijen yang mana, kan harus ada badannya dong. Masa jadi BIO (Badan Intelijen Outsourcing). Mungkin si Allan dapat dari BIO. Saya sudah tanya dengan mas BG (Budi Gunawan Kepala BIN), Enggak ada itu Rif. BIN Netral.

Sudah dikonfirmasi kepada Kepala BIN?

Sudah. Sudah. "Mas Arief, BIN hanya membela NKRI dan Pancasila".

Kapan Anda mengonfirmasi kepada Kepala BIN?

Sudah lama lah, sejak Allan bertemu saya. Pak Budi Gunawan bilang, kita netral mas Arief. Jangan dipercaya si Allan Nairn, kata dia begitu. Pak Budi Gunawan netral. Artinya kan jelas. Saya mengonfirmasi, bahwa memang netral. Saya konfirmasi via telepon lah, kan saya sahabatnya dia. Saya kan sahabatnya Mas BG. Enggak Rief, BIN netral. Siapa pun yang menang didukung oleh BIN.

BIN tidak berpolitik?

Iya. Kasih tahu saya Rief, kalau ada anggota BIN yang mendukung salah satu pasangan. Pak BG (Budi Gunawan) kan orangnya demokratis. Pak BG buat apa juga dukung Joko Widodo, wong dulu mau jadi Kapolri saja disusahin sama dia kan. Ya kan.

Isunya begitu ya?

Memangnya kan. Kan yang menolak Joko Widodo, DPR-nya sudah oke. Kan yang menolak Pak BG jadi Kapolri kan Joko Widodo, bukan DPR-RI. Ya kan harus Fit and proper test. Jadi saya kasih tahu ya, Pak BG itu orang profesional. Dia tidak memihak siapa-siapa. Nah intelijen dari Allan itu, intelijen BIO, Badan Intelijen Outsourcing.

Tidak bisa dipercaya?

Tidak bisa lah. Bisa saja saya, dari intelijjen. Saya bisa. Laporan intelijen mana si Allan.

Pertanyaan-pertanyaan mengenai rapat 21 Desember, sempat ditanyakan kepada Allan kepada Anda?

Ditanya. Aku bilang enggak ada itu. Apakah anda ikut, ya enggak lah. Karena saya kan ini direct-nya Pak Prabowo. Saya bilang sama Allan bahwa saya di target.

Oleh siapa?

Pasukannya Joko Widodo, tapi kan saya tidak bisa ditarget, karena saya lebih cerdas dari mereka, begitu saya bilang. Saya tahu, saya diinteli, tapi jangan salah, saya juga menginteli mereka. Karena begini ya, Allan juga menanyakan kepada saya, hubungan saya dengan CIA. Ya kan, saya bilang you dari mana, saya bilang you beda jalur.

Artinya saya bisa lihat CIA terbelah dua. CIA lama mendukung Joko Widodo, CIA Trump itu mendukung Prabowo, yang ada di pemerintahan sekarang. Saya bilang begitu kok.

Allan kan bilang kepada saya, Anda kan dekat dengan CIA, Whats Wrong. Anda dituduh komunis, oh iya karena saya banyak melakukan aktivitas di Beijing. Saya banyak melakukan kontak dengan pimpinan di Beijing.

Allan, kamu juga kaki tangan CIA, tapi saya bukan kaki tangan CIA. Saya hanya berteman dengan CIA. Kamu jangan bermain opini sesaat, saya juga bisa bermain opini sesuatu untuk kamu di negeri kamu sendiri. Akhir pertemuan dia bilang oke.

Apakah Anda senang dengan Prabowo? Dia bilang sedikit. Tadinya kan dia enggak suka sekali, begitu lho. Jadi yang diwawancara si Allan itu cuma saya. Tidak ada yang lain. Si Allan ingin sekali dari dulu bertemu dengan saya.

Di mana pertemuannya?

Di suatu tempat, rahasia, begitu lho. Di tempat agen-agen CIA bertemu. Anda dapat laporan dari mana, intelijen yang mana, begitu saya bilang sama Allan. Dan di situ juga ada orang intelijen, dari CIA.

Siapa dia?

Memang kawan saya dia, CIA. Kebetulan ketika saya janjian dengan Allan, saya ajak teman saya yang CIA ini. Dia pura-pura, anda kan tidak kenal Allan dan Allan tidak kenal Anda. Jadi Anda tahu siapa Allan.

Jadi Anda bawa teman ketika bertemu dengan Allan?

Ada fotonya. Saya kasih nanti fotonya.

Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan menarik lainnya Arbi Sumandoyo
(tirto.id - Politik)

Reporter: Mawa Kresna & Arbi Sumandoyo
Penulis: Arbi Sumandoyo
Editor: Jay Akbar
DarkLight