Kiat Menghemat Biaya Melahirkan di Tengah Pandemi

Ilustrasi hamil. FOTO/iStockphoto
Oleh: Aditya Widya Putri - 5 November 2020
Dibaca Normal 4 menit
Pengalaman memiliki anak, apalagi untuk pertama kali, sering membikin orang tua bersikap impulsif: membeli barang-barang yang kurang penting.
Memilih memiliki anak ternyata bukan hanya perkara berhubungan seksual, hamil, lalu melahirkan. Ada hal-hal lain yang lebih esensial dan perlu disiapkan, termasuk materi. Sudahkah Anda menghitung, berapa biaya yang diperlukan dalam sekali siklus hamil dan melahirkan?

Bagi Anda yang belum memiliki gambaran, pilihan mempunyai anak semestinya disertai kesadaran dan tanggung jawab mental dan finansial. Jadi, bukan sekadar bersandar pada anggapan “rezeki sudah ada yang mengatur” atau pemikiran “jalani saja” kehidupan tanpa persiapan apa-apa.

Sebagai wawasan, pengeluaran untuk siklus antenatal (sebelum melahirkan) dan postnatal (setelah melahirkan) bisa sangat menguras tabungan. Apalagi bagi pasangan yang sedang mempersiapkan kelahiran anak pertama. Pada fase ini, calon orang tua sering kali masih bersikap impulsif saat membeli peralatan bayi.

Kasus yang sering kejadian adalah calon orang tua membeli banyak peralatan yang sebenarnya kurang penting, tapi melewatkan alokasi dana untuk hal yang lebih krusial seperti biaya melahirkan. Karena itulah perlu bagi para calon orang tua merencanakan keuangan dan mengetahui kiat-kiat menghemat pengeluaran antenatal dan postnatal.

Sebagaimana dilansir laman WebMDkemudian disesuaikan dengan kebutuhan dan biaya di Indonesia, komponen biaya dalam fase antenatal bisa dikelompokkan menjadi tiga: kunjungan dokter, vitamin kehamilan, dan baju hamil.

Kunjungan dokter, ultrasonography (USG) pada kehamilan sangat penting karena fungsinya menunjang ibu mendapatkan pengalaman kehamilan yang positif,” ungkap dokter spesialis kandungan dari RSPI Yassin Yanuar dalam diskusi virtual Antenatal Care beberapa waktu lalu.

Pemeriksaan USG idealnya dilakukan setiap bulan hingga usia kehamilan 32 minggu. Kemudian dilanjut per dua minggu sekali dalam periode 32-34 minggu dan meningkat setiap minggu hingga melahirkan. Total ada 14 kali pemeriksaan.

Tujuan USG adalah untuk memantau perkembangan janin. Pada usia kehamilan 14 minggu misalnya, pemeriksaan ini bisa mendeteksi risiko down syndrome pada janin. USG juga diperlukan untuk mengetahui berat badan janin, jumlah ketuban, denyut jantung, dan derajat kenormalan lain pada janin.

Dalam sekali kunjungan dokter untuk USG diperlukan biaya sekitar Rp200-500 ribu. Biaya itu belum termasuk tes-tes penunjang atau vaksin. Total biaya pemeriksaan dokter dari awal kehamilan hingga persalinan nanti berkisar antara Rp2,8-7 juta. Namun, rujukan Badan Kesehatan Dunia (WHO) atau Kementerian Kesehatan mengatakan bahwa kunjungan antenatal bisa diminimalisasi.

USG bisa dikurangi jadi enam (rujukan Kemenkes) hingga delapan kali (WHO),” terang Yassin. Dengan mengacu pada pedoman ini maka pengeluaran bisa ditekan hingga Rp1,6-4 juta.

Hitung-hitungan pengeluaran selama hamil belum selesai sampai di sini saja. Masih ada biaya vitamin hamil sekitar Rp150-300 ribu per bulan. Hingga belanja baju hamil, susu, kemudian ikut berbagai kelas persiapan melahirkan dan menyusui. Jika ditotal, pengeluaran lain-lain ini bisa setidaknya membutuhkan biaya sampai Rp2 jutaan.


Pengeluaran Postnatal

Pandemi COVID-19 membuahkan peningkatan kehamilan pada perempuan usia subur. Di Indonesia, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memprediksi terjadinya peningkatan jumlah kehamilan tidak direncanakan pada 2021.

Pasalnya, selama pandemi ini penggunaan alat kontrasepsi menurun hingga 10 persen. Sebelum pandemi, diperkirakan terdapat 28 juta pasangan usia subur (20-35 tahun) yang menggunakan kontrasepsi di Indonesia. Jadi, setidaknya ada 2,8 juta orang yang kini tidak lagi menggunakan kontrasepsi.

Seturut perhitungan BKKBN, tingkat kehamilan di antara mereka itu akan meningkat sebesar 15-20 persen. Angka tersebut jika dikonversi mencapai 370 ribu hingga 500 ribu kehamilan. Namun BKKBN telah membuat prediksi peningkatan kehamilan hingga menyentuh angka 420 ribu.

"Kemudian 2,8 juta itu, yang hamil kan 15 persen (berdasarkan rumus yang dipakai), sekitar 420 orang. Itu sangat signifikan, karena di Indonesia jumlah persalinan kan setahun 4,8 juta rata-rata. Kalau naik 420 ribu saja selama 3 bulan, kan sudah lumayan," kata Kepala BKKBN Hasto Wardoyo seperti dikutip Kompas.

