28 Juli 1858

Kisah William James Herschel Menemukan Identifikasi Sidik Jari

Kontributor: Muhammad Fakhriansyah - 28 Jul 2022 00:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Identifikasi sidik jari mulai digunakan di India pada 1858 untuk menekan kasus pemalsuan data.
tirto.id - Memasuki tahun 1857 perselisihan antara rakyat India dengan administrator East India Company (EIC) kian memanas. Perluasan kekuasaan yang disertai tindakan sewenang-wenang membuat kerajaan-kerajaan lokal tidak menyukai keberadaan kongsi dagang asal Inggris itu. Apalagi setelah pimpinan EIC menyuruh para tentara melumasi peluru menggunakan minyak yang dicampur lemak babi dan sapi.

Selain untuk melukai dan membunuh, peluru-peluru itu juga untuk melecehkan keyakinan orang-orang Muslim dan Hindu. Maka meletuslah konflik yang diprakarsai para Sepoy (tentara India)—yang selanjutnya dikenal sebagai Pemberontakan Sepoy.

Setelah setahun lebih berkonflik, pemberontakan perlahan mulai berhasil diredam. Namun ada hal yang harus dibayar mahal: EIC yang berkuasa di India sejak tahun 1600 akhirnya dibubarkan. India selanjutnya diperintah langsung oleh Kerajaan Inggris. Pengambilalihan kekuasaan ini dipandang sebagai momentum penegakan hukum dan ketertiban di India. Pemerintahan baru meminta seluruh administrator kolonial di India untuk menegaskan kembali keberadaannya dan meningkatkan supremasi hukum.

Perintah ini sampai di meja kerja William James Herschel pada pertengahan 1858. ia adalah pegawai EIC selama lima tahun sebelum akhirnya menjabat Kepala Administrator Distrik Hooghly di Bengal, India. Sebagai pejabat daerah, ia harus memikirkan cara baru untuk merealisasikan titah Ratu Victoria. Apalagi ia juga mengamini bahwa pemberontakan Sepoy berdampak buruk terhadap kekuasaan Inggris di India. Baginya, mengutip Simon A. Cole dalam Suspect Identities: A History of Fingerprinting and Criminal Identification (2002), konflik tidak hanya melahirkan kekerasan, tapi juga menimbulkan penipuan dan pemalsuan data.

Saat itu, pemerintah dan pengadilan tidak dapat membedakan mana data atau dokumen yang asli, dan mana yang palsu. Kasus yang sering terjadi di daerahnya adalah pemalsuan data uang pensiun. Pemalsuan data ini menjamur karena pejabat Inggris yang bertanggung jawab atas pencairan dana pensiun tidak dapat membedakan orang India satu persatu. Mereka memiliki identitas fisik yang hampir sama: warna kulit, rambut, bentuk tubuh, sampai aksen suara. Maka, dibutuhkan identifikasi mutlak untuk membedakannya.


Melawan Pemalsuan Data

Di Jungipoor pada 28 Juli 1858, Helschel kedatangan pengusaha lokal bernama Rajadhar Konai yang mengajukan tender pembuatan jalan yang sedang dimandori Helschel. Seperti biasanya, jika ada pengusaha datang maka akan diberi lembaran kertas yang harus ditandatangani. Namun, hari itu kecurigaan Helschel meningkat. Ia tidak mau menjadi korban penipuan untuk kesekian kalinya. Ketika Konai hendak membubuhkan tanda tangan, Helschel menyetopnya.

“Aku terpikirkan untuk mencoba eksperimen dengan mengambil cap tangannya. Aku mengusap telapak tangan dan jarinya dengan tinta minyak buatan sendiri yang digunakan untuk segel resmi. Tangannya kemudian aku tekan di bagian belakang kontrak usaha,” tulis Helscher dalam catatan hariannya The Origin of Fingerprint (1916).

