Advertorial

Kisah Guru Restu dan Pesan Mendikbud untuk Guru Penggerak

Ilustrasi Guru. FOTO/iStockphoto
Oleh: Advertorial - 9 Juli 2020
Dibaca Normal 2 menit
Guru Penggerak bisa dan harus berperan lebih dari peran guru saat ini.
Restu Nur Wahyudin, Guru SMP Islam Dian Didaktika, Depok, Jawa Barat, boleh dibilang punya potensi menjadi guru penggerak. Pada tahun ajaran 2018/2019, misal, pengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia itu menggagas The Diary Project untuk murid-muridnya.

“Tiap awal pertemuan, saya minta anak-anak menuliskan satu-dua kalimat berdasarkan pengalaman mereka sehari-hari,” kata Restu saat dihubungi awak Tirto, Kamis (9/7).

The Diary Project memang hanya bertahan satu tahun. Program itu berhenti di tengah jalan karena Pak Guru Restu ditunjuk menjadi penanggungjawab kegiatan drama musikal di sekolah. Meski demikian, program yang mengharuskan anak-anak rutin menulis itu membuahkan hasil membanggakan.

“Beberapa anak lancar menulis, dan sejumlah karya mereka (cerpen dan puisi) dimuat di media cetak seperti Riau Pos dan Kedaulatan Rakyat,” sambung Restu, guru kelahiran Bandung, 29 tahun lalu.

Pada Maret 2019, Restu dan 24 guru lain dari 20 provinsi berkesempatan mengikuti Sekolah Antikorupsi Guru yang diselenggarakan Indonesia Corruption Watch (ICW). Dengan tujuan melatih para guru agar turut serta mencetak generasi antikorupsi melalui pendidikan, di akhir kegiatan, para peserta diminta membuat program antikorupsi di sekolah masing-masing.

“Murid-murid saya menulis fabel budi pekerti dan hasilnya dibukukan. Sejauh ini, sudah terbit dua buku, yakni Dongeng Kakek Kelinci dan Beruang yang Suka Membantu,” sambung Restu.

Lepas dari soal menerbitkan buku, yang menarik dari program buatan guru jangkung itu adalah metodenya yang berkesinambungan. Para murid diajak nonton bareng berita-berita tentang antikorupsi, diminta menggali nilai-nilai budi pekerti (pada saat bersamaan, guru juga memetakan aktivitas sehari-hari yang punya potensi menjadi laku korupsi), menuliskannya dalam bentuk fabel alias cerita binatang, kemudian mementaskannya di depan kelas dalam bentuk Puppet Show.

“Sangat menyenangkan melihat mereka membuat dan memainkan wayang-wayangan dari kardus bekas,” komentar Restu.

Ia kini didapuk menjadi pembimbing The Writer Rangers, klub literasi pelajar SMP Islam Dian Didaktika, Depok. Program The Diary Project yang kandas setahun lalu lantas dihidupkan kembali di ranah digital. “Anak-anak diharuskan membuat blog,” ujar Restu.

Kerja-kerja membiasakan praktek menulis kepada murid SMP bermula dari kebiasaan Restu menulis opini pendidikan di berbagai media, antara lain Pikiran Rakyat, Republika, dan Kompas. Saat ditanya apakah metode yang ia terapkan menginspirasi guru lain, peraih Juara 1 Lomba Literasi Kategori Guru se-Depok ini (Yayasan Pendidikan Al-Haraki, 2018) memberi jawaban meyakinkan.

“Beberapa guru dari sekolah lain, baik di Depok maupun daerah lain, sempat menanyakan dan minta sharing pengalaman tentang bagaimana menjalankan The Diary Project,” pungkas Restu, guru berambut cepak dan berkulit hitam manis itu.

