Menuju konten utama

Kondisi Global Tak Menentu, BI Diprediksi Tahan Suku Bunga

Kondisi global yang masih penuh ketidakpastian dan data inflasi AS yang masih tinggi mendorong BI untuk mempertahankan suku bunga.

Kondisi Global Tak Menentu, BI Diprediksi Tahan Suku Bunga
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI dihadapan wartawan di gedung BI, Jakarta, Kamis (18/7/2019). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/hp.

tirto.id - Bank Indonesia (BI) akan mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dilakukan pada 16 hingga 17 Januari 2024. Salah satu yang akan disampaikan terkait kebijakan suku bunga acuan yang saat ini masih di level 6 persen.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memprediksi, BI akan mempertahankan suku bunga BI Rate di level 6 persen. Hal ini mempertimbangkan perkembangan terakhir baik dari sisi global maupun domestik.

“Data inflasi global terkini di negara-negara maju, terutama AS, masih menunjukkan tekanan inflasi yang masih berlanjut sehingga menimbulkan ketidakpastian mengenai arah suku bunga kebijakan global ke depan,” kata Josua kepada Tirto, Rabu (17/1/2024).

“BI akan mempertahankan suku bunga BI rate di level 6 persen pada RDG bulan Januari 2024 ini,” tambah dia.

Menurut Josua, perkembangan kondisi ekonomi global mengindikasikan bahwa ketidakpastian masih tinggi. Melihat tingkat inflasi di Amerika Serikat (AS) pada Desember 2023 tercatat sebesar 3,4 perrsen yoy, meningkat dari 3,1 persen yoy pada November 2023.

Kemudian, penurunan harga energi global tertahan akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, terutama terkait gangguan di Laut Merah.

“Kami mengantisipasi bahwa inflasi AS belum akan turun dengan cepat menuju target 2 persen, sehingga kami masih melihat kemungkinan The Fed memangkas suku bunga acuan pada paruh kedua tahun 2024,” ucap dia.

Selain itu, di dalam negeri, perkembangan ekonomi Indonesia terus menunjukkan ketahanan.

Inflasi bulan Desember 2023 tercatat rendah di level 2,61 persen yoy, menurun dari 2,86 persen yoy di bulan sebelumnya. Penurunan ini sejalan dengan normalisasi harga energi dan harga input produksi, yang mendukung terjaganya tingkat inflasi harga yang diatur pemerintah dan inflasi inti.

“Dampak El Nino terhadap peningkatan inflasi harga bergejolak tetap terkendali secara efektif. Secara keseluruhan, tingkat inflasi berhasil dikelola dalam kisaran target 2 hingga 4 persen,” ucap Josua.

Senada dengan Josua, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, suku bunga BI Rate akan dipertahankan di level 6 persen. Menurut dia, belum ada faktor yang membuat BI harus menurunkan suku bunga saat ini.

“Ketidakpastian geopolitik yang tinggi di timur tengah, risiko selat Taiwan yang meningkat hingga Fed yang belum putuskan penurunan bunga acuan dalam waktu dekat,” kata Bhima kepada Tirto, Rabu.

Bhima menuturkan, proyeksi Fed Rate akan dipangkas baru akan terjadi pada Kuartal-II 2024. “BI mau tidak mau harus jaga spread yang lebar antara Fed Rate dan suku bunga acuan BI. Kalau BI terburu buru turunkan bunga acuan khawatir capital outflow terutama di pasar surat utang akan goyang rupiah,” ucap dia.

Sebagai informasi, Bank Indonesia (BI) telah memutuskan mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di level 6 persen. Selain itu, bank sentral juga menahan suku bunga deposit facility tetap sebesar 5,25 persen persen dan suku bunga lending facility di 6,75 persen.

“Rapat Dewan Gubernur [RGG] Bank Indonesia pada tanggal 20 dan 21 Desember 2023 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan sebesar 6 persen,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers Pengumuman Hasil RDG Desember 2023, Jakarta, Jumat (21/12/2023).

Baca juga artikel terkait FLASH NEWS atau tulisan lainnya dari Faesal Mubarok

tirto.id - Flash news
Reporter: Faesal Mubarok
Penulis: Faesal Mubarok
Editor: Dwi Ayuningtyas