Menuju konten utama

Kudeta Putus Asa Militer Turki

Militer Turki adalah salah satu angkatan perang terkuat di Eropa dan Timur Tengah. Jumlahnya terbanyak kedua setelah personel NATO di bawah Amerika Serikat. Anggaran militernya terbanyak ke-15 di dunia. Turki menghabiskan $160 miliar dolar dalam 10 tahun terakhir untuk memodernisasi alutsista. Torehan lainnya, militer Turki berpengalaman melakukan kudeta, sempat menjatuhkan empat pemerintah yang sah. Namun, kenapa mereka gagal menjatuhkan Recep Tayyip Erdogan?

Kudeta Putus Asa Militer Turki
Warga menyerbu kendaraan militer saat terjadi percobaan kudeta di Ankara, Turki. [Antara Foto/Reuters/Tumay Berkin]

tirto.id - "Ini adalah upaya kudeta bukan oleh militer tetapi oleh faksi di militer. Dan faksi ini jelas salah perhitungan. Mereka berpikir sisa militer yang tak melakukan kudeta akan bergabung dengan mereka setelah kudeta ini dimulai, dan perhitungan ini telah gagal," ucap Henri Barkey, direktur Program Timur Tengah di Woodrow Wilson International Center for Scholars kepada Radio NPR.

Secara tradisional, militer Turki telah menetapkan batas-batas kehidupan politik di Turki. Mereka punya tanggung jawab menjaga sekularisme tetap abadi – sesuai cita-cita sang pendiri Republik, Mustafa Kemal Atatturk.

Sudah jadi tugas militer untuk mengekang kelompok-kelompok politik yang terlalu liar dan jauh dari sekularisme. Pada 1996, untuk kali pertama gerakan politik Islam pimpinan Necmettin Erbakan menang dalam pemilu. Erbakan diangkat jadi Perdana Menteri. Tidak senang dengan kekuasaan kelompok Islam di pemerintahan, setahun kemudian militer ambil sikap dan mengkudeta Erbakan.

Usai kudeta itu, iklim politik di Turki jadi tak pasti. Ujungnya ekonomi melemah. Muncul Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang dipimpin Recep Tayyip Erdogan, dan menang dalam pemilu 2002. Erdogan naik jabatan sebagai Perdana Menteri setahun berikutnya. AKP dikenal sebagai partai berhaluan kanan, banyak terpengaruh dari gerakan Ikhwanul Muslimin.

Erdogan adalah sosok yang cerdik dan pragmatis. Meski sering mengeluarkan kebijakan-kebijakan pro-syariah, dengan tegas Erdogan dan AKP selalu menjanjikan tidak akan pernah menanggalkan sekularisme di Turki sedikitpun.

Hampir 14 tahun lamanya, terhitung 2002 hingga sekarang Erdogan berkuasa, tetapi kenapa militer Turki seolah diam saja? Ketika melakukan aksi kudeta, rencana itu gagal total dan malah membuat otoritarianisme Erdogan semakin absolut.

Ancaman Kudeta yang Membuat Erdogan Kuat

Pada tahun 2007, mencuat nama jaringan bawah tanah bernama Ergenekon. Kelompok ultra-nasionalis ini dikenal sebagai anti-pemerintah dan berusaha melakukan kudeta dengan terlebih dahulu menciptakan kekacauan dalam negeri.

Kelompok ini ternyata melibatkan jaringan besar di antaranya politisi, akademisi, pegawai pemerintahan, walikota hingga polisi dan tentara. Pada tahun yang sama, Majalah Politik, Nokta memunculkan isi dari buku harian yang konon milik bekas Laksamana AL Turki, Ozden Ormek. Isi buku itu memaparkan rencana kudeta tahun 2004 dengan tiga sandi operasi Sarıkız, Ayisigi dan Eldiven.

Tak tanggung, seluruh pimpinan angkatan yang kala itu menjabat disebut-sebut terlibat; Laksamana Angkatan Laut Ozden Ormek, Marsekal Angkatan Udara Ibrahim Firtina, Jenderal Gendarmerie Sener Euruygur, Jenderal Angkatan Darat Cetin Dogan.

Namun Diary ini tak bisa dijadikan bukti di mata hukum. Rencana kasus kudeta 2004 pun menguap. Mesti begitu, penyidikan jaringan Ergenekon tetap dilakukan hingga Juli 2009, Total 275 orang didakwa di pengadilan.

Pada November 2009, Rencana aksi Operasi Cage terbongkar, dokumen didapat oleh Harian Taraf. Rencana operasi kudeta ini dilakukan oleh unsur Ergenakon di tubuh AL Turki. Aksi ini adalaj reaksi dari penangkapan pejabat-pejabat AL oleh Erdogan. Dalam rencananya, mereka hendak meneror dan membunuhi kelompok minoritas ortodoks timur, Armenia, Kurdi dan Yahudi. Diharapkan nantinya semua tudingan pelaku diarahkan kepada pemerintah Erdogan dan membuat rusuh negara. Rencana ini mirip seperti provokasi saat kudeta tahun 1955 silam.

