STOP PRESS! 2 Terluka Akibat Kabar Hoax Menara Masjid Raya Bandung Roboh

Kurangi Konsumsi Gula Sekarang Juga

Kurangi Konsumsi Gula Sekarang Juga
Ilustrasi gula. Getty Images/iStockphoto
tirto.id - Di usianya yang ke-69 tahun, Carolyn Hartz masih terlihat sangat bugar. Memiliki tubuh bugar di usia senja adalah dambaan banyak orang. Untuk mendapatkannya, tidak sedikit yang menjalani diet keras, olahraga rutin, hingga menghindari makanan tertentu. Begitu pula yang dilakukan Carolyn Hartz. Sejak 28 tahun yang lalu ia fokus menghindari mengkonsumsi gula.

Carolyn menyatakan telah berhenti mengonsumsi gula karena ia didiagnosa mengalami pra-diabetes sehingga harus mengurangi gula.

"Saat awal aku cukup kesulitan karena aku sangat suka gula. Akan tetapi aku tahu ini bisa membuatku menjaga kesehatan dan tubuh agar bisa tetap sehat," ungkap Carolyn Hartz seperti dikutip dari Metro

Selain itu, untuk mendapatkan tubuh yang bugar dan sehat, Carolyn juga menyatakan ia sangat peduli dengan apa pun yang dikonsumsinya setiap hari.

"Kalian harus mengawasi apa saja makanan yang akan kalian masukkan ke dalam mulut. Selain itu kalian juga harus menggerakkan badan. Saat ini aku juga mengonsumsi xylitol yaitu pengganti gula alami yang dibuat dari buah beri dan sayuran," tambahnya.

Takaran Konsumsi Gula yang Tepat

WHO merekomendasikan untuk mengonsumsi gula kurang dari 50 gram per hari. Namun banyak yang belum bisa mengatur pola makan, termasuk konsumsi gula per harinya.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan Journal of the Indonesian Nutrition Association menunjukkan bahwa 29,7 persen penduduk Indonesia, atau setara dengan 77 juta jiwa, sudah mengonsumsi gula melebihi rekomendasi WHO. Sementara rata-rata orang Amerika mengkonsumsi sekitar 32 sendok teh, atau setara dengan 126 gram gula per hari.

Yang lebih berbahaya,  masyarakat mengonsumsi gula berupa sirup jagung fruktosa atau sirip fruktosa tinggi atau high-fructose corn syrup (HFCS). Ini adalah gula yang diproses lebih murah namun 20 persen lebih manis dari gula meja biasa. Karena lebih murah biaya produksinya banyak produsen makanan dan minuman memutuskan menggunakannya sebagai bahan produk mereka. HFCS ditemukan dalam hampir semua jenis makanan olahan dan minuman hari ini.

Gula sebenarnya adalah hepatotoksin dan dimetabolisme langsung menjadi lemak. Faktor inilah yang menjadi salah satu pemicu obesitas dan berbagai masalah lain yang berdampak pada kesehatan.

Konsumsi gula berlebih dapat mengakibatkan insulin menjadi resisten yaitu tidak mampu menjalankan tugasnya dalam metabolisme gula menjadi energi, sehingga terjadi peningkatan kadar gula darah (hiperglikemia) yang berisiko memicu kegemukan (obesitas) dan diabetes mellitus. Diabetes yang tidak terkontrol akan berisiko mengganggu organ tubuh lainnya, seperti jantung, ginjal dan lain-lain.

Diabetes melitus menjadi penyakit yang cukup tinggi kemunculannya di berbagai negara dan merupakan salah satu penyakit yang menjadi masalah kesehatan masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya jumlah kasus diabetes melitus di Indonesia yang mencapai 8,4 juta orang penderita. Jumlah itu membuat Indonesia berada di urutan keempat, setelah India, China dan Amerika, sebagai negara dengan jumlah penderita diabetes melitus terbanyak. Jika tidak ada perubahan, jumlah penderita diabetes melitus di Indonesia diperkirakan akan terus meningkat sampai 21,3 juta orang pada 2030 nanti. 

Studi lainnya juga menemukan bahwa fruktosa mudah digunakan oleh sel kanker untuk meningkatkan proliferasi (pembelahan sel yang merupakan bagian dari pertumbuhan sebuah sel) mereka. Fruktosa "memberi makan" sel kanker, mempromosikan pembelahan sel dan mempercepat pertumbuhan sel kanker tersebut, yang memungkinkan kanker menyebar dengan lebih cepat.

Membatasi Konsumsi Gula

Tradisi minum teh di Tiongkok mengajarkan untuk tidak menambahkan gula ke dalam seduhan. Hal ini ditekankan agar masyarakat dapat mengapresiasi cita rasa asli dari masing-masing teh yang mereka minum.

Hal ini berlaku juga pada kopi. Beberapa warung kopi di Indonesia bahkan sudah mempraktikkannya. Mereka menolak memberikan tambahan gula kepada pelanggan yang memesan kopi. Hal ini dikarenakan gula dapat mengganggu cita rasa utama pada ragam kopi yang mereka minum.

Hal tersebut sebenarnya dapat diadaptasi dalam perilaku sehari-hari yaitu dengan seminimal mungkin menggunakan gula tambahan dalam makanan atau minuman. Karena, sebenarnya, dalam makanan dan minuman tersebut sudah terkandung gula alami. Misalnya fruktosa yang banyak terkandung dalam buah-buahan. Jadi tidak perlu sebenarnya menambahkan gula pada jus atau smoothies buah.

Kurangi Konsumsi Gula Sekarang Juga

Selain itu, disarankan juga untuk banyak minum air putih dan menghindari banyak konsumsi minuman bersoda dan minuman dengan pemanis buatan. Perlu diingat bahwa pemanis buatan seperti aspartame dan sakarin mempunyai kadar gula yang jauh lebih tinggi dibanding gula alami. Hal ini tentu tidak direkomendasikan untuk tubuh. 

Selain itu, untuk mengatur kadar gula tubuh, disarankan juga untuk mengonsumsi produk fermentasi. Bakteri yang menguntungkan dalam makanan sehat ini dapat mendukung pencernaan dan memberikan detoksifikasi yang membantu mengurangi beban fruktosa pada hati. Beberapa pilihan produk fermentasi terbaik adalah kombucha, kimchi, yogurt, dan kefir yang dibuat dari susu yang diberi makan rumput, dan sayuran yang difermentasi.

Gula, dalam bentuk aslinya, sebenarnya tidak melulu buruk, asalkan dikonsumsi dalam jumlah cukup. Sebagai rekomendasi umum, Dr. Mercola menyarankan agar tetap mempertahankan konsumsi fruktosa total sebesar 25 gram per hari, termasuk dari buah. Meskipun buah kaya nutrisi dan antioksidan, buah-buahan juga mengandung fruktosa secara alami.

Baca juga artikel terkait GAYA HIDUP SEHAT atau tulisan menarik lainnya Yulaika Ramadhani
(tirto.id - ylk/zen)

Keyword