Pengetahuan tentang cap tangan atau sidik jari saat itu bukanlah hal baru. Bukti-bukti tentang cap tangan bahkan banyak ditemukan sejak masa prasejarah. Umat manusia sudah mengetahui bahwa setiap individu memiliki keunikan berupa sidik jari yang berbeda satu dengan lainnya. Sudah banyak ilmuwan yang meneliti sidik jari. Namun, semua hanya sebatas teori. Helschel yang pertama kali menggunakan sidik jari dalam praktik, yakni untuk identifikasi data.

Hadirnya ide tersebut adalah jawaban atas permasalahan penipuan selama ini. Maka, sebagaimana ditulis Saumitra Basu dalam A History of Forensic Science in India (2021), Helschel mengubah sistem pemberkasan. Cap jari digunakan untuk menambah legalitas dan keabsahan dokumen. Ia pun meminta Gubernur Bengal untuk menerapkan idenya di seluruh kota agar penipuan tidak lagi terjadi. Namun, permintaan itu tidak dapat segera direalisasikan.

Baru pada 1877, ketika Helschel naik pangkat menjadi hakim di Hooghly, gagasan tersebut dapat diterapkan secara luas. Ia menerapkannya kepada para pensiunan, pengusaha, termasuk narapidana. "Temuannya" ini dimasukkan ke dalam jurnal Nature pada 1880. Pada saat bersamaan, seorang ilmuwan Skotlandia yang bermukim di Jepang, Henry Faulds, juga memublikasikan keberhasilannya di Nature dalam memanfaatkan sidik jari sebagai alat identifikasi individu.

Infografik Mozaik Sidik Jari
Infografik Mozaik Terobosan Pemanfaatan Sidik Jari. tirto.id/Tino

Membantu Kepolisian

Terobosan yang dibuat Helschel dan Faulds sampai ke telinga ilmuwan Inggris, Francis Galton. Ia adalah sepupu Charles Darwin sekaligus ahli matematika, antropologi, meteorologi, dan beragam ilmu lain, termasuk tentang sidik jari—yang kemudian populer disebut daktiloskopi.

Menurut Cyril John Polson dalam “Finger Prints and Finger Printing” (1951), Galton meyakini bahwa sidik jari dapat digunakan untuk mengidentifikasi individu lebih jauh. Bukan hanya persoalan administrasi, tetapi juga dalam ranah kriminologi dan forensik. Harapannya ketika ada kecelakaan atau pembunuhan, maka kepolisian dapat mengoptimalkan sidik jari sebagai bukti tambahan.

Namun sejumlah pertanyaan kemudian muncul: Apakah sidik jari bisa berubah dari waktu ke waktu? Apakah sidik jari dari kecil hingga dewasa sama? Inilah yang dilakukan Galton: membuat dasar ilmiah agar dapat diterima penegak hukum.

Galton kemudian mengambil sampel sidik jari 8.000 individu (anak-anak hingga dewasa) dan menganalisisnya satu per satu. Setiap lengkungan, lingkaran, dan pola diperhatikan secara serius. Proses ini memakan waktu bertahun-tahun.

Baru pada 1892 ia memublikasikan penelitian berjudul “Finger Prints”. Isinya mengungkap bahwa sidik jari seseorang tidak berubah sepanjang hayat kecuali jika terjadi hal-hal eksternal seperti luka berat. Bahkan pada anak kembar sekalipun sidik jarinya berbeda. Galton juga memaparkan cara mengambil sidik jari seseorang. Salah satunya dengan menggunakan tinta atau cetakan lilin.

Hasil penelitian Galton membuka jalan bagi pihak kepolisian. Kasus pertama yang menggunakan sidik jari sebagai barang bukti terjadi pada 1902 di London. Saat itu terjadi perampokan dan pelaku meninggalkan bukti sidik jari di TKP. Atas jejak itu polisi pun dengan mudah menangkap pelaku.

Baca juga artikel terkait SIDIK JARI atau tulisan menarik lainnya Muhammad Fakhriansyah
(tirto.id - Teknologi)

Kontributor: Muhammad Fakhriansyah
Penulis: Muhammad Fakhriansyah
Editor: Irfan Teguh Pribadi

DarkLight