Kritik Pemerintah dengan Teatrikal, GSBI: Kondisi Buruh Kesusahan

Oleh: Riyan Setiawan - 1 Mei 2019
Dibaca Normal 1 menit
Aksi teatrikal di Hari Buruh itu merupakan bentuk ekspresi para buruh dan mahasiswa untuk mengkritik kehidupan pekerja yang mengalami kesusahan.
tirto.id - Gabungan Serikat Buruh Indonesia (GSBI) melakukan teatrikal di tengah-tengah aksi Hari Buruh sedunia atau May Day 2019. Aksi tersebut digelar di depan jalanan yang diblokade dengan kawat besi oleh pemerintah dan aparat yang berada di bawah Jembatan Penyebrangan Orang (JPO), Patung Kuda, Monas.

Ketua Umum GSBI, Rudi Hb Daman menjelaskan, aksi teatrikal itu merupakan bentuk ekspresi para buruh dan mahasiswa untuk mengkritik kehidupan pekerja, rakyat, dan sektor lainnya yang mengalami kesusahan.

"Masyarakat Indonesia terus diekspor jadi buruh migran, karena apa? Karena memang kebijakan Indonesia yang tadi saya bilang, lebih pada berpihak kepentingan kapitalis, dimonopoli untuk berinvestasi di Indonesia," ujar Rudi di Patung Kuda, Monas, Jakarta Pusat, Rabu (1/5/2019).

"Kapitalis diberikan segala kemudahan, tapi mengabaikan tentang hak-hak dasar rakyat dan buruh," tambahnya.

Menurut dia, ketidakadilan ini tidak hanya terjadi pada buruh, tetapi merupakan cerminan di berbagai sektor. Termasuk kepada pemuda dan juga mahasiswa yang terjadi pada saat ini.


Melalui sarana teatrikal itu, Rudi mengatakan, pemuda dan mahasiswa menyampaikan keresahan dan tuntutan-tuntutannya kepada pemerintahan Presiden dan Wakil Presiden Jokowi-Jusuf Kalla (JK).

"Sekarang adalah persatuan dan perlawanan rakyat lah yang akan memberikan jaminan bagi kesejahteraan, bagi terpenuhnya hak-hak demokrasi rakyat, bukan pemerintah yang berkuasa, entah siapa pun itu," pungkasnya.

Berdasarkan pantauan Tirto, terdapat lima orang yang melakukan teatrikal dengan mengenakan kaus warna putih dan celana hitam.

Di tengah aksi teatrikal itu, terdapat juga pembacaan puisi yang dilakukan oleh seorang aktivis buruh perempuan di atas mobil komando.



Baca juga artikel terkait HARI BURUH atau tulisan menarik lainnya Riyan Setiawan
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Riyan Setiawan
Penulis: Riyan Setiawan
Editor: Alexander Haryanto
DarkLight