Ketika Prabowo Sedih Lulusan SMA Jadi Sopir Ojek Online

Oleh: Ahmad Zaenudin - 26 November 2018
Dibaca Normal 3 menit
Betapapun masih banyak masalah, Go-Jek dan Grab menyediakan lapangan pekerjaan.
tirto.id - “Yang paling kanan adalah topi SD, setelah ia lulus, ia pergi ke SMP. Setelah lulus, ia pergi ke SMA dan setelah lulus dari SMA, ia menjadi pengemudi ojek [online]. Sedih, ini adalah realita”

Tangan kiri Prabowo Subianto, Calon Presiden Nomor Urut 02, menunjuk ke layar presentasi yang menampilkan "meme" yang menggambarkan topi-topi anak sekolah dan helm ojek online dalam Indonesia Economic Forum, di Hotel Shangrila.

Ia sedang menyoroti karier lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA). Paparan anak SMA yang bertransformasi menjadi pengemudi ojek online itu berasal dari meme, suatu kultur guyonan di dunia maya, yang lantas dipresentasikan Prabowo dalam Indonesia Economic Forum.

“Saya ingin pemuda Indonesia menjadi pengusaha, insinyur, pilot, juga memiliki restoran sendiri dan tidak menjadi pelayan di restoran [...] tidak hanya menjadi kuli,” tegas Prabowo kemudian.

Secara tersirat, Prabowo menunjukkan bahwa bekerja sebagai pengemudi ojek online bukanlah hal ideal karena tak membuat pelakunya sejahtera. Pekerjaan-pekerjaan yang secara umum dilabeli mentereng oleh masyarakat Indonesia, seperti pengusaha, insinyur, hingga pilot, lebih menjanjikan kesejahteraan.

Pusat Kajian Komunikasi Universitas Indonesia (Puskakom UI) yang bekerjasama dengan Go-Jek dalam penelitian berjudul “Manfaat Sosial Aplikasi On Demand: Studi Kasus Go-Jek Indonesia” (Agustus 2017) senada dengan pernyataan Prabowo soal anak SMA yang bertransformasi menjadi pengemudi ojek online. Puskakom UI menyebut bahwa mayoritas pengemudi Go-Ride, layanan ojek online dari Go-Jek, merupakan lulusan sekolah menengah.

Dalam penelitian terhadap 3.213 responden di Jabodetabek dan sekitarnya yang merupakan pengemudi Go-Jek, Puskakom menemukan bahwa 40 persen pengemudi Go-Jek merupakan lulusan SMA.

Sementara itu, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Sekolah Teknik Menengah (STM) masing-masing menyumbang 12 persen sebagai latar belakang pendidikan para pengemudi Go-Jek. Terakhir, 18 persen pengemudi Go-Jek yang disurvei merupakan lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP).


Meski profesi sebagai pengemudi ojek online sering dianggap rendah, seperti yang dilakukan Prabowo, beberapa pelaku profesi ini memiliki jenjang pendidikan yang tinggi. Puskakom menyebut, 5 persen pengemudi Go-Jek yang disurvei merupakan lulusan diploma. Lalu, 5 persen lainnya mengenyam gelar sarjana. Dan ada 0,2 persen pengemudi Go-Jek yang disurvei memiliki gelar magister.

Selain latar belakang pendidikan, penelitian yang dilakukan Puskakom juga melihat latar belakang profesi sebelum para pengemudi ojek online itu bergabung dengan Go-Jek. Sebanyak 33 persen pengemudi Go-Jek yang disurvei mengaku bekerja sebagai pengemudi ojek pangkalan. Lalu, 26 persen lainnya merupakan pekerja swasta.

Dampak Ojek Online

Wahyu, pengemudi Go-jek, saban hari mengantar penumpang menggunakan Honda Vario antara pukul 9.00 pagi hingga 10.00 malam, melebihi jam kerja normal. Untuk operasional, Wahyu membutuhkan pulsa telepon Rp25 ribu/minggu, paket data Rp60 ribu/bulan, dan bensin Rp20-25 ribu/hari. Dengan asumsi Wahyu mengambil libur satu hari setiap pekan, uang sebesar Rp640-760 ribu per bulan wajib disiapkan Wahyu sebagai modal menjadi pengemudi Go-Jek.

Honda Vario memiliki tingkat konsumsi bahan bakar 59 km per liter. Dengan asumsi Wahyu memilih bahan bakar berjenis Premium, motornya dapat dipacu hingga mencapai jarak 200an kilometer setiap harinya. Menurut laman resmi Go-Jek, tarif layanan Go-Ride dipatok sebesar Rp1.500 per km untuk 10 km pertama. Selanjutnya, jika melebihi 10 km, tarif berubah menjadi Rp3.000 per km semenjak 10 km + 0,01 km. Tarif berbeda diberlakukan Go-Jek pada wilayah-wilayah tertentu.

Dengan asumsi Wahyu memperoleh 15 penumpang tiap hari dan rata-rata jarak lokasi tujuannya 11 hingga 12 kilometer, Wahyu akan memperoleh pendapatan Rp7,56-10,80 juta per bulan. Bila dikurangi modal awal, Wahyu dapat mengantongi penghasilan Rp6,8 juta hingga Rp10 juta tiap bulannya.

Fikri, seorang pengemudi Go-Jek, mengatakan ia saban hari mulai bekerja sejak pukul 8.00 hingga 22.00 dan memperoleh pendapatan sekitar Rp200.000. Pendapatan bertambah menjadi Rp350.000 jika ia sukses mendapatkan poin. Menurutnya, pendapatan dari Go-Jek terbilang cukup untuk menutupi segala beban pengeluaran untuk menghidupi 3 anak yang dimilikinya.

Penelitian yang dilakukan Puskakom UI dapat dijadikan gambaran. Meski demikian, perlu dicatat bahwa situasi tarif dan perusahaan Go-Jek pada 2017 bisa jadi sudah lain dengan sekarang.

Menurut penelitian itu, memang ada pengemudi Go-Jek yang memperoleh pendapatan besar seperti yang diperoleh Wahyu. Namun, penelitian tersebut mencatat bahwa banyak penghasilan pengemudi Go-Jek yang angkanya di bawah UMP DKI Jakarta.

Ada 28 persen pengemudi Go-Jek dalam survei itu mengaku mendapat penghasilan antara Rp3,5-6 juta dan Rp2,5-3,5 juta per bulan. Ada pula 16 persen yang mengaku mendapat penghasilan hanya Rp2-2,5 juta. Meski begitu, umumnya para pengemudi Go-Jek yang disurvei merasa “puas” atas penghasilan yang mereka peroleh.


Dipacak laman Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pendidikan berbanding lurus dengan penghasilan yang diperoleh. Menurut BPS, dengan asumsi seorang pekerja bekerja selama 35 hingga 44 jam saban minggu, pekerja yang mengenyam pendidikan terakhir Sekolah Dasar memperoleh pendapatan rata-rata sebesar Rp1,5 juta/bulan.

Pekerja dengan tingkat pendidikan Sekolah Menengah Pertama memperoleh pendapatan rata-rata Rp1,9 juta/bulan. Pekerja dengan ijazah terakhir SMA memperoleh pendapatan rata-rata sebesar Rp2,7 juta dan ijazah SMK memperoleh rata-rata sebesar Rp2,8 juta.

Infografik Pendidikan dan penghasilan pengemudi gojek


Sementara itu, pekerja dengan tingkat pendidikan sarjana rata-rata memperoleh pendapatan sebesar Rp5,1 juta. Jika melihat penelitian Puskakom, pengemudi Go-Jek memperoleh pendapatan yang rata-rata lebih tinggi dibandingkan data BPS itu.

Febriyanti Ramadhestiani, dalam papernya berjudul "Pengaruh Keberadaan Ojek Online (Go-Jek) Terhadap Peningkatan Ekonomi: Penelitian Pada Komunitas Go-Jek Aliansi Sedulur Sukabumi,” menyebut keberadaan Go-Jek terhadap peningkatan ekonomi anggota komunitas Go-jek Aliansi Sadulur Sukabumi mendapat hasil yang membuktikan saling keterkaitan dan saling mempengaruhi.

Keberadaan Go-Jek berdampak positif. Bekerja sebagai pengemudi Go-Jek dianggap mampu menjadi solusi untuk meningkatkan pendapatan ekonomi dan mengurangi pengangguran. Lantas, bekerja sebagai pengemudi Go-Jek dianggap mampu memberi pelakunya ruang waktu yang lebih fleksibel.

Apa yang diungkap Febriyanti didukung oleh Ferri Alfandi dalam “Pengaruh Adanya Transportasi Online Terhadap Kesejahteraan Masyarakat Melalui Variabel Pengangguran di Kota Meda.” Menurut Ferri, adanya transportasi online berpengaruh positif signifikan terhadap konstruk pengurangan tingkat pengangguran secara langsung di kota Medan.

Hal ini dapat dibuktikan dari nilai t-statistik yang jauh lebih besar dari 1,96 yakni sebesar 86,750. T-statistik merupakan variabel yang dibuat Ferri seperti membandingkan tingkat pengangguran di kota Medan sebelum dan sesudah adanya Go-Jek.

Menjadi pengemudi ojek online bisa jadi bukan profesi ideal, seperti diutarakan Prabowo. Hingga kini, pengemudi Go-Jek dan Grab pun kerap berdemonstrasi menuntut sistem kerjasama yang lebih adil, termasuk soal tarif.


Seperti entitas ekonomi digital lainnya, Go-Jek dan Grab juga masih menyisakan persoalan dengan administrasi negara. Apakah perusahaan-perusahaan itu perusahaan teknologi atau transportasi atau malah perusahaan finansial? Bagaimana ia harus diatur, bagaimana pajaknya, dst?

Di luar antrean problem itu, keberadaan aplikasi ojek dapat menjadi salah satu solusi pengangguran. Michael Say, VP Corporate Affairs Go-Jek, menolak secara terbuka mengomentari perkataan Prabowo, tapi ia mengklaim bahwa pengemudi Go-Jek adalah pengusaha mikro dan berkontribusi besar untuk perekonomian Indonesia.

"Siapa yang ngebayangin dari Go-Jek aja mereka bisa menabung naik haji. Ada 400 mitra yang nyicil beli rumah. Jadi ini adalah profesi [ojek] yang sudah bukan [seperti ojek] zaman dulu, mereka ini wirausaha."

Baca juga artikel terkait GOJEK atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Ekonomi)


Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Maulida Sri Handayani