Langkah Jokowi Hapus 14 Proyek Strategis Nasional Dinilai Tepat

Oleh: Dipna Videlia Putsanra - 20 April 2018
Dibaca Normal 1 menit
Direktur CORE menilai sejumlah proyek berpotensi mangkrak jika tetap diteruskan.
tirto.id - Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE), Mohammad Faisal menilai pembatalan 14 proyek infrastruktur sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) adalah langkah yang tepat. Sebab, menurut Faisal, 245 proyek dan 2 program senilai Rp4.100 triliun itu tidak masuk akal jika dapat dirampungkan dalam lima tahun.

"Sudah selayaknya dipilah ulang mana proyek yang paling mungkin pemerintah lakukan. Jadi, saya pikir ini adalah suatu langkah yang bijak karena kalau tidak dampaknya bisa banyak," ujar Faisal kepada Tirto pada Kamis (19/4/2018).

Faisal beranggapan ada tiga faktor yang dipertimbangkan dalam penghapusan status PSN tersebut, yaitu kemampuan finansial, teknis lapangan, dan pelaksanaan.

Menurutnya, kemampuan finansial jadi kendala krusial meskipun pembiayaan PSN diupayakan pemerintah tidak hanya bersumber dari dana APBN, tapi juga dari BUMN dan swasta.

"Dari 200 lebih PSN 12 persen dibiayai APBN, 30 persen BUMN, 50 persen swasta. Dari 3 itu yang paling kuat APBN, walaupun APBN itu kewalahan," ujarnya.

Kedua, persoalan teknis di lapangan yaitu kendala pembebasan lahan yang tidak terlepas dari sinergitas pemerintah daerah dengan pemerintah pusat.


"Terkait dengan kinerja pemda. Masalah terbesar adalah procurement lahan yang tidak gampang, antara daerah satu dengan daerah lain berbeda, antar proyek yang satu dengan proyek yang lain tidak sama," terangnya.

Melihat dari dua pertimbangan tersebut, kemungkinan besar akan mempengaruhi sisi pelaksanaan. Jika target yang ingin dicapai tidak realistis, tentu proyek akan berpotensi mangkrak.

"Kalau ke depan berbeda rezim, misalnya, dan ada perubahan kebijakan, potensi untuk mangkrak tambah besar lagi. Oleh karena itu, memang perlu diseleksi lagi proyek-proyeknya," jelas Faisal.


Presiden Joko Widodo menghapus 14 proyek senilai Rp264 triliun dari daftar PSN. Ke-14 proyek tersebut, yaitu:

  1. Jalan Tol Waru (Aloha) - Wonokromo - Tanjung Perak, Jawa Timur (18,2km)
  2. Jalan Tol Sukabumi - Ciranjang – Padalarang, Jawa Barat (61km)
  3. Kereta Api Kertapati - Simpang - Tanjung Api-Api, Sumatera Selatan (bagian dari Jaringan Kereta Api Trans Sumatera).
  4. Kereta Api Muara Enim - Pulau Baai, Sumatera Selatan - Bengkulu
  5. Kereta Api Tanjung Enim - Tanjung Api-Api, Sumatera Selatan
  6. Kereta Api Jambi – Pekanbaru, Jambi - Riau
  7. Kereta Api Jambi – Palembang, Jambi - Sumatera Selatan
  8. Pembangunan Rel Kereta Api Provinsi Kalimantan Timur, Kalimantan Timur
  9. Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta Koridor East – West, DKI Jakarta
  10. Bandara Sebatik, Kalimantan Utara
  11. Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Regional Mebidang, Sumatera Utara
  12. Bendungan Telaga Waja, Bali
  13. Bendungan Pelosika, Sulawesi Tenggara
  14. Kawasan Ekonomi Khusus Merauke, Papua

Sementara, berdasarkan data Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP), 10 PSN senilai Rp61,5 triliun sudah selesai dan beroperasi sampai pada akhir 2017:

  1. Jalan Tol Soreang – Pasirkoja, Jawa Barat (11km)
  2. Jalan Tol Mojokerto – Surabaya, Jawa Timur (36,3km)
  3. Jalan Akses Tanjung Priok, DKI Jakarta (16,7km)
  4. Bandara Raden Inten II, Lampung
  5. Pengembangan Lapangan Jangkrik dan Jangkrik North East Wilayah Kerja Muara Bakau, Kalimantan Timur
  6. Pembangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) & Sarana Penunjang Nanga Badau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat
  7. Pembangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) & Sarana Penunjang Aruk, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat
  8. Pembangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) & Sarana Penunjang Wini, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur
  9. Bendungan Teritip, Kalimantan Timur
  10. Pembangunan Saluran Suplesi Daerah Irigasi Umpu Sistem (Way Besai), Lampung

Baca juga artikel terkait PROYEK STRATEGIS NASIONAL atau tulisan menarik lainnya Dipna Videlia Putsanra
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Shintaloka Pradita Sicca
Penulis: Dipna Videlia Putsanra
Editor: Dipna Videlia Putsanra