Guru Penggerak, Pendorong Transformasi Pendidikan
Selain Restu, di negeri ini tentu ada banyak guru atau pejabat sekolah yang sama-sama gemar melakukan inovasi, sama-sama memendam harapan terbaik bagi peserta didik. Sebab itu, kehadiran program Guru Penggerak yang diinisiasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sudah semestinya dianggap angin segar—lebih-lebih dalam kapasitasnya sebagai pendorong transformasi pendidikan.



“Guru Penggerak diharapkan dapat mendukung tumbuh kembang murid secara holistik sehingga menjadi Pelajar Pancasila, menjadi pelatih atau mentor bagi guru lainnya untuk pembelajaran yang berpusat pada murid, serta menjadi teladan dan agen transformasi bagi ekosistem pendidikan,” tutur Mendikbud Nadiem Anwar Makarim, saat meluncurkan "Merdeka Belajar Episode 5: Guru Penggerak", Jumat (3/7), melalui zoom webinar yang disiarkan langsung di kanal Youtube Kemendikbud RI.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Iwan Syahril menerangkan, Guru Penggerak adalah program yang mendorong guru-guru yang sudah memiliki kemampuan untuk memahami pembelajaran yang berorientasi pada murid.

“Mereka akan mengikuti sebuah proses pendidikan, pelatihan yang intensif, dan harapannya menjadi pemimpin-pemimpin pendidikan,” kata Iwan, dalam Webinar PPPPTK IPA yang digelar pada Selasa (12/5).

Untuk diketahui, fokus Guru Penggerak antara lain pelatihan yang menekankan kepemimpinan instruksional melalui on-the-job coaching, pendekatan formatif dan berbasis pengembangan, serta kolaboratif dengan pendekatan sekolah menyeluruh.

Ada tiga modul pelatihan yang disediakan bagi Guru Penggerak, yakni: Paradigma dan Visi Guru Penggerak; Praktik Pembelajaran yang Berpihak pada Murid; serta Kepemimpinan Pembelajaran dalam Pembelajaran dalam Pengembangan Sekolah.

Pada modul pertama, peserta diberi materi berupa refleksi filosofi pendidikan Indonesia—misalnya nilai-nilai Ki Hadjar Dewantara, nilai-nilai dan visi Guru Penggerak, serta cara-cara membangun budaya positif di Sekolah. Pada modul kedua, peserta diberi materi berupa pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran sosial dan emosional, dan pelatihan (coaching). Sementara pada modul ketiga, materi yang didapat peserta adalah pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, pemimpin dalam pengelolaan sumber daya, dan pengelolaan program sekolah yang berdampak pada murid.

Iwan Syahril menggarisbawahi, Guru Penggerak harus bisa menginspirasi agar terus belajar dan menggali potensi serta menjadi teladan bagi siswa. “Mari kita kuatkan kolaborasi untuk anak-anak Indonesia menuju kualitas pendidikan yang semakin baik,” katanya.

Melalui visi Merdeka Belajar, Guru Penggerak diharapkan dapat mencetak sebanyak mungkin agen-agen transformasi dalam ekosistem pendidikan yang mampu menghasilkan murid-murid berkompetensi global dan berkarakter Pancasila, mampu mendorong transformasi pendidikan Indonesia, mendorong peningkatan prestasi akademik murid, mengajar dengan kreatif, dan mengembangkan diri secara aktif.

Singkat kata, Guru Penggerak bisa dan harus berperan lebih dari peran guru saat ini.

Terhitung sejak 13 Juli 2020, Kemendikbud membuka pendaftaran bagi calon Guru Penggerak. Peserta yang lolos akan mengikuti lokakarya pada fase pertama dan mendapatkan pendampingan pada fase kedua (timeline kegiatan terlampir di sini). Terkait itu, Mas Menteri Nadiem Nakarim mengajak guru-guru progresif untuk mengikuti kegiatan ini.

“Siapkan diri Anda dan siapkan guru-guru terbaik di sekolah Anda untuk bergabung menjadi Guru Penggerak,” pesannya.

Informasi lebih lengkap dan pendaftaran Guru Penggerak sila kunjungi tautan berikut.
DarkLight