tirto.id - Pada Sabtu (28/2) malam, rudal balistik Iran menghantam blok perumahan di Tel Aviv, ibu kota Israel. Serangan itu menewaskan seorang wanita berusia 40-an yang bekerja sebagai pengasuh dan melukai 27 orang lainnya, termasuk tujuh anak-anak.
Kiriman rudal ini terjadi setelah Israel dan militer AS melancarkan serangan gabungan besar-besaran ke Iran yang menargetkan fasilitas militer, peluncur rudal, dan sistem pertahanan udara.
Iran membalas serangan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei beserta puluhan pejabat militer tinggi itu dengan meluncurkan rudal balistik ke Tel Aviv dan beberapa pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Selama 12 jam pertama konflik, AS melaporkan hampir 900 serangan, sedangkan Iran membalas dengan sekitar 300 rudal yang tidak hanya diarahkan ke Israel namun juga menyasar Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, Kuwait, dan Arab Saudi.
Benarkah Tel Aviv Hancur karena Serangan Iran?
Setelah serangan rudal Iran, keadaan Tel Aviv bisa digambarkan sangat kacau dan menegangkan. Rudal menghantam blok perumahan di kota itu, menewaskan seorang wanita pengasuh dan melukai 27 orang lainnya, termasuk tujuh anak-anak.

Ledakan juga merusak gedung dan mobil di sekitarnya, menciptakan reruntuhan besar dan kebakaran lokal, sehingga tim pemadam dan paramedis harus bekerja keras mengevakuasi korban, termasuk bayi berusia dua bulan dan keluarganya.
Tim penyelamat terus mencari korban selamat di bawah reruntuhan. Seorang paramedis mencoba menggambarkan apa yang mereka lihat di tempat kejadian.
"Ketika saya tiba, saya melihat pemandangan yang mengerikan. Saya melihat kerusakan struktural yang parah, asap di udara, dan kekacauan besar, dengan puluhan korban yang ketakutan keluar dari bangunan yang rusak," kata Yehuda Shlomo, seorang paramedis MDA dikutip Al Jazeera.
Selain itu, sirene serangan udara berbunyi secara intermitten sepanjang hari, warga diminta tetap berada dekat tempat perlindungan, dan banyak aktivitas, termasuk sekolah, pekerjaan, dan kegiatan publik, dihentikan kecuali yang bersifat esensial.
Gedung-gedung tua yang tidak memiliki ruang aman sendiri menjadi sangat rentan, dan sebagian besar warga sempat dievakuasi ke shelter publik terdekat.
Serangan ini menandai kebangkitan konflik Israel-Iran setelah perang 12 hari pada Juni 2025. Dalam eskalasi terbaru ini, Iran juga menyerang kota Beit Shemesh, menewaskan setidaknya sembilan orang dan melukai 28 lainnya.
Di pihak Iran, Menteri Luar Negeri Seyed Abbas Araghchi mengecam serangan AS-Israel sebagai tindakan ilegal dan menyatakan bahwa rakyat Iran akan menuntut pertanggungjawaban atas kematian anak-anak dan warga sipil.
Salah satu gedung yang hancur bahkan adalah sekolah dasar perempuan di Iran selatan, di mana puluhan anak tewas saat sekolah sedang penuh murid.
Pernyataan Araghchi ini menegaskan bahwa mereka membedakan antara rakyat Amerika dan pemerintahnya, dan berjanji akan membalas serangan yang menewaskan anak-anak mereka.
“Perang Netanyahu dan Trump terhadap Iran sama sekali tidak beralasan, ilegal, dan tidak sah. Trump telah mengubah 'Amerika Pertama' menjadi 'Israel Pertama'—yang selalu berarti 'Amerika Terakhir'. Angkatan Bersenjata kita yang Perkasa siap menghadapi hari ini dan akan memberi pelajaran yang pantas diterima para agresor,” tulis Araghchi di akun X @araghchi.
“Kami tidak memahami alasan serangan AS terhadap Iran. Mungkin pemerintahan AS terseret ke dalamnya. Yang saya ketahui adalah: Iran akan menghukum mereka yang membunuh anak-anak kami. Permusuhan kami bukanlah dengan rakyat Amerika, yang sekali lagi dibohongi,” cuitnya lagi.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id






