Di sisi lain, peningkatan kehamilan itu tidak diimbangi dengan peningkatan perekonomian masyarakat. Padahal, biaya persalinan di tengah pandemi ikut naik lantaran kewajiban melakukan tes covid. Di masa normal biaya melahirkan pervaginaan berkisar antara Rp3-20 juta, sementara melalui operasi caesar sekitar Rp20-50 juta.

Jika ditambah tes COVID-19, yakni tes usap bagi ibu dan rapid test bagi pendamping, artinya ada biaya tambahan sebesar Rp2,5- 3,5 juta. Menurut Yassin, ragam tes ini mulai dapat dilakukan ibu dan pendamping dalam periode 1-2 minggu sebelum Hari Perkiraan Lahir (HPL).

Tes-tes itu dilakukan agar ibu tidak perlu mendapat persalinan dengan protokol pencegahan COVID-19. Ketika status belum diketahui, bayi dan ibu akan dipisahkan sampai terbukti hasil tes negatif. Hal ini dilakukan untuk berjaga-jaga terhadap kemungkinan buruk sang ibu positif COVID-19.

Tes covid bisa dilakukan beberapa minggu sebelumnya dengan penekanan pascacek, ibu dan pendamping tidak berpergian hingga persalinan,” lanjut Yassin.

Setelah menyisihkan alokasi biaya persalinan dan tes COVID-19, selanjutnya para calon orang tua perlu membeli perlengkapan bayi. Perlengkapan yang perlu diutamakan di antaranya baju, popok, alat mandi, pompa ASI, dan botol susu. Sementara itu, peralatan seperti tempat tidur, kereta dorong, hingga kursi mobil tergolong tambahan.

Jika dikalkulasi, popok dan tisu bisa menghabiskan dana hingga Rp300-500 per bulan. Kemudian baju bayi hingga peralatan mandi sekira Rp1-3 juta. Pompa ASI yang merupakan kebutuhan mendasar di fase menyusui—terutama bagi ibu pekerja—harganya di kisaran Rp500 ribu-3 juta.

Botol susu bisa dibeli dari harga Rp50 ribu hingga ratusan ribu. Tempat tidur bayi Rp2-5 juta, kereta dorong Rp300 ribu-4 juta, dan kursi mobil Rp200 ribu-2,5 juta. Jadi, total tetek bengek peralatan bayi ini bisa mencapai lebih dari Rp5 juta.



Kiat Menghemat Pengeluaran

Dalam satu siklus hamil-melahirkan-punya anak, setidaknya calon orang tua harus mempersiapkan dana sekitar Rp10-80an juta. Itu jika semua biaya diampu mandiri, tidak memakai asuransi, dan anti hemat-hemat club. Namun, sejatinya segala pengeluaran itu bisa ditekan seminimal mungkin dengan menyingkirkan rasa gengsi.

Gunakanlah asuransi—termasuk BPJS Kesehatan—untuk melakukan pemeriksaan kehamilan. Selain gratis periksa setiap bulan, fasilitas kesehatan biasanya juga punya program pemenuhan gizi ibu hamil berupa pemberian susu, biskuit, dan vitamin cuma-cuma. Jaminan kesehatan ini juga menanggung biaya persalinan.

Kemudian untuk pengeluaran baju hamil dan baju bayi, sebisa mungkin cari “lungsuran” atau membeli dalam jumlah sedikit. Dalam bulan-bulan awal setelah kelahiran, bayi bertumbuh cepat sehingga baju yang terlalu banyak—dan biasa dibeli secara impulsif—akan tersisih sia-sia. Trik terakhir adalah menyewa dan membeli peralatan bekas pakai.

Orang tua itu banyak ngeluarin uang untuk yang nggak terpakai. Dengan sewa jadi bisa coba, kalau suka beli. Tidak perlu lama-lama punya karena digunakan hanya di satu tahun pertama,” kata Putri Arinda, pemilik bisnis persewaan peralatan ibu dan anak gigel.id, kala mengobrol bersama Tirto.

Putri sudah berkecimpung dalam bisnis ini selama empat tahun sehingga paham betul bahwa pengeluaran kebutuhan anak sangat besar. Berbekal pengalaman pribadi saat memiliki anak pertama, dia mengakomodasi keresahan para orang tua dengan membuka gigel.id pada 2016. Selain menyewakan sekitar empat ribu macam kebutuhan ibu dan anak, Gigel juga menjual barang bekas pakai.

Dengan memilih alternatif sewa barang, Anda bisa menghemat pengeluaran sampai 50-80 persen. Menyewa tempat tidur bayi, misalnya, akan lebih hemat bagi bagi Anda daripada membelinya karena umumnya hanya terpakai lima bulan.

Harga tempat tidur bayi yang nyambung dengan kasur orang tua Rp4,1 juta. Kalau sewa hanya Rp800 ribu,” papar Putri.

Biaya sewa juga bisa disesuaikan dengan kebutuhan karena bisa disewa harian, mingguan, atau bulanan. Fleksibilitas ini memudahkan ibu ketika hendak menjajal beberapa produk sebelum memutuskan membeli. Memilih pompa ASI, misalnya, ibarat memilih jodoh, cocok-cocokan. Dengan menyewa terlebih dulu, Anda tak akan salah memilih merek dan spesifikasi produk.

Untuk barang bekas pakai, Putri mengatakan harga jualnya bisa turun sampai 50 persen. Gigel biasanya akan menjual barang bekas pakai setiap setahun sekali. Artinya, para orang tua bisa melakukan efisiensi pengeluaran bila mau sedikit lebih cermat.

Baca juga artikel terkait IBU HAMIL atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Bisnis)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
DarkLight