Kwee Tek Hoay di Tengah Dunia Sastra Peranakan Tionghoa

Oleh: Irfan Teguh - 29 April 2018
Dibaca Normal 5 menit
Kwee Tek Hoay adalah salah satu penulis peranakan penting dalam khazanah kesastraan Melayu-Tionghoa yang juga membentuk identitas kebangsaan Indonesia.
tirto.id - Bocah itu ogah-ogahan pergi ke sekolah. Sebabnya satu: tempat formal menimba ilmu tersebut memakai bahasa Hokkian sebagai pengantar. Bahasa itu adalah bahasa leluhurnya, tapi masalahnya ia tak lahir dan hidup di kampung halaman moyang, melainkan di Buitenzorg alias Bogor.

Kota itu adalah kota yang diramaikan oleh ragam bahasa, salah satunya bahasa Melayu. Di rumah, bapaknya setali tiga ulang, tak sudi jika anaknya bercakap memakai bahasa selain bahasa Hokkian. Ia murung. Aturan berbahasa telah merundungnya. Padahal, ia sangat ingin belajar bahasa Melayu. Beruntung, ibunya diam-diam mengajarkannya.

Kwee Tek Hoay adalah nama bocah itu. Ia terlahir sebagai anak bungsu dari pasangan Kwee Tjiam Hoang dan Tan Ay Nio. 31 Juli 1886, itulah tarikh kelahirannya. Bapaknya berasal dari Desa Lam An, Provinsi Fujian, Tiongkok, yang merantau ke Pulau Jawa dan menetap di Bogor. Untuk mengongkosi hidup, bujang itu berjualan obat-obatan dan jasa pengobatan secara tradisional. Tak cukup satu pencaharian, ia juga berkeliling ke berbagai kota menjajakan kain.

Ia kemudian mengawini Tay An Nio, dara dari pasangan perantau Tiongkok yang sudah tiga generasi menetap di Bogor. Inilah sebab mengapa ibunya Kwee Tek Hoay dapat mengajarkannya Bahasa Melayu.

Hanya sampai jenjang sekolah dasar Kwee Tek Hoay bertahan. Ia membolos terus. Selanjutnya, ia belajar di rumah dengan mengundang guru. Sebenarnya, ia ingin belajar di sekolah Belanda milik pemerintah, tetapi pemerintah kolonial tak sudi menerima siswa dari kalangan jelata. Mereka hanya melempangkan jalan bagi anak-anak menak dan orang berpangkat. Kwee Tek Hoay tak masuk hitungan.

Di rumah, selain membantu orangtuanya berjualan menunggui toko dan belajar kepada guru-guru yang diundang, ia juga belajar secara otodidak. Banyak buku ia baca, lalu orang-orang rumah menjulukinya si kutu buku.

Kwee Tek Hoay belajar akuntansi dari seorang guru sekolah Belanda. Bahasa Inggris ia pelajari dari S. Maharaja, seorang berkebangsaan India yang mengajar di sekolah Tiong Hoa Hwee Koan di Bogor. Dari Lebberton dan Wotman, orang-orang dari perkumpulan Loge Theosophie, ia belajar bahasa Belanda. Bahasa Melayu, selain diajarkan ibunya, juga diajarkan oleh seseorang yang bekerja di Perkumpulan Kristen.

Bacaan dan ragam pelajaran yang didapat dari beberapa orang guru membuat ia mulai gelisah. Sejumlah tradisi Tionghoa yang dianggap takhayul ia kritik. Perayaan-perayaan yang kerap digelar di kelenteng ia tanyakan maknanya kepada para pengurus tempat ibadah tersebut. Namun, jawaban yang didapat tak memuaskannya.


Jodoh Membaca adalah Menulis


Kwee Tek Hoay mulai menulis sejumlah karangan di surat kabar Li Po, Sin Po, Ho Po, dan Bintang Betawi. Seperti dulu bapaknya yang berdagang sambil membujang, ia pun hendak kawin. Maka, orangtuanya melamar Oei Hiang Nio, cucu dari Tan Kie Lam, orang berpengaruh di Bogor.

Berbeda dengan adat yang berlaku tempo itu, sebelum kawin Kwee Tek Hoay bersikeras untuk melihat dulu wajah calon istrinya sebelum orangtuanya pergi melamar. Di depan sebuah gereja, ia menunggu calon istrinya yang tengah berkegiatan di dalam. Saat si gadis keluar, ia hanya mengamatinya, sonder percakapan.

Hal lain yang menjadi syarat bagi calon istrinya adalah dia tak boleh buta huruf. Setelah semua syarat terpenuhi, lamaran pun diajukan. Mereka menikah pada Februari 1906. Istrinya ia ajari cara berdagang dan mengurus keuangan. Setelah mahir, urusan toko ia serahkan sepenuhnya kepada istri, sementara ia menulis.

Sebelum tulisan dikirim ke redaksi surat kabar, sang istri biasanya menyempatkan diri untuk membaca karangan-karangannya. Kehidupan rumah tangga pengantin baru itu layak bikin iri biduk kehidupan laki-bini lain yang tengah senewen.

Jika hidup adalah satuan karya, hayat Kwee Tek Hoay dipenuhi oleh ratusan karangan yang berbentuk drama, novel, tulisan keagamaan, dan tema sosial politik. Sam Setyautama mencatat dalam Tokoh-tokoh Etnis Tionghoa Indonesia (2008) bahwa karangan Kwee Tek Hoay tak kurang dari 115 judul buku.

Karyanya yang paling populer adalah novel Boenga Roos dari Tjikembang (1927). Kisah ini pernah diangkat ke layar lebar pada 1931 oleh Wong Brother dan 1976 oleh Fred Young. Ceritanya tak terlampau rumit, hanya kejadian yang berulang.


Alkisah, Oh Aij Tjeng seorang administratur di perkebunan karet Gunung Mulia, dan Marsiti seorang nyai yang dicintainya, harus mengakhiri kisah percintaan. Sebabnya, Aij Tjeng hendak dijodohkan dengan Gwat Nio, anak pemilik perkebunan tempat ia bekerja. Perjodohan ini didukung oleh Oh Pin Lo, ayah Aij Tjeng. Perkawinan pun terjadi.

Sebelum meninggal, Oh Pin Lo mengutarakan alasan yang utama mengapa ia mendukung perjodohan Aij Tjeng dengan Gwat Nio. Ternyata Marsiti, nyai yang Aij Tjeng cintai adalah anak Oh Pin Lo dari hubungannya dengan seorang perempuan yang ia rahasiakan.

Waktu berlalu, masa berganti. Saat Lily, anak Aij Tjeng dari perkawinannya dengan Gwat Nio sudah dewasa dan telah tiba masanya untuk mempunyai pendamping hidup, gadis itu jatuh sakit dan tak lama kemudian meninggal.

Bian Koen, calon menantu Aij Tjeng yang mulanya hendak melamar Lily, akhirnya mencari perempuan lain. Bertemulah ia dengan Roosminah yang wajahnya mirip betul dengan Lily. Setelah diselidiki, ternyata Roosminah adalah anak Marsiti dari hubungannya dengan Aij Tjeng. Sesederhana itu. Tapi pembaca amat menyukainya.

Seperti karangan hampir semasa, novel Rasia Bandoeng (1918) karya Chabanneau misalnya, Boenga Roos dari Tjikembang dimenori bahasa campur-campur, ada Bahasa Melayu, Sunda, Inggris, Belanda, dan lain-lain. Karya-karya itu menjadi dokumentasi bagaimana bahasa digunakan secara bebas, wadah dari pergaulan sehari-hari yang dinamis.

“Bahasa itu bersifat encer,” ujar Kwee Tek Hoay, seperti dikutip Prof. Liang Liji (Guru Besar Ilmu Sastra Timur di Universitas Peking) dalam pengantar buku Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia Jilid 3 (2001).

Selain Boenga Roos dari Tjikembang, karya Kwee Tek Hoay lain yang diminati pembaca adalah novel Drama di Boven Digoel (1938). Ia mulai menulis novel tersebut pada tahun 1927, tak lama setelah kamp pengasingan Boven Digul dibuka pasca pemberontakan PKI tahun 1926. Tempat celaka dan sarang maut di Papua itu memantiknya untuk menulis.

Meski Kwee Tek Hoay menyebut novel ini sebagai “melulu ada satu romans yang sama sekali tidak mengandung sifat politik”, tapi ia mengakui bahwa “pemberontakan dari kaoem Communist itu masih anget”.

Balai Pustaka mana berani menyentuh naskah yang judulnya saja sudah bikin nyali mengkeret. Mula-mula Drama di Boven Digoel dimuat sebagai cerita bersambung di mingguan Panorama selama kurang lebih tiga tahun. Lalu diterbitkan menjadi empat jilid oleh penerbit Moestika.

“Betul-betul berani menyentuh masalah hakiki dan kontradiksi pokok masyarakat jajahan pada kurun 1920-an, dan secara terbuka mengaspirasikan semangat ke-Indonesiaan,” tulis Prof. Liang Liji dalam pengantarnya.


Infografik Kwee tek hoay



Kesastraan Melayu-Tionghoa dalam Diskriminasi dan Purbasangka


Nio Joe Lan dalam Peradaban Tionghoa Selayang Pandang (2013) menjelaskan bahwa lahirnya sastra Melayu-Tionghoa sampai pada suatu batas tertentu bertalian agak erat dengan penerjemahan hasil sastra Tiongkok ke dalam bahasa Melayu-Rendah yang dimulai pada akhir abad ke-19.

Hal ini muncul karena ternyata bagi peranakan Tionghoa yang lahir di Indonesia, Tiongkok tidaklah terlalu dikenal, bahkan hampir sebagai sebuah negeri asing bagi mereka. Oleh karena itu, mereka ingin menciptakan suatu riwayat yang berbau Indonesia, dengan tokoh-tokoh yang hidup dalam keadaan seperti mereka dengan persoalan yang sama pula dengan persoalan mereka.

“Singkatnya: cerita-cerita yang mencerminkan diri mereka sendiri! Inilah hasrat yang kemudian menjadi benih bagi sastra Melayu-Tionghoa,” ujar Nio Joe Lan.

Karya-karya sastra peranakan Tionghoa ditulis dengan bahasa Melayu-Rendah, sebuah istilah yang dibuat pemerintah kolonial untuk membedakannya dengan Melayu-Tinggi yang mereka tetapkan. Watak yang tergila-gila dengan standar dan kebakuan itu kemudian melahirkan Komisi untuk Bacaan Rakyat yang kelak menjadi Balai Pustaka. Sensor menggila. Bacaan-bacaan yang dianggap liar, termasuk karya-karya Peranakan Tionghoa, tak dapat tempat.

Kehadiran karya-karya sastra Melayu-Tionghoa yang telah ada sejak tahun 1870, yang bisa dikatakan sebagai pelopor bagi hadirnya kesastraan Indonesia Modern, sampai saat ini masih belum diakui. Kesastraan Indonesia Modern tetap masih dianggap baru muncul pada akhir Perang Dunia I, yaitu pada 1918, saat Balai Pustaka didirikan.

Pada 1981, Claudine Salmon menulis buku bertajuk Literature in Malay by the Chinese of Indonesia yang mengungkapkan bahwa kesastraan Melayu-Tionghoa adalah bagian bahkan pelopor dari kesastraan Indonesia Modern.

“Alasan-alasan yang diajukan Salmon tak terbantahkan dan begitu meyakinkan, para peneliti perlu melepaskan sikap apriori bahwa sastra Indonesia awal dan manifestasi satu-satunya sebelum Perang Dunia Kedua adalah novel-novel Balai Pustaka […] sastra Peranakan Tionghoa merupakan mata rantai pokok dari perkembangan sastra Indonesia masa kini…” ujar A. Teeuw, seperti dikutip Liang Liji.


Sementara itu, Liang Liji sendiri dalam Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia Jilid 3 (2001) menyebutkan bahwa ada dua hal yang menyebabkan kesastraan Melayu-Tionghoa dulu tidak diberi tempat dalam sejarah sastra Indonesia.

Pertama, karena kesastraan ini diciptakan oleh keturunan Tionghoa yang pada masa itu berstatus dwi-warganegara dan hanya dianggap sebagai perantau. Kedua, kesastraan ini ditulis dalam bahasa Melayu-Rendah yang tidak dipandang sebagai salah satu sumber dari bahasa Indonesia sekarang.

Kedua alasan ini, menurutnya, seharusnya bukan menjadi penghalang bagi kesastraan Melayu-Tionghoa untuk diakui sebagai bagian dari kesastraan Indonesia Modern. Ia menambahkan bahwa dulu tidak semua warga Tionghoa bermaksud hanya untuk merantau, tapi mereka juga bermigrasi dan siap menjadikan Indonesia sebagai kewarganegaraannya.

Ihwal penggunaan bahasa Melayu-Rendah, ia menjelaskan bahwa pada suatu masa, bahasa Melayu-Tinggi sebetulnya hanya berlaku untuk kalangan terbatas, sedangkan yang digunakan secara luas adalah bahasa Melayu-Rendah.

“Dilihat dari proses sejarah, keturunan Tionghoa seharusnya dipandang sebagai salah satu komponen dari nasion Indonesia yang baru terwujud pada awal abad ke-20. Dengan demikian sudah semestinya kesastraan Melayu-Tionghoa juga termasuk dalam kategori sastra Indonesia,” imbuhnya.

Kembali ke Kwee Tek Hoay, terlepas dari persoalan kesastraan Melayu-Tionghoa dalam pusaran perdebatan sejarah kesastraan Indonesia Modern, penulis tersebut menerima piagam penghargaan Bintang Budaya Parama Dharma atau Pahlawan Sastra Melayu atas karya-karya dari Presiden SBY pada 7 November 2011.

Kwee Tek Hoay meninggal di Cicurug, Sukabumi, pada 4 Juli 1952. Ia terluka parah setelah dianiaya oleh perampok yang menyatroni rumahnya. Jenazahnya dikremasi di Muara Karang, Jakarta, dan abunya ditabur di laut.

Baca juga artikel terkait TOKOH SASTRA atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Irfan Teguh
Penulis: Irfan Teguh
Editor: Maulida Sri Handayani