Masih hangat kasus Operasi Cage, selang tiga bulan kemudian, tepatnya 20 Januari 2010, Wartawan Harian Taraf, Mehmen Baransu mendapatkan dokumen detail terkait rencana aksi kudeta yang direncanakan terjadi pada tahun 2003 --setahun pasca AKP memenangkan pemilu mereka.

Dokumen itu merencanakan serangan bom terhadap dua Masjid di Istanbul dan menuduh Yunani menembak pesawat Turki di Laut Aegea. Dua isu ini cukup membangkitkan kekacauan dan memberi jalan militer masuk untuk mengkudeta pemerintahan AKP. Kode operasi ini adalah Sledgehammer (Palu Godam). Laporan ini lalu kemudian diteruskan oleh Harian Taraf ke jaksa untuk diselidiki.

Dokumen ini seolah membenarkan diary yang dipapar majalah Nokta. Alhasil puluhan perwira dan jenderal pun diseret ke pengadilan termasuk nama-nama Jenderal yang disebut di atas plus Kepala Pasukan Khusus AD Turki, Engin Alan dan Sekretaris Jenderal Dewan Keamanan Nasional, Sukru Sariisik.

Lebih dari 40 jenderal ditahan. Jumlah ini merupakan sepersepuluh dari keseluruhan jumlah pimpinan militer Turki. Aksi ini membuat Panglima Angkatan Bersenjata, Jenderal Isik Kosaner, Kepala Staf Angkatan Darat, Laut serta Udara dan puluhan perwira tinggi mengundurkan diri.

“Hal ini telah menjadi mustahil bagi saya untuk melanjutkan di lembaga tinggi ini, karena saya tidak memenuhi tanggung jawab saya untuk melindungi hak-hak personil saya sebagai kepala staf umum,” tutur Kosaner seperti dilaporkan surat kabar Hurriyet.

Penangkapan demi penangkapan terus dilakukan. Pada awal 2012, Panglima Bersenjata Turki periode 2008-2010 yang juga sempat jadi tangan kanan Erdogan, Ilker Basbug ditangkap atas tuduhan makar di dunia maya dan terlibat organisasi Ergenekon. Ini adalah yang pertama dalam sejarah Republik Turki, bahwa seorang mantan panglima militer ditangkap dan dijadikan tersangka.

Sepanjang kampanye pelemahan kekuatan tentara yang dilakukan sejak 2008, setidaknya 300 orang didakwa dengan hukuman berat. Banyak pihak merasa ini adalah intrik politik semata. Bukti-bukti janggal pun terkuak. Untuk melihat kejanggalan itu anda bisa membaca pemaparan Dani Rodick.

Siapa Manfaatkan Siapa?

Benar saja. Pada bulan Juni 2014, Mahkamah Konstitusi Turki membatalkan mayoritas putusan yang dikeluarkan Mahkamah Agung. MK Turki secara bulat menolak vonis dengan alasan bahwa hak-hak para terdakwa telah dilanggar, terutama dari pengumpulan data digital dan penyadapan. Sebanyak 236 terdakwa dinyatakan bebas.

Erdogan tahu bahwa di kepolisian, peradilan dan media telah disusupi simpatisan Fethullah Gullen. Selama satu dekade awal kepemimpinan AKP, Gulen menjalin hubungan akrab dengan Erdogan. Namun, hubungan itu retak sejak awal 2010-an akibat dominasi Erdogan yang dinilai berlebihan. Gulen yang dulu dianggap kawan, kini menjadi lawan.

Tahu seluk beluk AKP dan Erdogan, membuat pendukung Gulen yang akrab disapa Gulenist melawan, salah satunya dengan aksi para jaksa dan hukum yang mengungkit-ungkit kasus korupsi kerabat dekat Erdogan. Hasilnya sudah ditebak, penguasa lah yang menang. Akibat ini Erdogan melakukan perombakan habis-habisan pada di badan peradilan.

Pembebasan musuh-musuh politik Erdogan di kalangan militer pun tak lepas dari campur tangan Gulen. Hal ini tentu jadi ironi, mengingat simpatisan-simpatisan Gulen lah yang menjebloskan jenderal-jenderal militer ke penjara. Tanpa investigasi media-media yang dekat dengan Gulen, rencana kudeta itu tak akan pernah terbongkar dan ramai dibicarakan orang.

Setelah hubungan antara Erdogan dan retak, mulai saat itulah kelompok sekuler ekstrim macam Ergenekon bersatu padu dengan kelompok Islam moderat pimpinan Gulen untuk menjatuhkan Erdogan.

Dalam konteks kudeta yang baru-baru ini terjadi, bagi Erdogan sendiri, ketimbang menuduh kelompok sekuler sebagai biang kerok kudeta –yang pada ujungnya bisa memancing emosi kelompok Kemalist dan militer Turki yang kini masih mendominasi– tuduhan itu akan lebih aman diarahkan pada kelompok Gulenist.

Erdogan dengan cepat menyalahkan mantan sekutunya itu. Gullen adalah salah satu pendiri dari AKP. Mereka berdua sempat dimusuhi oleh militer dan Kemalist. Namun dalam politik, tak ada jejaring perkawanan dan pemusuhan yang abadi.

Dani Rodick seorang Profesor Politik Internasional dari Universitas Harvard menuturkan bahwa Gulen memiliki cukup banyak simpatisan di militer. Militer bahkan mungkin merupakan benteng terakhir kekuatan Gulen di Turki, setelah agen-agen yang ditanam di kepolisian, pengadilan, media dan pemerintahan telah dibersihkan.

Media-media Turki menuturkan, aksi kudeta yang dilakukan kelompok Gulen didasari rasa panik. Menurut laporan, yang muncul di surat kabar Cumhuriyet menjelaskan sekitar 300 perwira militer telah mendengar bahwa pemerintah Turki hendak mengeluarkan surat perintah penangkapan bagi tentara yang mendukung Gulen. Media lain menuturkan tanggal 1 Agustus nanti, Erdogan berencana merombak struktur militer di Dewan Agung Militer.

Lalu rencana cepat disusun agar menangkap Erdogan, sebelum Erdogan menangkap mereka. Jika benar pelaku adalah kelompok Gulenist, ini adalah aksi kudeta yang dilandasi rasa putus asa.

Faksi Gulenist di militer Turki mungkin berharap setelah kudeta di lakukan, maka semua unsur militer – khususnya kelompok sekuler, akan ada di belakang mereka. Nyatanya tidaklah demikian.

Rencana yang tak matang mungkin jadi sebabnya. Peraturan Nomor 1 agar sukses dalam kudeta adalah keharusan untuk menangkap atau membunuh kepala pemerintahan sebelum dia melakukan apapun. CNN Turk melaporkan, sekitar 25 tentara diterjunkan dari helikopter ketika mencoba untuk menangkap Presiden Erdogan di sebuah hotel di Marmaris, saat dia berlibur. Tapi hasilnya gagal.

Erdogan malah dibiarkan bebas memanggil para pengikutnya via FaceTime dan ditayangkan secara langsung di televisi. Sebuah ide cerdas muncul saat Erdogan menggelar konferensi pers di Bandara Istanbul dan dia berbicara di bawah foto Mustafa Kemal Attaturk, bapak sekuler Turki. Brilian! Dalam kondisi genting dia ingin memberikan pesan bahwa dia seorang sekuler tulen.

Alhasil rakyat pun bejibun membanjiri jalanan memberikan dukungan pada dirinya. Banyak orang berpendapat bahwa kondisi ini bukan berarti Erdogan dicintai masyarakat Turki, tetapi karena publik enggan kudeta terjadi kembali di sana.

Anggapan ini bisa benar, bisa salah, karena kita tak tau persentase pemuja atau pembenci Erdogan yang turun ke jalan. Namun Foreign Policy mewartakan bahwa mayoritas slogan-slogan yang diteriakkan demostran lebih bernuansa islami ketimbang patriotik. Dari sana kita bisa menebak dari kelompok mana aksi itu dimulai.

Keputusan Erdogan yang meminta pendukungnya turun ke jalan adalah hal yang tepat. Jalanan adalah panggung tepat untuk menunjukan people power --Wajar jika meski kudeta sudah berakhir, dia meminta aksi unjuk rasa tetap dilakukan di jalan.

Dalam waktu cepat aksi dukungan pendukung Erdogan merembet jadi dukungan partai oposisi dan negara-negara barat. Hal inilah yang membuat nyali para jenderal-jenderal militer di luar faksi Gulenist menciut. Ujungnya mereka berpihak kepada Erdogan untuk cari aman.

Akan jadi cerita yang berbeda jika Erdogan terlebih dulu ditangkap dan dijauhkan dari pendukungnya. Kudeta ini akan berlangsung sukses, dan jenderal-jenderal yang ditanam Erdogan pun tak akan malu untuk mengkhianati bosnya.

Tertangkapnya sang ajudan, Kolonel Ali Yazici yang jadi bagian dalam kudeta menandakan bahwa upaya pembersihan militer tak ampuh 100 persen. Kegagalan kudeta ini membuat Erdogan memiliki amunisi lebih melakukan perburuan terhadap musuh-musuhnya. Pasca kudeta gagal, kurang lebih 8000 polisi dan 2700 jaksa serta hakim telah dipecat, 6000 tentara dipenjarakan. Namun, alih-alih semakin berkuasa, bisa saja kasus ini membuat musuh Erdogan semakin bersatu mempersiapkan kudeta kedua yang bisa terjadi kapan saja.

Baca juga artikel terkait TURKI atau tulisan lainnya dari Aqwam Fiazmi Hanifan

tirto.id - Indepth
Reporter: Aqwam Fiazmi Hanifan
Penulis: Aqwam Fiazmi Hanifan
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti