Orang-Orang Tionghoa di Singkawang

Parade Tatung saat perayaan Cap Gomeh di kabupaten Singkawang. [Foto/Shutterstock]
Oleh: Petrik Matanasi - 15 November 2016
Dibaca Normal 2 menit
Sejarah Singkawang tak lepas dari Kesultanan Sambas, penambang Tionghoa dan emas. Setelah orang-orang Tionghoa ditekan pemerintah Belanda dan emas menurun, Singkawang berkembang.
tirto.id - Setelah terjadi di Gereja HKBP Samarinda, serangan bom molotov terjadi lagi di Singkawang. Seperti diwartakan Antara, bom molotov di Kwan Im Kiung atau Vihara Budi Dharma itu dilempar orang tak dikenal dari samping vihara. Ia tak membakar bangunan vihara yang lekat dengan gempita petasan dan kembang api di Hari Raya Imlek atau Cap Go Meh.

Singkawang di Kalimantan Barat memang kota seribu kelenteng. Orang Tionghoa di kota ini tak bisa dibilang sedikit. Vihara atau kelenteng ada di mana-mana, begitu pula tempat sembahyang yang lebih kecil, cetiya, ada di mana-mana. Antara mencatat hingga 2014 ada 704 bangunan vihara dan cetiya.

Di kota ini, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 2011, ada 246.306 penduduk dan 42 persen diantaranya Tionghoa. Sisanya Jawa, Dayak, Melayu dan suku lainnya. Orang-orang Tionghoa sudah ada di kota ini sudah sejak ratusan tahun lalu. Orang luar bisa jadi melihat Singkawang sebagai Pecinan atau Chinatown.

Demam Emas dan Republik Lan Fang

Emaslah yang mengundang nenek moyang orang-orang Tionghoa itu. Mereka datang sebagai buruh pertambangan emas lebih dari 2,5 abad silam. Menurut Harry Purwanto dalam Orang Cina Khek Dari Singkawang (2005), sejak 1740 mereka datang dan dipekerjakan di pertambangan emas oleh Sultan Sambas.

Gelombang pendatang terbesar terjadi di tahun 1760. Tadinya, yang bekerja di tambang adalah orang-orang Melayu dan Dayak. Tapi karena pendatang Tionghoa punya teknologi tambang yang lebih baik, lama-lama pekerja Tionghoa bertambah banyak. Mereka akhirnya berhasil mendirikan kongsi-kongsi tambang.

Victor Purcell, dalam tulisannya The Chineses in Southeast Asia (1952), menyebut kongsi pertama yang terbentuk adalah Lan Fang yang didirikan di daerah Mandor oleh Lo Fang Phak dari suku Hakka. Kongsi lain adalah Ta-Kang dan San t'iao-kao. Kongsi itu diberi wewenang khusus untuk mengelola tambang dan mengatur masyarakat mereka.

Kongsi terkenal adalah Lan Fang, yang kemudian berpusat di Monterado, sebelah timur Singkawang. Saat ini Monterado masuk dalam Kabupaten Bengkayang. Kongsi besarnya itu mulai eksis sejak 1777. Lan Fang, selaku pimpinan kongsi, begitu dekat dengan Sultan Pontianak.

Kongsi ini, yang masyarakatnya hidup ala sebuah republik, eksis selama berpuluh-puluh tahun. Menurut Sam Setyautama, dalam Tokoh-Tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia (2008), pada 1854, “Republik Kongsi” itu disikat pemerintah kolonial. Kongsi-kongsi itu jelas bagai negara dalam negara bagi pemerintah kolonial Hindia Belanda. Bagi pemerintah kolonial, cukup Sambas dan kerajaan-kerajaan yang diperintah sultan saja. Namun Republik Kongsi itu baru dianggap bubar di tahun 1884, saat usianya sudah lebih dari seabad.

Lambat laun, orang-orang Tionghoa penambang itu beralih mata pencaharian menjadi petani. Di sinilah mulai terjadi gesekan dengan penduduk lokal terkait pembukaan lahan. Selain konflik dengan penduduk lokal, pernah juga orang-orang Tionghoa itu bentrok panjang dengan pemerintah kolonial.

Pada 1914, orang-orang Tionghoa memberontak. Mereka menolak membayar pajak pada pemerintah kolonial. Di sinilah bias terlihat licinnya strategi pemerintah Belanda: orang-orang Dayak diajak bersekutu dengan tentara kolonial untuk menumpas orang-orang Tionghoa yang memberontak.



Semula Hanya Tempat Singgah

Ketika orang-orang Tionghoa itu datang karena emas, Singkawang hanya tempat persinggahan para pedagang dan penambang emas yang hendak menuju Monterado yang ramai oleh penambang. Nasib Monterado mirip dengan Loa Kulu di Kalimantan Timur yang pernah ramai karena batubaranya, namun kalah ramai dengan kota pelabuhan di dekatnya, yakni Samarinda.

Singkawang punya sungai, laut dan bukit, sehingga ia potensial menjadi kota pesisir yang ramai meski tak seramai Pontianak. Pelan-pelan, daerah yang sekarang menjadi Singkawang itu pun tak hanya tempat singgah saja, tapi jadi tempat tinggal bagi orang-orang Tionghoa yang tidak lagi jadi penambang.

Nama Singkawang sendiri berasal kata San Kew Jong, yang dalam bahasa Hakka berarti: gunung, muara, dan laut. Nama Singkawang mulai dicatat oleh orang Eropa setidaknya sejak 1834, seperti ditulis George Windwor Earl dalam The Eastern Seas. Dia menyebut Singkawang: Sinkawan.

Setelah emas di Monterado tak lagi berjaya, Singkawang lebih berkembang sebagai pemukiman. Monterado hanya menjadi sebuah distrik, sementara pelan-pelan Singkawang yang semula kecamatan dari Kabupaten Singkawang, akhirnya jadi jadi kota administratif pada 1981.

Di kota seribu kelenteng ini, mitos bahwa orang Tionghoa adalah penguasa perekonomian seperti orang Yahudi di Eropa dan Amerika, sungguh tak terbukti. Jika ada yang berpikiran orang Tionghoa jauh dari kemiskinan, datanglah ke Singkawang. Kemiskinan ada di setiap suku, baik Dayak, Melayu, juga Tionghoa.

“Banyak orang Tionghoa ini tinggal di Singkawang, tempat yang tidak kita sangka dapat melihat orang Tionghoa mencari nafkah sebagai tukang sapu jalanan, pengumpul sampah, dan pekerjaan (yang dianggap) rendah lainnya,” tulis Aimee Dawis dalam Orang Indonesia Tionghoa Mencari Identitas (2010). Persoalan kemiskinan ini pulalah yang membuat Singkawang tak jarang dikaitkan dengan dunia prostitusi.

Baca juga artikel terkait SINGKAWANG atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight